Written byJ61Thursday, May 19, 2022 16:15

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/ini-cara-jokowi-bungkam-luhut/
Ini Cara Jokowi Bungkam Luhut?
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana Widodo dikabarkan telah 
mengemas sebagian barangnya dari Istana Negara. Mungkinkah itu untuk membantah 
isu penundaan pemilu dan masa jabatan presiden seperti yang pernah dikemukakan 
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut 
Binsar Pandjaitan dan sejumlah politisi lainnya?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Spill menjadi istilah kekinian untuk mengungkapkan informasi penting yang belum 
diketahui sebelumnya. Istilah itu pun cukup sering digunakan kaum muda saat ini 
sebagai kosakata dalam percakapan lingkar pertemanan dan di media sosial.

Belakangan, spill dilakukan Wali Kota Solo sekaligus putra sulung Presiden Joko 
Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka, yang membocorkan satu informasi 
menarik mengenai apa yang tengah dilakukan olehRI-1.

Dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun televisi yang tayang pada Senin 
lalu, Gibran awalnya menegaskan bahwa sang ayah tidak akan selamanya menjadi 
kepala negara.

Lalu, dia mengungkapkan bahwa ibunya, Iriana Widodo, sudah mulai mengemas 
barang-barang di Istana Kepresidenan untuk dibawa pulang ke Solo, Jawa Tengah.

Tidak ada pernyataan lanjutan dari Gibran saat itu, sampai satu hari berselang 
Gibran menjelaskan lebih lanjut di depan awak media bahwa tak hanya 
barang-barang milik sang ibu yang telah dikemas, melainkan juga milik sang ayah.

Bahkan, Gibran menyebut bahwa sudah ada sejumlah barang yang telah tiba di 
beranda Presiden Jokowi yang terletak di Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo.

Persis seperti intensi yang dikemukakan Gibran, informasi tersebut seketika 
membuat isu mengenai perpanjangan masa jabatan presiden maupun penundaan pemilu 
dinilai tak menemui relevansinya lagi.

Sebelumnya, sejumlah politisi bahkan tokoh penting di lingkaran Presiden Jokowi 
gencar menghembuskan narasi terkait dua hal tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut 
Binsar Panjaitan misalnya, yang membuat heboh dengan klaim adanya big data 
berupa dukungan penundaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 dari 110 juta orang.

Tak hanya itu, Luhut juga sempat mengutarakan hal cukup “unik” saat 
mempertanyakan alasan Presiden Jokowi harus turun pada tahun 2024.

Selain Luhut, nyatanya isu serupa sempat digulirkan beberapa tokoh di antaranya 
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil 
Lahadalia, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, 
hingga Ketua Umum (Ketum) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar.

Akan tetapi, klaim Luhut tampaknya cukup provokatif karena membuat Politikus 
PDIP Masinton Pasaribu bereaksi keras dan sempat terlibat ketegangan personal 
dengan abituren Akabri 1970 itu. Masinton bahkan harus beberapa kali menegaskan 
bahwa Presiden Jokowi menolak wacana tersebut.

Lantas, apakah informasi “kemas-kemas” menjadi jawaban pamungkas secara tak 
langsung dari Presiden Jokowi atas isu penundaan pemilu maupun masa jabatan 
presiden? Atau adakah makna lain?
 
Momentum Tepat Sanggah Luhut?
Anggapan umum yang terbentuk dari spill Gibran tentu cukup sederhana, yakni 
negasi terhadap isu penundaan pemilu dan masa jabatan presiden. Akan tetapi, 
penjelasan lanjutan Gibran bahwa Presiden Jokowi juga telah berkemas agaknya 
memiliki makna tersendiri jika dilihat dari segi momentum.

Masa jabatan Presiden Jokowi sendiri secara resmi berakhir pada 20 Oktober 
2024. Meski tidak ada yang salah, tenggat waktu tersebut membuat kesan yang 
timbul menjadi sedikit janggal ketika mantan Gubernur DKI Jakarta itu telah 
berkemas sedini ini.

Dalam perpolitikan, timing atau momentum menjadi hal yang cukup esensial untuk 
menganalisis mengapa sebuah aksi-reaksi para aktor politik dikemukakan, 
sebagaimana halnya yang dijabarkan Luis Rubio dalam publikasinya yang berjudul 
Time in Politics.

Menurut Rubio, timing sangat esensial dalam komunikasi dan manuver politik. 
Preferensi timing yang dipilih dapat menentukan perbedaan output yang cukup 
signifikan dari sebuah interaksi politik.

Sementara itu, dalam Political Timing: A Theory of Politicians’ Timing of 
Events, John Gibson menyatakan bahwa momentum tertentu dalam politik dapat 
digunakan untuk memaksimalkan benefit politik atau meminimalkan risiko dan 
biaya sang aktor politik.

Jika direfleksikan pada apa yang diungkapkan Gibran, momentum berkemas Presiden 
Jokowi saat ini kiranya tidak saja sekadar menyanggah Luhut dan politisi lain. 
Isu tiga periode dan penundaan pemilu yang belakangan semakin meredup, baik 
dalam pembicaraan publik, tokoh politik, maupun media kemungkinan juga memiliki 
signifikansi tersendiri.

Tensi isu yang tak sepanas sebelumnya membuat simbol “berkemas” tersebut 
terkesan tetap menjadi sanggahan tegas, tetapi masih dalam koridor tepat untuk 
meminimalkan risiko politik yang tidak diinginkan atau dapat disalahartikan. 
Utamanya terkait hubungan langsung antara Presiden Jokowi, Luhut, dan 
tokoh-tokoh terkait.

 
Selain itu, sebagai sosok yang dikenal sebagai pemegang falsafah Jawa dalam 
kepemimpinannya, momentum munculnya informasi “berkemas” Presiden Jokowi pun 
barang kali bukan hanya menghindari risiko politik tertentu.

Elisabet Titik Murtisari dalam tulisannya yang berjudul Some Traditional 
Javanese Values in NSM: From God to Social Interaction, menyatakan bahwa salah 
satu nilai budaya Jawa adalah tanggap terhadap perasaan orang lain agar harmoni 
dan ketenteraman dapat terus terwujud.

Nilai itu pula yang dapat dimaknai dari momentum berkemas sang kepala negara. 
Dengan berkaca pada isu minor yang dihembuskan orang di lingkaran 
pemerintahannya sendiri, Presiden Jokowi kiranya ingin mengungkapkan simbol 
bantahan dengan tetap menjaga kondusivitas dan harmoni di sekelilingnya.

Kendati begitu, suara sumbang turut merespons kabar berkemasnya Presiden Jokowi 
dan Ibu Negara. Pengamat politik Muslim Arbi mengatakan hal itu tidak perlu 
dipercaya karena rekam jejak pernyataan Gibran maupun sang ayah kerap tidak 
sesuai dengan realitas.
Arbi menyebut aksi berkemas yang dilakukan dua tahun sebelum masa jabatan 
Presiden Jokowi berakhir adalah hal yang tidak masuk akal.

Benarkah demikian?

Harus Teladani Soeharto?
Mulai berkemasnya Presiden Jokowi dan sang istri memang dapat dimaknai sebagai 
simbol bantahan pamungkas secara personal, baik atas isu penundaan pemilu 
maupun perpanjangan masa jabatan presiden.

Namun, konfirmasi teranyar dari salah satu orang dalam Istana sementara ini 
justru selaras dengan apa yang Muslim Arbi katakan. Dia adalah tenaga ahli 
Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, Ali Mochtar Ngabalin, yang mengaku 
belum pernah melihat Iriana Widodo berkemas barang-barang yang akan dibawa 
pulang ke Solo.

Kontradiksi antara klaim Gibran dan pengakuan Ngabalin tentu memunculkan 
presumsi berikutnya bahwa wacana penundaan pemilu masih belum sepenuhnya 
tertutup. Ini tentu akan berlainan dengan identitas yang melekat pada Presiden 
Jokowi sebagai pemegang falsafah Jawa yang teguh.

Terkait dengan falsafah Jawa dan akhir masa jabatan kepemimpinan, Presiden 
Jokowi agaknya dapat meniru apa yang dilakukan Presiden RI ke-2 Soeharto. Dalam 
buku berjudul Decisive Moments: Indonesia’s Long Road to Democracy, Bacharuddin 
Jusuf Habibie menceritakan bagaimana Soeharto sangat merefleksikan akhir masa 
jabatannya dengan pemaknaan nilai budaya Jawa yang mendalam.

 
Sebelum membacakan pidato pengunduran dirinya, Soeharto menegaskan bahwa 
perubahan rezim yang terjadi tetap harus dilakukan dan dipandang secara 
konstitusional serta bukan dianggap buah dari aksi maupun reaksi bertendensi 
paksaan.

Soeharto juga mengatakan bahwa dirinya akan menjadi pandito, yakni sosok yang 
mendekatkan diri dengan Tuhan, memimpin anak-anaknya menjadi orang yang baik. 
Sementara bagi masyarakat dan negara, dirinya ingin memberikan nasihat dan 
mengamalkan asas tut wuri handayani.

Seperti apa pun simbol maupun intrik yang ada, yang terpenting bagi publik saat 
ini adalah teladan untuk patuh terhadap konstitusi dan melaksanakan tugas 
negara di sisa masa jabatan dengan baik.

Begitu pula dengan gestur Presiden Jokowi untuk mengelola isu penundaan pemilu 
dan masa jabatan presiden dari orang sekitarnya seperti Luhut. Semata-mata agar 
kinerja pemerintahan dapat berjalan sebagaimana mestinya dan tidak menimbulkan 
kegaduhan politik yang tidak perlu. (J61)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/399DA88DDA2C4A4BB1145119B5B6F640%40A10Live.

Reply via email to