INTERMESO
Detik-detik Lengsernya Soeharto
Setelah pulang dari Mesir, Soeharto ditinggal orang kepercayaannya. Soeharto 
pun lengser dari jabatan presiden. 

Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran di Istana Merdeka, 21 Mei 1998.
Foto: Getty Images/detikcom

Kamis, 19 Mei 2022Aksi demonstrasi mahasiswa semakin masif pada Mei 1998. 
Pendemo menuntut adanya reformasi sistem pemerintahan Indonesia yang dianggap 
penuh korupsi, kolusi, dan nepotisme selama 32 tahun rezim Orde Baru (Orba) di 
bawah Presiden Soeharto.
Setidaknya ada enam tuntutan yang digaungkan mahasiswa dan kelompok 
prodemokrasi. Tuntutan mereka antara lain mengadili Soeharto dan para kroninya, 
mengamendemen Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45), memperluas otonomi (pembagian 
kekuasaan pusat dan daerah), dan menghapus dwifungsi Angkatan Bersenjata 
Republik Indonesia (ABRI). Tuntutan lainnya adalah menghapus praktik KKN dan 
menegakkan supremasi hukum.
Di tengah gejolak demonstrasi yang meluas, Soeharto malah meninggalkan Tanah 
Air. Ia menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G-15 pada 11-15 Mei 1998 di Mesir. 
Ia terbang menggunakan pesawat MD-11 Garuda Indonesia dari Bandara Halim 
Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu, 9 Mei 1998.
Tiba di Kairo, Soeharto disambut Presiden Mesir Hosni Mubarak, Perdana Menteri 
Mesir Kamel Ganzouri, Kepala Dewan Kepresidenan Mesir Zakaria Azmi, dan Menteri 
Luar Negeri RI Ali Alatas pada pukul 15.30 waktu setempat atau 19.30 WIB. Semua 
kepala negara anggota G-15 menyinggung masalah krisis ekonomi di Asia, termasuk 
yang dialami Indonesia.
Setelah membuka KTT G-15, Hosni Mubarak mengajak para kepala negara berkeliling 
kota mengunjungi objek-objek wisata, Senin, 11 Mei 1998. Hari itu juga, 
Soeharto diberi kesempatan mewakili kepala negara G-15 menggunting pita 
meresmikan pameran produk dan proyek beberapa negara G-15.
Keesokan harinya, Selasa, 12 Mei 1998, Soeharto beserta kepala negara tiba di 
Sharm El-Sheikh, yang terletak 800 kilometer arah tenggara dari Kairo. Di 
tempat itu dilanjutkan kembali KTT hari kedua. Ada dua agenda yang dibahas, 
yaitu cara mencegah dampak sosial dari krisis di Asia agar kekacauan bisa 
dihindari, dan membuat rekomendasi yang akan disampaikan pada penutupan KTT 
G-15.
 
Pertemuan terakhir Presiden Soeharto dengan Presiden Mesir Husni Mubarak, 14 
Mei 1998.
Foto: Repro Hubungan Indonesia-Mesir
Pada hari yang sama di Tanah Air, kondisi politik memanas dan kian tak menentu. 
Pasalnya, empat mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, tewas tertembak peluru 
tajam aparat keamanan saat melakukan demonstrasi menuntut Soeharto mundur. 
Mereka adalah Elang Mulia Lesmana (20), Heri Hertanto (21), Hafidin Royan (22), 
dan Hendriawan Sie (23).
Kematian keempat mahasiswa ini memicu kemarahan masyarakat. Pecah kerusuhan 
keesokan harinya pada 13-15 Mei 1998. Masyarakat yang marah menghancurkan dan 
menjarah pusat pertokoan di wilayah Jakarta, Tangerang, Bekasi. Kerusuhan massa 
berujung sentimen pada kelompok warga keturunan Tionghoa kian merebak.
Selain di Jakarta, kerusuhan melanda Surakarta (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa 
Timur), Medan (Sumatera Utara), Padang (Sumatera Barat), Palembang (Sumatera 
Selatan), hingga Makassar (Sulawesi Selatan). Di sisi lain, aksi demonstrasi 
mahasiswa kian besar, yang mengancam posisi Soeharto.
Dikutip dari buku Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando 
karya Hendro Subroto (2009), Gubernur DKI Jakarta, yang saat itu dijabat 
Sutiyoso, mengumumkan kepada media massa, akibat kerusuhan, setidaknya ada 
4.939 bangunan rusak dibakar. Kerugian ditaksir mencapai Rp 2,5 triliun, belum 
termasuk isinya. 
Sebanyak 1.119 mobil pribadi, 66 kendaraan umum, 821 sepeda motor, dan 1.026 
rumah penduduk hangus dibakar. Pusat Penerangan ABRI (sekarang TNI) mengumumkan 
korban jiwa mencapai 500 orang. Sedangkan pemda Tangerang mencatat lebih dari 
100 jenazah hangus terbakar di salah satu kompleks pertokoan di Ciledug dan 
Karawaci.
Situasi ekonomi nasional memburuk. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melorot 
jauh, USD 1 mencapai Rp 17 ribu dan inflasi melonjak sampai 70 persen. Di 
situasi genting itu, Soeharto masih berada di Mesir. Penasihat Wapres Bidang 
Pertahanan Keamanan Letjen (Purn) Sintong Panjaitan menghadap Wapres BJ Habibie 
pada Kamis, 14 Mei 1998, pukul 16.00 WIB. Ia menyarankan agar Habibie segera 
mengeluarkan pernyataan untuk menenangkan masyarakat melalui media massa.
 
Presiden Soeharto mundur.
Foto: dok. Arsip Nasional RI
Habibie tak berani melakukan hal itu. Ia tak mau mendahului Soeharto karena, 
untuk mengambil langkah tersebut, harus ada izin dari Presiden. Tapi Habibie 
meminta Sintong mendapatkan konsep pernyataan langsung dari Presiden. Akhirnya, 
Sintong menghubungi Menteri Sekretaris Negara Saadilah Mursyid, yang mengikuti 
rombongan Soeharto di Mesir. 
Namun Saadilah mengatakan Soeharto sedang istirahat, tak bisa diganggu. Sintong 
tetap meminta konsep pernyataan langsung yang berasal dari Soeharto. “Kalau 
perlu, Presiden dibangunkan karena situasi negara sedang dalam keadaan gawat,” 
tegas Sintong dalam bukunya itu.
Akhirnya pernyataan Presiden bisa diperoleh, kemudian ditayangkan dalam Berita 
Nasional TVRI hari itu pukul 19.00 WIB. Habibie juga sempat menanyakan 
keberadaan para perwira tinggi ABRI yang bertanggung jawab menangani kerusuhan. 
“Saya mendapat laporan di sana-sini dibakar. Di sana-sini hancur. Saya 
bingung,” ucap Habibie kepada Sintong.
Sebagai Penasihat Bidang Hankam, Sintong mencoba menghubungi para jenderal, 
tapi kesulitan. Hampir semua perwira tinggi ABRI tak berada di Jakarta. Catatan 
menyebutkan, pada 14 Mei 1998, Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI 
Jenderal Wiranto tetap berangkat ke Malang, Jawa Timur, menjadi inspektur 
upacara serah terima tanggung jawab Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) ABRI 
dari Divisi I Kostrad Cilodong ke Divisi II Kostrad. 
Hal itu menjadi tanda tanya besar bagi Sintong. Alangkah tak masuk akal, 
mengapa sebagian besar pemimpin ABRI saat itu berada di Malang. Kalau mereka 
tahu akan terjadi kerusuhan yang begitu dahsyat dan tetap pergi, mereka membuat 
kesalahan. “Tetapi, kalau mereka tidak tahu akan terjadi kerusuhan, mereka 
lebih salah lagi. Mengapa mereka sampai tidak tahu?” tanya Sintong dalam 
hatinya.


Baca Juga : Soeharto: Nyatanya Saya Tidak Korupsi
 
Kerusuhan dan penjarahan di Jakarta, 13-15 Mei 1998.
Foto: Chou You Ko/Getty Images/detikcom
Soeharto, yang dijuluki media asing sebagai The Smiling General, terpaksa 
mempersingkat kunjungan kerjanya di Mesir, yang sesuai jadwal seharusnya sampai 
15 Mei 1998. Padahal Hosni Mubarak semula akan menerima Presiden kedua RI itu 
di Istana Al-Ittihadiyah.
Sebagai gantinya, Hosni Mubarak mengunjungi Presiden Soeharto, yang menginap di 
Hotel Sheraton Heliopolis. Setelah bertemu empat mata dan menyepakati 
perjanjian hubungan bilateral RI-Mesir, Hosni Mubarak mengantar langsung 
Soeharto menuju Bandara Internasional Kairo untuk pulang ke Jakarta pada 14 Mei 
1998.
Soeharto tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jumat, 15 Mei 1998, pagi. Ia 
langsung mengumpulkan para pembantunya, yang terdiri atas Wapres BJ Habibie, 
Menhankam/Panglima ABRI Jenderal Wiranto, para kepala staf angkatan, dan 
Panglima Kodam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, untuk mengetahui peristiwa 
Mei itu dan perkembangannya.
Keesokan harinya, Sabtu, 16 Mei 1998, pukul 08.00 WIB, Soeharto memanggil 
Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto, KSAD Jenderal TNI Subagyo HS, dan 
Mensesneg Saadillah Mursyid di rumahnya di Cendana. Mereka mendapat instruksi 
untuk membentuk semacam Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib).
Namun Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Keuangan dan Industri Ginandjar 
Kartasasmita mengingatkan Soeharto bahwa pembentukan kembali Kopkamtib akan 
berpengaruh kurang baik bagi investor asing. Akhirnya dirumuskan badan yang 
diberi nama Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional (KOPKKN). 
Panglima ABRI Jenderal Wiranto ditunjuk sebagai Panglima KOPKKN lewat Instruksi 
Presiden (Inpres) Nomor 16 Tahun 1998, wakilnya ditunjuk Subagyo HS (KSAD).
Kenyataannya, Wiranto enggan menjalankan tugas itu. Akhirnya Soeharto 
menawarkan jabatan Panglima KOPKKN kepada Subagyo HS. Tapi jawabannya tak 
memuaskan. Alasan mereka takut akan banyak korban yang akan ditimbulkan bila 
KOPKKN dijalankan. Sementara itu, demonstrasi mahasiswa mulai membesar, bahkan 
berhasil menjebol pintu gerbang dan menduduki gedung MPR/DPR, Senayan, Senin, 
18 Mei 1998.

Baca Juga : Kongsi Empat Kaki dan Satu Soeharto
 
Mahasiswa menuntut Soeharto mundur. 
Foto: Getty Images/detikcom
Saat itu, Ketua DPR/MPR Harmoko, yang dikenal sebagai pendukung berat Soeharto, 
malah menuruti tekanan massa. Ia mengeluarkan pernyataan agar Soeharto 
mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden. Hal itu dilakukan Harmoko 
karena merasa mendapat dukungan dari pimpinan ABRI. 
Keesokan harinya, Selasa, 19 Mei 1998, Soeharto mengundang sejumlah tokoh Islam 
sebanyak sembilan orang. Mereka adalah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur 
(Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Nurcholis Madjid (Direktur Yayasan 
Paramadina), KH Alie Yafie (Ketua Majelis Ulama Indonesia), Malik Fajar dan 
Sumarsono (tokoh PP Muhammadiyah), KH Cholil Baidowi (Muslimin Indonesia), 
Achmad Bagdja dan KH Ma'ruf Amin (tokoh NU), dan Emha Ainun Nadjib (budayawan). 
Soeharto juga mengundang pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra. 
Para tokoh agama ini pun menyampaikan bahwa rakyat Indonesia tetap menginginkan 
Soeharto mundur dari jabatannya sebagai presiden. Tapi Soeharto berkukuh bisa 
mengatasi keadaan. Ia menyatakan akan mengubah Kabinet Pembangunan VII menjadi 
Kabinet Reformasi dan akan membentuk Komite Reformasi. 
Tapi esok harinya, Rabu, 20 Mei 1998, malam, Soeharto menerima surat hasil 
keputusan dari 14 Menteri Kabinet Pembangunan VII yang intinya menyatakan sikap 
tak bersedia menjabat sebagai menteri dalam Kabinet Reformasi atau reshuffle 
kabinet. Soeharto merasa terpukul dan ditinggalkan oleh orang-orang 
kepercayaannya. 
Soeharto semakin merasa sudah tak mendapatkan dukungan yang baik dari ABRI dan 
DPR/MPR. Apalagi dalam suasana kritis orang-orang dekat Soeharto sudah 
menyingkir. Begitu juga Pangkostrad Letjen TNI Prabowo Subianto, tak berupaya 
dengan keras tampil ke depan membela mertuanya.
Malam itu juga, Soeharto berdiskusi dengan para pejabat pembantunya, termasuk 
Wiranto. Ia menyatakan bersedia mundur. Soeharto mengumumkan mundur dari 
jabatan presiden, digantikan BJ Habibie sebagai Presiden ketiga RI di Istana 
Merdeka, Kamis, 21 Mei 1998 tepat pukul 09.WIB. Sejak itulah dimulainya era 
reformasi di Indonesia.

--------------------------------------------------------------------------------
Penulis: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D2BA4E84289242EAA887BF6FA60BCFD4%40A10Live.

Reply via email to