https://bergelora.com/stop-delusi-amerika-kamu-bukan-pemimpin-kami/ 

Stop Delusi Amerika! Kamu Bukan Pemimpin Kami! 
ByTim Redaksi22 April 2022


Presiden AS, Joe Biden. (Ist)
Oleh: Muhammad Zulfan *

KATA de·lu·si /délusi/ n Psi  adalah pikiran atau pandangan yang tidak berdasar 
(tidak rasional), biasanya berwujud sifat kemegahan diri atau perasaan 
dikejar-kejar; pendapat yang tidak berdasarkan kenyataan; khayal

Tanggal 26 Maret, di depan prajurit Amerika Serikat (AS) yang ditempatkan di 
Polandia, Presiden Joe Biden, menyatatakan “For God’s sake, this man cannot 
remain in power” ,–mengacu kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Pejabat gedung putih segera meralat kata-kata ini, menyatakan bahwa Biden tidak 
bermaksud seperti itu, bahwa ini off script, dan berbagai peniadaan, denial, 
yang lain.

Kata pakar psikologi, manusia bisa bertindak sadar atau bertindak dari impuls 
alam bawah sadar dalam tekanan emosi tertentu, sepeeti sedih, marah dan takut. 
Bisa jadi pernyataan Biden tersebut adalah manifestasi alam bawah sadarnya.

Politik luar negeri AS adalah intimidasi, penyuapan, sanksi, embargo dan 
penggulingan penguasa negara lain yang tidak mau tunduk pada kepentingan AS. 
Sejarah invasi Amerika Serikat yang selalu mempromosikan demokrasi dan 
penghargaan pada HAM berulang terjadi di berbagai negara Asia, Afrika dan 
Amerika Latin dan Eropa pada siapa saja yang tidak sejalan dengan kepentingan 
Amerika Serikat.

Tanpa sadar Joe Biden mengungkapkan kenginan Amerika Serikat dan kebiasaan ini 
menjadi “keniscayaan” di benak bangasawan politik yang mengatur politik luar 
negeri mereka, diamini oleh media mainstream yang selalu sejalan dengan 
pemerintah AS dalam urusan penggulingan atau invasi ke negara lain. Media massa 
berperan untuk mengatur cara berperilaku warga negara mereka dan dunia, untuk 
menunjukan bahwa serangan ke bangsa dan negara lain adalah wajar karena AS 
bertugas untuk itu.

Manipulasi pola pikir dan perilaku Amerika Serikat di atas bisa menjadi delusi.
Delusi ini menjadi senjata makan tuan ketika rencana penggulingan dilakukan 
kepada lawan politik yang seimbang seperti Russia atau RRC.

Sejak penggulingan Mosadegh, PM Iran, 1953, semua rencana Amerika hampir 
semuanya berhasil, kecual Vietnam, ketika China dan Soviet membantu Vietnam.

Sebelum pemerintah Ukraina digulingkan Amerika dan Uni Eropa pada tahun 2014, 
seluruh dunia terhenyak (dan kemudian dilupakan) dengan tragedi Libya, negara 
termakmur di Afrika, digoyang oleh saudagar Arab di teluk, dan Muaamar Qadafi 
di bunuh secara biadab oleh teroris binaan Amerika. Hillary Clinton, idola 
neolib neocon tertawa puas dalam kata “we saw, we came, he died”.

Kini Libya hancur dalam genggaman beberapa faksi teroris, terpecah, bahkan ada 
pasar budak. Inilah demokrasi dan HAM yang AS tawarkan pada dunia!

Setelah invasi NATO di Libya, Prancis dan berbagai negara lain di Eropa dan 
teluk mendapatkan konsesi lahan
minyak. Ini bukan pertama kali NATO menginvasi negara lain. Mereka mulai di 
Yugoslavia, menghancurkan Serbia, ikut invasi ke Iraq di mana Ukraina terlibat, 
invasi ke Afganistan, dan serangan serangan udara ke Syria, jelas menempatkan 
NATO sebagai aliansi agresi. Agresor bukan aliansi defensif seperti yang mereka 
propagandakan.

Syria hampir bernasib serupa, tapi Rusia (juga Iran dan Hizbullah) melihat ini 
berbahaya. Iran datang tahun 2013, Hizbullah juga, kemudian Rusia hadir 2015, 
membalikkan keadaan, mengeleminir anasir teroris binaan AS, Al Qaida cabang 
Syria, apapun namanya, Daesh alias ISIS, ikhwanul Muslimin, HTI dan lain-lain.

Kemenangan Syria belum mutlak, karena USA masih menduduki secara ilegal, 
invasi, 1/3 wilayah utara Syria yang kaya minyak dan lumbung gandum Syria, 
sementara Syria masih dalam embargo ekonomi yang merusak seluruh sendi 
kehidupan negara tersebut.

Rusia hadir di Syria setelah melihat apa yang terjadi di ukraina, pemerintah 
Ukraina yang terpilih secara demokratis digulingkan di Februari 2014, presiden 
Yanakovich harus melarikan diri dari ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh 
sektor ultra kanan, yang kemudian jadi Azov Batalion.

Mereka sudah dilatih lama oleh Nato, biarpun terang terangan bahwa sektor kanan 
ukraina ini adalah kelanjutan dari NAZI yang dulu diusir oleh Uni Soviet. 
Mereka membesar dari kehancuran ekonomi Ukraina pasca Uni Soviet.

Ukraina mungkin negara paling korup di dunia, Presiden Yanakovich sendiri tidak 
lepas dari masalah ini. Oligarki jahat berkuasa penuh, sebut saja nama Rinat 
Akhmetov penguasa Azovstall, Igor Kolomoisky seorang zionis kaya raya yang 
membiayai presiden sekarang (V)lodomyr (Z)alensky.

Yanakovich digulingkan oleh Amerika dan Uni Eropa setelelah dia menolak paket 
kerjasama  ekonomi Uni Eropa dan menerima tawaran Rusia yang lebih manusiawi. 
Paket Uni Eropa adalah paket privatisasi semua layanan sosial peninggalan Uni 
Soviet, sedangkan paket Rusia lebih baik.

Kudeta si Ukraina saat itu tidak akan berhasil tanpa pengerahan kekauatan NAZI 
dari barat Ukraina dan dukungan penuh pelaku kebijakan luar negeri AS,– yang 
telah menjadi sebuah departemen khusus penggulingan pemerintahan yang sah di 
luar AS.

Beberapa bangsawan politik AS seperti John McCain, Linsay Graham, hadir di 
Ukraina untuk memberi dukungan dana, senjata dan pelatihan terhadap pengikut 
NAZI, seperti mereka juga hadir di Syria untuk membantu Al Qaida dan 
sejenisnya. Mereka dan yang lain juga hadir untuk  mendukung perusuh di Hong 
Kong. Inilah wajah negara penjunjung demokrasi dan HAM.

Victoria Nuland, sebagai ketua pengatur kebijakan politik luar negri (baca 
penggulingan, color revolution) untuk Eurasia hadir di kerumunan demonstran di 
lapangan Maidan, Kyev, untuk menyemangati penggulingan Presiden Ukraina 2014 
lalu. Kemudian dia memilih siapa antek mereka.di Ukraina untuk jadi pemerintah 
boneka Ukraina. Ada rekaman telepon antara Nuland dan Dubes AS di Ukraina,– 
terdengar dia menyebutkan nama pengganti presiden yang digulingkan dan kata 
kasar ‘F*uck Eropean Union‘,– jangankan untuk musuh,– untuk sekutunya sendiri 
AS bisa melecehkan seperti itu. Atau mungkin semua pemerintah di Uni Eropa  
juga sudah jadi boneka Amerika. Bisa iya mereka boneka, terlihat dari tekanan 
politik untuk sekutu Eropanya sekarang.

Rusia terlihat bagai sambungan dari Uni Soviet, biarpun bukan negara komunis 
lagi. Rusia memiliki arsenal nuklir terbesar di dunia, dengan persenjataan 
konvensional mumpuni.

Rusia punya sumber daya alam luar biasa, dalam tanah ataupun di atas tanah, 
jumlah penduduk besar dan terpelajar, dengan kekuatan produksi besar, dan yang 
paling bahaya bagi delusi hegemoni AS adalah, aliansi Rusia dan RRC, saingan 
ekonomi AS.

Selama Rusia lemah, AS tidak ambil pusing, tapi begitu Rusia melawan di Krimea 
dan Syria, presiden Putin bukan anak baik lagi.  Rusia tidak bisa diatur oleh 
AS. Rusia terlalu besar dan tetap menjadi kekuatan di dunia. Ukraina sepertinya 
dibuat jadi perangkap untuk Rusia.

Orang Rusia melihat Ukraina adalah saudara mereka, seperti melihat Belarusia. 
Tiga bangsa Slavia timur ini dari dulu merasa bersama. Perang ini sangat sulit 
bagi kesatuan mereka, tragedi hancurnya uni soviet yang memisahkan mereka. Hal 
ini membuat Rusia melakukan ‘invasi’ ke Ukraina.

Bagi Rusia, pemerintahan boneka barat di Kyev terus menerus mengkampanyekan 
permusuhan dengan Rusia, memasukkan komponen NAZI bersenjata dalam angkatan 
perang Ukraina, dan ingin mengintegrasikan Ukraina dalam NATO, yang artinya 
arsenal nuklir AS bisa berada di depan pintu Rusia.

AS tahu ini, tahu kalau Rusia tidak akan menerima hal ini, Putin sudah bicara 
di Munich dalam konfrensi keamanan munich tahun 2008,–bahwa Rusia tidak akan 
menerima ini,–hal ini menjadi ancaman keamanan esensial terhadap Rusia.

Namun AS tidak mau mendengar keluhan Rusia, bahkan terus memprovokasi, 
menyerang wilayah yang memberontak di Donbas, membunuh rakyat sipil berbahasa 
Rusia, menekan Ukaraina untuk tidak patuh pada perjanjian damai. Semua itu 
untuk menyeret Rusia agar menyerang dan menempatkan Rusia sebagai 
“agresor”‘–supaya lebih mudah memanipulasi kesadaran warga dunia, mengsilolasi 
Rusia, demonisasi Rusia, kemudian membuat Rusia terlalu  berkomitmen pada 
perang dan melemahkan ekonomi Rusia. Intinya menimbulkan keresahan publik di 
Rusia sehingga bisa memberontak dan menggulingkan pemerintah Rusia sekarang, 
menggatikan dengan rezim boneka, kalau perlu memecah Rusia jadi beberapa 
bagian, dan menghacurkan senjata nuklir, mengisolasi Rusia sehingga 
meninggalkan RRC sendiri menghadapi barat.

Tapi lagi-lagi semua itu hanyalah delusi. Rusia tidak sendirian, aset intelejen 
AS yang cukup banyak di Rusia tidak bisa berbuat banyak. Bahkan tingkat 
penerimaan pemerintah Rusia malah membaik. Negara-negara selatan, sebagian 
besar netral (banyak mendukung Rusia) dalam perang melawan AS- NATO di Ukraina 
hari ini.

Rakyat di negara-negara selatan dan negara berkembang mendukung Rusia. Bagi 
warga negara yang selama ini dibully AS, Rusia menyuarakan, bergerak berperang 
mewakili perang yang selama menyerang mereka.

Bahkan sebagian besar masyarakat AS menentang campur tangan AS dan NATO di 
Ukraina dan mendukung Putin. Mantan Presiden AS Donald Trump pun secara 
terang-terangan mendukung Putin dan mencela kebijakan pemerintahan Joe Biden di 
Ukraina. Keberpihakan Trump.pada Putin menjadi sangat viral di berbagai media 
sosial Amerika,-— “I’ll stand on the side of Russia right now”

Donald Trump sendiri yakin Rusia bisa menyelesaikan persoalan di Ukraina, tanpa 
harus ada campur tangan AS dan NATO yang justru membahayakan rakyat Ukraina.

Jelas perang ekonomi barat sangat berat bagi Rusia. Akan ada kesulitan ekonomi, 
barang barang produksi barat akan sulit di dapat. Di sisi lain, barat, Eropa 
terutama akan kesulitan juga ketika beberapa komoditi strategis yang selama ini 
didapat dengan murah dari Rusia hilang di pasar mereka, energi dan bahan pangan 
misalnya.

Perang ini jelas membuat warga dunia terutama warga Eropa menderita, bukan 
hanya warga Ukraina dan Rusia saja. Perang ini diinginkan oleh elit bangsawan 
politik dan ekonomi AS, untuk menjaga dan memastikan dominasi mereka dan 
memberi makan mental kejam meraka yang delusional, delusi.

Posisi Indonesia yang netral sudah sangat tepat. Kita perlu menjaga kepentingan 
nasional kita. Tekanan dari AS pasti sangat brutal. Namanya juga bully, dan 
ancaman penggulingan pemerintah juga bisa terjadi. Bahkan Dubes Ukraina hadir 
dalam demo mahasiswa di Jakarta. Mudah–mudahan tidak bergulir seperti kudeta 
parlemen pakistan terhadap Imran Khan.

Tekanan ini terasa ketika Indonesia menjadi tuan rumah KTT G20 nanti,– AS sudah 
terus mendesak Indonesia untuk melakukan diskualifikasi Rusia.  Alhamdulillah, 
posisi Indonesia tetap kokoh, tetap netral dan mengundang Rusia untuk hadir 
dalam KTT G20 nanti. Indonesia telah menunjukkan sikap menolak tunduk pada 
tekanan komunitas fantasi barat.

Posisi pemerintah seperti presiden Soekarno dulu yang tidak mau tunduk dengan 
tekanan asing, berdiri kuat mempertahankan kedaulatan negara ini telah menjadi 
referensi politik pemerimtah bahkan rakyat Indonesia.

Barat harus sadar, ini dunia nyata yang realistis, bukan dunia fantasi delusi 
mereka, bukan seenak perasaan mereka,–kita bisa bertindak rasional sebagai 
komunitas bangsa-bangsa yang sehat bukan domba yang prilakunya diatur oleh 
kepentingan mereka. Barat harus sadar bahwa mereka bukan pengatur bangsa lain, 
bukan mesiah untuk kulit berwarna. Nilai-nilai barat tidak selamanya benar.

Sekarang terlihat jelas barat bersama monopoli big tech mereka mengusir semua 
warga dunia yang berbeda dengan mereka, memuji dan mengagungkan NAZI dan 
supremasi kulit putih, memanipulasi informasi untuk warganya sendiri, dan 
mengajak semua orang untuk delusi seperti mereka.

Delusi terjadi karena kondisi mental akut yang mempengaruhi tindakan rasional, 
dan mengatur prilaku berdasarkan impulsivitas emosi.

Tulisan ini akan dibilang teori konspirasi oleh domba delusi barat, konspirasi 
politik luar negeri AS jelas ada. Semua paparan di atas ada buktinya, ada 
faktanya ada investigasi mendalam. Bahwa semua narasi yang berbeda dari narasi 
mainstream barat itu disebut konspirasi atau propaganda Rusia atau China. Kita 
bukan bangsa delusi, dunia sudah berubah coy!

* Penulis Muhammad Zulfan, Sekrataris Komite Persahabatan Rakyat Indonesia – 
Rusia

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/53AF469F6EC34944A7E015F39DA453FB%40A10Live.

Reply via email to