Written byI76Thursday, May 5, 2022 16:00

AHY Tunggangi Manuver Politik 
Moeldoko?https://www.pinterpolitik.com/in-depth/ahy-tunggangi-manuver-politik-moeldoko/
Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) yang menolak gugatan kubu 
Moeldoko terhitung sebagai kekalahan ke-13 dalam upaya mengkudeta pucuk 
pimpinan Partai Demokrat. Lantas, selain menang secara hukum, AHY mampu menang 
secara politik di tengah manuver politik Moeldoko?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Perseteruan antara Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan kubu Kepala Staf 
Presiden (KSP) Moeldoko terus berlanjut meski Pengadilan Tinggi Tata Usaha 
Negara (PT TUN) mengeluarkan putusan yang mengandaskan gugatan kubu Moeldoko 
soal hasil Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat.

Merespons hasil PT TUN, AHY berharap kubu Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko 
mendapatkan hidayah – berharap putusan itu akan mengakhiri upaya kubu Moeldoko 
mengganggu Partai Demokrat yang saat ini dipimpin olehnya.

Sekjen DPP Partai Demokrat Teuku Riefky Harsya mengatakan bahwa keputusan PT 
TUN semakin menegaskan bahwa hasil Kongres V Partai Demokrat pada 2020 silam 
sah dan juga sesuai aturan yang berlaku.

Putusan Nomor 150 PT TUN ini menolak permohonan kubu Moeldoko yang meminta 
majelis hakim memerintahkan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) 
mengesahkan perubahan AD/ART dan susunan Pengurus Partai Demokrat hasil 
pertemuan di Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut).

Seolah tidak ada habisnya, drama AHY versus Moeldoko selalu berlanjut dengan 
episode-episode yang berbeda – diawali konferensi pers yang digelar AHY pada 1 
Februari 2021 yang mengatakan bahwa ada upaya pengambilalihan kepemimpinan 
Partai Demokrat yang melibatkan Moeldoko hingga berlanjut diadakan sebuah KLB 
yang digelar di Deli Serdang dan menetapkan Moeldoko sebagai Ketua Umum pada 5 
Maret 2021.

Akrobat politik Moeldoko menyita banyak perhatian publik. Hasil KLB tersebut 
pun direspons oleh Menkumham Yasonna Laoly yang menyatakan bahwa pemerintah 
menolak permohonan pengesahan kepengurusan Partai Demokrat versi KLB Deli 
Serdang pada akhir Maret 2021. Alasannya adalah karena terdapat beberapa 
dokumen yang belum lengkap.

Meski berbagai gugatan dan upaya hukum pun dilayangkan oleh kubu Moeldoko untuk 
mendapatkan legalitas, berbagai upaya itu pun akhirnya berulang kali juga 
ditolak pengadilan. Jika dikalkulasi, putusan ini menjadi kekalahan ke-13 bagi 
kubu Moeldoko dalam upaya mengkudeta pucuk pimpinan Partai Demokrat.

Alih-alih perseteruan ini melemahkan posisi AHY, sebaliknya menurut berbagai 
survei, elektabilitas AHY naik setelah merespons  wacana pengambilalihan Partai 
Demokrat. Bahkan, sebagian pengamat menilai bahwa masyarakat bersimpati karena 
melihat AHY sebagai korban. Hal ini juga yang bantu elektabilitasnya meningkat.

Lantas, seperti apa akrobat politik AHY yang dapat memainkan strategi playing 
victim-nya hingga membuahkan hasil positif bagi elektabilitas dirinya dan 
Partai Demokrat?


AHY minta Moeldoko Insaf, setelah gugatan di PT TUN ditolak. 
Jadi Korban, Simpati Melimpah?
Konflik Moeldoko memberikan efek positif terhadap elektabilitas Partai Demokrat 
dan ketua umumnya AHY. Tidak bisa dipungkiri bahwa upaya kudeta berbuah manis – 
dibuktikan dengan meningkatnya tingkat keterpilihan AHY.

Hasil survei beberapa lembaga menunjukkan bahwa elektabilitas Demokrat 
meningkat dalam dua tahun terakhir. Contohnya, survei Populi Center mencatat 
elektabilitas Demokrat naik dari sekitar 3 persen menjadi 9,6 persen. Begitu 
pula survei Litbang Kompas yang mencatat elektabilitas Demokrat melonjak dari 
3,6 persen pada 2020 menjadi 10,7 persen pada awal 2022.
Aisyah Yuri Oktavania dalam tulisannya Mengenal Playing Victim dalam Politik, 
Istilah yang Muncul Sejak Kuno mengatakan bahwa terdapat desain politik di 
tengah kisruh Partai Demokrat – yang ,ana Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 
dianggap menggunakan jurus lama, playing victim, untuk mendapatkan simpati 
masyarakat.

Agar bendera Demokrat kembali berkibar menjelang pemilu 2024, AHY diduga juga 
menggunakan strategi yang mungkin saja diwariskan oleh pendahulunya, yaitu 
ayahnya sendiri SBY. Strategi yang sama pernah berhasil digunakan untuk 
mengantarkannya menjadi presiden di Pilpres 2004.

Dengan latar belakang militer, SBY dan kemudian AHY saat ini, seolah jadi 
swa-bukti ketidakasingan mereka dengan strategi perang yang digagas oleh Sun 
Tzu. Dalam buku Seni Perang dan 36 Strategi karya Sun Tzu, konsep playing 
victim dalam strategi perang lumrah digunakan.

Pada strategi ke-34 sub-bab Strategi Kalah, disebutkan upaya melukai diri 
sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh (masuk ke dalam jebakan, jadilah 
umpan).  Sun Tzu menjelaskan dengan berpura-pura terluka bisa menimbulkan dua 
kemungkinan.

Pertama, musuh akan bersantai sejenak karena dia tidak memandang kita sebagai 
ancaman serius. Kedua, menjilat musuh dengan berpura-pura terluka sehingga 
musuh merasa aman. Strategi ini sebagai strategi mengelabui dan memanipulasi 
keagresifan musuh.

Efek dari strategi ini dalam konteks kisruh Demokrat bisa terlihat dari 
munculnya pandangan tidak netral dari publik dikarenakan adanya pengaruh 
psikologis yang menggugah simpati sehingga publik dominan irasional dan 
membangun pemahaman tersebut dengan menutup mata – mendukung tanpa 
mempertimbangkan fakta.

Tidak bisa dipungkiri, playing victim dapat mengakumulasi simpati publik 
sehingga strategi politik ini ampuh untuk melemahkan, menghancurkan, kemudian 
menguasai pihak lawan. Bukan hanya dalam perang, aksi menyerang dan bertahan 
juga ada dalam dunia politik.

Ini terlihat bagaimana pelaku playing victim seolah sebagai korban teraniaya 
dalam sebuah kasus tertentu yang kemudian menggugah simpati dan dukungan 
publik. Ditambah dengan pernyataan-pernyataan maupun framing kejadian, membuat 
simpati publik makin melimpah.

Strategi ini dinilai cukup ampuh untuk menggiring opini masyarakat. Permainan 
kata-kata dan taktik cantik dan cerdik memang terbukti banyak mengelabui dan 
digunakan dalam berbagai situasi. Dengan gestur dan pernyataan yang rapi, AHY 
mampu memainkan peran ini dengan baik.

Lantas, mungkinkah strategi yang pernah dilakukan oleh SBY dulu punya dampak 
yang sama terhadap AHY di Pilpres 2024?


Puan tidak sindir AHY terkait capres ganteng. 
AHY Modifikasi Strategi SBY?
Salim Said Pengamat Politik dan Militer, mengatakan, SBY atau pengikutnya 
ketika itu mendramatisir tingkah laku politik Taufik Kiemas untuk popularitas 
dirinya. Dari situ, dia kerap mengatakan ke publik telah diperlakukan tidak 
adil selama duduk di kabinet Megawati.

SBY dikatakan menggunakan jurus playing victim ketika masih menjabat sebagai 
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam). Saat 
itu, SBY disebut oleh almarhum Ketua MPR RI Taufik Kiemas sebagai anak kecil.
Sekarang, muncul lagi tuduhan semacam itu. AHY digambarkan telah dizalimi oleh 
Moeldoko, tentunya mengaitkan nama Moeldoko akan terkait dengan konteks 
kekuasaan. Karena sebagai KSP, Moeldoko merupakan orang dekat Presiden Joko 
Widodo (Jokowi).

Mungkin, apa yang dilakukan oleh AHY saat ini lebih dari sekadar playing victim 
karena beberapa peneliti politik menilai ada semacam strategi tambahan yang 
digunakan AHY untuk mengurai konflik yang didera oleh Partai Demokrat saat ini.

Politisi Demokrat Kamhar Lakumani – merujuk hasil riset Lembaga Penelitian, 
Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) – mengatakan bahwa 
keberhasilan Partai Demokrat melewati terpaan badai ini menunjukkan kualitas 
kepemimpinan AHY sebagai nakhoda yang andal. Kamhar menilai terdapat empat 
strategi penting dari kepemimpinan AHY yang membuat elektabilitas Demokrat 
meroket berdasarkan hasil survei LP3ES.

Pertama, kecepatan AHY merespons persoalan dan mengambil keputusan. Kedua, 
ketepatan memilih strategi dalam mengajak publik termasuk media massa dalam 
misi mengontrol demokrasi. Ketiga, keberanian hadapi orang yang lebih tinggi 
posisinya, di mana yang dihadapi adalah Moeldoko yang merupakan purnawirawan 
jenderal yang berada di kekuasaan.

Keempat, kemampuan AHY dalam membangun dan menjaga soliditas kader – terutama 
ketika diterpa isu perpecahan. Hal ini terlihat ketika ia melakukan safari dan 
konsolidasi di tiap daerah untuk menguatkan soliditas internal Partai Demokrat 
di daerah.

Pasca-dua periode jabatan Presiden Jokowi, kontestasi politik seolah di-reset. 
Artinya, peluang bisa terbuka untuk siapa saja karena tidak ada petahana yang 
punya sumber daya sebagai penguasa. Momen ini yang sebenarnya harus jadi 
orientasi AHY saat ini.

Berkaca di akhir dua periode SBY, maka yang muncul orang baru dari pihak 
oposisi, yaitu Jokowi. Muncul fenomena politik yang bisa kita sebut “pola 
setelah dua periode”. Ada kecenderungan masyarakat mencoba pilihan alternatif – 
biasanya pilihan itu ada pada oposisi pemerintah.

Jika, di era SBY, antitesis dari Partai Demokrat adalah PDIP, maka tidak 
menutup kemungkinan di era terakhir Jokowi yang diusung oleh PDIP akan 
memunculkan fenomena yang berulang.

Dengan memainkan isu perpecahan internal Partai Demokrat dengan baik. AHY 
digadang-gadang akan memainkan politik cantik. Politik yang bukan hanya meniru 
apa yang telah dilakukan oleh SBY, tapi terdapat semacam modifikasi-modifikasi 
tambahan karena pengaruh kebutuhan zamannya. (I76)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/6848ADFBDEC548669EB4A8CF469D5A64%40A10Live.

Reply via email to