99,2 Persen 
Oleh: Dahlan Iskan 
Rabu, 20 April 2022 – 07:08 WIB 
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com jpnn.com - DEAR Omicron, thanks!

Artikel ini telah tayang di
JPNN.com
 
dengan judul
"99,2 Persen",

https://www.jpnn.com/news/992-persen
 


DEAR Omicron, thanks!
Itu pasti berlebihan. Omicron bukan Tuhan. Juga bukan pemerintah yang rajin 
mendorong vaksinasi.
Berita gembiranya: seluruh dunia kemarin tahu. Ada berita baik dari Indonesia: 
tingkat imunitas masyarakat Indonesia telah mencapai 99,2 persen. 

Kantor berita internasional Reuters sampai memberitakan itu. Sumbernya: Pandu 
Riono, epidemiologist dari Universitas Indonesia. 

Rupanya UI telah ditunjuk pemerintah untuk melakukan penelitian khusus:  
seberapa luas masyarakat kita sudah punya imun pada Covid-19.
Maret lalu survei itu dilakukan lagi. Respondennya 2.100 orang. Di Jawa. Dan 
Bali. Mereka diambil darah. Diperiksa di lab. Hasilnya itu tadi: 99,2 persen 
sudah memiliki imun.
Angka itu lebih tinggi dari Inggris: 92 persen. Jangan-jangan sudah yang 
tertinggi.

Dari mana saja sumber imunitas itu? Tentu Anda sudah tahu: vaksinasi.
Juga karena ada yang pernah terkena Covid-19 generasi induk –sembuh.
Lalu dari yang terkena varian Delta yang ganas itu –berhasil lolos. 
Jangan-jangan yang terbanyak akibat –atau  berkat?– terkena varian Omicron. 
Yang penyebarannya begitu cepat –tapi tidak begitu menakutkan.

Vaksinasi di Jawa memang fenomenal. Di kota-kota besarnya. Terutama Jakarta dan 
Surabaya. Mencapai jauh di atas 100 persen –yang ber-KTP luar kota pun divaksin.
Tiap bulan pemerintah melakukan kajian tingkat imunitas itu. Dari situlah, 
antara lain, ditentukan kebijakan level PPKM.
Biar pun tiap bulan angka imunitas itu naik terus, pemerintah terlihat  sangat 
hati-hati. Pun setelah 99,2 persen. Belum ada gambaran kapan bebas masker. 

Di desa-desa penduduk tidak menunggu kebijakan itu. Mungkin juga karena harus 
menghemat pengeluaran.
Di kota masih banyak yang bermasker. Masjid Agung Surabaya masih melarang 
jamaah salat tarawih yang tidak bermasker. Hanya barisan salatnya sudah boleh 
mepet-mepet. Masjid itu juga menjadi lebih bersih dan rapi. Pengurus membagikan 
kantong sandal yang didesain khusus. Rapi. Warna-warni.

Singapura sudah bebas masker. Tapi kalau Anda jalan-jalan di Orchard Road 
–Jalan Thamrinnya Jakarta– 80 persen masih bermasker.
"Hanya yang bule tidak ada yang bermasker," ujar anggota senam saya yang kini 
bekerja di perusahaan IT di Singapura. Ia terlihat senam di Surabaya kemarin. 
Lagi liburan.

Apakah di Jepang sudah bebas masker?

"Hehehe... Orang Jepang itu suka bermasker," ujar Taki Tikada, tamu saya pekan 
lalu. "Sebelum Covid pun, kalau di tempat umum, kami bermasker," katanya.
Dia ke Indonesia untuk memperkenalkan sistem evaluasi hasil pembangunan proyek 
di Jepang. Yang sudah berlangsung lebih 20 tahun.

Evaluasi itu dilakukan oleh rakyat yang di sekitar proyek. Apakah hasilnya 
sesuai dengan tujuan dan anggaran. Wakil pemerintah hadir hanya sebagai 
pendengar. Tidak boleh bicara. Tidak boleh klarifikasi.

Saya tidak bisa tahu apakah Taki masih secantik dulu. Dia ke rumah saya 
bermasker. Kami ngobrol panjang di teras belakang. Out door. Ketika saya copot 
masker, dia tetap bermasker. 
Pemerintah kita belum mau menyinggung bebas masker. Mungkin karena ujian Covid 
masih akan kita hadapi lagi. Semoga ini ujian terakhir: Lebaran Idul Fitri. 
Orang bisa menyebut sebagai ''ujian kelulusan''.

Saya tentu termasuk yang sangat gembira. Tapi masih ada yang lebih gembira 
lagi. "Kalau yang sudah punya antibodi 99,2 persen berarti sebenarnya sudah 100 
persen," ujar seorang peneliti virus.

Bisa jadi yang 0,8 persen itu hanya tidak terlihat punya antibodi. Padahal bisa 
saja sebenarnya mereka sudah punya. Hanya tidak terbaca di lab.

Seseorang yang sudah divaksin pasti sudah punya antibodi. Begitu juga yang 
sudah pernah terkena Covid.
Antibodi itu tidak terbaca lab setelah lewat enam bulan. Padahal antibodi itu 
tetap tersimpan di memori tubuh. Tidak akan hilang. Puluhan tahun. Kalau kelak 
tertular virus yang sama, barulah antibodi itu keluar secara otomatis.

Itulah sebabnya, ia termasuk yang tidak setuju vaksin booster. Hanya buang 
uang. Tapi...ia lantas tertawa. "Siapa tahu berpahala," ujarnya. Bisa membuat 
banyak orang senang –para pedagang vaksin.

Kenapa yang diteliti hanya 2.100 responden?

Tentu karena angka itu sudah memenuhi kaidah penelitian yang benar. Juga supaya 
cepat: mereka kan harus diambil darah untuk diperiksa di lab.
Sang peneliti, kini sudah selesai memeriksa berbagai virus Covid. Ia sudah bisa 
tahu perbedaan virus Wuhan yang dari Tiongkok, virus Delta yang dari India, dan 
virus Omicron yang dari Afrika Selatan.

Ia menyimpan semua koleksi virus itu di lab khusus yang diperbolehkan untuk 
itu. 
Di virus Wuhan, katanya, ada unsur virus korona kelelawar. Yang Delta ada unsur 
virus korona kucing. Sedang yang Omicron ada unsur virus korona dari tikus.
Ia juga menyimpulkan: virus Wuhan dan Delta menyerang langsung saluran 
pernapasan dan paru. Yang mengakibatkan sesak napas. Sedang Omicron menyerang 
pencernaan. Yang mengakibatkan diare. 

Kini ia lagi konsentrasi untuk sebuah pertanyaan besar: mengapa Tiongkok sampai 
me-lockdown kota sebesar Shanghai. Yang berpenduduk 25 juta jiwa.
"Logikanya tidak masuk", katanya. Ia curiga, itu bukan hanya karena Omicron. 
Tiongkok itu penemu vaksin Sinovac. Penemuan tercepat dibanding vaksin yang 
lain. Tingkat vaksinasi di sana juga sudah merata. Berarti mayoritas sudah 
punya imunitas.

Perbedaan varian Omicron dengan sebelumnya hanya 2 persen. Mestinya bukan 
perkara besar bagi Tiongkok. Tapi kok sampai lockdown. 
Padahal Tiongkok sudah berhasil mengatasi virus Wuhan. Juga bisa mencegah virus 
Delta. Wuhan, Delta, Omicron sama-sama Covid-19. Mestinya Shanghai tidak perlu 
takut. Toh hanya beda 2 persen.

Peneliti itu pun curiga jangan-jangan ada varian lain yang sengaja dilepas di 
sana. Lalu Tiongkok masih merahasiakannya. Sampai Tiongkok berhasil menemukan 
vaksinnya. 
Bisa saja ditemukan varian yang lebih berbahaya: yang ada unsur dari korona 
unta. Yakni Covid-19 tercampur virus Merc. Yang sangat mematikan di Timur 
Tengah itu.

Ia kian tenggelam di lab. Ia harus tahu kalau itu sampai terjadi di sana. Agar 
tidak menjalar ke sini. Maka, lockdown di Shanghai itu, baik juga untuk kita. 
Dan untuk dunia.
Kita berharap kecurigaan peneliti kita itu salah. Ternyata itu hanya Omicron 
kita juga. Biarlah ia terus meneliti. 
Kalau pun itu benar, kita doakan Tiongkok cepat menemukan vaksinnya. Dan kita 
bisa mengimpornya –lagi. (Dahlan Iskan)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5C5517CB6BFB404890A60249912CC440%40A10Live.

Reply via email to