Written byA43Wednesday, April 13, 2022 19:30
Sudah Saatnya Megawati Tegur Putin?
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sudah-saatnya-megawati-tegur-putin/
Politikus PDIP Budiman Sudjatmiko menyayangkan pasifnya partai-partai politik 
(parpol) di Indonesia yang tidak memiliki sikap jelas dan tegas terkait polemik 
kehadiran Presiden Rusia Vladimir Putin dalam KTT G20 2022 pada November 
mendatang. Apakah sudah saatnya para pemimpin parpol seperti Megawati 
Soekarnoputri angkat bicara soal Putin?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Seribu kawan terlalu sedikit. Satu musuh terlalu banyak”

Siapa yang tidak punya teman? Hampir semua orang pasti setidaknya memiliki satu 
teman yang dipercayainya. Hubungan pertemanan seperti ini juga berlaku dalam 
dunia politik – baik dalam politik domestik maupun politik internasional. 
Pertemanan yang terbangun antara Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri 
dan Ketum Gerindra Prabowo Subianto, misalnya, menjadi salah satu contoh 
jalinan perkawanan yang hangat – dengan seporsi nasi goreng yang hangat yang 
disajikan di Teuku Umar, Jakarta, pada tahun 2019 silam.

Namun, teman Megawati bukan hanya Prabowo seorang. Ketum PDIP tersebut juga 
memiliki sejumlah teman di luar negeri.

Salah satunya adalah Presiden Rusia Vladimir Putin. Bagaimana tidak? Megawati 
mendapatkan penghargaan dan bintang jasa Order of Friendship dari Presiden 
Rusia tersebut pada tahun 2020 – meski baru bisa benar-benar diserahkan pada 
tahun 2021.

Penghargaan dari Putin ini juga menjadikan Megawati sebagai warga negara 
Indonesia (WNI) pertama yang memperoleh bintang jasa itu. Boleh jadi, Ketum 
PDIP tersebut memang menjadi salah satu sosok yang membekas di hati Putin.

Namun, sebagai seorang teman, tentunya punya keharusan untuk mengingatkan 
ketika salah. Saat berkeluh kesah, misalnya, sosok seorang teman kerap menjadi 
tempat mencari saran dan solusi yang pas ketika menghadapi masalah.

Kini, Putin menjadi salah satu pemimpin negara yang paling disoroti oleh banyak 
pihak di seluruh dunia. Masyarakat Indonesia sendiri disebut-sebut semakin 
mengidolakan Putin di tengah konflik yang meletus antara Rusia dan Ukraina.

  
Tidak hanya masyarakat Indonesia, pemerintah kini juga harus mempertimbangkan 
sosok Putin yang kabarnya akan berkunjung ke Indonesia pada November 2022 nanti 
untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali. Pemerintahan Joko 
Widodo (Jokowi) akhirnya mendapatkan tekanan dari berbagai negara – utamanya 
Amerika Serikat (AS) – untuk tidak mengundang Presiden Rusia tersebut.

Di tengah polemik soal Putin ini, WNI pertama yang menerima bintang jasa dari 
Rusia tersebut justru terlihat diam. Politikus PDIP Budiman Sudjatmiko 
menyayangkan pasifnya partai-partai politik (parpol) dalam menyikapi polemik 
kehadiran Putin di KTT G20 2022 ini.

Mengacu pada pernyataan Budiman tersebut, bukan tidak mungkin muncul sejumlah 
pertanyaan di benak masyarakat. Apa sebenarnya peran yang dimiliki oleh parpol 
dalam politik internasional? Lantas, mengapa parpol-parpol di Indonesia justru 
lebih memilih diam untuk menyikapi isu Ukraina-Rusia ini?

Berkaca dari Parpol Luar Negeri
Sebuah negara pasti memiliki arah dalam politik luar negerinya. Dalam 
menentukan berbagai kebijakan luar negeri yang diambil, terdapat sejumlah 
individu dan kelompok yang bisa mempengaruhi.

Dalam studi hubungan internasional, ada sejumlah tingkatan guna memahami 
perubahan arah politik luar negeri suatu negara. Di tingkat pertama, ada 
individu yang biasanya memegang kewenangan tertinggi dalam menentukan politik 
luar negeri (foreign policy).
Di tingkat yang lain, ada kelompok yang terdiri dari sejumlah individu yang 
bisa menentukan arah politik luar negeri. Biasanya, kelompok ini terdiri dari 
para pemangku kepentingan, penasihat kebijakan, atau parpol.

Parpol, misalnya, memiliki preferensi kebijakan yang bisa mempengaruhi arah 
kebijakan luar negeri pemerintahan yang berkuasa. Biasanya, parpol penguasa lah 
yang memiliki andil besar dalam menentukan arah politik luar negeri yang 
diambil.

Kala Presiden AS Donald Trump berkuasa, misalnya, politik luar negeri yang 
diambil negeri Paman Sam tersebut sangat merefleksikan preferensi kebijakan 
Partai Republik yang bersifat konservatif dan nasionalis. Inilah mengapa Trump 
mengeluarkan semacam doktrin cenderung isolasionistis yang disebut sebagai 
America First – berbeda dengan Partai Demokrat yang lebih bersifat kooperatif 
(dovish).

  
Tapio Raunio dan Wolfgang Wagner dalam tulisan mereka yang berjudul The Party 
Politics of Foreign and Security Policy menjelaskan posisi politik parpol juga 
menentukan kebijakan luar negeri yang diambil. Biasanya, ini juga berkaitan 
dengan ideologi yang dipegang oleh parpol bersangkutan.

Kita bisa menggunakan fenomena Brexit – proses keluarnya Britania Raya 
(Inggris) dari Uni Eropa (UE) – sebagai salah satu contohnya. Meski referendum 
telah dilakukan pada tahun 2016, berbagai negosiasi dan perdebatannya pun 
berlangsung hingga tahun 2020.

Partai Konservatif – yang mana merupakan partai Perdana Menteri (PM) Boris 
Johnson – mendukung keluarnya Britania Raya dari UE dengan sejumlah 
kesepakatan. Di sisi lain, Partai Buruh (Labour) lebih ingin memberikan 
kesempatan kembali pada rakyat untuk memilih di referendum – antara keluar 
dengan kesepakatan baru atau tetap tinggal di UE.

Tidak hanya di AS dan Britania Raya, peran parpol dalam politik luar negeri 
juga berlaku di salah satu negara Asia Timur yang tidak mendapatkan pengakuan 
kedaulatan secara tradisional, yakni Republik Tiongkok (Taiwan). Partai 
Progresif Demokrat yang menjadi partai PM Tsai Ing-wen, misalnya, lebih 
mendorong perolehan status Taiwan sebagai negara dan menolak pengaruh Republik 
Rakyat Tiongkok (RRT) – sementara Kuomintang mendukung kebijakan reunifikasi 
dengan RRT.

Bila berkaca pada besarnya peran parpol dalam menentukan arah kebijakan luar 
negeri di AS, Britania Raya, dan Taiwan, sejumlah pertanyaan pun muncul. 
Mengapa parpol-parpol di Indonesia justru lebih memilih banyak diam soal 
geopolitik? Mungkinkah ada alasan tertentu?

Saatnya Megawati Tegur Putin?
Seperti yang disebut oleh Budiman, isu geopolitik terkait konflik antara Rusia 
dan Ukraina menjadi isu geopolitik yang paling ramai dibahas oleh warganet 
Indonesia. Tentunya, isu politik internasional juga bukanlah hal baru bagi 
masyarakat Indonesia – misal soal isu Palestina-Israel dan konflik di Suriah.

Jika melihat bagaimana besarnya antusiasme masyarakat untuk membahas isu 
geopolitik, sudah menjadi hal alamiah bahwa parpol juga mengangkat topik-topik 
ini. Namun, pada nyatanya, parpol memilih untuk lebih pasif soal polemik 
kehadiran Putin di KTT G20 di Bali pada November 2022 mendatang.
Bukan tidak mungkin, ini berkaitan dengan budaya politik yang berlaku dalam 
dinamika politik Indonesia. Bila mengacu pada buku Benedict Anderson yang 
berjudul Language and Power, budaya politik dan konsepsi kekuatan ala Jawa 
telah tertanam dalam cara-cara politik di Indonesia.

 
Satu hal yang unik dengan budaya politik ala Jawa adalah harmoni. Bagaimana 
pun, harmoni adalah tujuan utama yang kerap diupayakan oleh para aktor politik. 
Kata tentrem dan narima, misalnya, menjadi dua nilai yang perlu dijalankan 
dalam budaya dan tradisi Jawa.

Menjadi masuk akal apabila doktrin politik luar negeri Indonesia mengambil 
prinsip bebas dan aktif – sehingga meminimalisir kemungkinan adanya gesekan 
dengan negara dan kekuatan-kekuatan besar lainnya, serta menciptakan harmoni 
sebisa mungkin. Ini terlihat dari prinsip mufakat dan non-interferensi yang 
diadopsi oleh Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).

Meski begitu, pasifnya parpol dalam diskursusnya bukan berarti mereka tidak 
berpartisipasi dengan aktor-aktor politik luar negeri. Tidak jarang, mereka 
juga menjalin komunikasi dan kerja sama dengan parpol-parpol asing.

PDIP, misalnya, tidak dapat dipungkiri memiliki jalinan kerja sama dengan 
Partai Komunis Tiongkok (PKT). Megawati pun sempat mengucapkan selamat kepada 
PKT di hari jadinya ke-100 pada Juli 2021 lalu.

Jalinan parpol sebagai aktor politik domestik dengan entitas-entitas politik 
luar negeri sebenarnya sudah menjadi rahasia umum juga. Seperti yang dijelaskan 
oleh Damien D. Cheong dan rekan-rekannya dalam tulisan Foreign Interference in 
Domestic Politics, kekuatan-kekuatan asing bisa saja mengembangkan (cultivate) 
jalinan tertentu dengan aktor domestik.

Dengan bersifat “bebas dan aktif” – ditambah lebih memilih pasif berkomentar 
langsung, bukan tidak mungkin parpol-parpol Indonesia berusaha menjaga otonomi 
strategis (strategic autonomy) yang dimilikinya. Ini akan menciptakan 
fleksibilitas bagi parpol untuk menjalin hubungan dengan entitas politik luar 
negeri mana pun – mengingat persaingan geopolitik antara kekuatan-kekuatan 
besar seperti RRT, Rusia, dan AS berjalan semakin panas.

Mungkin, inilah mengapa Megawati dan PDIP merasa tidak perlu untuk mengomentari 
– bahkan menegur – polemik yang ada terkait Putin. Seperti sebuah pepatah yang 
pernah dicuitkan oleh Prabowo, seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu 
banyak. Bukan begitu? (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/0DDFA1619D77498882D0870958861184%40A10Live.

Reply via email to