https://news.detik.com/kolom/d-6043723/perempuan-dan-ketimpangan-ketenagakerjaan


Kolom

Perempuan dan Ketimpangan Ketenagakerjaan

Tasmilah - detikNews

Kamis, 21 Apr 2022 14:15 WIB
0 komentar
BAGIKAN
URL telah disalin
Perempuan di Indonesia menjadi bagian yang ikut mendorong perekonomian 
nasional. Contohnya menjadi buruh pabrik.
Potret pekerja perempuan (Foto ilustrasi: AFP/Juni Kriswanto)
Jakarta -

Cita-cita Kartini agar perempuan memperoleh hak yang setara dengan laki-laki 
telah banyak mengalami kemajuan. Bahkan angka partisipasi sekolah pada 
perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki pada seluruh 
kelompok umur. Namun demikian, catatan apik dalam bidang Pendidikan tersebut 
belum diikuti dalam bidang ketenagakerjaan. Masih terdapat ketimpangan pasar 
kerja dan diperparah dengan perbedaan upah antara laki-laki dan perempuan.

Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia berkisar pada angka 
53,34 persen, jauh di bawah partisipasi laki-laki yang nilainya pada di atas 
82,27 persen. Hal ini tidak terlepas dari peran domestik perempuan dalam rumah 
tangga. Perempuan yang kegiatan utamanya hanya mengurus rumah tangga 
proporsinya sekitar sepertiga dari seluruh perempuan usia kerja dan tidak 
banyak mengalami perubahan dalam sepuluh tahun terakhir.

Meski partisipasi perempuan tidak mengalami banyak perubahan dalam sepuluh 
tahun terakhir, namun tenaga kerja perempuan telah mengalami dinamika dalam 
status dan jenis pekerjaan. Telah terjadi pergeseran status pekerjaan utama 
pada tenaga kerja perempuan. Pada sepuluh tahun yang lalu sebagian besar tenaga 
kerja perempuan berstatus sebagai pekerja keluarga/tidak dibayar dengan 
persentase mencapai 33,93 persen.

Saat ini sebagian besar perempuan bekerja sebagai karyawan/pegawai/buruh dengan 
persentase mencapai 33,57 persen. Demikian juga dengan proporsi perempuan yang 
bekerja sebagai wirausaha mandiri juga mengalami peningkatan dalam sepuluh 
tahun terakhir. Menurut lapangan usaha, telah terjadi pergeseran dari yang 
awalnya didominasi oleh tenaga kerja pertanian kemudian berubah menjadi tenaga 
kerja penjualan.

Pada 2011 tenaga kerja perempuan yang bekerja sebagai tenaga kerja pertanian 
proporsinya sebesar 37,69 persen kemudian menurun menjadi 25,51 persen pada 
tahun 2021. Adapun perempuan yang bekerja sebagai tenaga penjualan mengalami 
peningkatan dari 23,95 persen pada tahun 2011 menjadi 27,75 persen pada tahun 
2021. Kenyataan tersebut mengindikasikan bahwa tenaga kerja perempuan semakin 
produktif.

Kemajuan dalam pendidikan dan pekerjaan pada perempuan belum diikuti oleh 
kesetaraan pada tingkat upah. Pada 2021, kesenjangan upah berdasarkan jenis 
kelamin (gender wage gap) sebesar 20,39. Hal ini berarti bahwa rata-rata upah 
yang diterima buruh laki-laki 20,39 persen lebih tinggi daripada rata-rata upah 
yang diterima oleh buruh perempuan. Rata-rata upah buruh laki-laki pada 2021 
sebesar 2,96 juta rupiah per bulan sedangkan rata-rata upah buruh perempuan 
sebesar 2,35 juta rupiah.

Ketimpangan upah tidak mengenal latar belakang pendidikan. Pada tingkat 
pendidikan tinggi, rata-rata buruh perempuan hanya 69,91 persen dari rata-rata 
upah buruh laki-laki. Pandemi Covid-19 semakin menyingkap kerentanan pada 
tenaga kerja perempuan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pandemi Covid-19 
memberikan dampak yang besar terhadap kehilangan pekerjaan pada perempuan.

Kenaikan tingkat pengangguran pada perempuan dan penurunan partisipasi 
perempuan dalam pasar tenaga kerja merupakan dampak yang nyata dari pandemi. 
Menurunnya partisipasi perempuan dalam pasar tenaga kerja semakin meningkatkan 
ketimpangan gender dalam pekerjaan.

Dari perspektif ekonomi, mengurangi kesenjangan gender dalam partisipasi 
angkatan kerja secara substansi akan meningkatkan PDB global dan meningkatkan 
kesejahteraan individu (ILO, 2017). Bahkan, pertumbuhan berkelanjutan dalam 
pekerjaan perempuan sejak awal 1990-an berdampak signifikan dalam meningkatkan 
kinerja ekonomi (Albanesi, 2019).

Tenaga kerja perempuan tidak semua mampu bertahan di tengah guncangan ekonomi 
pada masa pandemi. Hasil penelitian empiris menunjukkan bahwa keberadaan 
balita, status perkawinan, status pekerjaan perempuan, tingkat pendidikan, dan 
tempat bekerja terbukti berpengaruh terhadap kehilangan pekerjaan pada 
perempuan di tengah pandemi Covid-19.

Demikian juga perempuan yang berstatus berusaha sendiri/wirausaha mandiri 
memiliki peluang yang besar mengalami kehilangan pekerjaan pada masa pandemi 
Covid-19 dibandingkan dengan perempuan yang berstatus sebagai karyawan/pegawai. 
Hal ini harus menjadi perhatian agar wirausaha perempuan mampu bertahan di 
tengah guncangan ekonomi. Modal yang terbatas umumnya menjadi salah satu 
kendala bagi wirausaha perempuan.

Berdasarkan survei dampak Covid-19 terhadap pelaku usaha yang dilakukan oleh 
BPS, bantuan yang paling diharapkan oleh usaha mikro kecil (UMK) adalah bantuan 
modal. UMK pada sektor industri pengolahan, penyediaan makan minum, dan 
perdagangan merupakan pelaku usaha yang paling mengharapkan bantuan modal usaha.

Sebaliknya, faktor yang mencegah perempuan mengalami kehilangan pekerjaan pada 
masa pandemi Covid-19 adalah pendidikan tinggi dan penggunaan teknologi digital 
dalam pekerjaan. Mendorong seorang perempuan untuk meningkatkan pendidikannya 
hingga perguruan tinggi akan memperkecil peluang mengalami kehilangan pekerjaan 
pada masa pandemi Covid-19.

Demikian juga mendorong penggunaan teknologi digital pada wirausaha perempuan 
akan mencegahnya mengalami gulung tikar selama pandemi. Penggunaan teknologi 
digital ini termasuk penggunaan internet untuk tujuan pemasaran dan penjualan. 
Pada kenyataannya internet paling banyak digunakan oleh tenaga kerja hanya 
untuk tujuan komunikasi saja.

Yang menjadi masalah selanjutnya adalah tenaga kerja perempuan masih didominasi 
oleh lulusan sekolah dasar (SD) ke bawah yang mencapai 20,95 juta orang atau 
setara dengan 41,32 persen. Tenaga kerja dengan tingkat pendidikan tersebut 
sebagian besar berusia 40 tahun ke atas. Dengan kondisi demikian tentu amat 
berat untuk dapat menguasai teknologi digital agar mampu beradaptasi dalam 
pekerjaan.

Pelatihan dan pendampingan terutama pada wirausaha perempuan sangat diperlukan 
agar tenaga kerja perempuan mampu bertahan di tengah guncangan ekonomi. Menjadi 
wirausaha memungkinkan perempuan masih bisa melakukan peran domestiknya tanpa 
harus keluar dari pasar tenaga kerja.

Tasmilah Statististi pada BPS Kota Malang

(mmu/mmu)
kartini
hari kartini 2022
ketimpangan
ketenagakerjaan


0 komentar


Baca artikel detiknews, "Perempuan dan Ketimpangan Ketenagakerjaan" 
selengkapnya 
https://news.detik.com/kolom/d-6043723/perempuan-dan-ketimpangan-ketenagakerjaan.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/





-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220421201337.6208d309c0ef2d76ce56b8fd%40upcmail.nl.

Reply via email to