Written byG69Friday, May 20, 2022 16:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/tiongkok-senjata-marcos-jr-tekan-as/
Tiongkok, Senjata Marcos Jr. Tekan AS?
Ferdinand Marcos Jr. alias Bongbong menjadi presiden terpilih Filipina dan 
diprediksi akan memiliki kebijakan luar negeri yang condong ke Republik Rakyat 
Tiongkok (RRT). (Foto: Getty Images)
Ferdinand Marcos Jr. alias Bongbong menjadi presiden terpilih Filipina 
mengalahkan lawan politiknya, yaitu Leni Robredo. Mayoritas menilai jika 
Bongbong akan lebih banyak menjalin relasi dengan Tiongkok karena rekam jejak 
keluarganya yang sejak dahulu sudah memiliki hubungan erat dengan negeri Panda 
tersebut. 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik,com

Salah satu negara ASEAN, yaitu Filipina, akan segera mendapatkan pemimpin baru 
usai berakhirnya masa jabatan Rodrigo Duterte sebagai Presiden Filipina pada 
tahun 2022 ini. Takhta kepemimpinan akan jatuh ke tangan seseorang yang 
sebenarnya tidak asing dalam dinamika politik di Filipina, yaitu Ferdinand 
Marcos Jr.

Putra dari mantan diktator Filipina, Ferdinand Marcos Sr ini berhasil 
mengungguli lawannya, yaitu Leni Robredo, dalam kontestasi pemilu di tahun 2022 
ini. Kemenangan Marcos Jr. atau yang akrab disebut Bongbong ini ramai 
diperbincangkan, bahkan hingga menimbulkan reaksi yang beragam baik dari 
internal maupun eksternal negara Filipina. Reaksi yang berasal dari internal 
terjadi karena keresahan sejumlah masyarakat terhadap pemerintahan Bongbong 
kelak. 

Hal ini tidak lepas dari rekam jejak keluarga Marcos yang ‘gelap’ khususnya di 
era pemerintahan Marcos Sr. Pemerintahan yang berlangsung selama kurang lebih 
20 tahun itu telah memakan banyak korban yang mayoritas merupakan pengkritik 
pemerintahan Marcos Sr. Tidak hanya itu, keluarga ini juga dinilai telah 
merugikan negara karena menimbun kekayaan selama berada di kursi kekuasaan, 
seperti istri dari Marcos yang kerap mengoleksi barang-barang dengan harga 
fantastis. 

Jejak buruk keluarga ini pun akhirnya berimbas pada reaksi eksternal atau 
negara lain. Dalam hal ini, adalah Amerika Serikat (AS) yang memberikan sanksi 
kepada Marcos Jr. melalui uang sebesar USD490 juta karena, pada saat 
pemerintahan keluarganya, korban sipil banyak berjatuhan. Namun, biaya yang 
baru dibayar masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan biaya sanksi yang harus 
dibayar. 

Polemik antara keluarga Marcos dan pemerintahan AS ternyata tidak lepas dari 
adanya dugaan keterlibatan Ferdinand Marcos Sr terhadap tewasnya calon presiden 
Filipina, yaitu Beniqno Aquino Jr. Meski demikian, tuduhan akan adanya campur 
tangan Marcos belum bisa dibuktikan meski isu campur tangan rezim pemerintahan 
saat itu berhembus kencang. Hal ini memicu pergerakan massa yang besar sehingga 
Marcos dan keluarganya kabur ke Hawaii dengan membawa harta kekayaannya. 

Rekam jejak yang penuh dengan kontroversi ini akhirnya menimbulkan perspektif, 
yaitu hubungan antara AS dan rezim Marcos tidak akan membaik. Kondisi ini bisa 
semakin renggang karena, berdasarkan sejarah, keluarga Marcos memiliki 
kedekatan khusus dengan Tiongkok. 

  
Menurut tulisan berjudul The Political Economy of Philippines-China Relation 
karya Benito Lim, dijelaskan jika Filipina dan Tiongkok sudah menjalin kerja 
sama sejak Marcos kembali membuka relasi dengan Tiongkok pada tahun 1966. 
Bahkan, ibu negara kala itu, Imelda Marcos, berulang kali mengunjungi Tiongkok 
untuk melakukan kesepakatan dagang.

Lantas, dengan hubungan buruk antara keluarga Marcos dan pemerintah AS, 
mungkinkah Filipina akan beralih ke Tiongkok? Mungkinkah ini nanti menjadi 
langkah kebijakan luar negeri yang taktis ala Bongbong?
Marcos Jr. Masih Butuh AS? 
Kedekatan dengan Tiongkok ternyata tidak menutup peluang Filipina untuk tetap 
meningkatkan relasi dengan AS. Hal ini terlihat saat Presiden Ferdinand Marcos 
Sr membutuhkan AS untuk menjadi aliansi di tengah meluasnya pengaruh dari Uni 
Soviet. 

Dalam tulisan berjudul Marcos Supports Alliance With U.S karya William Chapman, 
dijelaskan jika Marcos memilih posisi netral antara persaingan AS-Soviet. 
Karena negaranya berpotensi mengalami ancaman yang lebih besar, maka, solusinya 
adalah dengan merangkul AS menjadi dengan mempertimbangkan kekuatan militer 
yang dimiliki oleh negeri Paman Sam. 

Negara-negara lemah tidak menutup peluang untuk membangun relasi dengan negara 
kuat dengan tujuan agar terjadi keseimbangan di kawasan sehingga tidak ada satu 
kekuatan yang dominan — sama halnya dengan Filipina di era Marcos Sr yang 
membuka relasi dengan AS untuk membendung pengaruh dari Uni Soviet. 

Ternyata cara ini juga masih relevan karena adanya sebuah kesepakatan antara 
Filipina dan AS, yaitu Visiting Force Agreement (VFA). Dalam tulisan berjudul 
The Philippines-US Visiting Forces Agreement and Small Foreign Policy karya 
Mico Galang, dijelaskan jika kesepakatan tersebut menetapkan AS sebagai negara 
yang terus mendukung Filipina di sektor keamanan – terlebih jika ada ancaman 
dari negara lain, termasuk Tiongkok di konstelasi Laut Tiongkok Selatan (LTS). 
Maka, dengan adanya sebuah ‘perlindungan’ dari negeri Paman Sam, Filipina masih 
mampu menjaga negaranya dari tekanan Tiongkok yang semakin asertif di LTS. 

 
Namun, kedekatan Filipina dengan AS di era Rodrigo Duterte tampaknya mengalami 
gejolak karena adanya peralihan kekuasaan. Bongbong alias Marcos Jr. menjadi 
salah satu alasan apabila hubungan kedua negara tidak lagi mesra seperti pada 
rezim Duterte. 

Meski demikian, hal tersebut masih bisa berubah menyesuaikan dengan beberapa 
faktor ketika proses pengambilan kebijakan. Dalam buku berjudul Introduction to 
International: Third Edition yang ditulis William D Coplin, dijelaskan jika 
salah satu faktor yang turut memengaruhi kebijakan luar negeri adalah aktor 
atau pengambil kebijakan tersebut. 

Decision-making behavior atau perilaku pengambil kebijakan juga akan melihat 
dan menganalisis situasi yang terjadi. Dalam buku tersebut, juga dijelaskan 
jika kondisi yang dihadapi bisa memengaruhi individu dalam menentukan sebuah 
kebijakan. 

Tidak hanya itu, faktor citra atau image juga menjadi pertimbangan yang cukup 
penting bagi pengambil kebijakan sehingga citra positif tentu menjadi tujuan 
akhir dari pengambil kebijakan tersebut. 
Maka, dalam hal ini, individu yakni presiden terpilih, Bongbong atau Marcos Jr. 
merupakan aktor yang mampu menentukan pengambilan kebijakan luar negeri 
Filipina. Dinamika politik luar negeri serta citranya sebagai penerus trah 
Marcos bisa menjadi pertimbangan dalam menentukan kebijakan luar negeri. 

Lantas, jika melihat dinamika politik luar negeri dan dalam negeri, apakah 
Filipina di era Marcos Jr. masih membutuhkan relasi dengan AS?

 
Marcos Jr. Manfaatkan Tiongkok? 
Berbagai macam spekulasi muncul di permukaan terkait arah kebijakan politik 
luar negeri Marcos Jr. terutama adanya indikasi apabila Filipina di era 
Bongbong lebih condong ke Tiongkok – terlebih dengan statusnya yang hingga saat 
ini tidak diizinkan untuk masuk ke AS bisa semakin memperkuat indikasi 
tersebut. Meski demikian, sambutan hangat dari pemerintahan Joe Biden atas 
kemenangan Bongbong bisa menjadi pertanda jika AS tidak menutup pintu untuk 
menjalin sebuah relasi yang erat dengan Filipina. 

Apalagi, AS juga memiliki kepentingan di kawasan Asia Tenggara terkait polemik 
Laut China Selatan (LCS). Posisi Filipina sebagai ‘pivot’ antara dua kekuatan 
besar yakni AS dan Tiongkok bisa menjadi pertimbangan bagi Bongbong untuk 
menentukan sikapnya. Kedekatannya dengan negeri Tirai Bambu bisa saja 
dimanfaatkan untuk menekan AS supaya pemerintahan Joe Biden mengizinkan 
Bongbong dan keluarganya masuk ke AS. 

Hal ini tidak mudah dilakukan karena berdasarkan pendapat dari analis politik 
dari Amador Research Services, Peaches Lauren Vergara, masyarakat Filipina 
kurang simpatik dengan Beijing sehingga harapannya presiden terpilih bisa 
memperlihatkan komitmennya untuk menentang negeri yang dipimpin oleh Xi Jinping 
ini. Namun, melihat rekam jejak keluarga Marcos yang dekat dengan Tiongkok, 
tentu akan menjadi pertimbangan yang berat bagi Bongbong jika dirinya 
memutuskan untuk condong ke Tiongkok secara penuh karena bisa memengaruhinya 
citra dan popularitasnya. 

Situasi seperti ini juga bisa terjadi di negara lain seperti di Indonesia, 
seperti halnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam menentukan kebijakan luar 
negeri. Tampaknya, prinsip politik luar negeri bebas-aktif masih dipegang teguh 
meski sebenarnya terlihat Indonesia lebih dekat dengan Tiongkok. 

Namun, bisa saja Indonesia seolah memperlihatkan keberpihakan pada salah satu 
kekuatan besar untuk menekan kekuatan besar lainnya. Bagaimana pun, dinamika 
politik luar negeri negara-negara Asia Tenggara menarik untuk diikuti lebih 
lanjut. (G69)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B2A74EED97034BACAAB7CB0F67729960%40A10Live.

Reply via email to