Written byD74Thursday, May 12, 2022 20:28
Bagaimana Jika SEATO Direinkarnasi?
Amerika Serikat (AS) dan NATO semakin terlihat ingin memantapkan pengaruhnya di 
kawasan Asia Tenggara. Ini mengingatkan kita pada SEATO, pakta pertahanan Asia 
Tenggara yang dulu pernah digagasi Negeri Paman Sam. Apa jadinya bila SEATO 
dihidupkan kembali? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Konflik Rusia dan Ukraina seakan-akan menjadi panggilan kesadaran pada dunia 
bahwa permasalahan pertahanan dan keamanan negara masih menjadi topik yang 
sangat penting. Dua bulan semenjak konflik berlangsung, karena khawatir tentang 
keamanan negaranya, Finlandia dan Swedia akhirnya merasa terdorong untuk 
bergabung dengan geng Barat, alias Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).  

Menariknya, NATO tampak ingin menyambut dua negara itu dengan tangan yang 
terbuka. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Jens Stoltenberg bahkan menyebut NATO 
bersedia mempermudah dan mempersingkat proses birokrasi agar Finlandia dan 
Swedia bisa menjadi anggota secepatnya. 

Keinginan NATO untuk memperluas pengaruhnya pun tidak hanya di Benua Eropa 
saja. Pada April lalu, Stoltenberg mengumumkan bahwa NATO tengah berniat 
ekspansi ke Benua Asia. Klaim alasannya adalah NATO perlu meredam pengaruh 
Tiongkok yang semakin bertambah kuat, terlebih lagi Negeri Tirai Bambu itu 
sampai sekarang belum mengutuk serangan yang dilakukan Rusia ke Ukraina. 

Tidak lama setelah itu, Korea Selatan (Korsel) mengumumkan bahwa mereka resmi 
menjadi negara Asia pertama yang bergabung dengan NATO Cyber Unit, yaitu satuan 
NATO yang berfokus pada urusan pertahanan siber.  

Meski pemerintah Tiongkok belum memberi tanggapan resmi, beberapa pengamat, 
salah satunya Hu Xijin dari media Tiongkok, The Global Times, menilai bahwa apa 
yang dilakukan Korsel berpotensi sangat berbahaya bagi kestabilan keamanan di 
kawasan, dan bisa memicu situasi seperti apa yang terjadi di Ukraina. 

Namun pendekatan Barat ke Asia tidak hanya itu. Terbaru, AS tengah mengadakan 
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) dengan para pemimpin negara Perhimpunan 
Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), yang diadakan dari tanggal 12 sampai 13 
Mei 2022. Presiden AS, Joe Biden menyebut salah satu agenda utamanya adalah 
pembahasan mengenai Tiongkok. 

- Advertisement -Disandingkan dengan narasi yang beberapa waktu ini sedang 
dimainkan, yaitu tentang perlunya peningkatan kewaspadaan pertahanan dan 
keamanan terhadap Tiongkok. Maka dari itu, bukan tidak mungkin bila Biden 
mengajukan proposal untuk mempererat kerja sama pertahanan dan keamanan di Asia 
Tenggara. 

Banyak kemudian yang bertanya-tanya, apakah ini indikasi bahwa NATO juga akan 
masuk ke Asia Tenggara? Mengapa kira-kira Biden perlu melakukan hal demikian? 

Cabang NATO yang Terlupakan 
Bagi sebagian orang, gagasan tentang masuknya kepentingan AS melalui NATO ke 
ASEAN memunculkan memori lama tentang Pakta Pertahanan Asia Tenggara (SEATO). 
Sederhananya, SEATO ini adalah ibarat “adik” NATO yang berfokus pada keamanan 
di Asia Tenggara. 

SEATO didirikan pada tahun 1954, dan memiliki motivasi pendirian yang sama 
dengan NATO, yaitu untuk menangkal pengaruh komunisme yang semakin menyebar ke 
banyak negara di dunia pada masa Perang Dingin.  

Baca juga :  Ditinggal NU, Cak Imin “Santuy”?Pakta pertahanan itu beranggotakan 
delapan negara. Dari negara Barat adalah AS, Inggris, dan Prancis, lalu dari 
Asia adalah Filipina, Thailand, dan Pakistan. Dua negara terakhir dari Oseania, 
yaitu Australia dan Selandia Baru.  

Seiring perkembangan waktu dan runtuhnya Uni Soviet, akhirnya SEATO menjadi 
proyek yang ditinggalkan. 

Lantas, bagaimana kira-kira kepentingan AS dalam mendorong kembali bangkitnya 
pakta pertahanan yang terlupakan ini? 

Well, sejak zamannya Presiden Barrack Obama pada tahun 2010, AS telah 
menggagasi doktrin luar negeri baru yang disebut sebagai “pivot to Asia” atau 
poros ke Asia. Alasannya ada banyak, mulai dari prospek Asia Tenggara sebagai 
bagian dari Asia-Pasifik yang memiliki potensi ekonomi luar biasa, sampai ke 
urusan perlunya penyeimbangan kekuatan di wilayah tersebut. 

- Advertisement -Kenneth G. Lieberthal, seorang pengamat politik internasional 
dari Brookings, dalam tulisannya The American Pivot to Asia, menilai penciptaan 
keseimbangan kekuatan ini tidak hanya penting bagi kelangsungan AS sebagai 
negara hegemon, tetapi juga bagi negara-negara Asia yang membutuhkan 
kepercayaan diri agar mereka tidak perlu tunduk seutuhnya pada Tiongkok. 

Dari pandangan itu, bisa dinterpretasikan juga bahwa penyeimbangan kekuatan di 
Asia Tenggara sesungguhnya adalah upaya untuk menciptakan rasa kepercayaan diri 
dari negara-negara Asia Tenggara pada AS.  

Jika AS tidak benar-benar ingin mewujudkan misi pivot to Asia-nya, maka 
negara-negara Asia Tenggara cepat atau lambat akan mencari jaminan kelangsungan 
hidupnya ke negara adidaya terdekat, yang tidak lain adalah Tiongkok.  

Dan jika kepercayaan dari negara-negara itu hilang, maka AS pun harus 
menghabiskan banyak tenaga untuk memojokkan Tiongkok agar dapat bersikap secara 
konstruktif, khususnya di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Hal yang 
sebenarnya bisa dihindari bila AS memiliki hubungan mengikat dengan 
negara-negara di wilayah ini. 

Permasalahan ini juga disuarakan oleh kritikus kebijakan luar negeri AS, Robert 
Kagan. Kenyataannya, selama ini AS belum memiliki kesepakatan-kesepakatan 
internasional di Asia Tenggara yang dapat memberikannya akses langsung untuk 
melakukan suatu intervensi pertahanan.  

Oleh karena itu, Kagan menilai bahwa jika AS tidak ingin terisolasi dari Asia 
Tenggara, maka AS perlu bertindak lebih dari sekadar perjanjian-perjanjian 
ekonomi saja dan mulai mempertimbangkan perjanjian di sektor pertahanan jika 
benar-benar ingin mengaplikasikan hegemoninya di Asia Tenggara. 

Dengan demikian, pakta pertahanan ala SEATO sesungguhnya adalah solusi yang 
akan sangat menarik bagi Biden bila ia memang ingin memperkuat pengaruh Barat 
dan NATO di wilayah yang digadang-gadangkan akan menjadi salah satu pusat 
perekonomian dunia ini. 

Lantas, apa yang akan terjadi bila SEATO benar-benar ingin dimunculkan kembali? 

Akankah Seperti Eropa Timur? 
Di sini kita masuk ke ruang lingkup spekulasi, dan tak ada peralatan spekulasi 
yang lebih baik selain belajar dari sejarah.  

Hal yang menarik dari SEATO adalah negara anggota ASEAN yang terlibat kala itu 
hanya dua negara, yakni Filipina dan Thailand. Sementara Vietnam, Laos, dan 
Kamboja hanya diberikan status observer, meski wilayah mereka termasuk ke 
jangkauan geopolitik SEATO. Indonesia dan Malaysia tidak terlibat karena kala 
itu berkomitmen pada prinsip non-blok. 

Baca juga :  Jokowi Bukan Presiden Pendongeng?SEATO pun akhirnya ditinggalkan 
karena dianggap hanya AS saja yang memiliki kekhawatiran akan ancaman 
komunisme. Karena itu, pekerjaan besar Biden dalam meyakinkan negara-negara 
ASEAN secara keseluruhan untuk membentuk pakta pertahanan semacam SEATO adalah 
dengan menciptakan kekhawatiran bersama.  

Belajar dari bagaimana NATO berhasil menarik perhatian Finlandia dan Swedia 
untuk bergabung, maka tidak aneh bila Biden akan membawa narasi bahwa kawasan 
Asia Tenggara adalah kawasan yang rawan konflik layaknya Eropa Timur. 

Beberapa isu yang sensitif seperti sengketa Laut Tiongkok Selatan (LTS) 
kemungkinan besar akan dimainkan. Dari tahap awal ini, negara yang berhubungan 
langsung dengan konflik tersebut seperti Vietnam dan Filipina kemungkinan tidak 
akan butuh banyak bujukan, ditambah potensi adanya iming-iming persenjataan AS 
yang dibarengi oleh skema-skema menggiurkan seperti kemudahan transfer 
teknologi dan skema offset. 

Singapura pun tampaknya tidak akan butuh banyak bujukan, karena semenjak awal 
konflik Ukraina saja mereka sudah berani memihak kubu Barat dalam mengecam 
Rusia. 

Tentu, Tiongkok tidak akan tinggal diam. Layaknya konflik Ukraina, Tiongkok 
akan menciptakan narasi bahwa kepentingan nasionalnya telah terancam, karena 
negara yang selama ini bergantung secara ekonomi padanya, seperti Vietnam, 
telah berpaling ke AS.  

Kemungkinan agresi Tiongkok pun semakin meningkat dengan adanya SEATO. Apalagi 
jika pengaruh Barat ke Taiwan semakin meningkat.  

Meski selama ini Tiongkok masih terlihat ragu melakukan operasi militer ke 
Taiwan, jika SEATO didirikan, keraguan itu kemungkinan akan berubah bentuk 
menjadi ketakutan Tiongkok. Hal yang sangat buruk bila ada suatu negara kuat 
merasa takut. 

Lalu bagaimana dengan negara seperti Malaysia dan Indonesia? Well, 
negara-negara ini tidak akan semudah negara Asia Tenggara lainnya, karena meski 
terkadang terlihat memihak, secara resmi prinsip non-blok masih sangat kental 
dalam kebijakan luar negeri mereka. 

Alhasil, Indonesia dan Malaysia mungkin akan jadi segelintir negara ASEAN yang 
tidak akan langsung ke SEATO. Namun ketika konflik semakin dikompor-kompori, 
utamanya setelah Tiongkok merasa takut, bukan hal yang tidak mungkin bila 
Indonesia dan Malaysia akan bergabung dalam SEATO, karena apapun caranya, 
negara tetap perlu menjamin keamanan negerinya. 

Kendati demikian, keanggotaan yang diambil Indonesia dan Malaysia mungkin akan 
dalam bentuk yang tidak tetap, seperti mengambil peran yang bergelar “close 
partnership” atau kemitraan dekat. 

Bagaimanapun juga, berdirinya SEATO tidak bisa dipandang sebagai hal yang baik 
untuk kelangsungan perdamaian. Karena pendirian suatu pakta pertahanan akan 
dianggap sebagai aksi angkat senjata, dan ketika ada suatu negara yang angkat 
senjata, maka negara terdekatnya sudah pasti perlu mempertanyakan pertahanan 
dan keamanan mereka sendiri. (D74) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5ECBB8E8C0554C42B8B2F9E66E52F88F%40A10Live.

Reply via email to