Ngegas Febri Diansyah Vs Fahri Hamzah Saat Kasus Minyak Goreng Memanas
Tim detikcom - detikNews
Kamis, 21 Apr 2022 07:36 WIB

Fahri Hamzah dan Febri Diansyah (Foto: Repro detikcom)

Jakarta - Mantan juru bicara KPK, Febri Diansyah terlibat debat dengan Ketum 
Partai Gelora, Fahri Hamzah di Twitter. Keduanya berdebat mengenai peran KPK 
terkait pengusutan kasus ekspor bahan baku minyak goreng.
Perdebatan itu mengenai gebrakan Kejagung yang menetapkan Direktur Jenderal 
Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Dirjen Daglu Kemendag) 
Indrasari Wisnu Wardhana sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pemberian 
fasilitas ekspor crude palm oil atau CPO atau minyak goreng. Dia dijerat 
bersama dengan 3 orang lain dari pihak swasta.

Kasus ini yang membuat minyak goreng sempat langka dan mahal beberapa waktu 
lalu. Jaksa Agung ST Burhanuddin mengumumkan langsung penetapan para tersangka 
itu.


"Perbuatan para tersangka tersebut mengakibatkan timbulnya kerugian 
perekonomian negara atau mengakibatkan kemahalan serta kelangkaan minyak goreng 
sehingga terjadi penurunan konsumsi rumah tangga dan industri kecil yang 
menggunakan minyak goreng dan menyulitkan kehidupan rakyat," kata Burhanuddin 
di kantornya, Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Selasa (19/4/2022).


Foto: Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Adapun 3 tersangka dari pihak swasta adalah:

- Master Parulian Tumanggor selaku Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia

- Stanley MA selaku Senior Manager Corporate Affair Permata Hijau Grup (PHG)

- Picare Tagore Sitanggang selaku General Manager di Bagian General Affair PT 
Musim Mas

Debat di Twitter
Perdebatan keduanya diawali cuitan Febri Diansyah lewat akun Twitternya 
@febridiansyah yang menyoroti KPK. Dia mengkritik KPK yang justru sibuk dengan 
dugaan pelanggaran kode etik pimpinan KPK di saat Kejaksaan Agung mengusut 
penyidikan kasus mafia minyak goreng.

Baca juga:
Ketua Komisi VI DPR Nilai Buruh Salah Alamat Desak Mendag Dicopot

"Ketika KPK jadi sorotan tentang dugaan penerimaan gratifikasi pimpinan & 
skandal internal, Kejaksaan Agung mengumumkan penyidikan korupsi mafia minyak 
goreng," kata Febri lewat cuitan di akunnya seperti dilihat detikcom, Rabu 
(20/4/2022).

Bukan tanpa alasan, Febri menyoroti kabar tentang KPK akhir-akhir ini yang 
malah disibukkan dengan kasus Lili Pintauli Siregar, yang diduga menerima 
fasilitas akomodasi hingga tiket menonton MotoGP Mandalika beberapa waktu lalu. 
Di sisi lain, Kejagung bikin gebrakan dengan menjerat Dirjen Daglu Kemendag 
Indrasari Wisnu Wardhana sebagai tersangka.

"Apakah KPK benar-benar akan jadi masa lalu, dilupakan dan ditinggalkan? 
Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan kinerja, bukan gimik," kata dia.

Kemudian, pada cuitan selanjutnya Febri Diansyah mencolek Fahri Hamzah yang 
disebutnya kerap memuji KPK era Ketua KPK Firli Bahuri. Dia menyinggung logika 
jika KPK tak menangkap koruptor, berarti korupsi sudah turun.

"Tapi @Fahrihamzah tampaknya lebih sering memuji KPK yang sekarang. Mungkin 
juga dianggap lebih baik setelah 2 tahun lebih di bawah kepemimpinan periode 
ini. Kalau KPK nggak nangkep koruptor, berarti korupsi sudah menurun. Apa 
mungkin begitu logikanya?" kata Febri Diansyah sembari mencolek Fahri Hamzah 
dengan emoticon senyum.

Selengkapnya di halaman berikutnya


Fahri Hamzah Menjawab

Fahri lantas menjawab Febridiansyah lewat cuitannya. Apa kata Fahri Hamzah?

"Dulu yang kerja cuma Ente, bro... Kejaksaan tidur... Polisi tidur... Sistem 
tidak bekerja," kata Fahri Hamzah.

Dimintai konfirmasi, Fahri Hamzah menjelaskan lebih lanjut perihal cuitannya 
kepada Febri Diansyah. Dia memuji KPK saat ini lantaran, katanya, pemberantasan 
korupsi tidak maksimal lantaran KPK berjalan sendiri mencari sensasi pada masa 
lalu.


Fahri Hamzah (Foto: M Zhacky-detikcom)

"Teman-teman itu sering lupa bahwa pada masa lalu itu fungsi sistem 
pemberantasan korupsinya tidak maksimal, karena KPK jalan sendiri mengebut 
sensasi dan kerjaan-kerjaan kecil, nah sekarang sistem pemberantasan korupsinya 
membaik yang ditandai oleh adanya koordinasi untuk menangani perkara-perkara 
besar, jadi ini adalah efek dari perbaikan sistem yang harus disyukuri," ujar 
Fahri.

Baca juga:
Disentil Gegara Mafia Minyak Goreng Diusut Kejagung, KPK Bilang Begini

Meski begitu, Fahri tidak memungkiri KPK saat ini juga harus dikritik karena 
terlalu menyisir kasus di daerah. Sementara Kejagung yang justru menyisir 
kasus-kasus besar.

"Memang kita kritik KPK karena ada gejala menyisir daerah sementara kejaksaan 
mencoba menyisir kasus-kasus besar tetapi kalau itu kita lihat sebagai 
orkestrasi, maka itu sebuah perbaikan," ucapnya.

Dia memastikan siapa pun akan kecewa jika melihat pemberantasan korupsi sebagai 
kerja satu lembaga. "Kalau terbiasa melihat pemberantasan korupsi sebagai kerja 
satu lembaga saja ya kita akan kecewa dengan keadaan sekarang," imbuhnya.

Selengkapnya di halaman berikutnya

KPK Buka Suara

KPK merespons sindiran Febri Diansyah soal perkara dugaan korupsi ekspor minyak 
goreng di Kementerian Perdagangan yang diungkap oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) 
RI. Lalu, bagaimana respons KPK soal sindiran Febri?

"Kami menyampaikan apresiasi kepada Kejaksaan Agung yang telah melakukan 
penanganan perkara dugaan tindak pidana korupsi terkait ekspor minyak goreng, 
sehingga telah menetapkan pihak-pihak tertentu sebagai tersangka. Terlebih, 
minyak goreng merupakan salah satu komoditas yang sangat dibutuhkan oleh 
masyarakat luas, yang sempat terjadi kelangkaan pada beberapa waktu yang lalu," 
kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri.

Menurut Ali, langkah Kejagung membongkar kasus tersebut justru menjadi bentuk 
optimisme pemberantasan korupsi demi kesejahteraan masyarakat. Dia menilai 
upaya pemberantasan korupsi merupakan tanggung jawab bersama.

"Capaian kinerja tersebut menjadi penguat optimisme kita bahwa pemberantasan 
korupsi memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Sekaligus 
menjadi pengingat bahwa upaya pemberantasan korupsi adalah tanggung jawab kita 
bersama. Baik melalui upaya-upaya penegakan hukum, pencegahan dan perbaikan 
sistem tata kelola, maupun edukasi antikorupsi bagi masyarakat," papar Ali.

Baca juga:
Jejak Panjang Debat Panas Eks Jubir KPK Vs Fahri Hamzah, Terbaru Isu Migor

Lebih lanjut, Ali menilai ada dua faktor yang mempengaruhi pengambilan 
kebijakan ekspor dan impor. Di sana, KPK menemukan ada penggunaan data yang 
kurang akurat sehingga berpotensi terjadinya praktik korupsi.

"Stranas PK berpandangan bahwa stabilitas harga dan ketersediaan barang di 
pasar domestik, menjadi dua kondisi utama yang menjadi basis pengambilan 
kebijakan ekspor atau impor. Namun kedua hal ini tidak selalu berjalan mulus," 
tutur Ali.

"Kami menemukan penggunaan data yang kurang akurat, tidak terintegrasi dan 
prosedur perizinan yang kurang transparan, telah membuka celah terjadinya 
praktik korupsi," tambahnya.

(isa/dwia)

Baca artikel detiknews, "Ngegas Febri Diansyah Vs Fahri Hamzah Saat Kasus 
Minyak Goreng Memanas" selengkapnya 
https://news.detik.com/berita/d-6043182/ngegas-febri-diansyah-vs-fahri-hamzah-saat-kasus-minyak-goreng-memanas


Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C1992AF051C94B43936148880B77668D%40A10Live.

Reply via email to