Written byA43Friday, April 29, 2022 16:30
Elon Musk, Si Sahabat Tiongkok?
CEO SpaceX dan Tesla Motors, Elon Musk, beberapa waktu lalu bertemu dengan 
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut 
Binsar Pandjaitan yang didampingi oleh sejumlah pengusaha Indonesia. Siapa 
sebenarnya Elon Musk dan bagaimana pengaruhnya terhadap pemerintah Indonesia?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Akhir-akhir ini, media sosial (medsos) – khususnya Twitter – dihebohkan oleh 
sosok pengusaha yang disebut-sebut menjadi orang terkaya di dunia saat ini. 
Siapa lagi jika bukan Elon Musk yang kini menjadi CEO di SpaceX dan Tesla 
Motors?

Bagaimana tidak? Musk baru-baru ini dikabarkan telah membeli keseluruhan 
perusahaan medsos Twitter setelah sebelumnya beberapa kali berbicara akan 
pentingnya kebebasan berekspresi di dunia maya – termasuk Twitter. Ini pun 
membuat Musk menjadi buah bibir.

Sampai-sampai, cameo Musk di film Iron Man 2 (2010) kembali menguak dan jadi 
perbincangan. Ada yang bilang CEO Tesla itu merupakan sosok di dunia nyata yang 
paling menyerupai figur Tony Stark alias Iron Man.

Namun, tampaknya, kehadiran Musk yang mendiskusikan soal kerja sama bisnis dan 
inovasi ini tidak hanya hadir di film, melainkan juga di dunia nyata ketika 
sosoknya muncul di laman feed Instagram milik Menteri Koordinator Bidang 
Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan. “Pertemuan 
ini memang pertama kalinya bagi saya dan Elon,” tulis sang Menko Marves dalam 
caption di unggahannya.

Rencana soal “cameo” Elon Musk di laman Instagram milik Luhut ini tampaknya 
sudah terjadi sejak lama. Sejak beberapa tahun lalu, sang Menko Marves beberapa 
kali menyebutkan nama-nama seperti “Elon Musk” dan “Tesla” terkait kemungkinan 
investasi dalam upaya hilirisasi nikel dari pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

Reaksi para warganet Indonesia terhadap “cameo” ini pun bermacam-macam. Ada 
beberapa komentar yang mengapresiasi. Namun, ada pula sejumlah komentar di 
medsos yang mempertanyakan pakaian Musk yang hanya mengenakan kaos.

Terlepas dari berbagai komentar warganet, sosok Musk jelas bisa dibilang tengah 
ditunggu-tunggu oleh pemerintah Indonesia – mengingat wacana investasi dari 
SpaceX dan Tesla sudah digembar-gemborkan sejak beberapa tahun lalu – meskipun 
sejumlah kekhawatiran soal kerusakan lingkungan dan sosial komunitas lokal 
sempat membayangi di baliknya.

Tentu, “cameo” Musk di laman feed Instagram milik Luhut ini menimbulkan 
sejumlah pertanyaan di benak masyarakat Indonesia. Siapa sebenarnya sosok Elon 
Musk? Mengapa perannya bisa dianggap penting bagi pemerintah Indonesia – 
utamanya Luhut sebagai pejabat pemerintah yang kerap mengungkapkan wacana 
investasi Tesla?

 
Elon Musk, Si Pebisnis ‘Gila’?
Nama Elon Musk sebenarnya bukanlah nama asing dalam dunia bisnis. Dalam 
perjalanan kariernya, CEO SpaceX tersebut telah lama malang melintang di dunia 
bisnis – khususnya dalam industri teknologi.

Layaknya banyak kalimat-kalimat motivasi yang menyebutkan soal banyak kegagalan 
di balik kesuksesan, Musk pun melalui sejumlah kegagalan sebelum akhirnya kini 
dikenal sebagai orang terkaya di dunia. Karier bisnisnya ini dimulai dari 
sebuah perusahaan berbasis luring bernama Zip2 yang didirikan bersama 
saudaranya pada tahun 1995.

Meski akhirnya diberhentikan dari posisi CEO Zip2, Musk memulai bisnis lain 
yang bernama X.com pada tahun 1999. Pada tahun 2000, X.com bertransformasi 
menjadi salah satu pembayaran luring yang paling dikenal di dunia, yakni 
PayPal, setelah merger dengan Confinity.
Pada tahun 2002, Musk pun mendirikan sebuah bisnis yang sebelumnya belum ada – 
dengan visi penjelajahan antariksa dan kolonisasi Mars. Bisnis yang bernama 
SpaceX ini akhirnya bisa melepaskan National Aeronautics and Space 
Administration (NASA) milik pemerintah Amerika Serikat (AS) dari belenggu dan 
ketergantungan terhadap roket-roket buatan Rusia.

Dua tahun kemudian, Musk juga akhirnya mendirikan Tesla Motors. Seakan-akan 
telah melihat masa depan terkait kendaraan bertenaga listrik, Tesla menjadi 
salah satu perusahaan pertama (pioneer) dalam teknologi mobil listrik.

Namun, di balik ide-ide besarnya ini, Musk dikenal sebagai pengusaha yang 
‘tidak dewasa’. Bagaimana tidak? Musk kerap berkonflik dengan para insan dunia 
bisnis dan keuangan yang telah lama eksis lebih dulu – seperti Securities and 
Exchange Commission (SEC) terkait kicau-kicauannya di Twitter.

Memang, bila dibandingkan dengan pebisnis-pebisnis besar lainnya seperti Jeff 
Bezos (pendiri Amazon), Musk memang dikenal dengan kicau-kicauan ‘gilanya’ di 
Twitter – bahkan sampai bisa mempengaruhi pasar modal dan mata uang kripto. 
Jeff Siegel dalam tulisannya Why Elon Musk Is Unstoppable menyebut Musk sebagai 
sosok yang penuh dengan ide-ide ‘gila’ tetapi dibutuhkan oleh dunia.

Dengan SpaceX dan Tesla saja, misalnya, Musk disebut bisa meraih keuntungan 
yang besar. Kini, SpaceX memiliki kontrak dengan NASA senilai USD3,5 miliar 
(sekitar Rp50,6 triliun).

 
Kesuksesannya di dunia bisnis ini bukan tidak mungkin juga bakal berpengaruh 
pada dinamika politik AS – dan sejumlah negara lain. Bagaimanakah pengaruhnya 
dalam dimensi politik – baik secara praktis maupun gagasan? Apakah mungkin ada 
sosok yang berperan di balik Musk?

Elon Musk Ternyata Sahabat Tiongkok?
Menariknya, kesuksesan Musk tidak hanya berhenti di dunia bisnis, melainkan 
juga di dunia politik. Sebagai pebisnis yang berpengaruh, Musk ternyata juga 
melakukan kegiatan lobi-melobi di lembaga-lembaga pemerintahan AS. 

Lobi-lobi Musk ini pun terjadi di dua kubu partisan AS, yakni Partai Demokrat 
AS dan Partai Republik. Ini membuat Musk memiliki pengaruh yang cukup luas – 
terlepas dari partai dan kubu mana yang berkuasa sebagai pemerintah.

Bukan hanya di AS, Musk juga memiliki pengaruh yang cukup besar di negara 
adidaya lainnya yang kerap disebut sebagai rival negara Paman Sam, yakni 
Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Bagaimana tidak? Bak selebriti, nama Musk 
dikenal dan, bahkan, diperebutkan untuk jadi nama merek di negeri Tirai Bambu 
tersebut.

Tidak hanya soal popularitasnya, Musk juga menjalin hubungan yang dekat dengan 
pemerintah Tiongkok. Pada tahun 2017 silam, misalnya, Musk melakukan pertemuan 
one-on-one dengan Wang Yang yang kala itu menjabat sebagai Wakil Perdana 
Menteri (PM) Tiongkok.

Kedekatan Musk dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT) juga mengantarkan Tesla 
mendapatkan keuntungan bisnis di negara tersebut. Tesla menjadi perusahaan 
mobil pertama yang bisa mendirikan pabrik di Tiongkok tanpa harus menjalin 
kerja sama (joint venture) dengan perusahaan lokal.
Saking dekatnya dengan Tiongkok, Bezos pun sampai mempertanyakan nasib Twitter 
di bawah Musk. Ada kecemasan bahwa Tiongkok akan menggunakan Twitter untuk 
membungkam kritik kepada rezim Xi Jinping.

Pengaruh Musk yang besar di banyak negara ini seakan-akan mengamini penjelasan 
Samah Abdelsabour Abdelhaey dalam tulisannya Bringing the Individual Back In 
yang memaparkan bahwa, dalam perkembangan perusahaan-perusahaan teknologi yang 
pesat, banyak individu yang tidak memiliki posisi formal di pemerintahan 
akhirnya bisa mempengaruhi dinamika politik internasional.

 
Bukan tidak mungkin, pengaruh besar Musk ini juga berdampak pada hubungannya 
dengan pemerintah Indonesia – khususnya terhadap Menko Marves Luhut. Ini juga 
berkaitan dengan ambisi Luhut untuk menempatkan Indonesia dalam rantai global 
pembuatan kendaraan bertenaga listrik – di mana Tesla menjadi salah satu 
produsen mobil listrik yang menjanjikan.

Namun, ambisi Luhut untuk menggandeng Musk juga memiliki hambatan dan 
tantangan. Pasalnya, Musk sendiri bukanlah penentu utama dalam 
aktivitas-aktivistas bisnis perusahaannya seperti Tesla dan SpaceX.

Adalah perusahaan investasi asal AS yang bernama BlackRock yang memiliki saham 
Tesla sebesar 3,35 persen. Perusahaan investasi yang menjadi salah satu 
perusahaan investasi terbesar di dunia ini didirikan oleh Larry Fink.

Fink sendiri memiliki kebijakan unik bagi para CEO di perusahaan di mana 
BlackRock investasi – seperti suratnya kepada para CEO agar mempertimbangkan 
dampak perusahaan mereka terhadap masyarakat dan lingkungan. Prinsip ini 
disebut sebagai ESG (environmental, social, dan governmental) yang terdiri dari 
tiga faktor, yakni lingkungan, sosial, dan pemerintahan.

Menariknya, pengaruh BlackRock ini juga cukup besar dan mendunia – bahkan 
termasuk di Eropa dan Tiongkok. Laporan Investigate Europe sampai menyebut 
BlackRock sebagai leviathan (raksasa) dalam politik Eropa.

Bukan tidak mungkin, pertemuannya dengan Elon Musk bukanlah negosiasi final 
yang harus dilalui Luhut agar bisa menawarkan nikel Indonesia sebagai proyek 
investasi. Bisa jadi, Luhut pun harus menghadapi si raksasa BlackRock agar 
Tesla bisa masuk ke Indonesia.

Pasalnya, meski Indonesia memiliki produksi nikel yang melimpah agar bisa 
dijadikan bahan mentah dalam pembuatan mobil listrik Tesla, nikel Indonesia 
disebut belum bisa memenuhi syarat ESG yang diberlakukan BlackRock.

Pada akhirnya, bila demikian, kemunculan Elon Musk di laman feed Instagram 
milik Luhut nantinya bisa saja hanya menjadi cameo semata. Ini menandakan 
adanya kesulitan pemerintah Indonesia dalam menjadikan Musk sebagai “pemeran 
utama” dalam skenario ambisi hilirisasi nikel Indonesia. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/7A884475AE8341208E999DF28266FAE0%40A10Live.

Reply via email to