Written byPinter PolitikMonday, May 2, 2022 10:14

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jika-indonesia-malaysia-jadi-satu-negara/
Jika Indonesia-Malaysia Jadi Satu Negara
Sejak era Presiden Soekarno, Indonesia dan Malaysia beberapa kali terlibat 
ketegangan. Lantas, apa jadinya jika dua negara rumpun melayu ini menjadi satu 
negara?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Ganyang Malaysia. Mungkin itu adalah intisari dari pidato Presiden Soekarno 
yang disampaikannya pada 3 Mei 1964. Dengan segala narasi anti kolonialisme 
yang dibawanya, Soekarno memang ingin menunjukkan sikap kerasnya terhadap 
negara-negara Barat – terutama Inggris – yang masih bercokol di Malaysia kala 
itu. 

Walau memang banyak yang tidak mungkin terjadi, namun selalu ada cerita atau 
perandai-andaian yang muncul, misalnya bagaimana jika Soekarno berhasil 
mengalahkan Malaysia dan pada akhirnya membuat Indonesia dan Malaysia menjadi 
satu negara? 

Apabila kita melihat buku sejarah, gagasan untuk menyatukan seluruh Melayu Raya 
atau Indonesia Raya di bawah satu negara, pernah muncul jelang kemerdekaan 
Indonesia. Adalah pertemuan rahasia Soekarno dan Hatta dengan beberapa tokoh 
dari Malaysia pada 13 Agustus 1945 yang disebut-sebut menjadi pintu masuk upaya 
untuk menyatukan Indonesia dan Malaysia menjadi satu negara. 

Lalu seperti apa kisah pertemuan tersebut? Kemudian apa yang akan terjadi jika 
Soekarno dengan politik konfrontasinya berhasil menaklukkan Malaysia? 

Kedekatan Kedua Negara
Kedekatan sosio-politik antara wilayah Melayu dengan Indonesia sudah terjadi 
sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha. Kerajaan Sriwijaya, misalnya, memiliki 
wilayah kekuasaan yang meliputi hingga ke wilayah Semenanjung Malaka. 

Demikian pun di era Majapahit, wilayah kekuasaannya bahkan juga sampai ke 
daerah Sabah dan Sarawak. Secara sosio-kultural, wilayah-wilayah yang kini 
menjadi bagian dari negara Malaysia juga memiliki banyak kesamaan dengan 
masyarakat Indonesia. 

- Advertisement -Perbedaan utamanya mungkin dalam konteks penjajahan, di mana 
wilayah-wilayah di Indonesia adalah bekas jajahan Belanda, sedangkan Malaysia 
dijajah oleh Inggris. 

Situasinya kemudian sedikit berubah ketika Jepang memulai kampanye politiknya 
ke Asia Tenggara. Sejak Desember 1941 Jepang mengambil alih wilayah-wilayah 
Malaysia. Sementara tanggal 10 Januari 1942 sering dianggap sebagai waktu awal 
Jepang menginvasi Indonesia.

Nah, konteks dikuasai oleh Jepang ini mungkin menjadi salah satu persamaan 
latar waktu yang kemudian mendasari gagasan pembentukan sebuah negara yang 
meliputi wilayah Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei. 

Setelah Hiroshima dan Nagasaki dibombardir oleh Amerika Serikat (AS), tiga 
tokoh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI, yakni Soekarno, 
Mohammad Hatta, dan Radjiman Wediodiningrat dipanggil ke Dalat, Vietnam, 
tepatnya pada 12 Agustus 1945. Mereka bertemu Marsekal Hisaichi Terauchi yang 
merupakan pemimpin tertinggi militer Dai Nippon. 

Baca juga :  Giliran Sandiaga Klaim Budaya Malaysia?Terauchi menjanjikan akan 
memberikan kemerdekaan pada Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1945. Setelah 
selesai bertemu Terauchi, ketiga tokoh Indonesia itu tak langsung pulang ke 
Tanah Air. Mereka mampir dulu ke Singapura. 

Ahmad Mansur Suryanegara dalam buku Api Sejarah 2 menyebutkan mereka kemudian 
dipertemukan dengan beberapa tokoh Malaysia, di antaranya adalah Ibrahim Yaacob 
dan Burhanuddin Al-Hemy. Keduanya merupakan tokoh yang mendirikan Kesatuan 
Rakyat Indonesia Semenanjung atau KRIS yang merupakan organisasi pro unifikasi 
Indonesia dan Malaysia. 

Ibrahim Yaacob sendiri merupakan tokoh politik yang menjadi pendiri Kesatuan 
Melayu Muda. Ini adalah organisasi nasionalis di Melayu yang berjuang melawan 
pemerintah Inggris. 

Mengutip buku Graham K. Brown yang berjudul The Formation and Management of 
Political Identities, para tokoh yang berkumpul ini memang ingin berkongsi 
dengan harapan semua wilayah yang dikuasai oleh Jepang itu akan bersatu setelah 
kemerdekaan diberikan oleh Jepang. Adapun versi lain, seperti dikutip dari buku 
Reinventing Indonesia yang disunting oleh Komaruddin Hidayat dan Putut 
Widjanarko, pertemuan para tokoh ini bukan terjadi di Singapura, melainkan di 
Taiping, Perak – yang kini menjadi wilayah Malaysia. 

- Advertisement -Di kesempatan pertemuan itu, Ibrahim Yaacob berkata pada 
Hatta: “Marilah kita membentuk satu tanah air untuk seluruh putra-putri 
Indonesia”. Pertemuan ini sendiri memang difasilitasi oleh Jepang. Ada beberapa 
versi soal hasil pertemuannya. Ada sumber yang mengatakan kedua pihak menyambut 
ide tersebut secara antusias. Namun, ada pula yang menyebutkan tak ada deal 
yang terjadi pasca pertemuan itu. 

Jika ditarik sedikit ke belakang, sumber lain menyebutkan narasi penggabungan 
menjadi satu negara ini sempat dibicarakan dalam rapat BPUPKI pada 11 Juli 1945 
dengan mayoritas anggota setuju. Namun, entah karena perubahan konstelasi 
politik atau hal lainnya, hal tersebut tak pernah terealisasi.  

Yang jelas, setelah Soekarno dan Hatta kembali ke Indonesia dan dengan segala 
kompleksitas isu, misalnya terkait Jepang yang menyerah pada AS di tanggal 14 
Agustus 1945, isu unifikasi ini akhirnya gugur. Apalagi para pemuda mendesak 
Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di 
tanggal 17 Agustus 1945. 

Di kemudian hari, ketika Inggris kembali berkuasa atas Malaysia, Soekarno 
melakukan permusuhan terhadap negara tersebut yang berujung pada “pengerahan” 
sukarelawan perang ke wilayah perbatasan di Kalimantan. 

Well, kembali pada perandaian sebelumnya. Kira-kira apa yang akan terjadi jika 
Indonesia dan Malaysia benar-benar bisa menjadi satu negara? 

Baca juga :  Siapa Pembisik Megawati?Jika Satu Negara
Sekalipun kemungkinan ini cukup kecil – mengingat kuatnya posisi Inggris di 
Malaysia kala itu dan bentuk dua negara ini sudah final – namun, jika berhasil 
dipersatukan, luas wilayah negara kesatuan ini akan ada di urutan ke-12 di 
dunia. Indonesia sendiri kini ada di urutan ke-15 dunia dalam hal luas wilayah. 

Tambahan 32,3 juta populasi Malaysia membuat negara kesatuan ini akan total 
didiami hingga 300 juta penduduk. Lalu secara ekonomi, GDP Indonesia-Malaysia 
akan menyentuh angka US$1,6 triliun atau akan ada di urutan ke-13 dunia. Secara 
militer, akan mempunyai sekitar 1,2 juta personil militer. 

Kemudian, konflik-konflik soal saling klaim budaya atau produk tertentu juga 
tidak akan terjadi. Sedangkan untuk bentuk negara, sangat mungkin 
Indonesia-Malaysia akan menjadi sebuah negara federasi karena pasti akan ada 
pertimbangan dengan Malaysia yang mempunya 13 negara bagian atau teritori 
independen lainnya. Kemudian, para TKI pun tak perlu pusing mengurus 
surat-surat keluar negeri karena mereka hanya pindah wilayah. 

Perandaian ini dapat dikatakan positif. Namun, konfrontasi “Ganyang Malaysia” 
yang dilakukan Soekarno tampaknya telah membuat wacana ini menjadi masa lalu 
sejarah. 

Pasalnya, eskalasi konflik bisa saja makin besar. Apalagi jika negara-negara di 
belakang masing-masing kubu – Indonesia dengan Uni Soviet dan Tiongkok, serta 
Malaysia dengan Inggris dan negara-negara Barat – ikut juga melibatkan diri. 
Level kekacauannya akan menjadi semakin besar, dan berpotensi menciptakan 
perang. 

Jika melihat kondisi terkini, penggabungan kedua negara ini mungkin tidak 
sebaik yang dibayangkan. Pada konteks ekonomi, misalnya, penggabungan mungkin 
akan merugikan masyarakat Malaysia yang saat ini ekonomi per kapitanya lebih 
baik. GDP per capita Indonesia pada 2021 menyentuh angka US$4.349, sementara 
Malaysia ada di angka US$12.500.

Pada akhirnya, kisah tentang Ibrahim Yaacob memang menggambarkan bahwa narasi 
menyatukan Indonesia dan Malaysia dulunya pernah ada. Ibrahim Yaacob adalah 
sosok yang mengagumi Soekarno. Ia kemudian pindah ke Indonesia, dan berganti 
nama menjadi Iskandar Kamel. Ia juga menjadi salah satu orang yang pada 
akhirnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Well, Indonesia dan Malaysia mungkin tidak akan pernah bisa jadi satu negara. 
Tapi bukan berarti kita tidak bisa menjadi saudara yang saling menghormati dan 
menjaga. Sebab, apa gunanya serumpun bila tak berkawan. Apa gunanya sejarah 
bila tak membuat kita bersahabat. 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/94BACA0BACAD48379D032BBA876C9F8E%40A10Live.

Reply via email to