G20 Indonesia
BI: G20 tegaskan dukungan untuk negara berpenghasilan rendah
 Kamis, 21 April 2022 05:52 WIB
 
Tangkapan layar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers 2nd FMCBG 
Meeting, Kamis (21/4/2022). ANTARA/Sanya Dinda.

Negara-negara anggota G20 menegaskan kembali komitmen mereka untuk mendukung 
negara-negara berpenghasilan rendah dan rentan, terutama yang berisiko 
mengalami kesulitan utang
Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam pertemuan 
Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (FMCBG) G20 kedua di Washington DC, 
mengatakan negara-negara anggota G20 menegaskan kembali komitmen mereka untuk 
mendukung negara-negara berpenghasilan rendah dan rentan.

"Negara-negara anggota G20 menegaskan kembali komitmen mereka untuk mendukung 
negara-negara berpenghasilan rendah dan rentan, terutama yang berisiko 
mengalami kesulitan utang," kata Perry dalam konferensi pers hasil pertemuan 
tersebut yang dipantau di Jakarta, Kamis.

Negara-negara anggota G20 menyampaikan keprihatinan atas lambatnya kemajuan 
dalam implementasi kerangka kerja bersama, dan menyerukan agar langkah 
selanjutnya lebih tepat waktu, tertib, dan dapat diprediksi.

Para anggota juga menantikan kesepakatan yang tepat waktu terkait utang negara 
Chad dan pembentukan komite kreditur untuk Zambia.

"Negara-negara anggota G20 menyambut baik pembentukan The IMF Resilience and 
Sustainable Trustee dan mendorong penempatan sumbangan global sukarela senilai 
ratusan miliar dolar yang ambisius untuk negara-negara yang membutuhkan," 
imbuhnya.

Mengingat ekonomi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih dan perang di 
Ukraina, negara anggota G20 juga mengakui peran penting Multilateral 
Development Bank (MDB) untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan mempercepat 
mobilisasi sektor swasta. Para anggota juga menantikan penyelesaian tinjauan 
kerangka kecukupan modal MDB oleh ahli independen.

Negara-negara anggota G20 juga memandang bahwa negara-negara di dunia 
menghadapi berbagai tantangan dalam menjaga ketahanan keuangan dan arus modal 
berkelanjutan.

"Banyak anggota mencatat bahwa kalibrasi tanggapan kebijakan diperlukan karena 
peningkatan ketidakpastian. Negara anggota G20 juga menegaskan kembali komitmen 
mereka untuk membentuk jaring pengaman keuangan global yang kuat dan efektif, 
melalui pembuatan kesimpulan dari review umum kuota IMF ke-16 yang tepat 
waktu," ucapnya.

Baca juga: G20 dorong kerangka kerja untuk keuangan transisi
Baca juga: BI: Sektor publik dan swasta masih sulit adopsi keuangan 
berkelanjutan
Baca juga: Sri Mulyani sebut kolaborasi G20 maupun ASEAN perlu terus diperkuat


Pewarta: Sanya Dinda Susanti
Editor: Faisal Yunianto

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/EF7A31C98A6C4B20BBB51C1AB7947B19%40A10Live.

Reply via email to