Written byI76Thursday, April 21, 2022 17:56
Cak Imin Gali Kubur Sendiri?
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/cak-imin-gali-kubur-sendiri/
Pernyataan Ketum PKB Muhaimin  Iskandar (Cak Imin) terkait ide penundaan pemilu 
untuk selamatkan Wapres Ma’ruf Amin mungkin dianggap hanya  sebuah guyonan. 
Tapi, sebagian pengamat menilainya berbeda, pernyataan Cak Imin tidaklah layak 
karena objeknya seorang ulama besar. Lantas, apakah ini bisa jadi pertanda Cak 
Imin sedang menggali kuburnya sendiri?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) 
seringkali mengundang kontroversi di setiap pernyataan-pernyataannya. Masih 
segar dalam ingatan, Cak Imin beserta sejumlah ketua umum partai pendukung 
pemerintah kompak mengusulkan penundaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Setelah demonstrasi besar mahasiswa yang dipelopori oleh Badan Eksekutif 
Mahasiswa se-Indonesia (BEM-SI) meminta pemerintah dan DPR konsisten 
menjalankan konstitusi, barulah para elite merubah sikap  tentang wacana ini.

Bahkan pemerintah, sebelum demonstrasi berlangsung, melalui Presiden Joko 
Widodo (Jokowi) memberikan klarifikasi dan sikap tegas bahwa Pemilu 2024  pasti 
akan dilaksanakan sesuai jadwal. Seketika itu, semua pengusul wacana penundaan 
termasuk Cak Imin membuat klarifikasi.

Cak Imin mengatakan ide tunda Pemilu 2024 dilontarkan bertujuan untuk membantu 
Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin. Kata Cak imin, “Kenapa menolong Kiai 
Ma’ruf? Supaya nanti di akhirat ditanya, kurang ini kurang itu. Mesti alasannya 
dua  tahun pandemi enggak bisa ngapa-ngapain”.

Menurut Cak Imin, penundaan pemilu disampaikan karena ada sejumlah pekerjaan 
yang belum diselesaikan pemerintah imbas pandemi Covid-19. Proyek pemindahan 
ibu kota negara (IKN) juga belum sempat tergarap.

Oleh karena itu, ide penundaan tersebut baginya masuk akal. Meski dalam 
beberapa pernyataan Cak Imin menegaskan menolak jika dianggap ngotot Pemilu 
2024 ditunda. Karena baginya, wacana tersebut hanya sebatas menyampaikan 
usulan, dan jika ada yang menolak maka itu wajar.

Alasan Cak Imin yang menyeret nama Ma’ruf Amin dinilai sebagai cara untuk cuci 
tangan dan menutupi kesalahannya terkait wacana penundaan pemilu. Apalagi 
ditambah dengan alasan pandemi membuat efektivitas kerja pemerintah tidak 
maksimal, upaya menutup kesalahan dinilai semakin terlihat.

Ahmad Khoirul Umam, pengamat politik Universitas Paramadina, melihat apa yang 
dilakukan Cak Imin adalah cara untuk cuci tangan dari kontroversi besar yang 
dibuatnya sendiri.

Bahkan, Wakil Ketua Umum Partai NasDem Ahmad Ali, mengatakan Cak Imin tidak 
pantas menyeret nama Ma’ruf Amin dalam pusaran wacana penundaan Pemilu 2024. 
Apalagi mengaitkan isu ini dengan urusan kehidupan akhirat, seperti 
pernyataannya di atas.

Meskipun telah dikonfirmasi Masduki Baidlowi, Juru Bicara Wapres, bahwa 
pernyataan Cak Imin adalah sebuah guyonan yang biasa di Nahdlatul Ulama (NU), 
tetapi masalahnya dia sebagai Ketum PKB, dan harus bisa menempatkan pernyataan 
dalam situasi yang tepat.

Apalagi pernyataan berkaitan dengan wacana yang jadi sorotan publik, yaitu 
penundaan Pemilu. Dan menyeret nama Ma’ruf Amin bukanlah perkara yang 
sederhana. Sebagai Tokoh inti di kalangan Nahdliyin, Ma’ruf Amin sangat 
diperhitungkan.

Lantas, sebelum kita melihat dampak pernyataan Cak Imin. Muncul pertanyaan, 
terdapat hubungan seperti apa sosok Ma’ruf Amin dan NU?
 
Ma’ruf Amin dan NU
Fathoni dalam tulisannya Jejak NU Tinggalkan Politik Praktis dan Perkuat 
Khittah 1926, menjelaskan praktik politik NU yang digagas oleh K.H. Sahal 
Mahfudh, dikenal dengan  istilah siyasah aliyah samiyah (politik tingkat 
tinggi), bukan siyasah safilah (politik tingkat rendah).

Politik tingkat rendah biasa disetarakan dengan politik kekuasaan, yang 
merupakan bagian dari politik praktis yang sering dipraktekkan oleh 
partai-partai politik selama ini. Sedangkan NU berperan pada politik tingkat 
tinggi, yaitu politik kebangsaan, politik kerakyatan, dan etika berpolitik.

Dan tokoh yang dipercaya dapat menerapkan peran politik tingkat tinggi seperti 
ini adalah para alim, sebuah bentuk singular dari ulama, yang maknanya secara 
sederhana berarti orang terpelajar. Dan Ma’ruf Amin merupakan salah satu tokoh 
yang saat ini punya predikat tersebut.

Ma’ruf Amin dikenal sebagai ulama yang sangat mumpuni dan memiliki banyak 
pengalaman dalam jabatan-jabatan pemerintah. Di umur yang sudah tidak muda 
lagi, Ma’ruf Amin juga memegang jabatan penting di beberapa organisasi Islam.

Sebelum mencalonkan sebagai wakil presiden, sempat menjabat sebagai Rais Aam 
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2015-2020 dan Ketua Umum MUI 
periode 2015-2020. Selain itu, Ma’ruf Amin merupakan ulama yang sangat disegani 
serta menjadi rujukan oleh kebanyakan umat Muslim di Indonesia.

Faktor nasab, mungkin masih berpengaruh dalam tradisi keagamaan di NU. 
Diketahui, Ma’ruf Amin merupakan turunan dari ulama besar, yaitu Syaikh Nawawi 
al-Bantani. Merupakan ulama yang memiliki segudang keilmuan dan sangat disegani 
baik di Indonesia maupun di dunia internasional.

Vanny El Rahman dalam tulisannya Profil Lengkap Cawapres Ma’ruf Amin, 
mengatakan dalam karier politiknya, Ma’ruf Amin pernah menjadi anggota Dewan 
Pertimbangan Presiden (Wantimpres) urusan Agama dan Hubungan Negara-negara 
Islam pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 
2007.

Kemudian, Ma’ruf Amin juga pernah menjabat sebagai anggota DPRD DKI Jakarta 
dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), anggota MPR RI dari Partai 
Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Ketua Komisi VI DPR RI.

Bahkan, terdapat cerita menarik saat menjabat sebagai anggota DPRD DKI Jakarta. 
Terdapat kontribusi Ma’ruf Amin karenai pernah meloloskan perpanjangan masa 
tahun dalam plat nomor kendaraan, yang mana ini ditujukan untuk memudahkan 
pemeriksaan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

Cerita di atas menggambarkan bahwa Ma’ruf bukan hanya ulama. Ia juga dikenal 
sebagai politikus. Dan dengan diusungnya menjadi wapres oleh warga NU, 
membuktikan bahwa Ma’ruf merupakan orang terpenting dalam NU itu sendiri.

Dalam konteks pernyataan Cak Imin, seolah ia memperlihatkan sikap yang kurang 
elok dilihat karena menyeret nama tokoh besar seperti Ma’ruf Amin hanya untuk 
sebagai bahan klarifikasi terkait dukungannya terhadap penundaan pemilu.

Tentunya hal ini sangat disayangkan, dan di lain sisi seolah menjadi bukti 
bahwa ada jarak (gap) pada level berpolitik yang disinggung di atas, yaitu 
level politik tingkat tinggi dan level politik tingkat rendah.
Dan level politik tingkat rendah ini adalah kenyataan lain dari praktik 
komunikasi buruk politisi yang menandakan kian menguatkan gejala retrogresi 
politik. Gejala retrogresi ini bisa dimaknai sebagai pemburukan kualitas 
berpolitik yang diakibatkan hilangnya kepekaan dan komitmen untuk menghormati 
norma dan keadaban.

Well, lantas mungkinkah sikap Cak Imin mempunyai dampak politik bagi dirinya 
dan PKB?

 
Salah Langkah?
Ketika Cak Imin ikut menyuarakan penundaan Pemilu 2024, tanpa sadar ia telah 
mempertontonkan kapasitasnya ke hadapan publik. Ditambah pula dengan alasan 
menyelamatkan Wapres Ma’ruf Amin, membuat pernyataannya dianggap irasional dan 
cenderung mengada-ada.

Pengamat sosial keagamaan Fachry Ali, menyoroti sikap  Cak Imin dan mengatakan, 
bahwa yang diperlihatkan Cak Imin itu benar-benar sebuah anti-intelektual, 
bahkan dapat menjadi sebuah pelecehan kecerdasan publik.

Menurut Fachry, PKB kemungkinan besar akan mendapat dampak negatif akibat sikap 
Cak Imin, mengingat basis suara mereka adalah dari kalangan Islam NU. Apalagi 
tradisi kaum nahdliyin yang banyak menelurkan intelektual Muslim, pernyataan 
tersebut bertolak belakang dengan predikat tersebut.

Kemudian yang terpenting, saat ini hubungan Cak Imin dan PKB sedang tidak baik 
dengan PBNU yang memanas setelah Cak Imin melakukan safari politik di Jawa 
Timur. Hal ini lantaran PCNU Kabupaten Banyuwangi dan Sidoarjo diduga terlibat 
politik praktis dengan mendukung Cak Imin sebagai capres 2024.

Kekuatan NU terletak pada kiai dan santri yang dikenal dengan kesederhanaan dan 
solidaritas tinggi, yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Dan kekuatan 
PKB terletak pada NU yang punya ikatan historis saat pendirian partai ini.

Bagi PKB sukar untuk eksis tanpa dukungan NU dan pesantren. Hasil terbesar 
suara PKB nasional berasal dari kantong NU dan pesantren seperti di Jawa Timur 
(Jatim), Jawa Tengah (Jateng), dan Jawa Barat (Jabar), juga sebagian di 
Lampung, Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Sulawesi Selatan (Sulsel).

Data memperlihatkan bahwa 31 dari 58 anggota Fraksi PKB DPR RI hasil Pemilu 
2019 berasal dari Dapil Jatim dan Jateng. Di Dapil Jateng, suara terbesar PKB 
berasal dari kawasan pesisir yang identik dengan kantong NU dan pesantren.

Sebagai penutup, di tengah cuaca politik yang sedang tidak bersahabat bagi PKB 
dan juga posisi  dilematis PKB terhadap NU dalam konteks dukungan politik. 
Bijak jika  Cak Imin meredam untuk tidak  memperkeruh dengan 
pernyataan-pernyataan yang nantinya berdampak buruk bagi dirinya dan PKB ke 
depan. (I76)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/53ACCED083B14778873E6847D8782760%40A10Live.

Reply via email to