Written byA43Monday, May 23, 2022 20:00
Cak Imin Kerdilkan Gus Yahya?
Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin atau Gus AMI) mengunggah 
sebuah foto kaus di media sosial (medsos) yang bertuliskan, “Warga NU Kultural 
Wajib Ber-PKB. Struktural, Sakarepmu!” Unggahan ini sontak menjadi ramai di 
tengah perpecahan yang terjadi antara Cak Imin dan Ketum Pengurus Besar 
Nahdlatul Ulama (PBNU) Gus Yahya Cholil Staquf.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Jangan jadikan perbedaan pendapat sebagai sebab perpecahan dan permusuhan” – 
KH Hasyim Asy’ari

Pakaian memang kerap digunakan untuk mengekspresikan identitas. Saat musim 
kampanye berjalan dalam perhelatan pemilihan umum (Pemilu), misalnya, kaus 
(T-shirt) yang bergambar calon atau partai politik (parpol) tertentu bertebaran 
di seluruh penjuru Indonesia.

Bukan hanya parpol dan pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil 
presiden (cawapres), kaus memiliki fungsi tersendiri bagi anak-anak muda – 
mulai dari yang masih sekolah hingga yang sudah duduk di bangku kuliah. Masih 
ingat tidak dulu ketika anak-anak sekelas kompak sepakat untuk membuat kaus – 
atau jenis pakaian lainnya – yang diisi dengan atribut-atribut identitas kelas 
kalian?

Bahan kaus sendiri bisa dibilang terjangkau bila dibandingkan dengan 
bahan-bahan pakaian lainnya. Karena murah dan mudah didapatkan, kaus pun 
menjadi jenis pakaian yang banyak digunakan – termasuk untuk mengekspresikan 
identitas.

Setidaknya, itulah yang dijelaskan oleh Sally Larsen dalam bukunya yang 
berjudul Japlish. Sejak tahun 1960-an, kaus menjadi media di mana pesan-pesan 
tertentu dicetak (sablon). 

Fenomena pesan atau gambar yang di-sablon pada kaus ini pun meledak pada tahun 
1980-an dan 1990-an. Tidak jarang, kaus menjadi gaya berpakaian dengan 
cetakan-cetakan brand atau merek ternama.

Mungkin, bentuk ekspresi melalui kaus inilah yang akhirnya juga digunakan oleh 
Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin alias Gus AMI. 
Pasalnya, beberapa waktu lalu, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi 
(Menakertrans) tahun 2009-2014 tersebut mengunggah sebuah desain kaus yang 
bertuliskan, “Warga NU Kultural Wajib Ber-PKB. Struktural, Sakarepmu!”

Sontak saja, unggahan Cak Imin menuai perdebatan di tengah isu perpecahan 
antara dirinya dan Ketum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Gus Yahya Cholil 
Staquf. Belum lagi, Ketum PKB juga sempat menyebutkan bahwa apapun yang 
dilakukan oleh Gus Yahya tidak akan berpengaruh pada PKB.

 
Sindiran-sindiran yang dilontarkan Cak Imin ini tentu menimbulkan sejumlah 
pertanyaan – mengingat kelompok Nahdliyin (sebutan untuk warga NU) merupakan 
basis suara yang besar bagi PKB dalam Pemilu. Lantas, mengapa Cak Imin malah 
berani melontarkan sindiran-sindiran tersebut? 

Cara Kerdilkan Gus Yahya?
Perpecahan yang terjadi antara Cak Imin dan Gus Yahya ini bisa dibilang 
merupakan permainan perebutan politik. Di satu sisi, Cak Imin tentunya 
membutuhkan warga NU sebagai basis suara PKB. Sementara, Gus Yahya berusaha 
membawa NU untuk tidak terbawa ke dalam arus politik.

Dalam teori permainan (game theory), terdapat sebuah permainan yang dimainkan 
oleh dua pemain, yakni zero-sum game. Dalam permainan jenis ini, keuntungan 
atau kemenangan yang diperoleh oleh satu sisi dianggap sama dengan kekalahan 
atau kerugian yang didapatkan pihak lainnya.
Artinya, bila Cak Imin berhasil memenangkan hati para Nahdliyin, Gus Yahya pun 
akan merugi. Begitu juga sebaliknya, bila Gus Yahya mampu mengajak warga NU 
untuk tidak mendukung PKB, Cak Imin pun menjadi pihak yang merugi.

Untuk memenangkan permainan ini, masing-masing pihak bisa saja menggunakan 
sejumlah taktik. Narasi yang melekat pada kaus unggahan Cak Imin, misalnya, 
merupakan salah satu upaya untuk mengkategorisasikan warga NU.

Upaya semacam ini bisa dijelaskan dengan teori identitas sosial (social 
identity theory) yang dicetuskan oleh Henri Tajfel dan John Turner. Mereka 
menjelaskan bahwa, dalam masyarakat, terdapat kelompok-kelompok yang dibedakan 
berdasarkan komparasi atau perbandingan sosial – menciptakan kategori-kategori 
tertentu.

Kategorisasi sosial ini berjalan dengan mencari faktor-faktor pembeda identitas 
yang ada di antara kelompok-kelompok sosial tersebut. Narasi Us vs Them semacam 
ini terlihat jelas dari dua kata pembeda yang digunakan oleh Cak Imin dalam 
pesan yang terkandung di kaus tersebut, yakni NU Kultural dan NU Struktural.

  
Dua kategori ini sebenarnya berangkat dari perpecahan yang kabarnya muncul pada 
tahun 2018 silam – ketika Mahfud MD yang kini menjabat sebagai Menteri 
Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) batal dipilih 
menjadi cawapres yang mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Pemilihan 
Presiden (Pilpres) 2019 lalu karena dianggap bukan “kader” NU. 

Mengacu pada tulisan Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta 
Faisal Ismail, mereka yang dianggap kader merupakan warga NU yang menempati 
jabatan struktural – seperti di PBNU, Pengurus Wilayah NU (PWNU), dan Pengurus 
Cabang NU (PCNU). Sementara, mereka yang disebut sebagai NU Kultural adalah 
Nahdliyin yang menjadi warga NU karena keturunan (dzurriyah) dari warga NU 
sendiri.

Lantas, mengapa pembelahan yang terjadi pada Pilpres 2019 ini kembali digunakan 
oleh Cak Imin dalam permainannya melawan Gus Yahya? Strategi apa yang bisa jadi 
dipersiapkan oleh Ketum PKB tersebut?

Strategi Imin Kumpulkan Keping?
Dikotomi antara NU Struktural dan NU Kultural yang dimainkan oleh Cak Imin ini 
bukan tidak mungkin bisa menguntungkan Ketum PKB tersebut – bila benar-benar 
mampu membuat NU Kultural berpihak kepada PKB. Pasalnya, warga NU yang tidak 
masuk struktur tentu jumlahnya jauh lebih besar.

Mereka yang tergolong dalam kategori NU Kultural bisa saja tersebar di banyak 
kutub kekuatan NU di daerah-daerah. Tidak dapat dipungkiri, mengacu pada 
tulisan Robin Bush yang berjudul Nahdlatul Ulama and the Struggle for Power 
Within Islam and Politics in Indonesia, NU sebagian besar terdiri atas jaringan 
informal kiai dan ulama yang berpusat pada pesantren – di mana di dalamnya 
terdapat semacam struktur sosial yang menempatkan kiai sebagai pemimpin 
sosio-kultural.

Artinya, alur pengaruh sosial dan politik dalam NU tidaklah bersifat linear. 
Mereka yang masuk dalam struktur kepengurusan belum tentu memiliki pengaruh 
terhadap para kiai dan ulama di pesantren-pesantren. 
Inilah mengapa Cak Imin akan sangat diuntungkan bila berhasil mengalienasi 
mereka yang dikategorikan dalam NU Struktural. Warga NU juga bebas menentukan 
pilihan politik mereka dan tidak diwajibkan untuk mengikuti pilihan politik NU 
Struktural.

 
Lagipula, mengacu pada tulisan Greg Fealy yang berjudul Nahdlatul Ulama and the 
Politics Trap, strategi untuk merangkul para ulama di pesantren sudah lama 
menjadi strategi Cak Imin. Fealy pun menyebutnya sebagai upaya PKB-isasi NU.

Fealy menyebutkan dua taktik yang digunakan Cak Imin. Pertama, Ketum PKB itu 
menyalurkan dana dan aset kepada NU di tingkat nasional maupun daerah. Kedua, 
Cak Imin menggandeng pengusaha – seperti pendiri Lion Air, Rusdi Kirana, yang 
akhirnya keluar dari PKB pada tahun 2019 – untuk membiayai program-program NU 
di pesantren-pesantren.

Dua taktik ini kurang lebih menjadi dua keping yang dibutuhkan Cak Imin untuk 
menjalankan strateginya yang lebih besar – yakni untuk memiliki daya tawar di 
perhelatan Pemilu 2024. Dalam perpolitikan Indonesia, secara garis besar 
disertai oleh tiga keping kekuatan kelompok – di antaranya adalah nasionalis, 
agama, dan insan bisnis (NASAIN). 

Dua keping tadi (agama dan insan bisnis) menjadi bagian integral dari strategi 
Cak Imin yang disebut strategi pendulum – guna memperoleh keping pertama 
(nasionalis). Dengan kedua keping itu, Cak Imin bisa melakukan tawar-menawar 
guna menentukan kutub kekuatan mana yang PKB pilih – mengacu pada artikel 
PinterPolitik.com yang berjudul Poros Islam PKB: Strategi ‘Pendulum’?.

Inilah mengapa game yang tengah dimainkan Cak Imin melawan Gus Yahya menjadi 
penting. Keping ‘agama’ – yakni NU – merupakan pokok strategi PKB untuk tetap 
bisa bernapas dan hidup dalam dunia perpolitikan Indonesia.

Tentunya, keberhasilan strategi elektoral PKB ini kembali lagi pada sejauh mana 
Cak Imin telah mengumpulkan keping-keping kekuasaannya. Apakah pesan-pesan 
dalam kaus telah mampu membuat Ketum PKB tersebut memenangkan keping NU?

Atau, mungkin Cak Imin perlu memainkan keping lainnya juga – misal ‘insan 
bisnis’ yang sebelumnya perannya dipegang oleh Rusdi untuk memenangkan keping 
NU? Mari kita nantikan dan amati kelanjutannya. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/66EFC2892FDB442493BE7D09C42A87C4%40A10Live.

Reply via email to