Written byJ61Monday, May 23, 2022 21:30
Mengapa Erick Thohir Begitu Lincir?
Isu miring terkait kinerja sejumlah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 
muncul dan mengarah langsung kepada sang Menteri, Erick Thohir. Lalu, apakah 
hal itu akan berpengaruh pada impresi Erick yang terkesan sedang gencar 
bermanuver belakangan ini?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Erick Thohir dinobatkan sebagai calon presiden (capres) non-partai politik 
(parpol) paling unggul dalam sebuah jajak pendapat yang dirilis lembaga 
Indikator Politik Indonesia (IPI) pada akhir April lalu.

Direktur Eksekutif IPI Burhanuddin Muhtadi mengatakan bahwa kehadiran Erick 
Thohir yang masuk enam besar capres dengan elektabilitas tertinggi sangat 
mengundang perhatian.

Sebab, jika dibandingkan dengan nama lain, seperti Gubernur Jawa Barat (Jabar) 
Ridwan Kamil (RK) maupun Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Erick adalah 
sosok profesional yang benar-benar baru dalam dunia politik maupun pemerintahan.

Meski tak pernah berkomentar secara langsung terkait konteks pen-capres-an, 
munculnya Erick sebagai kuda hitam dalam sejumlah survei agaknya telah 
berpengaruh terhadap impresi politik terhadapnya. Belakangan ini, sejumlah 
manuver serta kebijakannya sebagai menteri jamak disangkut pautkan dengan 
agenda lampiran menyokong pen-capres-an.

Salah satu yang sempat ramai diperbincangkan adalah saat wajah mantan bos Inter 
Milan itu terpampang di anjungan tunai mandiri (ATM) salah satu bank BUMN.

Merespons hal itu, politikus PDIP Masinton Pasaribu mengingatkan para menteri 
atau pejabat tidak memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan politik 
menuju pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

Masinton menyinggung perihal pejabat yang haram untuk mempromosikan diri untuk 
kepentingan politik dengan fasilitas negara.

Senada dengan Masinton, koleganya di PDIP, Junimart Girsang, juga mengingatkan 
jajaran menteri Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk tidak genit, apalagi sampai 
menggunakan fasilitas jabatan untuk melakukan hal di luar pekerjaannya.

 
Tak hanya itu, Istana pun tampak bereaksi. Walaupun tak menyebutkan nama, 
Deputi V Kantor Staf Presiden (KSP) Jaleswari Pramodhawardani mengingatkan 
adanya dimensi hukum, politik, dan etika – termasuk potensi konflik kepentingan 
– ketika posisi menteri tidak dijalankan sebagaimana mestinya.

Dia menekankan sebuah poin penting, yakni posisi menteri harus digunakan 
semaksimal mungkin untuk membantu agenda Presiden berjalan demi kemajuan negara 
dan kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi.

Kalkulasi integritas dan tantangan Erick sebagai bakal capres agaknya tidak 
sampai di situ saja. Kualitas kinerjanya sebagai menteri pun belakangan ini 
turut mendapat sorotan.

Belum selesai dengan isu kurang sedap terkait polemik suntikan dana dan dugaan 
konflik kepentingan yang terjadi antara Telkom dengan GoTo, Mantan Sekretaris 
Kementerian BUMN Said Didu baru-baru ini menyoroti kinerja Erick lainnya yang 
dinilai tidak maksimal di sektor energi.

Dia bertolak dari perkiraan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengenai 
adanya defisit yang akan dialami dua anak usaha kritikal BUMN, yaitu PLN dan 
Pertamina pada akhir tahun ini.

Said mempertanyakan mengapa Menteri BUMN Erick tidak memberi tahu secara 
terbuka soal defisit Pertamina dan PLN. Dia lantas mengatakan bahwa BUMN di 
bawah kepemimpinan Erick seperti dikorbankan demi menekan inflasi agar tetap 
rendah serta menahan gejolak sosial dan ekonomi.
Isu tersebut agaknya cukup serius jika bergulir lebih jauh mengingat energi 
merupakan sektor yang berpengaruh terhadap hajat hidup dan dirasakan masyarakat 
luas. Lalu, akankah berbagai sorotan kurang positif itu akan berpengaruh 
terhadap manuver dan kesan Erick sebagai kuda hitam capres 2024 mendatang?

  
Isu BUMN Bukan Ancaman Erick?
Konstelasi bisnis BUMN sendiri hampir dapat dipastikan berpadu dengan dinamika 
politik dan pemerintahan. Akan tetapi sifat alamiah plus kinerja berdampak 
minor kerap di-lumrah-kan seiring waktu akibat kesan persoalan klasik yang 
repetitif dan sukar diatasi.

Hal tersebut sebagaimana yang ditelaah oleh Indri Dwi Apriliyanti dan Stein 
Oluf Kristiansen dalam The logics of political business in state-owned 
enterprises: the case of Indonesia.

Aprilianti dan Kristiansen menggunakan istilah political business untuk 
mendefinisikan “arwah” BUMN yang mengakar sejak lama, yakni tendensi adanya 
konflik kepentingan karena potensi campur tangan dalam komposisi dewan dan 
keputusan bisnis oleh politisi. Kinerja BUMN yang kurang baik akibat tendensi 
tersebut terbentuk dari perpaduan antara konservatisme kolektif dan oportunisme 
resiprokal.

Konservatisme kolektif sendiri dijelaskan sebagai anggapan para aktor kunci 
dalam BUMN yang merasionalisasi keputusan mereka saat ini sebagai kelanjutan 
dan penyesuaian dari apa yang sebelumnya telah ada.

Sementara, di saat yang sama, para aktor tersebut saling mempertahankan kultur 
tersebut bersama dengan kepentingannya masing-masing dalam sebuah konsensus 
yang mana diistilahkan Aprilianti dan Kristiansen sebagai oportunisme 
resiprokal.

Kombinasi tersebut kemudian menjadi basis pembenaran dan rasionalisasi lanjutan 
bahwa kebijakan, kinerja, hingga keputusan apapun yang diambil terkait BUMN 
diperlukan untuk mencapai tujuan bisnis yang vital.

Institusi yang disfungsional itu bertahan untuk waktu yang sangat lama akibat 
oportunisme dan konservatisme. Lantas, praktik yang ada tak jarang 
“dinormalisasi”, baik dari internal institusi maupun pemahaman dan impresi yang 
muncul dari publik.

Terlebih, Aprilianti dan Kristiansen juga menemukan kecenderungan bahwa BUMN 
merupakan sumber utama pendanaan sistem politik. Secara keseluruhan, kausalitas 
dan normalisasi itu sendiri secara tidak langsung disebut dapat menetralisir 
isu negatif atas kinerja BUMN dengan sendirinya.

Meski berdasarkan postulat itu kesan minor terhadap kultur dan kinerja BUMN 
seolah dapat tereduksi “secara otomatis” dan terlihat tak akan berpengaruh pada 
impresi terhadap sang menteri secara umum, agaknya tidak lantas membuat Erick 
berdiam diri begitu saja.

Apalagi, di era media sosial saat ini, ketika isu minor sekecil apapun dapat 
diekspolitasi di linimasa dan punya signifikansi tersendiri terhadap reputasi 
seseorang.

Erick justru terlihat mampu menjawab dengan sejumlah catatan apiknya sendiri 
sebagai Menteri BUMN, seperti memangkas 118 perusahaan BUMN menjadi 41 
perusahaan, lonjakan laba bersih BUMN di tahun 2021 yang mencapai Rp90 triliun 
dari tahun sebelumnya yang hanya Rp13 triliun, hingga upaya reformasi BUMN 
untuk secara berkala memeriksa lini usaha yang mengalami pemborosan.
Terlebih, sebagai Menteri BUMN, Erick memiliki kartu As tersendiri yang dapat 
digunakan untuk menangkis isu minor yang menimpanya plus membuatnya justru 
dapat diperhitungkan. Apakah itu?

 
PLN-Pertamina, Kartu As Erick?
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny 
Sri Hartati pernah mengatakan bahwa rapor perusahaan BUMN kerap menjadi 
variabel aktif jelang tahun politik di Indonesia.

Beberapa perusahaan BUMN sendiri belakangan ini memang sedang disoroti seperti 
yang menjadi kritik Said Didu, yakni PLN dan Pertamina. Hal itu pun seolah 
bertautan dengan manuver sang menteri yang dikesankan sedang menarik simpati 
terkait pen-capres-an di 2024.

Secara khusus, kinerja perusahaan negara di bidang energi agaknya memang 
memiliki signifikansi tersendiri. David Dapice and Edward A. Cunningham dalam 
Squaring the Circle: Politics and Energy Supply in Indonesia menyebut bahwa 
kinerja perusahaan BUMN bidang energi merupakan pertaruhan legitimasi politik 
negara di hadapan rakyat.

Erick sepertinya cukup memahami hal itu dengan berusaha membendung sejumlah 
kritik dengan mengeluarkan pernyataan teranyarnya.

Ya, Erick belum lama ini memastikan bahwa komoditas BBM dan listrik bersubsidi 
tidak akan mengalami kenaikan harga setelah mendapatkan persetujuan DPR. 
Menteri BUMN menekankan bahwa kebijakan itu merupakan bukti kehadiran negara 
yang tidak ingin membebani rakyat di tengah persoalan pangan dan energi global 
saat ini.

Selain itu, Erick juga menjamin bahwa PLN dan Pertamina akan fokus menjaga 
ketersediaan energi dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Di samping untuk menunaikan tugasnya sebagai Menteri BUMN, upaya meninggalkan 
prestasi lewat perusahaan BUMN kiranya dapat menjadi modal politik tersendiri 
bagi Erick seiring dengan hakikat energi sebagai komoditas bagi hajat hidup 
masyarakat luas.

Hal itu belum termasuk kinerja perusahaan BUMN lainnya di luar sektor energi, 
dengan catatan dapat menorehkan progres yang positif dan berkesinambungan 
sepanjang masa jabatannya.

Erick Thohir sesungguhnya punya sejumlah modal politik inheren lewat posisinya 
sebagai Menteri BUMN tanpa harus melakukan manuver yang berpotensi menuai 
polemik. Tentu jika dia dapat menjalankan tugasnya sebaik mungkin.

Akan tetapi, permasalahan konkret terkait energi yang ada di depan mata, salah 
satunya potensi efek domino konflik Ukraina-Rusia agaknya dapat membuyarkan 
keunggulan Erick untuk memanfaatkan kartu As-nya. Patut ditunggu apakah Erick 
mampu mengantisipasi hal tersebut. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/A5DED985CECF4BA59978F9DB196C71FF%40A10Live.

Reply via email to