Written byA43Saturday, April 23, 2022 22:50
Mengapa Jokowi Perlu Tangani Putin?
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mengapa-jokowi-perlu-tangani-putin/
Meski tekanan asing terhadap pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) untuk tidak 
mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin di KTT G20 2022 terus mencuat, 
Indonesia tetap mengirimkan undangan sesuai prosedur seperti biasa. Bagaimana 
sebenarnya strategi yang diambil Jokowi dalam menangani polemik kehadiran Putin?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Konflik merupakan hal yang biasa terjadi dalam suatu kelompok. Mungkin, bisa 
dibilang konflik adalah bagian yang integral ada dalam kehidupan setiap 
individu – entah itu konflik dengan diri sendiri atau konflik dengan orang lain.

Saat dulu masih duduk di bangku sekolah, misalnya, tidak jarang pertengkaran 
terjadi dalam sebuah hubungan perkawanan. Biasanya, penyebabnya adalah hal-hal 
yang sebenarnya sederhana – seperti perebutan hati atau hanya permusuhan yang 
didasarkan pada identitas kelompok.

Di masa sekarang, konflik juga biasa terjadi dalam grup-grup di sejumlah 
aplikasi percakapan seperti WhatsApp. Terkadang, perbedaan mencolok memunculkan 
insiden-insiden pengusiran sejumlah anggota grup – atau bahkan membuat grup 
baru yang berbeda tanpa satu anggota tersebut.

Tanpa disadari, konflik-konflik yang biasa hadir dalam kehidupan sehari-hari 
juga eksis di antara entitas-entitas yang lebih besar. Negara, misalnya, 
menjadi entitas yang sering kali bermusuhan satu sama lain.

Contoh nyata yang bisa diamati adalah konflik bersenjata yang kini meletus 
antara Ukraina dan Rusia. Konflik yang disebut bermula dari invasi Rusia pada 
24 Februari 2022 tersebut kini meluas kepada pertengkaran di antara 
negara-negara lain di luar kawasan Eropa Timur.

Indonesia, misalnya, kini harus menghadapi dilema terkait polemik kehadiran 
Presiden Rusia Vladimir Putin di KTT G20 2022 yang akan dilaksanakan di Bali 
nanti. Sebagai negara tuan rumah, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) mendapatkan 
tekanan dari Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutunya untuk tidak 
melibatkan Rusia dalam pertemuan internasional tersebut.

- Advertisement -Sementara, sejumlah negara seperti Republik Rakyat Tiongkok 
(RRT) memberi saran kepada pemerintahan Jokowi untuk tidak menggubris 
pemerintah AS. Alasannya cukup sederhana, yakni karena G20 merupakan forum 
kerja sama yang didasarkan pada topik-topik ekonomi global – bukan topik-topik 
geopolitik yang lebih berfokus pada keamanan.

 
Indonesia sendiri hingga kini tidak memberikan sikap jelas terkait permintaan 
AS dan negara-negara Eropa. Hingga kini, pemerintahan Jokowi menyatakan bahwa 
Indonesia tetap mengundang semua negara anggota sesuai prosedur yang ada.

Padahal, pemerintahan Jokowi sendiri sebenarnya sudah menyatakan secara 
diplomatis bahwa Indonesia menolak aksi dan invasi sepihak apapun – meskipun 
tidak secara langsung menyebutkan negara yang dimaksud. Di sisi lain, invasi 
Rusia ke Ukraina juga menciptakan ketidakstabilan ekonomi global – hal yang 
kerap menjadi fokus Presiden Jokowi dalam berbagai pertemuan multilateral.

Baca juga :  Mahasiswa Siap DemoBila memang konflik yang terjadi antara Rusia 
dan Ukraina ini mengancam sejumlah kepentingan Indonesia, lantas, mengapa 
pemerintah lebih memilih diam dan tidak bersikap aktif dalam menanggapi konflik 
tersebut? Strategi dan kebijakan luar negeri seperti apa yang sebenarnya 
diambil oleh pemerintahan Jokowi dalam menanggapi isu Ukraina-Rusia ini?

Putin Adalah Kunci?
Keengganan pemerintahan Jokowi untuk bersikap tegas terhadap Rusia menimbulkan 
sejumlah pertanyaan di kalangan umum dan pakar hubungan internasional. 
Pasalnya, Indonesia disebut memiliki kepentingan tertentu di balik pasifnya 
pemerintahan Jokowi.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, 
misalnya, menduga bahwa pemerintah memiliki kepentingan perdagangan dengan 
Rusia – meski nilai perdagangan dan investasi Rusia di Indonesia dinilai kecil. 
Kepentingan ini terletak pada fakta bahwa Rusia merupakan produsen minyak dan 
gas mentah dengan harga terjangkau – di tengah ancaman inflasi global dan 
kenaikan harga pangan-energi dunia.

Di sisi lain, Indonesia dinilai juga memiliki kepentingan strategis – di luar 
kepentingan ekonomi. Ketertarikan Indonesia untuk membeli senjata dan alat 
utama sistem pertahanan (alutsista) produksi Rusia, misalnya, telah mencuat 
sejak bertahun-tahun lalu – meski akhirnya rencana tersebut batal akibat 
tekanan dan ancaman sanksi dari AS.

Namun, di luar kepentingan-kepentingan itu, Indonesia sebenarnya membutuhkan 
Rusia dalam konteks persaingan geopolitik. Dengan besarnya pengaruh AS dan 
Tiongkok terhadap situasi politik kawasan Indo-Pasifik, bukan tidak mungkin 
pemerintahan Jokowi memperlukan kehadiran Rusia.

- Advertisement -Dalam sebuah wawancara, profesor politik dari University of 
Chicago, John J. Mearsheimer menjelaskan sejumlah skenario terkait posisi Rusia 
dalam panggung politik internasional yang didominasi oleh AS dan Tiongkok. 
Rusia dinilai memiliki posisi penting sebagai negara besar (great power) ketiga 
yang menentukan keseimbangan kekuatan (balance of power) antara dua negara 
adidaya tersebut.

 
Bukan tidak mungkin, pemerintahan Jokowi melihat hal yang sama. Ini bisa jadi 
upaya Indonesia untuk menyeimbangkan (balancing) kekuatan-kekuatan yang ada di 
Asia Tenggara.

Pasalnya, Tiongkok dinilai memiliki pengaruh cukup besar terhadap Indonesia 
dalam bidang ekonomi – seperti perdagangan dan investasi. Sementara, AS hingga 
kini masih menjadi mitra strategis bagi Indonesia dalam bidang pertahanan.

Kehadiran Rusia sebagai negara yang bisa menyediakan dua sisi kepentingan ini 
bukan tidak mungkin membuat pemerintahan Jokowi bisa keluar dari 
jebakan-jebakan pengaruh dari AS dan Tiongkok. Dengan begitu, Indonesia tetap 
mendapatkan otonomi strategis (strategic autonomy) pada tingkat tertentu dalam 
mengarungi kontestasi geopolitik – baik di kawasan maupun di tingkat 
internasional.

Namun, mungkinkah ini satu-satunya alasan strategis di balik sikap pasif 
Indonesia dalam menanggapi isu konflik Rusia-Ukraina? Mungkinkah cara 
memerintah Jokowi turut mempengaruhi jalannya politik luar negeri Indonesia?

Baca juga :  Jokowi Sangat Dipercaya?“Raja” Jokowi Siap Tangani Putin?
Bukan tidak mungkin, kepentingan geopolitik bukanlah satu-satunya alasan di 
balik sikap Jokowi terhadap isu Rusia-Ukraina. Ini bisa dilihat dari cara yang 
diambil Jokowi sebagai individu dalam mengarungi dimensi politik internasional.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Presiden Jokowi kerap disebut menjalankan 
politik bak raja Jawa dalam politik domestik. Namun, bukan tidak mungkin, cara 
yang sama diterapkan dalam politik internasional.

Dalam pola politik Jawa yang dijelaskan oleh Benedict Anderson dalam bukunya 
yang berjudul Language and Power, untuk mewujudkan harmoni dan ketenteraman 
merupakan tujuan utama. Oleh sebab itu, kehadiran raja (God-king) sebagai pusat 
kekuatan dianggap penting untuk menciptakan harmoni tersebut.

Dalam konteks politik Jawa di era kerajaan-kerajaan dahulu, pusat kekuatan 
terletak di ibu kota – di mana sang raja memimpin. Entitas-entitas kekuatan 
lain yang ada di luar ibu kota memainkan peran sebagai mancanegara yang 
membayar tribut kepada ibu kota – dengan jaminan perlindungan dan keamanan.

 
Pola kekuatan yang terpusat pada God-king ini juga berlaku dalam politik 
kawasan. Sistem ini disebut sebagai sistem mandala. 

Tentu, untuk mewujudkan ini, sang raja perlu melakukan sejumlah upaya pemusatan 
kekuatan. Anderson menyebut hal ini sebagai upaya untuk mengumpulkan 
“pusaka-pusaka” di istana agar bisa memperkuat sang raja.

Bukan tidak mungkin, kepentingan-kepentingan Indonesia – seperti perdagangan, 
investasi dan alutsista – yang didapatkan dari AS, Tiongkok, dan Rusia 
merupakan bagian dari pengumpulan “pusaka”. Dengan begitu, Indonesia bisa 
berperan sebagai pusat kekuatan dalam mandala-nya di kawasan Indo-Pasifik.

Ini terlihat dari bagaimana pemerintahan Jokowi menempatkan Association of 
South East Asian Nations (ASEAN) sebagai pusat multilateral bagi kawasan 
Indo-Pasifik dengan mengajukan sejumlah gagasan seperti ASEAN Centrality dan 
ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) yang menempatkan kawasn ini sebagai 
kawasan yang saling terhubung (inter-connected).

Meski begitu, bukan tidak mungkin, sistem mandala yang telah dibangun ini 
memiliki sejumlah tantangan dan hambatan. Perbedaan kepentingan yang ada di 
antara negara-negara ini bisa saja membuat pusat kekuatan memiliki kontrol yang 
lemah.

Sikap diam pemerintahan Jokowi terhadap kehadiran Rusia di KTT G20 2022 di Bali 
pada November mendatang merupakan cara Indonesia dalam menjaga harmoni yang 
ada. Dengan begitu, Jokowi pun bisa mengatur otonomi strategis Indonesia.

Lagipula, untuk menjaga kesaktian “pusaka-pusaka” ini, perlu juga untuk 
merawatnya. Bila tidak terawat dengan baik, bukan tidak mungkin kesaktian 
“pusaka-pusaka” tersebut malah memudar seiring berjalannya waktu. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4F66726C753D43A08348A29FF153BC84%40A10Live.

Reply via email to