Written byA43Wednesday, May 4, 2022 17:00
Jokowi, Putin, dan ‘Kesalahan’ 
Retnohttps://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-putin-dan-kesalahan-retno/
Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya memutuskan untuk mengundang Presiden 
Ukraina Volodymyr Zelensky ke KTT G20 2022 pada November nanti – setelah 
negara-negara Barat seperti Amerika Serikat (AS) meminta demikian. Mengapa 
polemik diplomatik ini bisa terjadi? Bagaimana peran Menteri Luar Negeri 
(Menlu) Retno Marsudi di balik negosiasi-negosiasi Rusia-Ukraina di G20?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Siapa bilang aksi-aksi negosiasi dan diplomasi tidak membuat mereka yang 
terlibat menjadi berdebar-debar jantungnya? Mungkin, kita bisa mengamati 
bagaimana sulitnya negosiasi yang terjadi antar-negara dalam film Bridge of 
Spies (2015) yang dibintangi oleh Tom Hanks.

Dalam film tersebut, seorang pengacara asal Amerika Serikat (AS) yang bernama 
James B. Donovan mendapatkan tugas untuk menjadi negosiator di antara sejumlah 
negara di era Perang Dingin, yakni dengan Jerman Timur dan Uni Soviet. Donovan 
diharuskan untuk membahas mengenai pertukaran tahanan politik dan perang di 
antara AS dengan negara-negara itu.

Tentunya, tugas Donovan ini bukanlah perkara mudah. Pasalnya, baik Uni Soviet 
maupun Jerman Timur, sama-sama memiliki permintaan mereka masing-masing. Belum 
lagi, Donovan juga harus berkoordinasi dengan pemerintah AS di Washington D.C.

Meski begitu, Donovan akhirnya berhasil menyelamatkan tahanan-tahanan politik 
yang sebelumnya ditangkap Uni Soviet dan Jerman Timur. Kisah sukses ini pun 
sebenarnya didasarkan pada kisah nyata dari Donovan itu sendiri.

Bukan tidak mungkin, kerumitan diplomasi dan negosiasi seperti ini juga harus 
dihadapi oleh pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Bagaimana tidak? Indonesia 
merasa bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tetap berhak untuk diundang hadir 
dalam KTT G20 2022 – meski AS dan sejumlah negara anggota G20 menolak kehadiran 
Putin.

Di satu sisi, AS akhirnya meminta agar Jokowi mengundang Presiden Ukraina 
Volodymyr Zelensky bila Putin bisa hadir. Mungkin, prinsipnya adalah agar 
mereka berdua bisa sama-sama hadir dan berbincang soal solusi damai.

Beberapa waktu lalu pada April 2022, misalnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) 
Retno Marsudi melakukan sejumlah kunjungan ke negara-negara Eropa. Retno pun 
menemui sejumlah petinggi negara-negara Eropa, seperti Menlu Prancis Jean-Yves 
Le Drian. 

 
Tidak hanya Retno, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko 
Marves) Luhut Binsar Pandjaitan juga melakukan kunjungan ke AS dan bertemu 
sejumlah petinggi dan pebisnis negeri Paman Sam. Pemerintahan Joe Biden di AS 
pun menjadi salah satu pihak yang getol mendorong Indonesia agar mengundang 
Ukraina di KTT G20 2022.

Bila benar kunjungan yang dilakukan oleh Retno di Eropa dan Luhut di AS ini 
berkaitan dengan tekanan-tekanan diplomatik dari AS dan negara-negara Eropa 
terkait kehadiran Rusia dan Ukraina di KTT G20, strategi diplomasi apa yang 
sebenarnya digunakan oleh pemerintahan Jokowi? Mengapa, setelah sebelumnya 
menyatakan ketegasan terkait KTT G20, Indonesia malah memutuskan untuk menuruti 
permintaan AS dan negara-negara Eropa?

Diplomasi ‘Bisik-bisik’ ala Jokowi?
Satu hal yang paling dikenal dari gaya dan cara diplomasi yang diambil 
Indonesia, yakni diplomasi yang tidak dilaksanakan secara terbuka. Saking 
seringnya gaya diplomasi ini digunakan, Indonesia sampai identik dengan istilah 
“diplomasi diam-diam” atau “queit diplomacy”.

Biasanya diplomasi diam-diam digunakan oleh pemerintah Indonesia untuk menjaga 
hubungan baik dengan banyak pihak. Terkadang, diplomasi seperti ini dinilai 
dibutuhkan ketika menghadapi situasi-situasi yang genting atau emergency.

Pendekatan diplomasi seperti ini pernah digunakan oleh Menlu Marty Natalegawa 
pada tahun 2012 silam – ketika negara-negara anggota Association of South East 
Asian Nations (ASEAN) gagal menghasilkan pernyataan resmi bersama (joint 
communique) terkait sengketa Laut China Selatan (LCS). Atas instruksi Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Marty akhirnya melakukan diplomasi diam-diam 
dengan berkunjung ke berbagai pemerintahan negara-negara ASEAN.

Cara diplomasi diam-diam ini bahkan diakui oleh Marty sebagai cara terbaik 
untuk mempertahankan dan memperoleh kepercayaan (trust) di antara negara-negara 
ASEAN. Baginya, dalam kerangka ASEAN, cara ini lebih baik dibandingkan 
diplomasi megafon (megaphone diplomacy). 

Cara yang sama akhirnya juga digunakan oleh penerus Marty, Retno Marsudi. 
Mantan Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Belanda yang kini jadi Menlu tersebut 
menggunakan pendekatan diplomasi diam-diam ketika terjadi krisis Rohingya di 
Myanmar yang berujung pada memanasnya hubungan antara Myanmar dan Organisasi 
Kerja Sama Islam (OKI). 

  
Sekitar tahun 2017, pemerintahan Jokowi mulai menjauh dari posisi OKI yang 
dianggap terlalu konfrontasional terhadap Myanmar. Mengacu pada tulisan Claire 
Q. Smith dan Susannah G. Williams yang berjudul Why Indonesia Adopted ‘Quiet 
Diplomacy’ over R2P in the Rohingya Crisis, Indonesia akhirnya berusaha 
mengambil posisi tengah antara Myanmar dan OKI agar bisa menjaga hubungan baik 
di antara keduanya.

Bukan tidak mungkin, cara yang sama dilakukan dalam situasi ketegangan antara 
Rusia dan Ukraina, yakni dengan melakukan diplomasi ‘bisik-bisik’ di antara 
negara-negara yang berkepentingan – seperti upaya-upaya Retno yang disebutkan 
di bagian awal tulisan. Lagipula, Indonesia juga menjadi negara yang memiliki 
kepentingan tertentu di antara negara-negara yang bersitegang, seperti Eropa, 
Rusia, dan AS.

Namun, apakah benar Indonesia harus ditekan terlebih dahulu agar pimpinan 
diplomat bisa melangsungkan jurus diplomasi ‘bisik-bisik’ mereka? Mungkinkah 
segala tekanan dari kekuatan-kekuatan asing di G20 bisa dicegah?

Polemik Putin, Gara-gara Retno?
Terdapat sebuah analogi yang menarik dari Iver B. Neumann terkait peran 
diplomat dalam politik internasional. Dalam tulisannya yang berjudul To Be a 
Diplomat, Neumann menganalogikan bahwa ada tiga naskah yang dimainkan oleh para 
diplomat.

Naskah pertama adalah naskah birokratis – yang mana mengharuskan diplomat untuk 
fokus pada rutinitas yang ada. Naskah kedua adalah naskah heroik – yang mana 
mengharuskan seorang diplomat untuk fokus pada satu tugas untuk menciptakan 
perubahan. Sementara, yang terakhir adalah naskah mediator yang mengharuskan 
diplomat untuk mewujudkan tujuan di luar entitas politik sehalus mungkin.

Menurut Neumann, tiga naskah ini tidak bisa dipertemukan. Justru, tiga naskah 
ini harus dilaksanakan pada prinsip juggling (satu sama lain).
Tentunya, terdapat sejumlah peran yang bisa diambil oleh seorang diplomat. 
Melanjutkan tiga naskah yang disebutkan Neumann tadi, Corneliu Bjola 
menyebutkan sejumlah gaya kepemimpinan diplomatik dalam tulisannya yang 
berjudul Diplomatic Leadership in Times of International Crisis.

 
Tiga pemimpin diplomat ini terdiri dari the maverick, the congregator, dan the 
pragmatist. The maverick adalah pemimpin yang memiliki gagasan yang kuat tetapi 
tidak bisa menginspirasi aktor-aktor lain. Di sisi lain, the congregator adalah 
diplomat pemimpin yang bisa membangun konsensus tetapi tidak memiliki visi yang 
kuat. Sementara, terakhir, the pragmatist adalah diplomat pemimpin yang bisa 
membangun visi yang kuat sekaligus membangun hubungan yang beresonansi.

Tiga gaya kepemimpinan diplomatis inilah yang mungkin perlu diperhatikan oleh 
para pegiat diplomasi Indonesia. Bila diamati, Menlu Retno – dan juga Marty – 
mungkin merupakan seorang congregator yang bisa membangun jembatan dan 
konsensus di antara banyak pihak – bila dilihat dari penggunaan pendekatan 
diplomasi diam-diam dalam sejumlah situasi seperti polemik Rusia-Ukraina. 

Namun, bukan tidak mungkin, Jokowi juga memerlukan seorang pragmatist yang bisa 
memiliki visi yang kuat guna menghadapi tekanan-tekanan dari berbagai kekuatan 
asing. Sebagai Presiden G20, inilah kesempatan bagi seorang pragmatist untuk 
menanamkan visi yang kuat dan mengajak negara-negara lain berjalan secara 
bersesuaian – apalagi Jokowi sendiri memiliki visi agar ekonomi global bisa 
berjalan sesuai kepentingan banyak negara.

Boleh jadi, Indonesia sebenarnya pernah memiliki seorang Menlu yang merupakan 
seorang pragmatist, yakni Ali Alatas yang menjabat pada tahun 1988-1999. Ketika 
Ali menjabat sebagai penasihat diplomatik di era SBY, Indonesia memainkan peran 
penting untuk mengajak negara-negara ASEAN untuk menyepakati ASEAN Charter – 
sebuah kesepakatan yang mengandung prinsip-prinsip ASEAN.

Kesuksesan diplomatik Ali Alatas juga mengantarkannya menjadi calon Sekretaris 
Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, kemungkinan masa depan 
kariernya di PBB ini disebut diveto oleh Presiden Soeharto.

Terlepas dari itu, posisi Alatas yang dihormati dan bisa menjadi the pragmatist 
ini bukan tidak mungkin perlu dipelajari oleh para insan Kementerian Luar 
Negeri (Kemlu) saat ini. Siapa tahu Retno dan para diplomat Indonesia suatu 
hari nanti harus beraksi bak Tom Hanks di film Bridge of Spies? Bukan begitu? 
(A43)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/66D08FCDF1DA43E5A5345AA74E409FFE%40A10Live.

Reply via email to