Written byJ61Friday, May 20, 2022 20:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/lin-che-wei-the-unknown-strongman/
Lin Che Wei, The Unknown Strongman?
Lin Che Wei menjadi nama menarik yang muncul dalam pusaran korupsi ekspor CPO 
dan produk turunannya termasuk minyak goreng. Dia dianggap memegang peran 
penting dalam pusaran rasuah. Mengapa demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Kelangkaan serta melambungnya harga minyak goreng beberapa waktu lalu mulai 
terkuak musababnya. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian 
Perdagangan (Dirjen Daglu Kemendag) Indrasari Wisnu Wardhana menjadi sosok awal 
terbongkarnya kongkalikong izin ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil 
(CPO).

Penetapannya sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) pada 19 April 
lalu sempat meninggalkan cerita plot twist. Satu bulan sebelum penetapan itu, 
Wisnu tertangkap kamera membisiki Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi 
perihal penetapan tersangka mafia minyak goreng saat melakukan rapat dengar 
pendapat di Komisi VI pada 18 Maret 2022.

Kasus terus bergulir hingga kini dan telah menyeret empat nama tambahan 
tersangka yang diduga “bermain-main” dengan komoditas yang menjadi hajat hidup 
orang banyak.

Tercatat empat nama itu di antaranya Master Parulian Tumanggor selaku Komisaris 
PT Wilmar Nabati Indonesia, Stanley MA selaku Senior Manager Corporate Affair 
Permata Hijau Grup (PHG), Picare Tagore Sitanggang selaku General Manager di 
Bagian General Affair PT Musim Mas, serta Lin Che Wei selaku pihak swasta.

Belakangan, meskipun terdengar asing, nama terakhir menjadi sorotan tersendiri 
saat Jaksa Agung ST Burhanuddin mengungkapkan perannya dalam kasus mafia minyak 
goreng. Burhanuddin sampai dibuat heran mengapa pihak swasta seperti Lin Che 
Wei dapat turut mengambil kebijakan bersama Dirjen Perdagangan Luar Negeri 
Kemendag. Terutama memutuskan kebijakan dalam menentukan Domestic Market 
Obligation (DMO).

Lin Che Wei alias Weibinanto Halimdjati bersama Wisnu diduga memberikan ruang 
khusus sedemikian rupa bagi perusahaan yang akan mendapatkan izin ekspor CPO 
dan turunannya.

Keheranan Kejagung semakin menjadi lantaran status maupun posisi Lin Che Wei di 
Kemendag tidak diketahui dengan jelas selain berlindung di balik identitas 
“konsultan”.

Pada kesempatan berbeda, Direktur Penyidikan pada (Jaksa Agung Muda Bidang 
Tindak Pidana Khusus) Jampidsus Kejagung Supardi kemudian menjelaskan dugaan 
peran yang dimainkan Lin Che Wei.

Supardi menyebut bahwa selain ikut menentukan kebijakan minyak goreng, 
pemikiran Lin Che Wei digunakan di Kemendag untuk memberikan rekomendasi 
terhadap beberapa perusahaan.

Lebih lanjut, Lin Che Wei disebut tidak hanya terlibat kontak dengan Wisnu, 
tetapi juga menjalin komunikasi dengan beberapa orang lainnya di Kemendag.

Lantas, mengapa Lin Che Wei seolah tampak memiliki kekuatan spesial?

 
Pemain Ulung di Birokrasi?
Selain bermanuver di Kemendag, Kejagung menemukan bukti bahwa Lin Che Wei juga 
merupakan konsultan di tiga perusahaan eksportir CPO yang telah ditetapkan 
sebagai tersangka dalam kasus pemberian fasilitas ekspor.

Keheranan Jaksa Agung plus kelihaiannya dalam lakon ekspor CPO secara tidak 
langsung menguak tendensi bahwa dia bukan orang sembarangan.

Predikat strongman agaknya tidak berlebihan disematkan kepada Lin Che Wei. 
Dalam kacamata universal, strongman adalah mereka yang dapat mengonsolidasikan 
pengaruh dengan kapitalisasi kekuatan dan keahlian tertentu yang tidak dimiliki 
semua orang.

Secara politik, mengambil intisari dari tulisan Bridget Welsh yang berjudul In 
the shadow of strongmen, “mode kontrol” strongman juga ditandai dengan divide 
and rule strategy atau strategi memecah dan memerintah.
Jika dimaknai, strategi itu tidak hanya untuk melakukan kontrol melainkan 
bertujuan pula untuk membentuk reputasi personal serta sebagai senjata saat 
berhadapan dengan pihak yang dianggap sebagai lawannya.

Terkuaknya peran Lin Che Wei kiranya mempertegas hipotesis bahwa eksistensi 
strongman tidak hanya relevan dalam dunia sosio-politik, tetapi juga dalam 
dunia birokrasi pemerintahan.

Rekam jejak Lin Che Wei dalam birokrasi sendiri boleh dikatakan cukup mentereng 
meskipun tidak banyak diketahui secara luas. Latar belakang pendidikannya 
adalah gelar strata dua administrasi bisnis (MBA) dari National University of 
Singapore pada tahun 1994.

Selain dikenal sebagai ekonom, dia juga sempat analis keuangan di sejumlah 
perusahaan multinasional besar seperti WI Carr, Deutsche Bank Group dan Societe 
Generale.

Setelah dipercaya menjadi panelis pada debat kandidat jelang Pemilihan Presiden 
(Pilpres) tahun 2004, ia kemudian dipercaya menjabat Presiden Direktur 
Danareksa sejak tahun 2005 hingga pertengahan 2007.

Tidak lama setelahnya, Lin Che Wei mendirikan perusahaan riset yang berfokus 
pada analisis kebijakan dan analisis industri bernama Independent Research & 
Advisory Indonesia. Kapasitas dalam perusahaan itulah yang menjadi latar 
belakangnya diperiksa oleh Kejagung sebelum ditetapkan sebagai tersangka.

 
Lin Che Wei sendiri memulai “infiltrasi” ke ranah birokrasi pemerintahan 
sebagai Staf Khusus (Stafsus) Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 
Sugiharto dan Stafsus Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Aburizal Bakrie 
pada tahun 2006.

Posisi tersebut kemungkinan besar ditunaikannya dengan lihai serta berhasil 
menanamkan pengaruh tertentu hingga membawanya menjadi penasihat kebijakan 
Menko Perekonomian pada tahun 2014 sampai 2019. Selanjutnya, pada tahun 2016 
hingga 2019, dia juga mengemban peran yang sama bagi Menteri PPN/Bappenas dan 
Menteri ATR/BPN.

Teranyar, dia juga menjabat sebagai penasihat kebijakan di era Menko 
Perekonomian Airlangga Hartarto meskipun telah diklarifikasi secara langsung 
oleh Ketua Umum Golkar itu bahwa Lin Che Wei sudah diberhentikan.

Sebagai penasihat kebijakan Kemenko Perekonomian, Lin Che Wei sendiri ikut 
terlibat dalam formulasi sejumlah kebijakan, yakni pembentukan Badan Pengelola 
Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) dan pembentukan Industri Biodiesel 
berbasis Kelapa Sawit.

Secara tidak langsung, bukan tidak mungkin sederet pengalaman dan kepercayaan 
yang diembannya itu membuatnya menjadi seorang strongman dalam birokrasi 
pemerintahan.

Apalagi, reputasinya di awal terbentuk setelah gigih mengungkap kasus Bank 
Lippo pada tahun 2003. Sebuah kegigihan yang jika dirunut kepada rekam jejaknya 
hingga kini memunculkan interpretasi bahwa dia saat itu mengimplementasikan 
divide and rule strategy seorang strongman, yakni dengan “menjatuhkan” pihak 
lain.

Tanpa melakukan generalisasi, keberadaan strongman dalam konotasi negatif di 
birokrasi pemerintahan kiranya bukan hal yang tabu ketika kondisi birokrasi itu 
sendiri jamak disebut tak sesuai hakikatnya.
Hal itu sebagaimana dijelaskan Stein Kristiansen dan Muhid Ramli dalam Buying 
an income: the market for civil service positions in Indonesia yang mengatakan 
bahwa birokrasi di tanah air secara luas telah dipandang menghasilkan dan 
dihasilkan oleh kebijakan yang korup, tidak efisien, serta tidak mampu atau 
tidak mau diatur oleh pemerintah yang demokratis.

Signifikansi peran Lin Che Wei seperti yang telah dijabarkan di atas kiranya 
memang membuatnya menjadi sosok ideal tindak pemufakatan jahat yang hanya dapat 
dilakukan oleh orang dengan reputasi tersebut. Apakah itu?

 
Representasi Korupsi Autogenik?
Syarat utama efektivitas birokrasi pemerintahan adalah terbebas dari praktik 
korupsi. Namun, banyaknya aktor dalam interaksi birokrasi pemerintah, baik 
antar-instansi maupun dengan pihak swasta membuat kondisi ideal tersebut nyaris 
mustahil untuk terwujud.

Dalam banyak kasus, skandal rasuah terjadi dalam birokrasi karena ada 
pihak-pihak yang menginginkan privilese dan mendapatkan keuntungan lebih dari 
subjek lainnya.

Hal tersebut terjadi ketika subjek-subjek tersebut saling bersaing untuk 
terlibat dalam birokrasi itu sendiri, tentunya dengan harapan mendapat giliran 
baru atau tetap terlibat dalam perputaran benefit yang ada. Inilah yang 
kemudian menyebabkan terdapat beberapa tipe korupsi seperti yang dijelaskan 
Syed Hussein Alatas dalam publikasinya The Sociology of Corruption.

Jika merefleksikannya pada skandal minyak goreng, Lin Che Wei dapat dikatakan 
menjadi pivot penting. Sebuah tipologi sekaligus perspektif yang disebut Syed 
Hussein sebagai korupsi autogenik, yakni tipe rasuah yang dilakukan seorang 
individu dengan bermodalkan pengetahuan atau pemahamannya atas sesuatu yang 
secara spesifik ia ketahui dan kuasai.

Lin Che Wei sendiri memiliki kekuatan untuk menjembatani pengusaha dan penguasa 
dengan bekal pengalamannya malang melintang sebagai penasihat pihak swasta 
serta penyelenggara negara. Kekuatan yang didapat dengan modal spesifik dan 
tidak dimiliki banyak orang.

Lantas, apa maknanya?

Jika dianalisis, korupsi autogenik Lin Che Wei membuktikan bahwa kongkalikong 
dalam alur birokrasi dalam pemerintahan, khususnya untuk menelurkan sebuah 
kebijakan, sesungguhnya cukup rumit dan membutuhkan orang dengan kemampuan 
khusus untuk menyederhanakannya.

Persis sebagaimana yang diidentifikasi oleh Hendi Yogi Prabowo dan Kathie 
Cooper dalam jurnal yang berjudul Re-understanding corruption in the Indonesian 
public sector through three behavioral lenses.

Hendi dan Cooper menyatakan bahwa korupsi dalam birokrasi di Indonesia adalah 
hasil dari proses pengambilan keputusan kumulatif oleh para aktor dengan 
tingkat signifikansi berbeda.

Oleh karena itu, penetapan Lin Che Wei sebagai tersangka oleh Kejagung 
diharapkan tidak hanya sebatas ekspose kasus korupsi biasa saja.

Lebih dari itu, pemahaman publik diharapkan juga lebih luas bahwa dalam kasus 
korupsi tertentu ada aktor prominen dengan pengaruh luar biasa yang bekerja 
dalam bayang-bayang. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/6C558F4E8EA242ABB67EC0850E1C0493%40A10Live.

Reply via email to