Written byI76Friday, May 13, 2022 10:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/tradisi-politik-baru-ala-jokowi/
Tradisi Politik Baru ala Jokowi?
Peristiwa ketika Presiden Jokowi menanyakan para menterinya yang ingin maju di 
pilpres ditafsirkan sebagai tekad RI-1 untuk membawa kultur baru dalam suksesi 
kepemimpinan nasional 2024. Lantas, mungkinkah Jokowi mampu mewujudkan tradisi 
baru dalam politik Indonesia?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Komunikasi politik Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan sejumlah menteri 
Kabinet Indonesia Maju terlihat sangat terbuka dan cair. Hal ini dibuktikan 
dengan adanya penyampaian keinginan para menteri mencalonkan diri pada 
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.

Pernyataan para menteri yang terbuka menyatakan ingin maju di Pilpres 2024 
dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Jokowi dalam mengelola kabinetnya. Jokowi 
mengingatkan para menterinya untuk tetap fokus bekerja meski tahapan Pemilu 
2024 dimulai sebentar lagi.

Arsul Sani, Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), melihat 
fenomena tersebut sebagai sesuatu yang positif. Menurutnya, semakin banyak 
orang yang menyatakan kesiapan maju nyapres justru semakin bagus.

Panda Nababan, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), 
membenarkan informasi  tentang para menteri yang mempunyai keinginan maju 
menjadi calon presiden (capres) di Pilpres 2024. Mereka telah menyatakan 
kesiapannya saat ditanya langsung oleh Jokowi.

Diketahui dalam sebuah pertemuan, Jokowi bertanya kepada empat menteri, yaitu 
Airlangga Hartarto (Menko Perekonomian), Sandiaga Uno (Menparekraf), Erick 
Thohir (Menteri BUMN), dan Prabowo Subianto (Menhan). Tak hanya menteri, Ketua 
DPR RI Puan Maharani juga mendapatkan pertanyaan yang sama.

Saat Jokowi menanyakan pencapresan kepada Prabowo, terdapat jawaban yang 
berbeda dibanding jawaban menteri lainnya. Dengan diplomatis, Prabowo 
mengatakan akan maju dengan seizin Jokowi. Seolah Prabowo ingin menyampaikan 
dua hal sekaligus. Pertama, informasi akan maju; dan kedua adalah pernyataan 
untuk meminta restu atau izin dari Jokowi.

Dialog antara Jokowi dan Prabowo ini bukanlah peristiwa biasa. Peristiwa ini 
menarik dikarenakan di era Jokowi terkesan ada fenomena saling meminta restu 
antara pemimpin sebelumnya dengan calon pemimpin berikutnya.

Lantas, apakah peristiwa yang memperlihatkan saling memberikan restu ini hanya 
ditampilkan di era Jokowi? Kemudian, seperti apa suksesi kepemimpinan pada era 
presiden-presiden Indonesia sebelumnya?


Jokowi Tahu Menteri Ingin Nyapres 
Suksesi Presiden Indonesia
Meskipun lintas sejarah politik Indonesia sangat dipengaruhi oleh visi besar 
politik Jawa, tapi untuk perihal suksesi kepemimpinan di Indonesia terlihat 
sangat berbeda dengan tradisi peralihan politik Jawa itu sendiri.

Kita mengenal peralihan kekuasan dalam politik Jawa dilakukan secara turun 
temurun. Peralihan suatu jabatan atau kewenangan dilakukan kepada keturunan 
atau keluarga pemegang jabatan terdahulu. Hal ini biasanya terjadi pada 
pemerintahan otokrasi tradisional.

Suksesi yang dimaksud ialah sebuah rotasi atau regenerasi elite yang merupakan 
keharusan dalam sebuah sistem demokrasi. Ini ditandai dengan tingginya 
partisipasi rakyat atau legitimasi, juga pengaruh pemimpin sebelumnya dalam 
lingkup elite.

Benedict Anderson dalam bukunya The Idea of Power in Javanese Culture. From the 
book Culture and Politics in Indonesia, menggaris bawahi bahwa permasalahan 
suksesi yang dimaksud bukan hanya terkait pergantian kekuasaan semata, tetapi 
legitimasi yang hadir dalam suksesi. Dalam tataran elite, legitimasi  ini 
sangat dipengaruhi oleh restu pemimpin sebelumnya.

Suksesi ini akan sangat mempengaruhi  dan juga menentukan kedudukan seorang 
pemimpin ataupun pengambilan keputusan kebijakan negara. Dan dalam  konteks 
Indonesia, presiden sebelumnya dianggap gagal memberikan dukungan politik 
mereka bagi presiden selanjutnya. Hal ini dapat dilacak dari deretan presiden 
Indonesia terdahulu.
Bambang Supriyadi dalam tulisannya Suksesi Kepemimpinan di Indonesia, 
mengatakan bahwa kepemimpinan pasca Soekarno di Indonesia diwarnai dominasi 
militer, khususnya Angkatan Darat yang beraliansi dengan teknokrat.

Soeharto bukanlah produk politik era sebelumnya. Bahkan sebaliknya, 
pemerintahan Orde Baru adalah antitesis dari  pemerintahan Orde Lama. Terjadi 
suksesi politik secara demokratis melalui lembaga politik, tapi restu politik 
tidak didapatkan rezim ini.

Di era Soekarno dan Soeharto, efektivitas pemerintahan terlaksana akibat 
akumulasi kekuasaan yang besar di tangan presiden. Karena Soekarno dan Soeharto 
merupakan pemimpin otoriter, kekuasaan besar keduanya tidak digunakan untuk 
mempersiapkan pemimpin selanjutnya.

Sistem politik pun berubah di era Reformasi, tapi restu dalam proses suksesi 
pun tidak ditemukan di era ini. Pada kasus BJ Habibie dan Abdurrahman Wahid 
(Gus Dur), alih-alih memberikan restu kepada pemimpin selanjutnya, keduanya 
justru gagal mempertahankan kursi kekuasaannya.

Kasus Megawati Soekarnoputri sekiranya lebih baik. Sama seperti Jokowi, 
Megawati justru disebut bertanya kepada menteri yang ingin maju. Namun, tradisi 
restu tidak terjadi karena Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disebut mengatakan 
tidak maju kepada Megawati.

Sementara SBY, meskipun memimpin selama dua periode alias paling lama di era 
Reformasi, sang Jenderal nyatanya gagal meletakkan tradisi restu bagi pemimpin 
selanjutnya. Saat ini, Partai Demokrat bahkan turun kasta menjadi partai tengah.

Dalam konteks politik hari ini, pola komunikasi politik yang diperlihatkan oleh 
Presiden Jokowi dengan para menterinya yang ingin menjadi capres, dapat 
ditafsirkan sebagai tekad Presiden Jokowi untuk membawa kultur baru dalam 
suksesi kepemimpinan nasional 2024.

Ini sebuah angin segar dan harus didukung oleh semua elemen bangsa. Suksesi 
kepemimpinan nasional memang mestinya demikian. Berakhir dengan damai, berjalan 
mulus, dan tidak meninggalkan konflik apa pun.

Selain kita terhindar dari luka dan beban sejarah, suksesi yang mulus akan 
menjamin keberlangsungan program-program pembangunan yang penting bagi kemajuan 
bangsa ini. Dengan adanya suksesi yang damai, program-program yang bagus dari 
pemerintahan sebelumnya bisa diteruskan oleh pemerintahan berikutnya.

Semua bisa terlaksana jika terdapat restu atau dukungan politik yang merupakan 
preseden politik bagi era selanjutnya. Dukungan publik dipercaya sebagai modal 
politik berharga bagi para kandidat yang ingin maju di pilpres. Dan dukungan 
pemimpin sebelumnya dapat membuat dukungan publik lebih meningkat.

Pada kasus Jokowi, citra dan dukungan masyarakat terhadapnya yang masih besar 
dapat menjadi modal penting bagi kandidat yang berlaga di Pilpres 2024. Kita 
semua tentu dapat melihat, berbagai relawan terlihat menarasikan kandidat 
dukungannya sebagai penerus Jokowi.  
Lantas, mampukah Jokowi merealisasi hadirnya tradisi baru dalam proses suksesi 
kepemimpinan politik di Indonesia?


Jokowi On A Hot Streak 
Warisan Tata Krama Jokowi
Gestur politik berbeda yang diperlihat Jokowi baru-baru ini tampaknya membantah 
pernyataan sejumlah pihak yang meragukan sosok Jokowi sejak awal kemunculannya.

Jeffrey Winters, pengamat politik Indonesia asal Northwestern University, 
misalnya, pernah mengatakan Jokowi merupakan presiden terlemah secara politik 
sejak masa Gus Dur.

Menurut berbagai pihak, kesalahan utama Jokowi karena bergerak terlalu cepat 
dari seorang wali kota menjadi pemimpin negara besar seperti Indonesia.

Akibat dari akselerasi jabatan yang begitu cepat, Jokowi dinilai tidak mampu 
untuk memilah siapa pemain politik pada level nasional, bagaimana mereka 
menjalin jaringan, serta apa agenda dan bagaimana integritas mereka.

Dampak dari lemahnya pengaruh Jokowi ini terlihat dari hubungan Jokowi dan 
Ketua Umum PDIP Megawati yang begitu kompleks. Walaupun Mega tidak memiliki 
posisi formal dalam pemerintahan, tetapi dia disebut-sebut sangat mempengaruhi 
pemerintahan Jokowi.

Akselerasi politik Jokowi yang seolah menerabas jenjang politik mapan rupanya 
dianggap positif oleh ilmuwan politik lainnya. Sebut saja seperti Marcus 
Mietzner yang melihat akselerasi politik Jokowi merupakan fenomena kebangkitan 
kekuatan politik di Indonesia.

Dengan tren populisme yang dibawa oleh Jokowi, Mitzner melihat Jokowi dapat 
mengambil peluang untuk mengakumulasi kekuatan politik  untuk tunduk pada 
dirinya, termasuk kekuatan politik yang berjejaring dalam kelompok yang biasa 
disebut oligarki.

Lebih jauh, Jokowi dapat dianggap sebagai pemimpin kuat dikarenakan mampu 
merangkul kekuatan politik yang berseberangan dengannya. Hingga saat ini kita 
tidak melihat oposisi yang benar-benar murni di era pemerintahannya.

Jika tradisi baru yang digagas Jokowi tentang peralihan kekuasaan, tidak hanya 
suksesi kepemimpinan tetapi juga mendapatkan restu politik pemimpin sebelumnya 
terjadi, maka Jokowi dapat dikatakan meletakkan “tata krama” politik baru.

John Pamberton dalam bukunya Notes on the 1982 General Election in Solo, 
membahas secara khusus istilah “pesta demokrasi” untuk menjuluki pemilu di 
Indonesia. Menurutnya, kata “pesta” di situ tidak tepat diterjemahkan ke dalam 
bahasa Inggris menjadi “festival”. Kata pesta lebih pas bila dirujuk ke 
kegiatan jamuan resmi terkait upacara umum atau ritual domestik.

Dalam jamuan ritual domestik Jawa, tata krama penting dalam pelaksanaan acara. 
Ritual yang khidmat dalam tradisi Jawa, substansi sejatinya yaitu restu, dan 
restu didapatkan dari tiap orang yang hadir untuk empunya acara.

Walhasil, restu atau endorsement politik merupakan bagian dari adab politik 
yang terejawantahkan dari fenomena pesta pernikahan, khususnya yang berlangsung 
dalam adat Jawa. Mungkin ini akan menjadi warisan politik dari kepemimpinan 
Jokowi. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4506CDEC84754F5298A07A2DE7932974%40A10Live.

Reply via email to