Written byI76Tuesday, May 10, 2022 21:37

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/wajah-lain-psi-untuk-anies/
Wajah Lain PSI Untuk Anies?
Terlihat aneh jika Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memberikan komentar 
positif terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Bagaimana tidak? PSI 
terlanjur dikenal dengan brand sebagai partai yang kritis terhadap Anies. 
Lantas, apakah komentar bernada positif baru-baru ini dapat dianggap sebagai 
wajah lain PSI untuk Anies?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) selama ini dikenal luas sebagai lawan 
politik dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Bagaimana tidak? Hampir 
seluruh kebijakan Anies selalu menjadi sasaran kritik partai yang dipimpin 
Giring Ganesha tersebut.

Sebut saja soal balapan Formula E. Mulai sejak wacana hingga saat ini dalam 
tahap konstruksi sirkuit, semuanya menjadi bahan kritik para politisi PSI, baik 
ketua umum hingga para wakilnya yang duduk di gedung DPRD DKI Jakarta.

Namun, mendadak PSI kali ini berubah. Ketua DPW PSI Jakarta Michael Victor 
Sianipar membela Anies terkait video seorang pemuda yang mengatakan baliho 
bergambar Anies dengan sebutan ‘Orang Yaman’.

Lebih tegas disampaikan oleh Sekretaris Dewan Pembina PSI Raja Juli Antoni, 
dikatakan Anies dan Tsamara Amany  bukan orang Yaman. Dan bukan hanya kepada 
tokoh politik keturunan Timur Tengah, pihaknya juga menolak perilaku rasisme 
yang dilakukan terhadap siapapun.

Jika dilihat secara umum, gelombang rasialisme marak terjadi di media sosial. 
Serangan rasialisme dilancarkan terhadap sejumlah tokoh politik keturunan Timur 
Tengah, seperti Anies dan Tsamara. Khusus Tsamara, serangan rasial terlihat 
setelah keluar dari PSI.

PSI meminta semua pihak untuk berpikir berdasarkan konsep negara-bangsa. Konsep 
ini yang akan melahirkan konsekuensi logis dari cara berpikir tentang 
kependudukan (citizenship), karena landasan itu akan mengatasi perbedaan 
identitas suku dan agama para warga negara.

- Advertisement -Argumen PSI punya dasar sosio-politik yang kuat bahkan 
rasional. Tapi jika dilihat dari pendekatan dinamika relasi politik antara PSI 
dan Anies, maka terkesan sikap PSI ini tidak biasa. Seolah PSI menampilkan 
wajah lain untuk Anies.

Lantas, seperti apa memahami perilaku di balik sikap PSI yang berbeda terhadap 
Anies?


Tolak Rasialisme ala PSI 
Meraba Politik Dua Wajah
Dalam politik menampilkan dua wajah yang berbeda merupakan sesuatu yang lumrah. 
Seolah istilah hipokrit atau kemunafikan ternormalisasi dalam dunia politik. 
Sehingga sering ditemukan para aktor politik menampilkan wajah-wajah yang 
berbeda.

Ilmuwan sosiologi politik, Maurice Duverger dalam bukunya The Study of 
Politics, mengatakan politik ibarat dewa Janus, dewa perang mitologi Romawi 
Kuno yang memiliki dua wajah. Konon satu wajahnya tersenyum, dan wajah lainya 
memperlihatkan ekspresi kemarahan.

Baca juga :  “Cuan” Oligark, Matinya Jurnalisme? Banyak tafsiran tentang 
simbolisasi wajah Janus (Janus face) ini, salah satunya melihat bahwa dalam 
menyelesaikan sebuah konflik politik, sebuah kelompok jika ingin unggul maka 
harus mempunyai dua karakter sekaligus dalam dirinya. Karakter ini dapat kita 
ibaratkan dengan istilah dovish dan hawkish.

Dovish berasal dari kata dove yang artinya burung merpati, sedangkan hawkish 
berasal dari kata hawk alias burung elang. Dua simbol yang terinspirasi dari 
karakter hitam-putih kehidupan alam liar yang juga terpancar pada kehidupan 
politik manusia.

Dua binatang tersebut merepresentasi dua hal berlawanan. Dovish adalah simbol 
binatang jinak, penurut, dan identik terbang sampai ke titik tertinggi. 
Sebaliknya hawkish adalah simbol menyerang dan terbang menukik ke bawah untuk 
meraih mangsanya.

Dengan cara pandang ini, kita akan masuk pada dimensi kesadaran baru tentang 
arti politik, sehingga kata politik telah melahirkan dua persepsi yang berbeda. 
Dualisme ini hadir dalam kehidupan awam masyarakat tentang politik.

- Advertisement -Seorang awam yang hidup dalam sebuah negara dengan situasi 
politik yang baik akan berpersepsi bahwa politik adalah segala daya upaya 
dengan menggunakan kekuasaan untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Sedangkan orang awam yang hidup dalam situasi politik yang sebaliknya akan 
berpersepsi yang sebaliknya pula. Negara tak lain merupakan alat bagi para 
penguasanya untuk mengeksploitasi dan menindas rakyat.

Para politisi yang sedang berkuasa dipandang sebagai struktur yang bekerja 
untuk memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Tapi karena secara faktual 
kekuasaan politik sering diselewengkan, maka persepsi negatif tentang politik, 
seperti politik itu jahat, politik itu buruk, dan semacamnya semakin menguat 
dan menjadi lebih kuat dibandingkan persepsi positifnya.

Begitu pula dengan aktor politik yang menampilkan wajah yang berbeda dari 
kebiasaan, akan memunculkan sikap prejudice dari masyarakat. Sebuah sikap yang 
muncul dari prasangka yang lahir dari pandangan stereotip negatif tentang 
sebuah kelompok.

Dalam konteks sikap PSI, mereka memiliki alasan mengapa memilih mengeluarkan 
sikap demikian di muka publik. Bahkan jika dilacak, sebenarnya sikap PSI 
mengapresiasi Anies bukan hanya kali ini  saja, beberapa kebijakan Anies juga 
sempat disukung oleh PSI.

Sebagai contoh, saat banyak pihak menyayangkan keputusan Anies menerbitkan Izin 
Mendirikan Bangunan (IMB) di kawasan reklamasi Teluk Jakarta. Alih-alih 
bersikap vokal seperti biasanya, PSI justru mengapresiasi kebijakan Anies 
menerbitkan IMB tersebut.

Baca juga :  Anies: Janji Sudah Ditunaikan!PSI juga sempat melontarkan pujian 
kepada Anies yang mengambil air dari enam tempat ibadah untuk dibawa ke lokasi 
Ibu Kota Negara (IKN) baru dalam acara Kendi Nusantara. Dan yang terbaru, PSI 
tegas membela keputusan Anies mengangkat eks Menteri ESDM Sudirman Said sebagai 
Komut PT TransJakarta.

Meski PSI mengklaim punya alasan, tetap saja sikap mereka ini tergolong tidak 
lazim. Pertama, mereka sejak lama membangun citra sebagai oposisi Anies. Kedua, 
sikap pujian kepada Anies lebih sering pada tema-tema yang dinilai publik 
menguntungkan PSI itu sendiri.

Lantas, mungkinkah ketulusan pujian PSI terhadap Anies bukanlah sesuatu yang 
murni, melainkan bagian dari strategi politik PSI?


Jokowi-Anies PSI Gigit Jari 
PSI Curi Pandang?
PSI dikenal dengan brand partai yang kritis terhadap Anies. Sangking kritisnya, 
PSI sering diplesetkan sebagai ‘partai seputar ibu kota’, karena fokusnya 
dianggap hanya terbatas di ibu kota dan mengabaikan masalah-masalah nasional 
yang lebih krusial.

Perubahan sikap PSI yang tiba-tiba menjadi manis kepada Anies jelas membuat 
banyak orang bertanya-tanya. Pertanyaan itu pasti bermuara pada kepentingan 
tersembunyi seperti apa yang ingin diperoleh dari sikap tersebut.

Dikarenakan politik adalah salah satu bentuk perjuangan untuk memperoleh 
kekuasaan, tidak heran jika ada asumsi ini demi kepentingan kekuasaan.

Tidak sering tapi sesekali memuji Anies, sikap PSI bisa disamakan dengan sikap 
curi-curi pandang yang ditemukan dalam perilaku manusia kebanyakan. Ditambah 
derasnya dukungan banyak pihak terhadap Anies belakangan membuat nilai tawar 
sang DKI-1 semakin besar.

Sikap curi-curi pandang yang ditampilkan oleh PSI bisa diinterpretasikan dalam 
konteks psikologi. Psikolog Harrison dan Shortall, mengatakan perilaku curi 
pandang merupakan bentuk perhatian tersembunyi yang dilakukan oleh seseorang.

Menurut Harrison dan Shortall, perubahan sikap ini biasanya dikarenakan 
seseorang bingung harus bertindak seperti apa untuk mencoba mendekati 
seseorang. Oleh karenanya, pilihan yang paling memungkinkan dilakukan adalah 
curi-curi pandang.

Mungkin saja ini tanda ketertarikan PSI kepada Anies. Jika sebelumnya PSI 
menampilkan wajah hawkish dengan cara menyerang dan mengkritik setiap kebijakan 
Anies. Maka saat ini sebaliknya, PSI memperlihatkan wajah dovish sebagai simbol 
binatang jinak, penurut, dan juga simbol kemesraan.

Jika benar, maka wajah lain PSI ini mungkin saja baru awalnya. Akan masih 
banyak cerita yang perlu direkam sampai dengan pertarungan puncak pada 
Pemilihan Presiden 2024 nanti. Di sana lah wajah sebenarnya setiap aktor 
politik akan terlihat. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/79D7BC5515D04B4099E1542EF04AC532%40A10Live.

Reply via email to