Written byPinter PolitikSunday, May 1, 2022 09:09
Perang Operasi Intelijen CIA dan KGB di Indonesia
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/perang-operasi-intelijen-cia-dan-kgb-di-indonesia/
Perseteruan Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet juga melibatkan perang operasi 
intelijen yang dilakukan oleh lembaga intelijen kedua negara, yakni CIA dan 
KGB. Menariknya, perang operasi intelijen tersebut ternyata pernah terjadi di 
Indonesia di era Presiden Soeharto. Lantas, seperti apa kisah perang operasi 
intelijen antara CIA dan KGB tersebut?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Pada tahun 1980-an dunia memasuki babak baru era Perang Dingin. Ronald Reagan 
terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) dan meluncurkan Reagan Doctrine. 
Ini adalah program yang berfokus pada penguatan posisi AS di hadapan Uni Soviet 
dengan memberi bantuan – baik terbuka maupun terselubung – terhadap 
gerakan-gerakan anti-komunis. 

Di tahun-tahun yang sama, Soviet melancarkan invasi ke Afghanistan yang di 
kemudian hari terbukti menjadi kebijakan yang memperparah kondisi ekonomi 
negara tersebut. Ujung akhirnya adalah kemunculan Mikhail Gorbachev sebagai 
pemimpin Soviet di tahun 1985 yang melalui kebijakan-kebijakannya membuat 
Soviet harus bubar di kemudian hari. 

Namun, dari semua event-event internasional yang terjadi kala itu, ada satu 
peristiwa menarik yang terjadi di Indonesia di periode yang sama. Pada 4 
Februari 1982, Corps Polisi Militer menangkap perwira angkatan laut Letnan 
Kolonel Johannes Baptista Soesdarjanto bersama seorang warga negara asing 
bernama Wito alias Sergei Egorov. Belakangan diketahui bahwa Egorov adalah 
seorang agen KGB. 

Lalu, seperti apa kisah operasi KGB ini dan bagaimana aksi-aksi itu berbenturan 
dengan aktivitas CIA di Indonesia? Benarkah dua dinas intelijen ini – utamanya 
KGB – berupaya merekrut orang-orang Indonesia? 

KGB dan CIA di Indonesia
Kisah soal operasi KGB dan CIA di Indonesia salah satunya ditulis oleh Kenneth 
Conboy dalam buku Intel: Inside Indonesia’s Intelligence Service. Disebutkan, 
aksi-aksi intelijen para agen KGB di Indonesia sempat membuat hubungan 
Indonesia dengan Uni Soviet memanas. Kita mengetahui bahwa di era kepemimpinan 
Soeharto, Indonesia menjadi sangat dekat dengan Amerika Serikat, sehingga 
lembaga intelijen Indonesia yang kala itu masih bernama BAKIN, mempunyai 
hubungan yang dekat dengan CIA. 

Konteks kedekatan intel Indonesia dengan CIA ini bisa ditelusuri pasca tragedi 
1965, di mana tokoh-tokoh intelijen Indonesia merasa perlu adanya satuan khusus 
untuk menangkal mata-mata asing, khususnya dari Uni Soviet. Maka berdirilah 
Satuan Khusus Pelaksana Intelijen (Satsus Intel) yang awalnya beranggotakan 60 
anggota polisi militer. Unit ini bertanggungjawab pada Nicklany, yang kala itu 
menjabat sebagai Deputi II BAKIN. 

Nicklany kala itu yakin bisa membiayai operasi satuan ini, setelah ia bertemu 
Ed Barbier dari CIA yang datang ke Markas Polisi Militer Indonesia. AS memang 
disebut memberikan bantuan keuangan secara rahasia untuk menggaji 60 personil 
unit tersebut, menyediakan kendaraan untuk pengintaian, biaya sewa safe house 
di Jalan Jatinegara Timur, Jakarta Timur, lalu menyediakan perlengkapan intel 
seperti tape recorder Sony TC-800 dan peralatan penyadap telepon.  
Dukungan CIA juga diberikan melalui pelatihan bagi para anggota Satsus Intel 
dengan mengirim instruktur langsung dari Amerika Serikat. Di antaranya ada 
Richard Fortin yang datang ke Indonesia di tahun 1969. 

Misi utama CIA melalui Satsus Intel ini adalah membendung pengaruh komunisme 
dan menjadi kontra spionase terhadap agen-agen intel dari negara-negara 
komunis. Dapat dikatakan, secara tidak langsung CIA sebetulnya “menanam” bibit 
agen di Indonesia yang ujung-ujungnya juga bekerja untuk kepentingan atau 
agenda AS.  

Nah, seperti yang sudah disinggung di awal, benturan kemudian terjadi di tahun 
1980-an. Ini adalah periode ketika agen-agen KGB melaksanakan operasi yang 
cukup masif untuk mendapatkan informasi di Indonesia. Letnan Kolonel Johannes 
Baptista Soesdarjanto, misalnya, adalah perwira Angkatan Laut Indonesia yang 
tergiur untuk menjual dokumen-dokumen rahasia Indonesia kepada KGB dengan 
iming-iming uang. 

Seperti dikutip dari Historia, sejak tahun 1976 Soesdarjanto sudah berhubungan 
dengan orang Soviet bernama Vladimir yang meminta dokumen seperti laporan dan 
perjanjian survei Selat Malaka. Vladimir juga meminta rencana kerja Jawatan 
Hidro Oseanografi TNI AL dan laporan bulanan survei Hidros. Untuk 
dokumen-dokumen itu, Soesdarjanto mendapat bayaran sebesar Rp600 ribu. 

Soesdarjanto kemudian berhubungan juga dengan Robert alias Alexander Finenko, 
dan kemudian dengan Sergei Egrov. Dokumen-dokumen yang diminta umumnya 
berhubungan dengan informasi survei di wilayah perairan Indonesia. Mereka juga 
mencoba menggali informasi soal dugaan AS memasang Early Warning System atau 
EWS di Indonesia. 

Namun, pertemuan mereka di bulan April 1982 diketahui oleh polisi militer 
Indonesia. Robert dan Sergei Egrov diusir dari Indonesia. Sementara 
Soesdarjanto divonis 10 tahun penjara. 

Pasca kejadian ini, Gugus Tugas Intelijen Komando Operasi Pemulihan Keamanan 
dan Ketertiban atau Kopkamtib diminta melakukan pengawasan intensif kepada para 
diplomat Uni Soviet. Salah satu di antaranya adalah Sekretaris Ketiga Kedutaan 
Uni Soviet bernama Aleksei Bobrov. Bobrov diketahui bertemu 3 kali dalam 2 
bulan dengan seorang pemuda Indonesia di dalam Museum Nasional Jakarta.
Agen itu Bernama Mamat
Agen-agen intel Indonesia pun melakukan penyelidikan terhadap pemuda tersebut 
yang diketahui merupakan seorang mahasiswa jurnalistik dari Jawa Tengah. Dalam 
laporan, pemuda itu diberi nama Mamat. Kecurigaan muncul bahwa Mamat akan 
direkrut menjadi agen KGB. 

Satsus Intel menginterogasi Mamat dan melarangnya untuk memberitahukan hal itu 
pada Bobrov. Satsus Intel bahkan merekrutnya menjadi agen dengan nama sandi 
Kemuning. Ia ditugasi untuk menjaga kontak dengan Bobrov. 

Bobrov memberi penugasan pada Mamat, misalnya mengumpulkan artikel koran 
terkait kunjungan Soeharto ke luar negeri, juga menjalin hubungan dengan staf 
Indonesia yang bekerja di perpustakaan Keduataan AS di Indonesia. Ia diberi 
honor Rp40 ribu per bulan. Satsus Intel melaporkan hal ini kepada CIA. 

CIA kemudian berencana menggunakan Mamat untuk mengorek informasi soal KGB di 
Indonesia. Bobrov pada akhirnya memang menawari secara terbuka kesempatan untuk 
menjadi mata-mata Soviet pada Mamat. Setelah Bobrov pindah, ia digantikan oleh 
Vladimir Yaravoi yang juga memberikan penugasan yang sama kepada Mamat.

Pada akhirnya, Satsus Intel memang memerintahkan Mamat untuk mundur dari 
relasinya dengan Soviet. Ini juga karena tak ada penugasan illegal yang 
diberikan pada Mamat kala itu. 

Hingga tahun 1989, Satsus Intel mencatat ada 102 kejadian di mana diplomat 
Soviet mencoba merekrut orang Indonesia menjadi mata-mata. Di antaranya para 
personil militer Indonesia menjadi sasaran yang paling banyak menarik perhatian 
Soviet. 

Apapun itu, yang jelas kisah ini membuktikan bagaimana operasi intelijen asing 
juga terjadi di Indonesia di era Soeharto. Keberpihakan politik Indonesia juga 
menjadi kunci misi intelijen seperti apa yang terjadi di negara ini. 

Selain itu, kekayaan sumber daya alam dan posisi geopolitik yang strategis juga 
ikut menentukan bagaimana negara seperti AS dan Soviet kala itu memandang 
Indonesia. Mungkin di waktu-waktu saat ini kita juga perlu lebih berhati-hati.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/41B074C02C274092A04D2CA5A017079A%40A10Live.

Reply via email to