Written byI76Sunday, May 1, 2022 21:51
Putin dan Bisnis Tentara Bayaran
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/putin-dan-bisnis-tentara-bayaran/
Tentara bayaran telah menjadi instrumen perang sejak ribuan tahun sampai  saat 
ini. Pada perang di Ukraina misalnya, Putin dituduh telah gunakan tentara 
bayaran untuk menguasai beberapa wilayah di Ukraina. Lantas, seberapa lekat 
tentara bayaran dengan perang dalam dimensi sejarah hingga kini?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Peradaban manusia selalu progresif mengikuti arus sejarah, termasuk 
progresivitas yang didapatkan dalam setiap peperangan. Perang menjadi fase di 
mana kreativitas manusia dapat tantangan untuk memenangkan perang tersebut.

Bukan hanya kreativitas dalam perkembangan peralatan maupun strategi perang 
yang lebih canggih. Lebih dari itu, kreativitas pun dibutuhkan untuk mengelola 
manpower atau personil saat berperang – termasuk di dalamnya yaitu menggunakan 
jasa tentara bayaran untuk meraih kemenangan.

Dalam perang Rusia-Ukraina yang dimulai sejak 24 Februari 2022 dan masih terus 
berkecamuk, berhembus adanya dugaan keterlibatan tentara bayaran (mercenary) 
dalam perang tersebut. Tentunya, hal ini bukan fenomena baru dalam perang.

Meski berbeda dengan penilaian dunia internasional saat ini, bagi masyarakat 
global, tentara bayaran mengancam stabilitas global. Ini disebabkan karena 
banyaknya aktivitas tentara bayaran di Suriah, Irak, Yaman, Nigeria, Libya, 
Ukraina, Venezuela, Republik Afrika Tengah, Mozambik, dan Republik Demokratik 
Kongo.

Sean McFate dalam tulisannya Mercenaries and Privatized Warfare Current Trends 
and Developments, menyatakan bahwa tentara bayaran dan tipe-tipe lain dari 
aktor-aktor militer swasta (private military actors) telah berkembang ke 
tingkat yang mengkhawatirkan.

Kekhawatiran McFate – selain banyaknya negara yang menggunakan tentara bayaran 
– ialah karena ia melihat bahwa tentara bayaran telah naik pada level tidak 
hanya menjadi prajurit, tapi juga menggunakan peralatan perang canggih.

Perubahan ini terlihat ketika melihat tentara bayaran dulunya hanya menjinjing 
senjata Kalashnikov. Namun, sekarang mereka menerbangkan helikopter serbu Mi-24 
Hind, tank T-72, dan kapal patroli yang dipersenjatai.

Bahkan, dalam perang yang terjadi di Ukraina, dilaporkan bahwa terdapat hingga 
400 fighters dari kelompok Wagner sudah berada di Ukraina. Kelompok Wagner 
sejauh ini diidentifikasi sebagai organisasi rahasia yang mengelola perusahaan 
militer swasta (private military company) yang menyediakan tentara bayaran.

Kelompok Wagner (the Wagner Group) pertama kali teridentifikasi pada tahun 
2014, saat grup ini mendukung kelompok separatis pro-Rusia dalam konflik di 
timur Ukraina. Fighters dari Wagner dikirim ke kota Kharkiv, di mana perang 
berkecamuk.

Kelompok ini dipercayai didanai oleh Yevgeny Pirogozha, seorang pengusaha yang 
memiliki hubungan dekat dengan Vladimir Putin. Kelompok ini dituduh telah 
melakukan sejumlah kekerasan dalam konflik di Suriah dan Libya.

Saking canggihnya saat ini tentara bayaran, kini terdapat juga  para tentara 
bayaran di dunia maya (cyberspace). Lantas, untuk memahami secara komprehensif, 
bagaimana sejarah tentara bayaran ini muncul dan eksis hingga saat ini?

 
Tentara Bayaran di Setiap Peradaban
Mengutip Ensiklopedia Britanica, tentara bayaran didefinisikan sebagai tentara 
profesional sewaan yang berjuang untuk negara atau bangsa mana pun tanpa 
memperhatikan kepentingan atau masalah politik.

Dalam sejarah militer dan politik Yunani sekitar tahun 356 SM, terdapat seorang 
panglima tentara bayaran yang terkenal bernama Chabrias – seorang tentara 
bayaran yang bertempur dengan terhormat untuk orang Athena. 

Ketika Athena bergabung dengan Thebes melawan Sparta, Chabrias mengalahkan 
Sparta pada tahun 388 dan pada tahun 378 mengulang kesuksesan yang sama. Meski 
mendapatkan kesuksesan demi kesuksesan dalam peperangan, pada tahun 366, ia 
dituduh melakukan pengkhianatan.
Sarah Percy dalam tulisannya Mercenaries, mengatakan bahwa tentara bayaran 
sering disebut sebagai profesi tertua kedua di dunia karena pekerjaan ini telah 
menjadi bagian dari sejarah perang – bahkan mulai ramai dan pesat saat 
peperangan di Eropa.

Jejak tentara bayaran juga terekam di Eropa setelah Perang Seratus Tahun, yaitu 
rentang waktu tahun 1337 sampai dengan tahun 1453. Saat itu, Eropa diramaikan 
oleh orang-orang yang telah dilatih hanya untuk berperang.

Selama abad ke-15 muncul perusahaan-perusahaan yang menyediakan tentara bayaran 
– di antaranya berada di Swiss, Italia, dan Jerman. Para perusahaan tentara 
bayaran tersebut menjual jasa mereka ke berbagai pangeran dan adipati di 
seantero Eropa.

Tentara Swiss dipekerjakan dalam skala besar di seluruh Eropa oleh pemerintah 
wilayah mereka sendiri dan menikmati reputasi tinggi. Bahkan, di Prancis pada 
abad ke-18, resimen Swiss adalah formasi elite di tentara reguler.

Meski tentara bayaran bisa terbukti menjadi tentara yang efektif, 
permasalahan-permasalahan mulai muncul imbas tentara bayaran tersebut. Para 
tentara bayaran ini sering kali serakah, brutal, dan tidak disiplin, mampu 
membelot saat pertempuran, mengkhianati pelindung mereka, dan menjarah warga 
sipil.

Sebagian besar perilaku memberontak mereka adalah akibat dari keengganan atau 
ketidakmampuan majikan mereka untuk membayar jasa mereka. Artinya, disiplin 
mereka akan hilang jika tidak ditopang oleh pembayaran yang tepat waktu.

Muhammad Subarkah dalam tulisannya Tentara Bayaran dalam Sejarah Peradaban 
Islam mengatakan bahwa fenomena tentara bayaran muncul juga sebagai penopang 
utama sebuah pemerintahan dalam peradaban Islam.

Pada Kekhalifahan Fatimiyah di Mesir, pemerintahan dinasti ini terpaksa memakai 
tentara bayaran karena dinasti yang memusatkan pemerintahannya di Mesir ini 
adalah penganut Syiah Ismailiyah. Pengikut Syiah  adalah kelompok minoritas 
bila dibandingkan kelompok Islam Sunni.

Jadi, tentara bayaran oleh Kekhalifahan Fatimiyah dipakai sebagai jalan keluar 
untuk melanggengkan kekuasaan karena mayoritas warga Mesir tidak suka terhadap 
pemerintahan mereka. Bahkan, legiun ini juga dipakai sebagai alat untuk 
membasmi berbagai pemberontakan.

Terdapat dua kelompok tentara bayaran yang dimiliki oleh Kekhalifahan 
Fatimiyah. Pertama, adalah resimen kulit hitam atau Zawila. Anggota legiun 
tentara ini direkrut dengan cara membeli dari pasar budak yang pada saat itu 
banyak bermunculan di Afrika.

Kedua, divisi yang anggotanya berasal dari Eropa Sakalaba atau yang kerap 
dipanggil dengan sebutan Bangsa Slav. Bangsa ini sebagai bangsa termiskin di 
Eropa Timur dan, akhirnya, mereka harus menjadi budak untuk bertahan hidup – 
termasuk menjadi tentara bayaran.

Bahkan, kata slav, yang berarti budak awalnya merujuk kepada nama bangsa ini. 
Para penguasa Fatimiyah mendapatkan tenaga militer bangsa Slav dengan cara 
membeli dari pasar budak yang berada di sekitar wilayah Italia.

Well, terlihat jelas bahwa dalam sejarahnya dan lintas peradaban Barat maupun 
Timur, tentara bayaran dipakai oleh sejumlah kekuasaan sebagai alat militer 
mereka. Lantas, seperti apa melihat tentara bayaran pada perspektif yang lebih 
mutakhir saat ini?
 
Jadi Bisnis Menggiurkan?
Berbagai konflik di belahan dunia ikut menyuburkan bisnis tentara bayaran. Di 
tengah perang modern, kehadiran tentara bayaran ternyata terus dibutuhkan. 
Jelas sekali bahwa perang telah menyuburkan bisnis tentara bayaran.

Jika dibandingkan dengan tentara negara-negara tertentu, mereka bisa dibilang 
lebih terlatih dan profesional. Tidak heran, tentara bayaran lebih dipercaya 
mengamankan aset seperti kedutaan besar dan blok minyak. Bahkan, di antaranya 
menjelma menjadi perusahaan besar.

Selain kelompok Wagner yang sempat disinggung di atas, rupanya perusahaan 
tentara bayaran juga ramai menghiasi industri militer di dunia – bahkan dengan 
berbekal profesionalitas yang ketat dan persenjataan canggih.

Semisal, perusahaan Security Giant G4S yang mempekerjakan sekitar 625 ribu 
orang dan menjadikan sebagai perusahaan swasta dengan tenaga kerja terbanyak 
kedua di dunia. Selain fokus mengamankan bank, penjara swasta, dan bandara 
pribadi, G4S juga ikut terjun langsung ke medan konflik di berbagai penjuru 
dunia.

Terdapat juga Unity Resource Group. Perusahaan ini berbasis di Australia dan 
memiliki 1.200 staf di penjuru dunia. Berbagai tentara veteran Australia, 
Amerika Serikat (AS), dan Inggris bergabung ke perusahaan ini sebagai tentara 
bayaran.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) saat melakukan misi ke Irak, 
menyewa perusahaan Erinys untuk misi tersebut. Dengan mengerahkan sekitar 
16.000 pasukan untuk menjaga 282 lokasi di Irak – terutama mengamankan pipa 
minyak, blok migas, dan aset energi lainnya.

Terdapat pula DynCorp yang berbasis di Virginia, AS, yang merupakan salah satu 
dari delapan perusahaan militer swasta yang dipilih oleh Departemen Luar Negeri 
AS untuk tetap di Irak saat pasukan AS secara resmi keluar dari Irak.

Di Asia, terdapat Asia Security Group yang didirikan oleh Mashmat Karzai, 
sepupu Presiden Afghanistan, Hamid Karzai. Asia Security Group merupakan 
perusahaan keamanan terbesar di Afganistan dengan 600 tentara.

Masih banyak daftar perusahaan seperti Triple Canopy, Aegis Defense Services, 
Defion Internacional dan yang terakhir adalah Academi yang lebih dikenal dengan 
nama Blackwater, lalu berganti nama menjadi Xe Services dan terakhir menjelma 
sebagai Academi.

Dikutip dari buku tentang Blackwater yang terbit pada 2007, perusahaan ini 
memiliki fasilitas pelatihan militer swasta terbesar di dunia – mempunyai 20 
ribu pasukan, 20 pesawat, dan puluhan kendaraan lapis baja serta anjing perang 
terlatih.

Mengacu kepada prinsip pembedaan (distinction principle) dalam hukum humaniter, 
terdapat dua unsur dalam perang, yakni pihak yang berhak ikut serta dalam 
pertikaian bersenjata (kombatan) dan mereka yang tidak berhak (warga sipil). 
Korps sukarelawan termasuk kriteria kombatan sedangkan tentara bayaran tidak 
termasuk. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/999C2D08059D427FBB2CC7D9DB5AA35F%40A10Live.

Reply via email to