Written byI76Friday, May 6, 2022 17:23
JIS dan Komodifikasi ala 
Anieshttps://www.pinterpolitik.com/in-depth/jis-dan-komodifikasi-ala-anies/

Salat Idulfitri yang meriah di kawasan Jakarta International Stadium (JIS) 
membuat sebagian pengamat menilai Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tengah 
memanfaatkan momentum sebagai panggung politik. Lantas, mungkinkah Anies juga 
menjadikan salat Idulfitri itu sebagai komoditas politik?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Warga Jakarta menyambut Idulfitri kali ini dengan penuh sukacita. Mereka 
berbondong-bondong melakukan salat Idulfitri di kawasan Jakarta International 
Stadium (JIS), Jakarta Utara – sebuah bangunan monumental yang baru saja 
diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Anies memperlihatkan rasa puas dengan hasil karyanya. Mantan Menteri Pendidikan 
dan Kebudayaan (Mendikbud) tersebut juga mengungkapkan bahwa hal ini merupakan 
pertama kalinya penyelenggaraan salat Idulfitri di JIS – sehingga peristiwa ini 
dapat menjadi momentum bersejarah bagi warga Jakarta.

Namun, di balik rasa bahagia itu, terdapat pula sebagian orang yang 
bertentangan. Sejumlah pengamat politik menilai Anies tengah memanfaatkan 
momentum tersebut untuk menunjukkan kemampuan mengerahkan massa.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komaruddin mengatakan bahwa 
Anies memanfaatkan momentum salat Idulfitri berjamaah di JIS sebagai panggung 
politik – meski tetap melihat bahwa apa yang dilakukan Anies sah-sah saja dalam 
memanfaatkan berbagai kesempatan.

Anies juga dinilai sedang bermanuver habis-habisan sebelum masa jabatannya 
berakhir pada Oktober mendatang. Anies bahkan dituduh memanfaatkan salat 
Idulfitri berjamaah di JIS sebagai upaya menggeser stigma kedekatan dengan 
kelompok garis keras.

Strategi memanfaatkan momentum, seperti salat Idulfitri ini, merupakan taktik 
yang cerdas dilakukan oleh Anies. Terlihat bahwa usahanya untuk mencuri 
perhatian dalam sebuah momen bisa dianggap berhasil.

- Advertisement -Namun, apakah menggunakan momen seperti salah Idulfitri ini 
tanpa risiko? Kemungkinan risiko muncul pasti ada.  Meski manuver ini akan 
berdampak positif bagi persiapan Anies menuju 2024, Anies bukan tidak mungkin 
akan diberikan stigma sebagai kandidat yang menggunakan agama – spesifiknya 
ritual agama yang menjadi komoditas politik.

Peristiwa ini bisa asumsikan bahwa Anies menjadikan agama sebagai komoditas 
politik karena salat Idulfitri di JIS bukan hanya peristiwa ritual keagamaan. 
JIS dapat dilihat sebagai  simbol kerja Anies. Salat di JIS seolah 
mengapresiasi kinerja Anies. Karena itu, dalam konteks politik, ini bisa 
menguntungkan Anies.

Dalam konteks politik ini, menjadi menarik untuk melihat konsep politik yang 
jadikan agama sebagai komoditasnya. Lantas, muncul pertanyaan, seperti apa akar 
sosiologis dan dampaknya jika agama dijadikan komoditas politik?


ANies Janji Sudah Ditunaikan 
Meraba Komodifikasi Agama
Andrew Norman Wilson dalam bukunya Why We Should Live Without It mengatakan 
bahwa tumbuh berkembangnya agama dalam suatu negara bukan disebabkan oleh 
esensi dari nilai religiositas, melainkan oleh pemanfaatan nama atau simbol 
agama tersebut untuk kepentingan politik dan bisnis.

Argumentasi Wilson ini dapat dijadikan sebagai gerbang pembuka untuk memahami 
normalitas baru tentang arti dari nilai religiositas yang mulai berubah dalam 
pandangan negara modern. Tentunya, hal ini terpengaruh dari sikap akan afirmasi 
negara terhadap sekularisasi antara agama dan politik.

Baca juga :  Jokowi, Luhut dan Political AmnesiaSikap ini terlihat jelas ketika 
ritual agama sudah tidak lagi dianggap sakral, melainkan hanya sebagai 
seremonial. Lebih jauh, seremoni ritual agama ini selalu lekat dengan 
kepentingan politik yang hadir di tengah masyarakat.

Adjie Suradji dalam tulisannya Politisasi dan Komodifikasi Agama mengatakan 
bahwa ritual keagamaan tak lagi bisa dimaknai secara teologis semata tetapi 
sudah bergeser menjadi bagian dari afiliasi dan afinitas kelas sosial yang 
bersifat duniawi. Dari sini, bisa diamati bahwa bukti politisasi dan bisnis 
agama itu nyata.

Dalam konteks sejarah, muncul fenomena naiknya tren konsumsi jargon Islam oleh 
pemeluknyya (Islamic consumption trend) yang mewabah di Indonesia. Sebuah 
fenomena yang memperlihatkan peningkatan tren para kaum muslim untuk 
mengkonsumsi istilah-istilah atau jargon-jargon dalam ajaran Islam.

- Advertisement -Sekilas, fenomena ini seolah menggambarkan peningkatan 
religiositas masyarakat dalam memenuhi kebutuhan spiritualnya.Islamic 
consumption trend yang tumbuh sejak era 1990-an realitasnya telah menjadi 
kekuatan politik dan bisnis sangat signifikan di Indonesia.

Sebagai negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam terbesar di dunia – 
sebesar 229 juta jiwa, menjadi wajar bila politisasi dan komodifikasi Islam 
tumbuh di negeri ini.

Namun, dalam perspektif lain, fenomena ini mengisyaratkan ada keterlibatan 
politik praktis di dalamnya. Euforia aktualisasi identitas Islam telah 
dimanfaatkan oleh para elite politik untuk menjadikan agama sebagai kemasan 
politik dan komoditas meraih kekuasaan.

Praktik politisasi dan komodifikasi agama ini sekaligus menandakan terjadinya 
transformasi dari spiritual intelligence (kecerdasan spiritual) menjadi 
emotional spiritual marketing (pemasaran spiritual secara emosional).

Kondisi dekadensi spiritual ini sudah diramalkan oleh filsuf Islam yang bernama 
Ibnu Rusyd dengan pernyataannya yang terkenal, yaitu, jika ingin menguasai 
orang bodoh, bungkus yang batil dengan agama. Agama dapat dijadikan alat 
politik untuk menggerakkan orang tak berpengetahuan.

Selanjutnya, muncul pertanyaan, mengapa agama menarik untuk dijadikan komoditas 
politik? Pertanyaan ini menarik karena mencoba mempertanyakan agama sebagai 
objek yang selalu diminati untuk dijadikan komoditas politik.

Merujuk dari tulisan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta 
yang berjudul Agama Rentan Jadi Komoditas Politik, mengatakan, terdapat alasan 
mengapa agama menjadi pertimbangan utama dalam politik dapat dilihat dari level 
hubungan sosial di masyarakat.

Hubungan sosial memiliki kaitan erat dengan politik identitas karena memiliki 
dua dimensi. Pertama, dimensi bridging yang dibentuk dengan pergaulan yang baik 
dengan kelompok lain. Kedua, dimensi bonding yang bertumpu pada hubungan  
sosial dengan kelompok sejenis dalam agama dan etnis.

Kedua dimensi tersebut memiliki dampak yang jauh berbeda. Bonding berdampak 
pada solidaritas pada kelompok yang sejenis tetapi, pada kelompok luar, 
cenderung negatif. Sementara, bridging memiliki sisi positif dengan kelompok 
luar yang berbeda.

Baca juga :  Nadiem dan Dominansi Bahasa IndonesiaKarena melihat peluang dari 
praktik politisasi agama begitu efektif digunakan. Anies bisa jadi menggunakan 
strategi semacam ini di tengah momen salat Idulfitri di JIS. Lantas, mungkinkah 
politik ini akan punya dampak positif bagi Anies dalam mengkapitalisasi 
dukungan untuk maju pada Pilpres 2024?


Jokowi kunjungi sirkuit formula e bersama Anies 
Politik Anies Berisiko?
Meski punya dampak positif terhadap elektabilitas, pilihan strategi politik 
agama yang dilakukan oleh Anies ini cukup berisiko. Risiko yang dimaksud bukan 
berdampak kepada Anies sebagai aktor politik, melainkan agama sebagai sistem 
kepercayaan yang hidup dalam masyarakat.

Bisa jadi, kondisi seperti ini mengisyaratkan bahwa ritual keagamaan khususnya 
Islam, tak lagi bisa dimaknai secara teologis semata, melainkan  sudah bergeser 
menjadi bagian dari afiliasi dan afinitas kelas sosial yang bersifat duniawi 
(profan).

Dengan demikian, tak heran jika nilai-nilai religiositas Islam semakin kabur 
dan kehilangan nilai kesakralannya. Dengan mengakumulasi spiritualitas menjadi 
komoditas politik, tata nilai Islam berubah hanya menjadi simbolis yang hanya 
mengedepankan kamuflase dan pencitraan semata.

Di sinilah akar risiko yang dimaksud di awal, yaitu memungkinkan akan munculnya 
sikap eksklusivisme dan inklusivisme yang berkaitan dengan ideologi radikalisme 
dan ini seharusnya menjadi perhatian bersama.

Mengakomodasikan agama (Islam) ke dalam persoalan politik menjadikan eksistensi 
Islam menguat meskipun bukan dalam hal pemahaman nilai spiritualitas atau 
religiositasnya, melainkan untuk kepentingan duniawi atau politik.

Fenomena ini yang telah lama dikhawatirkan oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur) 
yang merupakan tokoh pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia yang mencoba 
mengisyaratkan bahwa perlu adanya sekularisasi dalam tubuh Islam.

Sekularisasi yang dimaksudkan adalah liberating development. Pembebasan 
(liberating) kesejarahan umat Islam yang tidak sanggup membedakan mana yang 
masuk ke dalam nilai transendental (ukhrawi) dengan nilai temporal (duniawi).

Menurut Cak Nur, masih banyak yang menempatkan wilayah yang seharusnya temporal 
ke dalam transendental. Umat Islam semestinya menempatkan porsi keduniawian 
sebagai sesuatu yang duniawi. 

Perlu semacam tuntutan etis untuk menolak agama dijadikan komoditas politik 
karena efeknya yang besar terhadap agama itu sendiri. Dampaknya adalah membuat 
semakin mengaburnya nilai religiositas Islam. Kita akan sulit membedakan 
identitas Islam sebagai media spiritual (agama) ataukah merupakan senjata 
politik.

Sebagai penutup, Anies sebagai salah satu cendekiawan muslim yang punya rekam 
jejak dalam dunia intelektual Islam diharap mampu melihat dampak fenomena 
politik ini. Jangan sampai karena didorong oleh ambisi politik, rela tetap 
gunakan simbol agama sebagai komoditas politik yang cukup berisiko. (I76)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/04931F6AC4C44AE3B202D07D696B90F1%40A10Live.

Reply via email to