Written byI76Monday, April 11, 2022 16:50
Tan Malaka Inspirasi Gerakan Mahasiswa?
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/tan-malaka-inspirasi-gerakan-mahasiswa/
Sejarah Indonesia mencatat, melalui demonstrasi mahasiswa mampu menumbangkan 
penguasa. Gerakan mahasiswa ini mirip dengan pemikiran Tan Malaka tentang 
perlawanan terhadap penguasa yang menjajah. Lantas, apakah gerakan mahasiswa 
ini terinspirasi dari sosok Tan Malaka?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Demonstrasi mahasiswa seakan menjadi momok bagi penguasa di setiap rezim. Hal 
ini pun terjadi saat ini, ketika  gabungan mahasiswa hampir di seluruh 
Indonesia melakukan aksi besar-besaran guna menolak penundaan pemilu dan 
perpanjangan masa jabatan presiden tiga periode.

Gerakan mahasiswa bukan hal yang asing dalam perbincangan politik. Tercatat 
dalam sejarah Indonesia, beberapa rezim akhirnya jatuh dikarenakan aksi maupun 
demonstrasi mahasiswa. Dan bukan sekali ini saja mahasiswa berdemonstrasi 
secara masif untuk menggugat pemerintah atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). 
Setidaknya, sudah tiga kali terjadi demonstrasi mahasiswa secara besar-besaran, 
dua di antaranya menumbangkan rezim yang tengah berkuasa. Kejatuhan itu pun 
punya persamaan, yakni dimulai dari pemimpin yang tidak mau mendengar aspirasi 
rakyatnya.

Demonstrasi mahasiswa pertama terjadi pada awal 1966. Kala itu ribuan mahasiswa 
turun ke jalan, protes terhadap kondisi negara yang kian memprihatinkan. Protes 
ini berhulu dari tragedi berdarah Gerakan 30 September 1965. Demonstrasi 
mahasiswa ini yang menggulingkan Orde Lama dan melahirkan rezim Orde Baru.

Demonstrasi kedua, terjadi di akhir periode Orde Baru. Gerakan mahasiswa 
berhasil menumbangkan rezim Soeharto pada 1998. Gerakan ini bermula dari krisis 
ekonomi 1997 dan ketidaksiapan rezim Soeharto mengatasinya.

Gelombang aksi yang membesar sejak Maret 1998 seiring dengan pernyataan 
Soeharto bersedia dipilih lagi menjadi presiden. Gelombang besar mahasiswa lalu 
menduduki Gedung DPR/MPR sejak 18 Mei 1998. Karena kian terjepit, akhirnya pada 
21 Mei 1998 Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden.

Gerakan mahasiswa untuk demonstrasi, merupakan  transformasi dari bacaan dan 
pemikiran tentang peran mahasiswa sebagai gerakan perubahan sosial. Dan 
biasanya buku atau bacaan yang menumbuhkan kesadaraan tersebut berasal dari 
buku-buku yang membangkitkan semangat perjuangan, seperti buku Madilog dan Aksi 
Massa karya Tan Malaka.

- Advertisement -Tan Malaka sebagai tokoh bangsa, tidak akan pernah kekurangan 
pengagum dari generasi ke generasi. Kemampuannya untuk  membangkitkan semangat 
perjuangan adalah oase di tengah kondisi penguasa yang selalu ingin 
mempertahankan status quo kekuasaannya.

Lantas, seperti apa kisah tokoh yang mampu menjadi inspirasi gerakan mahasiswa 
ini?

 
Tan Malaka Sulit Dilupakan
Tan Malaka memiliki nama asli Ibrahim. Nama Tan Malaka sendiri adalah nama 
semi-bangsawan yang ia dapat dari sang ibu.  Nama lengkapnya adalah Sutan 
Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Tan Malaka lahir pada 1897 di Nagari Pandan 
Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Meski sosoknya kontroversial, Tan Malaka memberi banyak sumbangsih bagi bangsa 
Indonesia. Atas jasanya, ia pun mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 28 Maret 
1963 berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 53 yang ditandatangani oleh 
Soekarno. Dia juga dikenal sebagai pendiri Partai Musyawarah Rakyat Banyak 
(Murba) pada 7 November 1948.

Baca juga :  Kenapa AS Buat Putin Jadi Hitler?Reinard L. Meo dalam tulisannya 
Tan Malaka dan “Aksi Massa”, mengatakan bahwa sejarah seolah melupakan Tan 
Malaka, bahkan bukan seolah. Bagi Reinald, terdapat upaya sistematis untuk 
melupakan Tan Malaka, dengan cara membangun persepsi bahwa Tan malaka adalah 
pemberontak, komunis, hingga provokator.

Sebagaimana anak zaman di periode pra kemerdekaan, Tan Malaka juga punya 
cita-cita besar tentang Tanah Air. Salah satunya, Republik Indonesia harus 
lahir dari revolusi. Segala bentuk strategi diplomasi dengan kolonialisme 
Belanda, merupakan sikap yang sangat ditolak olehnya.

Pemikiran Tan Malaka tentang konsep pergerakan revolusioner berawal saat 
melanjutkan pendidikan di Belanda. Pada Mei 1922, Tan Malaka dicalonkan sebagai 
anggota dewan di Belanda lewat Communistische Partij (CP). Tujuan pencalonan 
ini diharapkan dapat menggambarkan kondisi Hindia di Belanda.

Zulhasril Nasir dalam bukunya Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau, 
mengatakan pada tahun 1913, Tan Malaka telah mendahului sekolah ke Belanda 
daripada tokoh-tokoh nasional lainnya, seperti Moh. Hatta dan Sutan Sjahrir. 
Perantauannya ke Belanda yang membentuk wataknya.

- Advertisement -Unsur-unsur egaliter Minangkabau mempunyai kaitan erat dengan 
sikap revolusioner Tan Malaka. Tradisi Minangkabau yang dipegang erat dan 
ditambah juga dengan pergaulannya dengan koleganya M. Hatta dan Syahrir, yang 
juga merupakan pemuda Minangkabau, membentuk cara pandang Tan Malaka tentang 
perjuangan kemerdekaan dan cara melihat dunia.

Sejalan dari falsafah hidup orang Minangkabau, “Alam Takambang jadi Guru”. 
Dimaknai bahwa alam dan segenap unsurnya memiliki kaitan erat, berbenturan tapi 
tidak saling melenyapkan. Fenomena alam, binatang, tumbuhan tunduk kepada hukum 
yang telah diatur oleh Tuhan melalui keharmonisan, yang diyakini menjadi dasar 
pemikiran Tan Malaka dalam pergerakannya.

Tapi keharmonisan pemikirannya tidak sejalan dengan keharmonisan kehidupannya 
dalam dunia percintaan. Kisah percintaan Tan Malaka tak pernah berakhir di 
pelaminan. Memilih untuk menjomblo sampai akhir hayat.

Tan Malaka memilih tidak menikah karena baginya pernikahan akan membelokannya 
dari perjuangan. Namun, dia selalu bersikap penuh hormat terhadap perempuan. Ia 
juga tak pernah berbicara tentang perempuan dalam makna seksual.

Tan malaka adalah tokoh yang diterima oleh dua kekuatan politik perjuangan 
Indonesia saat itu, di mana kekuatan politik ini berseberangan secara ideologi, 
yaitu Sarekat Islam (SI) di satu sisi, dan Partai Komunis Indonesia (PKI) di 
sisi lainnya. Bahkan Tan malaka selalu dipilih menjadi orang penengah di tengah 
perseteruan mereka.

Kisah perjuangan hidup Tan Malaka meski sempat diredupkan dalam narasi sejarah, 
ternyata terus menginspirasi pemikiran anak muda dalam pergulatan politik. Tak 
sedikit kelompok pergerakan mahasiswa kini mengutip dan menceritakan kisahnya.

Baca juga :  Andika Hapus Mitos PKI?Kisahnya yang abadi sesuai dengan sumpahnya 
dalam buku yang dikarangnya sendiri yang berjudul Penjara ke Penjara. Ia 
mengatakan, “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras 
daripada dari atas bumi”.

Well, serangkaian kisah Tan malaka ini yang membuatnya menjadi sosok yang 
sering dihapuskan dalam sejarah tapi sulit dilupakan di setiap generasi 
setelahnya. Lantas, seperti apa melihat dampak pemikiran Tan Malaka pada 
generasi saat ini?

 
Melawan Merupakan Bahasa Mahasiswa?
Aris Santoso dalam tulisannya Memandang Generasi Muda dan Pemikiran Kiri, 
mengatakan upaya setiap  orang untuk menghentikan pemikiran kiri pada generasi 
muda, pada akhirnya adalah sebuah kesia-siaan. Pemikiran kiri adalah bagian 
dari proses pendewasaan seorang mahasiswa, dan kaum muda pada umumnya.

Tokoh-tokoh seperti Tan Malaka atau Sutan Sjahrir, tidak akan pernah kekurangan 
pengagum dari generasi ke generasi. Pola pikir mahasiswa yang kritis disinyalir 
berangkat dari inspirasi hidup mereka. Terdapat doktrin bahwa mahasiswa adalah 
agent of change ataupun sebagai middle  class, yang menjadikan mahasiswa punya 
tanggung jawab moral untuk melakukan perubahan.

Budaya demonstrasi atau unjuk rasa sering kali terjadi di kehidupan sosial 
masyarakat, yang dioperasionalkan oleh mahasiswa. Tidak heran jika dalam sebuah 
periode rezim politik, ada beberapa hal yang harus dirubah melalui aksi turun 
ke jalan.

Demonstrasi dilakukan biasanya karena kurang adilnya suatu kebijakan bagi 
masyarakat yang dikeluarkan atau diputuskan oleh pemerintah, sehingga perlu 
diprotes atau dikaji ulang agar masyarakat yang terdampak langsung, merasakan 
keadilan atas kebijakan tersebut.

Selama ketidakadilan dan penderitaan bisa dilihat secara kasatmata, pemikiran 
atau aspirasi kiri selalu memiliki ruang. Gerakan mahasiswa yang masif pada isu 
masyarakat, seperti saat ini tentang penolakan wacana perpanjang jabatan 
presiden, kenaikan BBM, dan juga harga pangan yang meresahkan, membuktikan 
eksistensi mereka  dalam etalase politik indonesia.

Idil Akbar dalam tulisannya Demokrasi dan gerakan Sosial; Bagaimana Gerakan  
Mahasiswa Terhadap Dinamika Perubahan Sosial, mengatakan gerakan mahasiswa 
merupakan sebuah gerakan sosial yang terbangun berdasarkan tuntutan atas 
perubahan kebijakan dari pemerintah yang sudah tidak sesuai kehendak masyarakat.

Gerakan mahasiswa merupakan hal yang wajar dilakukan dalam demokrasi, selama 
gerakan tersebut masih  selaras dengan norma maupun aturan yang ditetapkan oleh 
hukum yang berlaku. Dalam demokrasi, hukum merupakan batasan dari sikap bebas 
masyarakat.

Sebagai penutup, dalam negara demokrasi, perlawanan atas kebijakan pemerintah 
dilakukan melalui demonstrasi, dan gerakan mahasiswa yang terinspirasi dari 
gerakan Tan Malaka, adalah bentuk dari perlawanan.

Karena bagi mahasiswa, daripada tunduk ditindas lebih baik bangkit melawan, 
sebab diam adalah pengkhianatan, hanya ada satu kata, lawan. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/0D65BA5FDE804259A4046B6EB63487A9%40A10Live.

Reply via email to