Written byJ61Friday, May 27, 2022 19:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/saatnya-andika-in-prabowo-out/
Saatnya Andika In, Prabowo Out?
Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa kembali mengemuka sebagai kandidat 
potensial pemilihan presiden (Pilpres) 2024 dari kalangan militer. Lantas, 
apakah Andika mampu mengalahkan keperkasaan Prabowo Subianto selama ini sebagai 
sosok tersebut?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Nama sosok yang dinilai pantas untuk menjadi calon presiden (capres) maupun 
calon wakil presiden (cawapres) pada kontestasi elektoral 2024 silih berganti 
mengemuka.

Teranyar, nama Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa kembali muncul. Itu setelah 
dirinya secara bergiliran menyambangi dua organisasi massa (ormas) Islam 
sekaligus, yaitu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Pusat (PP) 
Muhammadiyah pekan ini.

Penafsiran seketika muncul ketika kunjungan eksternal Andika itu dilakukan 
terhadap dua entitas yang memiliki basis suara pemilih yang cukup signifikan.

Beberapa survei memang terus memunculkan nama Andika ke bursa kandidat suksesor 
Joko Widodo (Jokowi), terutama sebagai calon berlatar belakang militer. 
Belakangan, Andika bahkan dikabarkan masuk dalam kandidat capres yang akan 
diusung Partai Nasdem di 2024.

Meskipun persentase elektabilitasnya belum terlampau besar, Andika dinilai 
menjadi nama segar yang seiring waktu bisa saja menjadi tantangan bagi tokoh 
lain seperti seniornya Prabowo Subianto.

Alasan Panglima TNI mengunjungi PBNU dan PP Muhammadiyah sendiri adalah untuk 
melihat kondisi di eksternal TNI setelah dirinya mengatakan sudah cukup 
memahami detail internal organisasi yang dipimpinnya.

Sayangnya, ekspektasi yang mengemuka hanya menempatkan Andika sebatas calon 
potensial saja. Direktur Eksekutif Kelompok Kajian dan Diskusi Opini Publik 
Indonesia (KedaiKOPI), Kunto Adi Wibowo, misalnya, melihat peluang Andika cukup 
kecil untuk diusung menjadi capres jika berkaca pada elektabilitasnya saat ini.

Kunto membandingkan dengan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo di Pilpres 2019 
yang memiliki elektabilitas lebih besar dari Andika, tetapi tetap kesulitan 
mendapatkan partai politik (parpol) pengusung.

Jenderal Andika sendiri merespons dengan jawaban yang cukup logis di tengah 
kalkulasi politik itu. Dia cukup mengapresiasi dukungan terhadapnya tetapi 
mengatakan bahwa saat ini dirinya akan tetap fokus memimpin TNI.

Lantas, mengapa kunjungan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa itu dikaitkan 
dengan Pilpres 2024? Serta apakah Andika akan benar-benar berkeinginan maju 
menjadi capres ataupun cawapres nantinya?

 
Momentum Tepat Andika Perkasa?

Secara historis, kunjungan orang nomor satu TNI ke ormas keagamaan merupakan 
hal yang lumrah. Panglima TNI periode 2017-2021 Marsekal (Purn.) Hadi Tjahjanto 
misalnya, juga pernah melakukan hal serupa.

Akan tetapi, terdapat satu hal esensial yang menjadi pembeda di balik kunjungan 
Andika tersebut, yakni timing atau momentum ketika berlangsung bersamaan dengan 
dinamika politik yang sedang mengemuka.

Luis Rubio dalam publikasinya berjudul Time in Politics mengatakan bahwa dalam 
dunia politik tidak ada yang lebih penting daripada momentum. Rubio melandaskan 
argumennya pada kecenderungan bahwa segala keputusan dan tindakan tertentu 
dapat memiliki efek dan impresi yang sangat berbeda, tergantung pada momentum 
dan kapan keputusan maupun tindakan itu dibuat.

Sementara itu, John Gibson dalam Political Timing: A Theory of Politicians’ 
Timing of Events juga mengemukakan esensi serupa dari signifikansi momentum 
yang dapat memengaruhi peristiwa politik dalam konteks memaksimalkan benefit 
politik atau meminimalkan biaya politik dari para aktor.
Jika direfleksikan pada kunjungan Jenderal Andika ke dua ormas Islam terbesar 
di Tanah Air, momentum juga tampak cukup jelas menjadi pembeda atas 
interpretasi terbaru perhitungannya menjadi capres di 2024.

Tidak bisa dipungkiri bahwa selain karena faktor kemunculan dalam peringkat 
elektabilitas, momentum kunjungan Andika juga tampak selaras dengan langkah 
serupa dari sejumlah sosok potensial lain di pemilihan presiden (Pilpres) 2024 
belakangan ini.

Sebut saja safari politik yang dilakukan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan 
Kamil (RK) ke sejumlah elite dan pimpinan parpol. Sementara Gubernur DKI 
Jakarta Anies Baswedan juga dinilai memeragakan gestur serupa saat menggelar 
kegiatan yang terkesan meninggalkan pesan politik seperti agenda mudik gratis 
hingga menggelar salat Idulfitri di Jakarta Internasional Stadium (JIS).

Di sudut lain, Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto dipersepsikan 
melakukan safari silaturahmi lebaran ketika ia menyambangi tokoh nasional mulai 
dari Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri hingga Sultan 
Hamengkubuwono X.

Signifikansi momentum itu juga dipertebal dengan momentum lainnya, yakni 
sejumlah jajak pendapat yang terus memunculkan nama Andika ke bursa kandidat 
suksesor Jokowi, terutama sebagai calon berlatar belakang militer.

Survei Litbang Kompas pada awal tahun ini mencuatkan nama Andika ke permukaan 
meskipun hanya meraup 2 persen dalam hal elektabilitas. Kendati begitu, angka 
tersebut berada di atas Ketua DPR RI Puan Maharani yang hanya merengkuh 0,6 
persen suara.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno juga menyiratkan 
bahwa Andika adalah kandidat yang sangat potensial. Survei Parameter Politik 
selalu menempatkan Andika sosok favorit capres dengan latar belakang militer.

Karenanya, kombinasi momentum itu kemungkinan membuat setiap langkah Jenderal 
Andika ke depannya akan selalu dikaitkan dengan proyeksi kontestasi elektoral 
2024.

Lalu pertanyaan berikutnya muncul. Apakah secara personal Andika menginginkan 
posisi sebagai capres atau cawapres di 2024?

 
Atribusi positif yang terus menerus muncul kepada sang Panglima TNI agaknya 
akan memberikan pengaruh dan menjawab pertanyaan tersebut. Secara psikologis, 
terdapat apa yang dinamakan sebagai pygmalion effect, yaitu ketika seseorang 
memiliki potensi dan terus diberikan label positif, orang tersebut akan 
meningkatkan optimisme dirinya dalam melakukan sesuatu.

Dalam dunia politik, pygmalion effect terjadi misalnya saat opini positif 
nyentrik yang dicitrakan terhadap sosok Donald Trump pada akhirnya membuat dia 
melangkah pasti sebagai capres dari Partai Republik dan berhasil memenangkan 
Pilpres Amerika Serikat (AS) pada tahun 2016 silam.

Di Tanah Air, efek psikologis serupa kiranya terjadi kepada Jokowi saat 
mendapat label positif terus menerus ketika dirinya masih menjabat Gubernur 
DKI, sebelum dirinya memantapkan diri sebagai capres di tahun 2014 dan 
memenangkan kontestasi.

Bukan tidak mungkin hal itu juga terjadi kepada Jenderal TNI Andika Perkasa. 
Ini diperkuat dengan pernyataan Adi Prayitno yang mengatakan portofolio politik 
Andika masih sangat mungkin bisa “diolah” ke depannya, yang artinya label 
positif akan mengiringinya.
Namun, ketiadaan kendaraan politik masih menjadi ganjalan terbesar Jenderal 
Andika jika memang nantinya akan meramaikan Pilpres 2024. Lalu, parpol manakah 
yang kiranya dapat memiliki chemistry positif dengannya?

 
Andika Senjata Rahasia PDIP?

Paling tidak ada satu parpol yang selama ini kerap memberikan sinyal dan seolah 
menjadi penyokong tidak langsung terhadap sosok Andika. Parpol itu tak lain 
adalah PDIP.

Sinyal politik semacam itu dijelaskan oleh Eric Posner dalam tulisannya yang 
berjudul Symbols, Signals, and Social Norms in Politics and The Law. Posner 
mengatakan bahwa suatu tindakan memiliki makna dan sinyal politis tertentu yang 
pada akhirnya dapat menentukan suatu keputusan politik.

Jika ditelusuri, beberapa elite PDIP kerap memberikan sinyal positif terhadap 
Andika Perkasa dalam perjalanan kariernya di TNI. Salah satunya ialah yang 
datang dari politisi senior PDIP yang juga anggota Komisi I DPR RI Effendi 
Simbolon.

Saat perdebatan untuk memilih Laksamana Yudo Margono atau Andika masih 
berlangsung, Effendi telah memastikan sejak awal bahwa Andika-lah yang akan 
menjadi Panglima TNI.

Pengamat militer Khairul Fahmi menilai pernyataan Effendi itu bisa disebut 
sebagai strategi faith accompli atau upaya untuk memberikan tekanan kepada 
Presiden Jokowi sekaligus mengunci agar RI-1 tidak memilih nama selain Andika 
sebagai Panglima TNI saat itu.

Selain itu, Jusuf Wanandi dalam buku Menyibak Tabir Orde Baru menyebut bahwa 
mertua Andika, AM. Hendropriyono adalah jenderal yang punya simpati dengan 
Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Hal itu terlihat dari bagaimana “jasa” 
mertua Andika, AM. Hendropriyono, yang seolah mengamankan karier politik 
Megawati hingga tumbangnya Orde Baru dan terus berlanjut setelah Reformasi.

Dengan elektabilitas Puan yang stagnan di papan bawah serta langkah Gubernur 
Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo yang terkesan tak mendapat restu, Andika 
barang tentu dapat menjadi jalan tengah terbaik bagi PDIP terlepas apakah akan 
diusung sebagai capres atau cawapres nantinya.

Dengan publisitas dan sokongan politik yang positif, tak menutup kemungkinan 
pula bahwa Andika akan menyalip Prabowo sebagai kandidat berlatar belakang 
militer terfavorit di tengah perjalanan menuju 2024.

Apalagi reputasi karier Andika tampak lebih baik dibanding Prabowo, baik dalam 
aspek HAM maupun kepemimpinan revolusionernya di TNI-AD dan TNI secara 
keseluruhan.

Kendati demikian, penjabaran di atas masih sebatas kalkulasi sementara. Satu 
hal penting dan seperti yang telah disampaikan oleh Andika, publik harus tetap 
menaruh kepercayaan bahwa prakiraan politik di atas tidak akan mengganggu fokus 
Andika dalam menunaikan tugas profesionalnya sebagai Panglima TNI. (J61)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/92A6490EB2B34B9EA1D371745382D1F8%40A10Live.

Reply via email to