Written byD74Tuesday, May 10, 2022 07:00
“Cuan” Oligark, Matinya Jurnalisme? 
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/cuan-oligark-matinya-jurnalisme/

Berita yang seragam, memancing clickbait, dan informasi yang satu arah telah 
membuat orang-orang bertanya tentang masa depan jurnalisme. Terlebih lagi, 
banyak media berita saat ini dimiliki oleh politisi dan investor besar. 
Bagaimana kebebasan pers selamat dari ini semua? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Pers, media, dan jurnalisme telah menjadi unsur krusial dalam kehidupan kita 
sehari-hari. Meski umumnya dianggap sebagai temuan modern, bentuk awal 
jurnalisme sebenarnya sudah dimulai sejak ribuan tahun yang lalu. 

Salah satunya adalah sebuah papan pengumuman bernama Acta Diurna, yang 
berfungsi layaknya koran ketika masa Republik Romawi abad ke-1 sebelum Masehi. 
Ketika itu, Acta diciptakan untuk mempromosikan ekspresi “publicare et 
propagare”, yang artinya adalah “mempublikasikan dan menyebarkan”. 

Editor pertamanya tidak lain adalah sang Jenderal legendaris, Julius Caesar. Ia 
percaya bahwa informasi dan kemampuan untuk membentuk opini publik adalah 
kekuatan yang luar biasa. Caesar menggunakan Acta sebagai medium untuk 
menyampaikan ide-ide politiknya agar bisa sampai ke telinga masyarakat, dan 
menggunakan pengetahuan publik yang terbentuk sebagai legitimasi kekuatannya. 

Tidak heran bila Caesar merasa perlu bertindak demikian, karena pada masa itu 
ia memiliki pertarungan politik yang sangat sengit dengan para senator Romawi. 

Pada era modern, setelah ditemukannya mesin cetak pada sekitar abad-15 masehi, 
jurnalisme telah berkembang pesat dan telah menjadi komponen penting dalam 
demokrasi. Melalui upaya penghimpunan data, pencarian fakta, dan pelaporan 
peristiwa, masyarakat selalu bisa mendapatkan pandangan alternatif dari suatu 
cerita. 

Namun, saat ini jurnalisme tengah mendapat kritikan keras. Selain sering diduga 
mendapat banyak “pesanan” politik melalui beberapa posting-an yang terkesan 
mempromosikan seseorang atau sesuatu, media-media sekarang juga dianggap 
berperan layaknya hubungan masyarakat (humas), karena seringkali berita yang 
ditampilkan hanyalah agenda acara dari suatu perusahaan, kelompok,  atau 
kementerian saja. 

Artikel-artikel yang bersifat in-depth dan investigatif memang masih ada, 
tetapi mereka sudah tertutupi dengan konten pemberitaan yang pesat, yang 
mengandalkan judul ciamik agar para pembaca mau membuka tautan artikelnya. 

Karena itu, telah menjadi kekhawatiran umum bahwa apakah sebenarnya di era 
modern ini jurnalisme sejati sudah mati? 

Tapi sebelumnya, perlu kita pertanyakan terlebih dahulu, mengapa keadaan 
seperti ini bisa terjadi? 

Jurnalisme, Bisnis yang Terkutuk? 
James Madison, Presiden ke-4 Amerika Serikat (AS), sekaligus salah satu 
Founding Father Negeri Paman Sam, dalam Deklarasi Hak-Hak (Bill of Rights), 
mengatakan bahwa kebebasan pers adalah salah satu benteng terbesar kemerdekaan. 
 

Negara atau siapapun itu, menurutnya, tidak boleh merampas hak rakyat untuk 
berbicara, menulis, atau mempublikasikan perasaan mereka di media. 

Tapi, masih bisakah prinsip ini kita pegang dalam jurnalisme modern?  

Jika kita lihat fenomenanya sekarang, itu sepertinya sulit, karena sudah 
menjadi pengetahuan bersama bahwa banyak media pemberitaan kini justru dipegang 
oleh politisi dan investor top. Nicco Mele dalam artikel Modern Journalism: In 
Search of a Business Model, menilai fenomena ini bisa terjadi karena model 
bisnis jurnalisme yang mulai ketinggalan zaman. 

Meski kantor-kantor berita saat ini mungkin memiliki jumlah audiens yang lebih 
besar setelah menjajaki dunia digital, tidak bisa dipungkiri bahwa mereka 
sekarang menghadapi banyak permasalahan terkait pendapatan yang stabil. Hal ini 
disebabkan tuntutan teknologi yang juga membuat kompetisi semakin ketat. 
Oleh karena itu, mulai banyak kantor berita yang mencari jaminan kehidupannya 
melalui penanaman modal usaha. Mele mencontohkan perusahaan-perusahaan populer 
seperti Vox, BuzzFeed, dan Vice. 

Pandangan serupa juga disampaikan Ross Tapsell dalam buku Kuasa Media di 
Indonesia: Kaum Oligarki, Warga, dan Revolusi Digital. Di dalamnya, Tapsell 
menilai bahwa perkembangan teknologi dan tuntutan untuk berkompetisi membuat 
para perusahaan media memerlukan peralatan dan infrastruktur yang canggih agar 
bisa selalu terdepan. Tentu, itu membutuhkan modal besar. 

Inilah kemudian yang menjadi celah untuk para penanam modal masuk. Para 
konglomerat, atau kalau kata Tapsell, oligark media itu, kemudian menjadikan 
media miliknya sebagai penyalur kepentingan bisnis dan politik. 

Lantas, masih adakah harapan untuk netralitas pemberitaan modern? 

Well, Noam Chomsky dalam bukunya Manufacturing Consent: The Political Economy 
of the Mass Media, menjawab: tidak. Alasannya karena berita yang dipublikasikan 
oleh suatu perusahaan mau tidak mau harus melewati 4 filter editorial atau 
saringan editorial.  

Pertama, kepentingan keuangan para pemilik atau investor; kedua, kepastian 
dukungan para pengiklan, yang juga membawa kepentingan sendiri;  

Ketiga, birokrasi sumber pemberitaan. Jika suatu kantor berita ingin 
mendapatkan akses informasi unggulan dan tercepat, mereka sekarang dituntut 
memiliki “kongkalikong” dengan penyedia sumber, hal ini seringkali melibatkan 
penyesuaian kepentingan bisnis. Dan tentu, media akan bertindak sebisa mungkin 
karena kecepatan dalam penyajian berita adalah faktor utama dalam jurnalisme 
modern. 

Keempat, ancaman dan dorongan berita. Maksud Chomsky di poin ini adalah, kantor 
berita seringkali mendapatkan respons negatif, bahkan ancaman, ketika kontennya 
dinilai merugikan suatu pihak. Mungkin secara sekilas kita akan berpendapat 
bahwa media harus berani. Namun, kenyataannya tidak bisa seperti itu. 

Meski suatu kantor berita tetap berani menyerang suatu kelompok, mereka akan 
mendapatkan rasa ketidakpercayaan yang tinggi dari para investor dan calon 
pengiklan. Dan seperti yang sudah dibahas di atas, investor dan pengiklan telah 
menjadi unsur-unsur penting dalam jurnalisme modern. 

Dengan poin-poin ini, bisa disimpulkan bahwa kantor-kantor pemberitaan saat ini 
telah dikekang sedemikian rupa sehingga jika ada jurnalis atau wartawan yang 
ingin bebas, itu akan menjadi ancaman bagi kantornya secara finansial, maupun 
politik. 

Lalu, apakah ini artinya jurnalisme modern telah mati? 

Evolusi Menjadi Jurnalisme Gerilya?
Ada sebuah kutipan menarik dari film sains fiksi Hollywood yang populer, yaitu 
Jurassic Park. Salah satu karakter utama di dalamnya, yang bernama Ian Malcolm, 
yang diperankan oleh aktor Jeff Goldblum, pernah mengatakan bahwa “life finds a 
way”.  

Ya, seberapa sulit tantangannya, makhluk hidup akan terus menemukan cara untuk 
mengatasi tantangan tersebut. 
Meski kutipan itu berasal dari seorang karakter fiksi, kita tidak bisa pungkiri 
bahwa sejak miliaran tahun kehidupan di planet Bumi memang bergerak berdasarkan 
prinsip itu. Makhluk hidup yang tadinya hanya ada di bawah lautan, bisa 
melakukan hal yang tampak tidak mungkin dan menciptakan segmen kehidupan baru 
di daratan. 

Jurnalisme pun sesungguhnya berlaku demikian. Pada tahun 2010, dunia 
digemparkan oleh pembocoran data besar-besaran pemerintah AS tentang catatan 
perang rahasia di Afganistan dan Irak. Laporan tersebut dipublikasikan oleh 
organisasi non-profit internasional, WikiLeaks dan pendirinya, Julian Assange. 

Lalu, pada tahun 2016, kita juga dihebohkan pembocoran dokumen pencucian uang 
berbagai tokoh besar dunia yang dijuluki istilah Panama Papers, yang dilakukan 
jaringan jurnalis global, International Consortium of Investigative Journalists 
(ICIJ).  

Aksi-aksi seperti itu adalah salah satu bentuk baru dari jurnalisme modern. 
Dunia jurnalisme umumnya memberi julukkan jurnalisme jenis ini dengan istilah 
guerrilla journalism, atau jurnalisme gerilya. Jurnalis asal Nigeria, Sunday 
Akin Dare dalam bukunya Guerrilla Journalism: Dispatches from the Underground, 
menjelaskan bahwa jurnalisme gerilya adalah solusi mutakhir bila media 
mainstream atau jalur utama sudah mulai terkekang kebebasannya.  

Jurnalisme gerilya bertindak layaknya antitesis terhadap apa yang saat ini 
terjadi pada jurnalisme jalur utama. Karena umumnya gerakan ini adalah hasil 
perundingan sekelompok jurnalis yang peduli akan suatu isu, mereka tidak perlu 
merasa terkekang pada aturan-aturan yang dapat mengatur alur pemberitaan, 
seperti 4 filter yang disampaikan Chomsky di bagian tengah tulisan ini, 
misalnya.  

Jurnalisme gerilya pun tidak terbatas pada jurnalis saja. Dengan adanya 
internet, masyarakat biasa pun sekarang bisa menjadi whistleblower atau pelapor 
akan suatu kasus atau menyebarkan informasi penting hanya melalui penggunaan 
gawai yang dimilikinya. 

Selain masih adanya celah jurnalisme gerilya, kita pun tidak boleh lupa bahwa 
kemajuan teknologi juga dapat menjadi senjata terkuat masyarakat. Bahkan ketika 
akses memperoleh informasi di internet dibatasi, kita biasa mencari 
alternatifnya dengan menggunakan aplikasi-aplikasi virtual private network 
(VPN). 

Itu hanya segelintir poin saja tentang ketidakterbatasan potensi jurnalisme 
modern. Karena itu, meski sebagian media pemberitaan saat ini memang dimiliki 
oleh segelintir politisi dan investor, kita tidak bisa mengabaikan bahwa masih 
ada sumber-sumber informasi lain yang masih bebas.  

Layaknya makhluk hidup yang terus berevolusi, jurnalisme akan selalu menemukan 
celah baru agar nilai kebebasan bisa tetap dijunjung tinggi. Dengan demikian, 
jurnalisme tidak akan pernah bisa mati. (D74) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CE6F3464DAEB4487A188EE39ABC2427A%40A10Live.

Reply via email to