Written byD74Monday, April 11, 2022 17:31Misteri Propaganda Demo BEM SI
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/misteri-propaganda-demo-bem-si/
Demonstrasi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) yang dilakukan 
tanggal 11 April 2022 menjadi sorotan publik. Berbagai pesan sensasional mulai 
tersebar di WhatsApp, ada yang mengatakan demo ini adalah hasil desain sejumlah 
tokoh publik. Tetapi, yang paling menarik adalah ada pesan yang mengatakan demo 
tersebut merupakan hasil desain Amerika Serikat (AS). Bagaimana kita bisa 
memaknai kabar-kabar liar tersebut? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Hari Senin tanggal 11 April 2022 menjadi salah satu hari yang ditunggu-tunggu 
dalam dinamika perpolitikan Indonesia. Tentu kita membicarakan tentang aksi 
demonstrasi yang dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia 
(BEM SI), yang menolak wacana perpanjangan masa jabatan presiden atau penundaan 
pemilu. 

Berdasarkan sumber PinterPolitik yang familiar dengan perbincangan yang beredar 
di grup-grup WhatsApp, diketahui telah tersebar beberapa narasi menarik, namun 
sulit dicari kebenarannya tentang acara demo hari ini. Salah satunya adalah 
dugaan siapa-siapa saja yang diduga menjadi mentor dan kontributor aksi. 

Beberapa tokoh terkenal yang disinggung dalam sebaran pesan adalah mantan 
Penyidik Senior KPK Novel Baswedan, mantan Menko Maritim Rizal Ramli, mantan 
Ketua MK Hamdan Zoelva, dan pengamat politik Ujang Komarudin. 

Hamdan dan Novel menolak mentah-mentah tuduhan terlibat dalam menggerakkan demo 
mahasiswa, dengan menyebutnya sebagai informasi yang menyesatkan dan 
mengada-mengada.  

Bantahan juga dilontarkan oleh Ujang, dia menegaskan bahwa dirinya sama sekali 
tidak terkait, tidak ada komunikasi, dan tidak pernah ada interaksi dengan 
rencana aksi tersebut. Meski dirinya mengakui sering bersifat kritis dalam 
menyikapi persoalan-persoalan bangsa, dia tidak pernah berpihak untuk siapapun. 

Namun, di balik kabar tersebut, terdapat sebaran pesan yang lebih menarik, 
yakni narasi tentang adanya campur tangan Amerika Serikat (AS) sebagai pihak 
yang diduga membiayai demo. 

Menurut pesan tersebut, AS perlu mendorong demo karena itu menjadi balasan atas 
keengganan Indonesia untuk tidak mengundang Rusia dalam pertemuan G20.  

Pesan tersebut pun ditutup dengan pertanyaan nakal tentang siapa yang menjadi 
“wayang” yang dimainkan oleh AS, dan menekankan bahwa pola sama juga terjadi 
pada KKB Papua yang didanai AS karena proyek Freeport. 

Untuk saat ini, kita bisa mengatakan bahwa narasi-narasi tadi adalah bagian 
dari apa yang disebut sebagai propaganda. Akan sangat sulit sekali untuk 
membuktikan setiap klaimnya. 

Lantas, mengapa propaganda seperti ini bisa terjadi? 

Sebuah Pola yang Berulang 
Klaim yang mengatakan bahwa suatu aksi demonstrasi adalah titipan dari negara 
asing, khususnya AS, bukanlah hal yang baru. Ketika demonstrasi UU Cipta Kerja 
dilaksanakan pada 2020 lalu contohnya, narasi serupa juga dikemukakan, bahkan 
oleh pihak pemerintah sendiri. 

Ketika itu, Menhan Prabowo Subianto menilai kerusuhan yang mewarnai demonstrasi 
menolak UU Cipta Kerja telah ditunggangi dan juga dibiayai oleh pihak asing. 
Lebih lanjutnya, Prabowo mengatakan pihak-pihak asing tersebut menyebar hoaks 
bahwa UU Cipta Kerja buruk bagi masyarakat. Menurutnya banyak kekuatan asing 
yang tidak pernah suka Indonesia aman dan maju. 
Ya, kalau kita perhatikan, sepertinya narasi tentang intervensi asing dalam 
aksi demonstrasi telah menjadi pola tersendiri. Ketika ditanya oleh 
PinterPolitik tentang hal ini, Ujang Komarudin juga melihat hal yang sama. Ia 
menilai tuduhan-tuduhan liar semacam itu adalah tindakan keji yang bertujuan 
“membusuki” gerakan mahasiswa.  

Lebih lanjutnya, Ujang juga mengatakan narasi antagonisme semacam itu merupakan 
pola umum yang biasa dilakukan oleh sebuah rezim untuk menciptakan persepsi 
yang negatif pada aktivisme mahasiswa di negaranya.  

Sebagai kegunaan praktis, dengan menyebarkan narasi demikian, Ujang menilai 
mungkin ada motif untuk memecah konsentrasi gerakan mahasiswa agar tidak 
terlalu besar. Secara bersamaan, hal seperti ini juga bisa digunakan untuk 
mengempiskan demo mahasiswa agar kekuatannya melemah. 

Pandangan demikian sesuai dengan apa yang ditulis oleh Haifeng Huang dan 
Nicholas Cruz dalam tulisan mereka Propaganda, Presumed Influence, and 
Collective Protest. Di dalamnya, dijelaskan bahwa propaganda seputar aksi 
demonstrasi bertujuan untuk membuat masyarakat enggan turut serta dalam 
gerakan. 

Secara keseluruhan, Huang dan Cruz mengklasifikasikan propaganda dalam 
demonstrasi menjadi dua kategori, yakni propaganda persuasi dan propaganda 
intimidatif. 

Propaganda persuasif lebih bersifat menciptakan persepsi bahwa bukan pemerintah 
lah yang menginginkan demonstrasi untuk ditunda, tetapi justru karena ada 
ancaman lain yang berpotensi memecah kesatuan di masyarakat.  

Sementara itu, propaganda yang intimidatif jelas adalah propaganda yang ingin 
menunjukkan bahwa pemerintah memiliki sumber daya dan tenaga yang sesuai untuk 
menghukum mereka-mereka yang berani menentangnya. 

Dilihat dari fenomenanya, propaganda intervensi asing sepertinya bisa kita 
taruh dalam kategori propaganda persuasif. 

Propaganda persuasif tetap bisa berjalan efektif karena demonstrasi sejatinya 
adalah tindakan yang sangat berisiko. Seperti yang kita tahu, para peserta yang 
terlibat dalam aksi demo yang gagal atau rusuh dapat dikenai hukuman yang berat 
oleh negara.  

Karena itu, sebagian besar keputusan individu tentang apakah mereka akan ikut 
demo atau tidak, bergantung pada persepsi mereka tentang seberapa banyak orang 
lain yang akan ikut berdemo. Jika banyak yang ikut, tentu kemungkinan 
keberhasilan demo akan lebih besar, tetapi jika banyak yang ragu, maka demo 
tersebut pesertanya akan sedikit atau justru sama sekali tidak terjadi. 

Dengan kata lain, propaganda terkadang dapat berhasil bukan dengan memengaruhi 
preferensi atau keyakinan individu, tetapi dengan membuat mereka berpikir bahwa 
preferensi atau keyakinan orang lain mungkin telah dipengaruhi. Mekanisme 
propaganda ini bergantung pada efek tidak langsungnya pada tingkat kolektif, 
daripada efek langsungnya pada tingkat individu. 
Itu adalah aspek praktis dari propaganda dalam demonstrasi. Lantas, bagaimana 
dengan jangka panjangnya? 

Peyorasi Kata “Demonstrasi”? 
Untuk jangka panjangnya, dengan semakin menempelkan stigma bahwa aksi demo 
mahasiswa kental dengan isu negatif seperti intervensi asing, bukan tidak 
mungkin bila ke depannya masyarakat akan melihat kata “demonstrasi” sebagai 
sebuah kata peyoratif. 

Kata peyoratif sendiri adalah kata yang telah melalui proses menjadi memiliki 
makna yang negatif, padahal kata aslinya bernilai netral atau justru baik. 

Pola seperti itu bertepatan dengan apa yang dijelaskan oleh Howard S. Becker 
dalam bukunya Outsiders; Studies in the Sociology of Deviance. Di dalamnya, 
Becker menjelaskan bahwa aktor yang memegang kekuasaan sosial, baik itu 
pemerintah atau entitas lain yang berpengaruh, melampirkan stigmatisasi 
stereotip kepada kelompok atau aktivitas tertentu, dengan harapan dapat 
membatasi perilaku mereka. 

Pembatasan perilaku ini dapat terjadi setelah kegiatan yang umumnya mereka 
lakukan ditempeli stigma sebagai sesuatu yang ditakuti dan dibenci oleh 
masyarakat.   

Motif peyorasi juga mulai terjadi pada penggunaan kata “radikalisme”. Yang 
tadinya dipahami sebagai pandangan yang mendalam akan suatu ajaran, setelah 
adanya narasi tentang radikalisme, kini kata tersebut sangat kental dengan 
paham terorisme.  

Dalam konteks demonstrasi, peyorasi bisa digunakan untuk menyetir demonstrasi. 
Upaya peyorasi ini juga dapat berfungsi sebagai tindakan yang sifatnya 
preemptive atau mendahului. Maksudnya adalah, tanpa perlu melemparkan 
ancaman-ancaman, komponen masyarakat secara naluriah akan sulit untuk disatukan 
ketika ingin mengadakan suatu aksi, karena mereka pasti akan skeptis terlebih 
dahulu. 

Oleh karena itu, bisa kita tarik kesimpulan bahwa propaganda di seputar aksi 
demo adalah upaya untuk membuat konsentrasi kekuatan demo tidak terlalu kuat. 
Dengan menciptakan narasi bahwa demo dapat dengan sangat mudah disusupi 
kepentingan asing, masyarakat semakin lama berpotensi akan melihat demo sebagai 
sesuatu yang perlu dihindari demi keamanan bangsa. 

Well, pada akhirnya itu semua hanyalah interpretasi belaka. Kebenaran tentang 
adanya intervensi asing dalam aksi 11 April 2022 tetap akan menjadi pertanyaan 
besar yang sulit untuk dijawab. Yang jelas, narasi-narasi untuk melemahkan aksi 
demo memang umum terjadi. (D74) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/44E26EC7663743C89EF3AE74BF0AB54C%40A10Live.

Reply via email to