Written byI76Tuesday, May 24, 2022 16:52

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/agus-salim-sang-diplomat-ulung/
Agus Salim Sang Diplomat Ulung
Berbicara tentang jejak perjuangan Agus Salim tidak lepas dari perjuangan 
diplomasi bangsa Indonesia. Menjadi seorang polyglot adalah keunikan yang ia 
miliki. Lantas, bagaimana kisah Agus Salim yang dijuluki sang diplomat ulung 
ini?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Sebagai sebuah lembaga resmi, Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) selalu 
memperjuangkan karakter dan watak politik luar negeri Indonesia yang 
bebas-aktif dimulai dari awal kemerdekan hingga saat ini.

Semangat Kemenlu ini adalah warisan yang sama, ketika bangsa ini memilih untuk 
meraih kemerdekaan tidak hanya dengan mengangkat senjata, melainkan juga 
perjuangan kemerdekaan dengan cara diplomasi atau melalui perundingan.

Bahkan perjuangan diplomasi ini memungkinkan Indonesia pada akhirnya meraih 
dukungan luas masyarakat internasional di PBB pada tahun 1950. Tentunya 
tercatat juga beberapa momen diplomasi yang harus dilewati, seperti Perjanjian 
Renville, Perjanjian Roem-Royen, Perjanjian Linggarjati, dan Konferensi Meja 
Bundar.

Pertimbangan para pemimpin bangsa saat itu untuk memilih jalan diplomasi 
dikarenakan kondisi Indonesia yang masih jauh dari kata stabil di berbagai 
bidang. Indonesia tidak akan mampu meladeni Belanda menggunakan kekuatan fisik 
saja.

Tujuan dari perjuangan diplomasi adalah mencari jalan keluar dari konflik yang 
terjadi. Lebih dari itu, tujuan lain diplomasi yaitu dapat membawa martabat 
bangsa agar diakui di mata dunia internasional.

Berbicara persoalan diplomasi dan martabat bangsa, kita akan diingatkan kembali 
kepada sosok pahlawan Indonesia yang dalam perjuangannya berbicara hal yang 
serupa, yaitu Haji Agus Salim.

Lantas, seperti apa jejak perjuangan tokoh yang dijuluki sebagai The Grand Old 
Man ini?

 
Kisah The Grand Old Man
8 Oktober 1884 di Desa Koto Gadang lahir seorang tokoh bangsa dengan nama kecil 
Masjhoedoelhaq Salim, nama ini bermakna ‘pembela kebenaran’. Seperti nama 
kecilnya, Agus Salim menjadi pembela kebenaran bagi bangsa yang terjajah.

Rizky Kusumo dalam tulisannya H Agus Salim Diplomat Poliglot yang Memilih 
Melarat Sepanjang Hidup, mengungkapkan Agus Salim adalah seorang yang 
menghabiskan masa hidupnya untuk intelektualisme.

Dan yang membuat ia berbeda dibandingkan pejuang lain adalah, Agus Salim 
merupakan seorang polyglot. Ia mampu menguasai berbagai bahasa, tercatat  ada 9 
bahasa asing yang berhasil dikuasainya. Hal ini yang mempermudah aktivitasnya 
dalam berdiplomasi untuk memperjuangkan nasib bangsa Indonesia.

Pendidikan Agus Salim dimulai dari ELS (Europeese Lagere School) saat berusia 6 
tahun dan kemudian melanjutkan HBS (Hogere Burger School). Agus Salim adalah 
perwakilan bumi putra yang mampu meraih angka tertinggi dalam kelulusannya.

Prestasi itu yang membuat Agus Salim muda mulai terkenal di seantero Hindia 
Belanda, terutama di kalangan kaum kolonial dan terpelajar. Bahkan dikisahkan, 
Raden Ajeng Kartini sampai menghibahkan beasiswa kepadanya sebesar 48.000 
gulden, tapi beasiswa itu ditolak.
Padahal sebelumnya beasiswa kedokteran yang diajukan Agus Salim pernah juga 
ditolak oleh pemerintah Belanda. Merasa beasiswa itu seharusnya diperuntukkan 
untuk Kartini bukan untuknya, Agus Salim menolak untuk mendapat sesuatu yang 
didorong oleh rasa iba bukan karena prestasinya.

Tercatat, Agus Salim menempuh pengalaman beragam yang juga nantinya membentuk 
karakteristiknya. Mulai dari bekerja sebagai penerjemah dan pengurus urusan 
haji pada Konsulat Belanda di Jeddah. Kemudian terjun ke dunia media massa 
dengan mendirikan dan sebagai pemimpin redaksi harian Neratja, Hindia Baroe, 
Fadjar Asia, dan Moestika.

Keseluruhan pengalaman itu memantapkan dirinya menjadi anggota Volksraad (Dewan 
Rakyat) mewakili Sarekat Islam pada periode 1921-1924. Merupakan sebuah kisah 
fenomenal karena Agus Salim menjadi orang pertama yang berpidato dalam bahasa 
Melayu/Indonesia di sidang Volksraad.

Pernikahan dengan Zainatun Nahar melengkapi tugas Agus Salim sebagai pemimpin 
bangsa dan juga pemimpin keluarga kecil yang sederhana. Banyak kesaksian yang 
mengatakan kehidupan dan keadaan rumah Agus Salim dijalani dengan sederhana, 
bahkan beberapa kali pindah rumah kontrakan di sekitaran Jakarta.

St. Sularto dalam bukunya H. Agus Salim (1884-1954): Tentang Perang, Jihad dan 
Pluralisme, mengatakan Agus Salim mendapat julukan sebagai The Grand Old Man 
karena kepiawaiannya dalam melakukan perundingan dengan negara-negara Arab, 
serta memimpin delegasi Indonesia di forum PBB tahun 1947.

Agus Salim dipercaya menjabat menteri dalam beberapa kabinet, ia merupakan 
seorang diplomat, jurnalis, dan negarawan. Pada Kabinet Sjahrir I dan II, Agus 
Salim adalah Menteri Muda Luar Negeri, sedangkan pada Kabinet Amir Sjarifuddin 
tahun 1947 dan Kabinet Hatta periode tahun 1948-1949, ia dipercaya menjadi 
Menteri Luar Negeri.

Kepiawaian Agus Salim dalam menuturkan berbagai bahasa membuatnya mampu menarik 
simpati negara-negara yang berdiplomasi dengannya. Bahkan beberapa utusan 
negara asing yang berjumpa dengan Agus Salim selalu mengakui  kesederhanaan 
yang ditunjukkan olehnya.

Muhammad Roem dan Kasman dalam tulisannya Haji Agus Salim, Memimpin Adalah 
Menderita, mengulang perkataan sang guru mereka, yang mengungkapkan bahwa jalan 
pemimpin bukan jalan yang mudah, memimpin adalah jalan yang menderita. Seperti 
bunyi pepatah kuno Belanda, leiden is lijden, artinya memimpin adalah menderita.

Well, kisah perjuangan Agus Salim layak untuk dijadikan pelajaran bagi penerus 
perjuangan bangsa. Lantas, bagaimana menafsirkan kisah Agus Salim dikaitkan 
dengan diplomasi kita?
 
Gerbang Kedaulatan Indonesia
Situasi politik setelah proklamasi kemerdekaan mengharuskan pemerintah 
Indonesia bekerja keras mendapatkan pengakuan internasional untuk memperkuat 
status negara Indonesia di mata dunia. Salah satu cara untuk mencapai pengakuan 
tersebut yaitu dengan cara diplomasi.

Agus Salim berhasil memberikan contoh bahwa diplomasi Indonesia bukan saja 
mampu meraih pengakuan negara lain pada masa awal kemerdekaan, melainkan juga 
mampu meninggikan martabat bangsa Indonesia.

Muhammad Hasits dalam tulisannya Diplomasi Agus Salim di Negara-negara Arab 
Bikin Belanda Pusing, menceritakan kisah Agus Salim dan rombongan terbang ke 
Mesir. Delegasi Mesir ini yang menjadi gerbang pertama kedaulatan Indonesia di 
mata dunia.

Dipilihnya Agus Salim sebagai ketua tim dikarenakan ia dinilai sebagai seorang 
pemimpin Islam yang cerdas. Ia mahir berpidato dalam bahasa Belanda, Inggris, 
Prancis, Jerman, dan Belanda. Meski pada rombongan saat itu ada pula nama-nama 
seperti Rasjidi, Nazir St Pamoentjak, Abdul Kadir, dan AR Baswedan.

Di Mesir, pidato-pidato Agus Salim memikat rakyat dan pemerintah Mesir. Pidato 
Agus Salim dibumbui dengan gaya humor yang menarik. Mesir akhirnya memutuskan 
untuk mengakui Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat penuh. Indonesia 
berhak mengadakan hubungan diplomatik dengan Mesir. 

Dukungan Mesir langsung membuat harapan Belanda membentuk Indonesia Serikat 
pupus. Setelah pengakuan Mesir, negara-negara Arab lainnya langsung menunjukkan 
dukungannya kepada Indonesia. Bukan hanya karena fasih berbahasa Arab, 
melainkan juga sikap sederhana yang ditunjukkan Agus Salim mampu meluluhkan 
hati negara-negara tersebut.

Kesederhanaan adalah identitas pemimpin yang besar, inilah nilai etis yang 
dicontohkan.  Agus Salim saat berdiplomasi dengan bangsa-bangsa di dunia 
internasional memperlihatkan martabat Indonesia yang berwibawa.

Seperti itulah sebagian cerita dari sosok Agus Salim dalam berdiplomasi dengan 
negara asing. Harapan bagi para diplomat-diplomat di masa yang akan datang, 
mereka mampu menjadikan kisah Agus Salim sebagai pemicu untuk bertarung dan 
berjuang sekuat tenaga demi tegaknya martabat Indonesia di mata dunia. (I76)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/86B9AC0BE0884CA5AA394F6B422B7D68%40A10Live.

Reply via email to