Written byI76Sunday, April 24, 2022 21:21
Negara Selalu Kalah Dari Oligarki?
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/negara-selalu-kalah-dari-oligarki/
Jika sebelumnya kasus batu bara yang menjadi bukti eksistensi oligarki di 
negeri ini, maka kini kisruh minyak goreng yang menjadi bukti baru. Lantas, 
benarkah negara selalu kalah dari oligarki?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Akhirnya terjawab siapa mafia di balik kisruh minyak goreng yang sempat panas 
diberitakan akhir-akhir ini. Kejaksaan Agung (Kejagung) meringkus pejabat 
Kementerian Perdagangan (Kemendag) beserta tiga petinggi perusahaan kelapa 
sawit besar. Mereka disangkakan dalam kasus penerbitan surat ijin ekspor minyak 
sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).

Merespons peristiwa ini, Ketua DPD RI AA La Nyalla Mahmud Mattalitti, 
mengatakan kasus ini merugikan perekonomian negara. Akibat kuota Domestic 
Market Obligation (DMO) yang berkurang, minyak goreng terdampak menjadi langka 
dan mahal.

Pemerintah kemudian mengeluarkan uang dari pajak rakyat untuk Bantuan Langsung 
Tunai (BLT). Menurut berbagai pihak, ini membuktikan bahwa oligarki sebenarnya 
ada dan memperlihatkan kerakusannya mengeksploitasi hajat hidup orang banyak.

Bagi La Nyalla, penentuan DMO sebesar 30 persen oleh pemerintah sebenarnya 
untuk menjaga pasokan kebutuhan dalam negeri. Termasuk menjaga supply and 
demand pabrik minyak goreng, tapi permainan kotor oligarki membuat rantai 
pasokan rusak.

Dari fakta ini, wajar jika  masyarakat maupun para oposisi pemerintah menuduh 
ada keterkaitan antara kinerja pemerintah dan oligarki di baliknya. Semua isu 
politik terkini dihubungkan dengan oligarki.

Fakta oligarki mencengkeram kekuasaan di antaranya dapat dilihat dari fenomena 
kelangkaan minyak goreng yang disebut di atas. Persoalan lain seperti polemik 
pertambangan batu bara beberapa waktu lalu juga dikaitkan dengan lemahnya 
negara terhadap kuasa oligarki.

Persoalan bartu bara, dapat merujuk dari film Sexy Killer yang menggambarkan 
dengan sangat jelas bagaimana para elite terlibat menjadi pemain tambang batu 
bara di Kalimantan Timur. Alih-alih mendatangkan kesejahteraan masyarakat 
sekitar, justru penambangan membawa berbagai bencana lingkungan.

Meskipun oligarki dianggap jadi penyebab utama semua permasalahan bangsa. Tapi 
istilah oligarki tidak pernah digunakan sebagai istilah resmi untuk bentuk 
pemerintahan. Istilah ini hanya digunakan sebagai kritik bagi penguasa.

Bahkan oligarki juga sering digunakan sebagai cara untuk menunjukkan pengaruh 
orang kaya dan berkuasa dalam politik, serta pemerintahan yang biasanya 
digunakan untuk menguntungkan diri mereka sendiri.

Lantas, seperti apa memahami cengkeraman oligarki di Indonesia?

 
Meraba Oligarki Indonesia
Merujuk dari asal kata, oligarki berasal dari kata oligarkhes dalam bahasa 
Yunani yang dapat diartikan sebagai pemerintahan oleh sedikit orang. Pemahaman 
tentang pengertian oligarki di era Yunani ini sebenarnya muncul dari gagasan 
tentang ilmu negara dari filsuf ternama era itu, yaitu Plato.

Dalam gagasan Plato, oligarki merupakan transformasi dalam bentuk degradatif 
ataupun reduksi dari pemerintahan aristokrat. Jika pemerintahan aristokrasi 
dipimpin cerdik pandai, maka oligarki dipimpin oleh segolongan kecil yang 
memerintah demi kepentingan golongan sendiri.

Jeffrey Winters dalam bukunya Oligarki, mengatakan demokrasi di Indonesia 
dikuasai oleh kelompok oligarki, akibatnya sistem demokrasi semakin jauh dari 
cita-cita serta tujuan untuk memakmurkan rakyat Indonesia.
Winters melihat ketimpangan kekayaan di Indonesia jauh lebih merata antara 
kelompok kaya dengan kelompok miskin pada tahun 1945 jika dibandingkan saat 
ini. Hal ini terjadi sebagai akibat dari kelompok elite dan oligarki di 
Indonesia sudah menguasai serta mengontrol sistem demokrasi.

Berdasar dari fenomena ini, Winters kemudian membedakan oligarki menjadi dua 
dimensi. Pertama, dimensi oligarki yang mempunyai sumber kekuasaan serta 
kekayaan material sangat melimpah dan sulit untuk dipecah dan juga 
diseimbangkan.

Kedua, dimensi oligarki yang mempunyai suatu jangkauan kekuasaan yang cukup 
luas dan sistemik, meskipun mempunyai status minoritas di dalam sebuah 
komunitas. 

Disimpulkan bahwa kekuasaan yang oligarki harus punya adalah dasar kekuasaan 
yang sulit dipecah dan juga jangkauan yang sistemik.

Niken Aninsi dalam tulisannya Memahami Oligarki dan Praktiknya di Indonesia, 
mengatakan oligarki sebagai faktor utama yang telah mempengaruhi ekonomi 
politik di Indonesia rupanya mulai menemukan bentuknya sejak masa Orde Baru 
yang dipimpin oleh Soeharto.

Pasca Orde Baru, oligarki h yang semula oligarki sultanistik yang dikuasai 
hanya seseorang, menjadi oligarki penguasa kolektif.

Bahkan justru terdapat peningkatan penguasaan kekuasaan oligarki di Indonesia 
kontemporer pasca Soeharto. Dalam oligarki ini, para penguasa akan saling 
bekerja sama dalam mempertahankan kekayaannya dengan cara memerintah suatu 
komunitas, ini lah pengertian dari oligarki kolektif.

Richard Robison serta Vedi R. Hadiz dalam bukunya yang berjudul Reorganizing 
Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Market, mengatakan 
oligarki yang terjadi di Indonesia tidak hilang pasca Reformasi, bahkan selalu 
bertransformasi dan mereorganisasi bentuk mereka.

Oligarki terus bertransformasi dengan cara menyesuaikan konteks politik di 
Indonesia. Ya betul, karena begitu kreatif oligarki beradaptasi dengan 
perubahan zaman. Oligarki yang berasal dari para pebisnis ini layaknya predator 
yang melibatkan diri dalam politik dan meningkatkan kekayaan melalui sejumlah 
bisnis yang mereka kelola. Terlihat seperti memberikan nuansa baru dan lapangan 
pekerjaan, namun di sisi lain oligarki dalam kondisi alamiahnya, sebenarnya 
menyebabkan adanya kesenjangan dalam pendapatan.

Well, terlihat jelas bahwa dalam sistem demokrasi di Indonesia yang sedang 
berkembang akan semakin membuat oligarki merajalela. Seolah kesalahan sistem 
demokrasi disebabkan oleh oligarki yang terus menyebar bagaikan virus.

Lantas, benarkah penyebab utama dari semua permasalahan yang terjadi di tengah 
masyarakat saat ini akibat dari oligarki?
 
Oligarki Tidak Salah?
Secara alamiah oligarki mempunyai sifat yang sangat fleksibel dalam upayanya 
membuka peluang untuk masuk dan mempengaruhi penguasa yang sedang memerintah. 
Tapi mungkinkah pantas, jika semua kesalahan ditanggung oleh oligarki?

Pengamat politik Rocky Gerung, menolak pernyataan tersebut. Bahkan ia menilai 
tidak tepat publik mengecam oligarki sebagai biang di balik ketimpangan ekstrem 
sosial-ekonomi di Indonesia. Menurutnya, justru yang harus disalahkan adalah 
pemerintah yang menguasai negara ini.

Rocky menegaskan posisinya bahwa ia sejatinya tidak anti terhadap oligarki, 
melainkan anti kepada negara yang tidak mampu memajaki oligarki. Kondisi ini 
membuat oligarki dapat tumbuh subur di negara ini.

Meski negara tidak berkutik karena dicengkeram oleh kuasa kapital para oligark, 
menurut Rocky itu bukan kesalahan oligarki. Dikarenakan memang fungsinya 
oligarki melakukan akumulasi, baik kapital maupun resources (sumber daya), yang 
kesemuanya normal dalam hukum ekonomi.

Dari  sini, kita melihat bahwa Rocky ingin memperjelas posisi oligarki dan 
pemerintah atau negara, yang keduanya begitu berbeda. Seringkali kita luput 
membedakan dua entitas ini dikarenakan mudahnya kita menyederhanakan sebuah 
istilah dalam pengetahuan atau wacana sehari-hari.

Peristiwa simplifikasi ini, biasa diistilahkan dengan self-selection bias. Kita 
sukar untuk menyeleksi sesuatu yang kita anggap sama, meski jika diteliti 
rupanya terdapat perbedaan.

Jika telah membedakan antara oligarki dan negara, mungkin kita akan setuju 
dengan Rocky, bahwa tugas negara haruslah hadir untuk mendistribusikan aset dan 
sumber daya yang ada, termasuk sumber daya dari oligarki.

Meski seringkali yang ditemukan malah sebaliknya, pemerintah bahkan sering yang 
mengundang oligarki untuk memasukinya. Seolah pemerintah tidak mengindahkan 
konstitusi sebagai panduan dalam bernegara.

Dalam bunyi  Pasal 33 ayat 2 dan 3 Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa 
cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup 
orang banyak dikuasai oleh negara.

Oligarki sejatinya tidak memiliki kekuatan untuk mencengkeram negara kalau 
tidak diizinkan oleh kekuasaan. Semestinya, pemerintah sejak awal seharusnya 
mampu mempersempit ruang oligarki, dan memperbesar ruang kuasa negara untuk 
mengatur hajat hidup orang banyak.

Dengan memaksimalkan fungsi negara, maka tugas besar untuk memutus tentakel 
oligarki akan lebih mudah dilakukan. Tapi, jika hanya mengandalkan tanggung 
jawab tersebut hanya kepada presiden, maka itu sama halnya dengan membiarkan 
kuasa oligarki terus menggerogoti nadir kekuasaan. Perlu usaha kolektif untuk 
memangkas oligarki di negeri ini. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/A962BF5E066E4DD792B9E02D1011A6E4%40A10Live.

Reply via email to