Mantan pejabat Prancis sebut ekspansi NATO jadi akar krisis Ukraina
 Rabu, 18 Mei 2022 06:33 WIB
 
Foto yang diabadikan pada 6 April 2022 ini menunjukkan sebuah patung dan 
sejumlah bendera di kantor pusat NATO di Brussel, Belgia. (Xinhua/Zheng 
Huansong)



Jenewa (ANTARA) - Upaya untuk memperluas keanggotaan Pakta Pertahanan Atlantik 
Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO) hingga mencakup Ukraina, yang 
dianggap sebagai ancaman keamanan oleh Rusia, telah lama ditentang oleh Prancis 
dan Jerman.

Sementara itu, Finlandia dan Swedia berencana bergabung dengan NATO.

Semua perkembangan ini berkontribusi terhadap terlewatnya peluang untuk 
mengajukan arsitektur keamanan Eropa yang inklusif kepada Rusia, dan menurut 
Pierre Conesa, mantan pejabat senior Kementerian Pertahanan Prancis, itulah 
sumber dari "krisis Ukraina" yang sedang terjadi.

Dalam wawancara dengan Xinhua baru-baru ini, dia mengatakan konsekuensi dari 
semua ini dirasakan secara lebih kuat oleh Eropa dibandingkan Amerika Serikat 
(AS). Para diplomat dan pengambil keputusan politik juga harus memperhatikan 
kebutuhan untuk menjaga dialog dengan Rusia, yang masih menjadi mitra penting, 
ujarnya.
 

Para staf bekerja di kantor pusat NATO di Brussel, Belgia, pada 24 Maret 2022. 
(Xinhua/Zheng Huansong)Sejumlah orang yang membawa foto kerabat mereka yang 
berjuang dalam Perang Dunia II ambil bagian dalam pawai Resimen Abadi di 
Moskow, Rusia, pada 9 Mei 2022. (Xinhua/Alexander Zemlianichenko Jr)

Ekspansi NATO

Jika Finlandia dan Swedia bergabung dengan aliansi militer itu, yang disebut 
oleh kedua negara sebagai hal yang hendak mereka lakukan, hal itu akan 
mengakhiri kebijakan militer tidak berpihak yang sudah lama mereka terapkan.

Menurut Conesa, meski proses bergabungnya kedua negara itu akan memakan waktu, 
Finlandia dan Swedia yang pada akhirnya akan bergabung dengan NATO akan 
menimbulkan perubahan keseimbangan kekuatan yang menguntungkan NATO.

Menurutnya, NATO akan memiliki kapasitas untuk memindahkan senjata nuklir ke 
perbatasan Finlandia dengan Rusia sepanjang 1.300 kilometer, dan aliansi itu 
juga bisa saja memutuskan untuk mengerahkan kapal selam ke rute maritim di 
dekat pelabuhan bebas es Murmansk di Rusia, semakin membatasi akses negara itu 
ke pelabuhan laut air hangat yang sudah terbatas.

Lima putaran ekspansi NATO sebelumnya telah menjadikan aliansi militer Barat 
itu lebih dari 1.000 km lebih dekat ke perbatasan Rusia dalam dua dekade lebih.

Menurut Conesa, Moskow jelas menganggap ekspansi tersebut "ofensif," dan oleh 
karena itu ketegangan yang ada saat ini bukanlah hal mengejutkan.

"Tentu saja, salah satu prinsip utama NATO adalah memastikan keamanan nuklir 
para anggotanya, yang berarti pihaknya dapat memasang rudal nuklir di sepanjang 
perbatasan Rusia, yang sebelumnya tidak seperti itu," ujarnya.
 

Sejumlah orang yang membawa foto kerabat mereka yang berjuang dalam Perang 
Dunia II ambil bagian dalam pawai Resimen Abadi di Moskow, Rusia, pada 9 Mei 
2022. (Xinhua/Alexander Zemlianichenko Jr)Para pemimpin menghadiri rapat Dewan 
Eropa di Brussel, Belgia, pada 24 Maret 2022. (Xinhua/Uni Eropa)

"Jadi, sensitivitas Rusia dirasakan secara jauh lebih kuat oleh negara-negara 
Eropa dibandingkan Amerika, dan saat ini kita melihat bahwa pemerintah AS 
menyukai perang," tutur Conesa.

AS "lebih ofensif" dalam krisis Ukraina ketimbang negara-negara Eropa, sebutnya.

"Amerika ingin kita segera mengintegrasikan Ukraina secara penuh ke dalam NATO, 
dan Prancis dan Jerman menjadi pihak yang mencegah gagasan itu. Mereka 
mengatakan tidak, waspadalah, itu sangat sensitif bagi Rusia, dan itu tidak 
boleh dilakukan dengan begitu cepat. Kini faktanya kita menyaksikan bagaimana 
prediksi itu menjadi kenyataan," papar Conesa.

Menurut Conesa, karena tidak adanya alternatif untuk menerapkan prinsip 
keamanan yang tidak terpisahkan, ekspansi NATO "selalu menjadi gangguan bagi 
Moskow."
 

Para pemimpin menghadiri rapat Dewan Eropa di Brussel, Belgia, pada 24 Maret 
2022. (Xinhua/Uni Eropa)Foto yang diabadikan pada 19 Februari 2020 ini 
menunjukkan Pentagon yang terlihat dari sebuah pesawat yang terbang di atas 
Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Liu Jie)

Keamanan kolektif

Conesa meyakini bahwa konflik tersebut seharusnya dapat dihindari jika Rusia 
sukses dilibatkan dalam sebuah sistem keamanan kolektif Eropa.

"Faktanya, ekspansi NATO merupakan cara untuk memandang Eropa sebagai benua 
yang keamanannya akan dijamin oleh aliansi militer itu. Namun demikian, kita 
tidak mengajukan arsitektur keamanan Eropa yang memungkinkan Rusia memiliki 
tempat dan berpendapat di dalamnya," katanya.

Conesa mengatakan modus vivendi diplomatik masih dapat dicapai guna mewujudkan 
perdamaian di Ukraina. Namun, agar hal ini terjadi, kekhawatiran keamanan Rusia 
harus dipertimbangkan.

"Kita perlu bekerja sama dengan Rusia untuk merancang arsitektur keamanan umum, 
kita harus terus berdiskusi dengan Rusia tentang semua proyek dan masalah ini. 
Kita harus memberi tahu mereka bahwa Anda adalah mitra, kami memahami 
kekhawatiran keamanan Anda."
 

Foto yang diabadikan pada 19 Februari 2020 ini menunjukkan Pentagon yang 
terlihat dari sebuah pesawat yang terbang di atas Washington DC, Amerika 
Serikat. (Xinhua/Liu Jie)Para pengunjuk rasa yang berpakaian seperti tahanan di 
Kamp Tahanan Teluk Guantanamo melakukan aksi protes untuk menuntut penutupan 
Kamp Tahanan Teluk Guantanamo di luar Gedung Putih di Washington DC, Amerika 
Serikat, pada 11 Januari 2018. (Xinhua/Yin Bogu)

Pengaruh beracun

Conesa mengutuk pengaruh beracun dari apa yang disebutnya sebagai kompleks 
militer-intelektual. Menurutnya, ini meliputi sejumlah besar tokoh publik yang 
berupaya mempromosikan perang sebagai kebutuhan.

Dia menyebut para penghasut perang ini sebagai sosok-sosok yang sangat jahat 
bagi diplomasi, yang akan mengharuskan dialog dengan Rusia.

"Para diplomat dan pengambil keputusan politik harus menangani masalah, 
mengklaim kembali otoritas, dan berkomunikasi dengan Moskow, yang merupakan apa 
yang sedang diupayakan Presiden (Prancis) (Emmanuel) Macron, guna menjaga 
hubungan dengan Rusia agar ketika syarat-syarat negosiasi telah siap, kita bisa 
mengakhirinya secara penuh," ujar Conesa.

Menurut Conesa, munculnya Russophobia atau sentimen anti Rusia disebabkan oleh 
berbagai wacana yang "berbahaya" dan tidak jujur ini. Baginya, laporan-laporan 
tentang krisis itu mengindikasikan bahwa konflik tersebut "terbatas di 
lokasi-lokasi tertentu," tetapi skala konflik itu kemungkinan dilebih-lebihkan.
 

Para pengunjuk rasa yang berpakaian seperti tahanan di Kamp Tahanan Teluk 
Guantanamo melakukan aksi protes untuk menuntut penutupan Kamp Tahanan Teluk 
Guantanamo di luar Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat, pada 11 
Januari 2018. (Xinhua/Yin Bogu

Bagi Conesa, kompleks militer-intelektual memiliki agenda, dan informasi 
semacam itu harus ditangani dengan hati-hati.

"Penjara Guantamano AS masih menahan lebih dari 30 individu yang ditangkap 
selama invasi Irak dan Afghanistan. Mereka ditahan tanpa menjalani persidangan. 
Apa Anda pikir kita peduli pada mereka, apa Anda pikir kita akan bertanya 
apakah mereka diperlakukan selayaknya manusia?" ungkapnya. 
  
Pewarta: Xinhua
Editor: Mulyo Sunyoto

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/F27D16948CE14C3CBD9932EEF3370F88%40A10Live.

Reply via email to