Written byS13Thursday, May 5, 2022 07:23
Jokowi, Luhut dan Political 
Amnesiahttps://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-luhut-dan-political-amnesia/
Kunjungan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan ke pabrik perakitan kendaraan 
listrik Tesla mencuri perhatian banyak pihak. Selain karena pertemuannya dengan 
orang terkaya di dunia sekaligus pendiri Tesla, Elon Musk, keberadaan Luhut di 
momen tersebut menandai posisi pentingnya di kabinet Presiden Jokowi. Luhut 
juga menjadi simpul sosok pengusaha dan militer yang masih punya posisi penting 
dalam pemerintahan saat ini. Menariknya, dalam sejarah republik ini, banyak 
kali kekuasaan berkelindan dengan militer dan pengusaha – fakta yang kerap 
dilupakan.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Democracy is when the indigent, and not the men of property, are the rulers”.

  ::Aristotle (184-322 SM)::

Selain berbicara soal industri mobil listrik, Luhut memang juga mengundang Elon 
Musk untuk hadir dalam rangkaian acara G20 yang akan terjadi pada November 2022 
mendatang. Posisi undangan itu penting karena Indonesia memang sedang ada dalam 
posisi menjadi tuan rumah dari forum penting ini.

Jelas, Presiden Jokowi sangat mempercayai Luhut, sehingga Menko Maritim dan 
Investasi itulah yang diminta untuk bertemu Musk. Ini juga jadi pembuktian 
posisi penting Luhut di hampir semua kebijakan-kebijakan besar yang dibuat oleh 
Presiden Jokowi.

Jika mengikuti pemberitaan dalam 2 tahun terakhir, setidaknya Luhut telah 
berperan besar dalam penanganan pandemi Covid-19, urusan investasi dari negara 
macam Tiongkok, perbaikan ekonomi, hingga yang beberapa waktu terakhir jadi 
perbincangan utama terkait narasi presiden 3 periode.

Dari semua isu tersebut, narasi 3 periode mungkin menjadi poin yang paling 
terasa nuansa negatifnya dari kehadiran Luhut yang mendorong isu tersebut. Ini 
karena 3 periode adalah pengkhianatan terhadap Reformasi 1998 – sebuah tonggak 
bersejarah ketika rezim otoritarian yang militeristik berhasil ditumbangkan 
oleh darah dan air mata.

Isu ini pulalah yang menjadi simpul pertanyaan besar yang diajukan terhadap 
kekuasaan Presiden Jokowi: apakah kita sudah melupakan sejarah dan 
pengalaman-pengalaman buruk di masa lampau?

Bukan tanpa alasan, kondisi di mana indeks demokrasi yang terus menurun, 
ketiadaan oposisi kekuasaan yang seimbang, kebebasan dan hak masyarakat sipil 
yang tergerus dan berbenturan dengan kepentingan kekuasaan, dan lain 
sebagainya, adalah bukti nyata amnesia politik terhadap sejarah masa lampau. 
Tak heran, beberapa pengamat menilai era Jokowi adalah pemerintahan terkuat 
pasca Reformasi 1998.

Dengan faktor keberadaan Luhut dalam kekuasaan – di mana ia pun terlibat 
benturan dengan beberapa aktivis macam Haris Azhar dalam kasus tambang di Papua 
– tentu pertanyaannya adalah apakah memang Indonesia sedang mengalami political 
amnesia alias amnesia politik?

 
Badai Political Amnesia
Istilah political amnesia salah satunya pernah ditulis oleh editor untuk media 
Australia Financial Review, Laura Tingle, dalam esainya berjudul Political 
Amnesia: How We Forgot To Govern untuk jurnal Quarterly Essay. Dalam esai yang 
terbit tahun 2015 tersebut, Tingle berargumentasi soal pemerintahaan Australia 
yang disebutnya lupa bagaimana caranya memimpin.

Ia berangkat dari bagaimana dalam kurun waktu 5 tahun antara 2010-2015, 
Australia mengalami pergantian Perdana Menteri sebanyak 5 kali. Tokoh-tokoh 
yang terpilih pun dianggap tak mampu menjalankan tugas dan kewajibannya dengan 
baik, sehingga seolah menghapus memori kebesaran kepemimpinan di Australia, 
katakanlah di era Perang Dingin lewat sosok macam Robert James Lee Hawke dan 
Paul John Keating.

Tingle menyebut bahwa memori soal kepemimpinan politik ini seolah menghilang 
karena adanya perubahan yang terjadi secara institusional, salah satunya dengan 
makin kuatnya posisi macam ministerial advisers atau para penasehat kekuasaan. 
Hubungan yang tidak seimbang dan tidak efektif di antara para pemangku 
kekuasaan, pada akhirnya memang membuat kepemimpinan di Australia seolah 
berjalan dalam garis waktunya sendiri dan lupa pada bagaimana negara itu 
dipimpin di masa lalu.

Dalam konteks yang berbeda, terminologi political amnesia itu mungkin cocok 
juga untuk dipakai sebagai refleksi kekuasaan di Indonesia saat ini. Sosok 
Luhut misalnya, mungkin bisa dianggap sebagai semacam adviser untuk kekuasaan 
Jokowi, sekaligus influencer yang ikut menentukan kebijakan-kebijakan yang 
dibuat oleh sang presiden.

Konteks amnesia itu juga bisa ditafsirkan dalam kaitannya dengan sejarah 
kekuasaan di Indonesia. Jelas ada upaya untuk membuat masyarakat lupa bagaimana 
kekuasaan pernah berjalan tanpa kontrol dan batasan di era Soeharto misalnya.

Dengan demikian, narasi 3 periode yang dibawa Luhut dengan klaim big data yang 
dipunyainya adalah upaya untuk membuat masyarakat lupa bagaimana kekuasaan yang 
tak terkontrol pernah berefek sangat dalam dan mengakar di kehidupan masyarakat 
Indonesia hingga hari ini. Masyarakat dipaksa untuk melupakan kondisi ketika 
kekuasaan tidak dibatasi dan menjadi absolut.

Tentu pertanyaannya adalah mengapa hal ini bisa terjadi?

 
Lupa atau Sengaja Lupa?
Ada 2 jawaban atas pertanyaan terkait alasan political amnesia di Indonesia 
bisa terjadi. Pertama, jika berkaca dari Reformasi 1998, sebetulnya apa yang 
terjadi saat ini sudah bisa diprediksi. Kita tahu bahwa Reformasi 1998 adalah 
sebuah political revolution atau revolusi politik yang hanya mengganti struktur 
kekuasaan di pucuk tertinggi saja.

Meminjam kata-kata Leon Trotsky dan poin pandangannya soal revolusi, Reformasi 
1998 bukanlah revolusi sosial atau revolusi permanen yang mengganti keseluruhan 
struktur ekonomi dan politik dalam masyarakat. Poin ini penting untuk melihat 
apakah konteks kekuasaan antara Orde Baru dan era saat ini memiliki pembeda 
yang signifikan.
Saat ini memang telah ada demokrasi. Kebebasan berekspresi dan berpendapat juga 
dilindungi. Namun, jika berkaca dari struktur ekonomi dan politik, kondisi saat 
ini sebetulnya tak jauh berbeda dibandingkan era Soeharto. Keberadaan oligarki 
politik masih menjadi intisari yang mempengaruhi keberlangsungan kekuasaan.

Profesor Jeffrey Winters dari Northwestern University pernah mengatakan bahwa 
Reformasi 1998 hanya membuat para oligarki berkuasa dari era Orde Baru 
“mengganti baju” mereka dengan yang lebih baru. Padahal isi dan pengaruh mereka 
tetaplah sama. Maka, tak heran, cukup gampang pembalikan narasi dilakukan, 
katakanlah dengan merujuk pada apa yang terjadi di era Soeharto. Narasi 3 
periode adalah salah satunya.

Sementara alasan kedua adalah karena konteks karakteristik dari kekuasaan itu 
sendiri. Dr. Dacher Keltner memperkenalkan istilah power paradox atau paradoks 
kekuasaan. Ini adalah kondisi psikologis yang terjadi dan mengubah cara 
berpikir kepemimpinan seseorang.

Dalam demokrasi misalnya, seorang penguasa awalnya terpilih lewat sebuah proses 
politik yang demokratis, mengedepankan asas-asas sosial, mendapatkan empati 
dari masyarakat, menjunjung keadilan dan fairness, serta mendorong kekuasaannya 
sebagai wujud dari kolaborasi. Sang pemimpin pun mendorong agar hal-hal 
tersebut tetap terjadi.

Namun, ketika sudah terpilih, pandangan terhadap kekuasaan menjadi berubah. 
Akibatnya, lahir sifat impulsif, self-serving action atau tindakan yang 
menguntungkan diri sendiri, lalu semua fairness dan keadilan seolah terlupakan. 
Konteks kelupaan – atau pada konteks ini bisa kita anggap sebagai amnesia – 
lahir karena paradoks dari kekuasaan itu sendiri.

Dengan demikian, memang tak perlu heran jika fenomena seperti ini bisa terjadi 
pada pemerintahan Jokowi saat ini. Dua alasan tersebut – baik soal tak adanya 
perubahan struktur ekonomi-politik dan masalah paradoks kekuasaan – memang 
membuat kekuasaan menjadi gampang lupa.

Yang terpenting bagi masyarakat adalah tetap kritis dan selalu melihat setiap 
fenomean politik yang terjadi dari sudut gambaran besarnya. Bagaimanapun juga, 
demokrasi masih menjadi jalan penting bagi pemenuhan hak-hak masyarakat. Sebab, 
seperti kata mantan Gubernur New York, Al Smith: “All the ills of democracy can 
be cured by more democracy”. (S13)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/39325EC82115487CBEF28B262C67E5BF%40A10Live.

Reply via email to