https://www.antaranews.com/berita/2857093/ilmuwan-dua-subvarian-omicron-bisa-picu-gelombang-baru-covid-19?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=category_home Ilmuwan: Dua subvarian Omicron bisa picu gelombang baru COVID-19 Minggu, 1 Mei 2022 16:40 WIB Ilustrasi - COVID-19 varian Delta. (ANTARA/HO-Shutterstock/pri) Johannesburg (ANTARA) - Dua keturunan baru varian virus corona Omicron mampu menghindari antibodi dari infeksi sebelumnya dengan cukup baik sehingga bisa memicu gelombang baru, demikian temuan ilmuwan Afrika Selatan. Namun demikian, kedua subvarian itu kurang mampu berkembang dalam darah orang yang telah menerima vaksin COVID-19. Para ilmuwan dari berbagai institusi di Afsel menguji subvarian BA.4 dan BA.5 Omicron, yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dimasukkan ke dalam daftar pengawasan bulan lalu. Mereka mengambil sampel darah dari 39 peserta studi yang sebelumnya terinfeksi Omicron ketika varian itu pertama kali muncul akhir tahun lalu. Dari ke-39 orang itu, 15 di antaranya telah divaksinasi –delapan dengan vaksin Pfizer, tujuh dengan J&J– sedangkan 24 orang lainnya belum menerima vaksin. "Kelompok tervaksinasi menunjukkan kapasitas penetralisasi sekitar lima kali lebih tinggi… dan seharusnya jauh lebih terlindungi," demikian menurut studi yang laporan pra-cetaknya dirilis akhir pekan ini. Pada sampel yang belum divaksin, ada penurunan hampir delapan kali produksi antibodi ketika terpapar BA.4 dan BA.5, dibandingkan dengan varian Omicron asli BA.1. Darah dari kelompok tervaksinasi menunjukkan penurunan tiga kali lipat. Afsel kemungkinan akan memasuki gelombang kelima COVID lebih awal dari perkiraan, kata pejabat dan ilmuwan pada Jumat. Mereka menyalahkan kondisi itu pada kenaikan infeksi berkelanjutan yang tampaknya dipicu oleh subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. Baru sekitar 30 persen penduduk Afsel yang berjumlah 60 juta orang telah menerima vaksinasi penuh. "Berdasarkan (kemampuan untuk) menghindari netralisasi, BA.4 dan BA.5 berpotensi menyebabkan gelombang infeksi baru," kata studi tersebut. Sumber: Reuters Baca juga: Riset Afsel: Omicron bisa picu kekebalan terhadap Delta Baca juga: WHO: Izin vaksin COVID yang diproduksi di Afsel bisa sampai 3 tahun Baca juga: Afsel sebut belum ada peningkatan keparahan COVID akibat Omicron Penerjemah: Anton Santoso Editor: Atman Ahdiat COPYRIGHT © ANTARA 2022 TAGS: omicron covid-19 -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220501224356.e83bb8e5cc362175b0490c3b%40upcmail.nl.
