Written byD74Thursday, April 21, 2022 19:37Megawati Sedang Cari Musuh?
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/megawati-sedang-cari-musuh/
Belakangan ini Ketua Umum (Ketum) PDIP, Megawati Soekarnoputri tampak semakin 
vokal di publik, termasuk memberikan komentar terhadap permasalahan minyak 
goreng. Apa sebenarnya yang sedang dilakukan Megawati? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri beberapa waktu terakhir semakin 
sering menunjukkan dirinya ke publik. Terbaru, Megawati mendapat cibiran 
warganet lantaran menyindir ibu-ibu yang rela berbondong-bondong belanja baju 
lebaran, padahal masih kesulitan mendapatkan minyak goreng.  

Tidak hanya itu, Megawati juga melempar pernyataan cukup pedas terkait wacana 
penundaan pemilu, dengan mengatakannya sebagai sebuah permainan politik. 

Kalau kita perhatikan, Megawati mulai menjadi kontroversi sejak akhir Maret 
lalu. Ketika itu, ia menjadi buah bibir masyarakat karena mengadakan acara Demo 
Masak Tanpa Minyak Goreng. 

Acara tersebut adalah kelanjutan dari pernyataan sensasional yang dilontarkan 
Megawati terkait isu kelangkaan minyak goreng. Ia sempat menyarankan ibu-ibu 
Indonesia untuk merebus dan mengukus makanan ketimbang menggoreng di tengah 
mahalnya harga minyak goreng.  

Menariknya, baru-baru ini terungkaplah empat orang tersangka mafia minyak 
goreng, yang ditelusuri oleh Kejaksaan Agung (Kejagung). Pengamat politik Rocky 
Gerung menduga pengungkapan tersebut tak lepas dari peran penting Megawati. 

Menurutnya, kasus ini seperti pementasan teater besar yang akhirnya 
diintervensi oleh Kejaksaan Agung atas titah dari PDIP. Rocky melihat Jaksa 
Agung yang menjabat saat ini, yakni ST. Burhanuddin, adalah proksi Megawati, 
dan Megawati telah mendorongnya untuk mengusut kasus minyak goreng sebagai 
pembuktian bahwa Megawati pun tahu tentang permainan minyak goreng, dan bisa 
memberikan solusi nyata. 

Kejagung yang ditugaskan untuk ambil alih langsung kasus ini, menurut analisa 
Rocky Gerung, merupakan upaya untuk menunjukkan “taring PDIP”. Kalau kita 
telusuri, apa yang dikatakan Rocky sepertinya tidak terlalu imajinatif, karena 
Burhanuddin sendiri adalah adik dari TB. Hasanuddin, seorang politisi senior 
PDIP. 

Lantas, jika perkataan Rocky memang benar, maka Megawati bisa diartikan 
“memilih” momen ini sebagai momen tepat untuk memunculkan dan menaklukkan salah 
satu musuh besar negara, yaitu mafia minyak goreng. 

Pertanyaan besarnya tentu adalah, mengapa sekarang? Dan bagaimana kira-kira 
kaitannya dengan Megawati, yang belakangan ini semakin vokal di media? 

Megawati Membutuhkan Musuh? 
Melihat konstelasi politik di Indonesia saat ini, tidak terbantahkan bahwa PDIP 
adalah partai yang paling berkuasa. Megawati sebagai ketum partai terkuat, 
berada di posisi yang sangat nyaman, karena hanya memiliki segelintir oposisi 
saja, itu pun belum tentu bisa menggoyahkan kestabilan politik yang sudah 
Megawati dirikan.  

Dengan keadaan seperti itu, tentu Megawati dan PDIP tidak butuh melakukan 
banyak gerakan politik untuk mempertahankan dominansinya, bukan? Well, tidak 
juga.  

Seperti yang sudah dibahas dalam artikel PinterPolitik berjudul Sudah Saatnya 
NATO Dimusnahkan?, sebuah kekuatan besar tetap membutuhkan sosok musuh untuk 
menjustifikasi keberadaannya. Dalam kasus internasional, kita bisa melihat 
NATO, yang seiring waktu tampak selalu membuat citra seakan-akan Rusia adalah 
musuh bebuyutannya.  
Alasannya cukup sederhana, yaitu untuk menyebar paham bahwa meski telah 
memenangkan Perang Dingin, NATO ternyata masih dibutuhkan untuk menjaga 
perdamaian. Oleh karena itu, ia menjadikan Rusia sebagai musuh yang perlu 
dihadapi bersama. 

Pandangan seperti ini juga bisa kita gunakan untuk melihat dominasi politik 
satu kubu dalam suatu negara. Leopoldo Fergusson, dan kawan-kawan dalam tulisan 
The Need for Enemies, menjelaskan politisi yang berkuasa akan selalu 
membutuhkan sosok musuh untuk mempertahankan keunggulan politik mereka, demi 
mempertahankan dukungan politik.  

Hal ini karena sejatinya mayoritas politisi dipilih untuk menyelesaikan suatu 
masalah, yang mereka janjikan di awal-awal kampanye. Namun, alih-alih 
menyelesaikannya dengan cepat, Fergusson dan kawan-kawan melihat politisi pasti 
akan mencari alasan agar masalah di negaranya dapat terus terjadi.  

Tujuannya adalah agar publik tetap memiliki alasan untuk melihat bahwa mereka 
masih membutuhkan kinerja politisi tersebut guna mempertahankan kestabilan dan 
keamanan di negerinya.  

Menariknya, karena alasan itu, Fergusson dan kawan-kawan menilai bahwa beberapa 
masalah krusial di suatu negara yang tidak kunjung selesai sebetulnya bukan 
karena tidak bisa diselesaikan, tetapi justru karena politisi tersebut masih 
membutuhkan masalah itu untuk tetap ada. Istilah sederhananya, untuk dijadikan 
sebagai asuransi dalam pemilihan selanjutnya. 

Karena itu, bisa diartikan juga bahwa suatu musuh dalam politik sesungguhnya 
berperan sebagai justifikasi agar kekuatan yang dominan tetap memiliki alasan 
untuk melancarkan kepentingan-kepentingannya.  

Di sisi lain, musuh politik juga dapat digunakan untuk membuat politisi yang 
berkuasa dijauhkan dari citra diktator tirani. Dengan adanya musuh bersama yang 
juga dapat dibenci rakyatnya, politisi yang berkuasa akan dipandang sebagai 
pahlawan, bukan sebagai raja atau ratu yang perlu ditaklukkan. 

Ironinya, “musuh buatan” ini diciptakan karena politisi yang berkuasa merasa 
takut. John J. Mearsheimer dalam bukunya The Tragedy of Great Power Politics, 
mengatakan perselisihan politik akan selalu terjadi karena para aktornya akan 
selalu merasa tidak pasti. 

Politik pada dasarnya memang penuh dengan ketidakpastian, kita bisa lihat 
sendiri dari kasus Perjanjian Batu Tulis. Di perjanjian itu, Megawati 
berkomitmen akan mendukung pencalonan Ketum Gerindra Prabowo Subianto di 
Pilpres 2014. Namun perjanjian tersebut kemudian tidak jadi nyata, di Pilpres 
2014 silam PDIP malah mengusung Jokowi-Jusuf Kalla (JK). 

Karena ketidakpastian ini, untuk menjamin eksistensinya, para aktor politik 
akan mencari cara-cara rasional agar survival-nya bisa terjamin. Salah satu 
caranya adalah dengan berkelit di isu-isu tertentu yang dapat memberikan mereka 
keunggulan strategis. 
Dengan pandangan demikian, bisa diinterpretasikan bahwa sangat masuk akal bila 
Megawati saat ini sedang mencari “musuh”. Penetapan tersangka mafia minyak 
goreng mungkin jadi salah satu bukti pertamanya. 

Lantas, bagaimana kita bisa mengantisipasi langkah Megawati ke depannya? 

Akan Ada Skenario Baru? 
Pengamat politik Rocky Gerung sempat melontarkan pendapat yang menarik. 
Menurutnya, pengusutan mafia minyak goreng yang terlihat ragu-ragu antara pihak 
aparat dan kementerian terkait beberapa waktu sebelum Megawati bicara 
menunjukkan bahwa ada upaya menjalankan skenario tertentu yang diulur-ulur. 

Menurutnya, miskomunikasi antara kementerian dan lembaga membuktikan adanya 
tarik menarik yang luar biasa untuk menentukan siapa yang akan ditumbalkan jadi 
tersangka. Padahal sebelumnya beberapa pihak sempat menyebutkan bahwa tidak ada 
yang namanya mafia minyak goreng, namun Kejagung kemudian membuktikan bahwa 
mafia memang benar ada. 

Pola yang aneh ini menurut Rocky adalah indikasi ada upaya untuk menciptakan 
“teater”, di mana akan ada yang berperan sebagai yang dikorbankan, dan ada yang 
berperan sebagai pihak yang menjebloskannya. 

Well, politik pada dasarnya sepertinya memang berperan layaknya teater. Sandey 
Fitzgerald dalam tulisannya Politics as Theater, menyebutkan para aktor utama 
yang bermain di teater politik ini perlu menunjukkan dirinya sebagai apa yang 
ingin disaksikan penonton. 

Maksudnya adalah, politisi akan bermain layaknya aktor-aktor protagonis melawan 
aktor antagonis dalam suatu skrip. Tujuan utama teater ini menurut Fitzgerald 
adalah untuk menciptakan rasa keamanan di dalam alam pikiran penonton – yang 
adalah masyarakat – bahwa seluruh masalah dalam aspek kehidupan bernegara pada 
akhir cerita sesungguhnya berada dalam kendali. 

Karena pandangan demikian, dengan sejumlah sindiran yang dilontarkan Megawati, 
terutama tentang penundaan pemilu yang merupakan permainan politik, dan juga 
sindiran pada Jokowi terkait mimpi Indonesia emas yang masih dibayang-bayangi 
stunting, maka bukan tidak mungkin bila nantinya akan dimunculkan pula 
musuh-musuh baru yang bisa diberantas bersama. 

Sebagai penutup, perlu disadari bahwa tulisan ini adalah interpretasi semata. 
Entah apa pun yang terjadi, apakah Megawati sedang berupaya mencari musuh atau 
justru menguak kebenaran, itu hanya diketahui oleh Megawati sendiri. 

Yang jelas, seperti kata pejuang kuno Persia, Hassan as-Sabbah: “nothing is 
true—all is permitted”. Segala peristiwa politik bisa terjadi karena ada 
kompromi dari pihak-pihak terkait. (D74) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B7D7D2CB747C491F9557E1C9C80ED42A%40A10Live.

Reply via email to