Written byD74Saturday, May 28, 2022 09:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/menguak-permainan-kekuatan-di-balik-ikn/
Menguak Permainan Kekuatan di Balik IKN
Rusia belakangan ini mengatakan akan membantu merealisasikan pembangunan Ibu 
Kota Negara (IKN). Negeri Beruang Putih itu menjadi satu dari sekian negara 
yang digemborkan akan membantu proyek IKN. Apa kira-kira makna politik 
sebenarnya di balik janji-janji investasi ini? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Kelanjutan proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur (Kaltim) 
masih menjadi bahan perbincangan yang menarik untuk dibahas. Tentunya, itu 
karena lika-liku dinamika IKN tidak hanya berpengaruh pada kelangsungan proyek 
itu sendiri, tetapi juga bagi Indonesia. 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan mega-project ini membutuhkan dana 
sekitar Rp460 triliun. Angka yang tinggi ini jelas menuntut adanya peran 
investasi asing yang besar, karena disebutkan Indonesia hanya akan 
menggelontorkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 20 persen 
dari total pembiayaan IKN. 

Setelah mengalami sejumlah gejolak dalam mendapatkan investor untuk IKN, 
menurut kabar terbaru, Indonesia kini mendapat janji manis dari negara yang 
saat ini menjadi sorotan dunia, yaitu Rusia. Ya, negeri yang dipimpin Presiden 
Vladimir Putin itu dikabarkan akan turut membantu pembangunan IKN. 

Diungkapkan oleh Menteri Pengembangan Ekonomi Rusia, Maxim Reshetnikov, setelah 
bertemu dengan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi di sela-sela 
pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), Rusia menyebut akan memberi 
bantuan dari segi pengalaman dan teknologi yang dimilikinya. Sayangnya, belum 
dijelaskan lagi detailnya akan seperti apa. 

Sontak, kabar ini memantik perbincangan warganet di berbagai media sosial. 
Tidak sedikit yang menyimpulkan ini adalah upaya Rusia untuk mendapatkan “teman 
baru” di panggung internasional, karena tidak dipungkiri, mereka saat ini 
memang tengah mendapatkan tekanan ekonomi dari negara-negara Barat seperti 
Amerika Serikat (AS), dan memperoleh kecaman dunia. 

Di sisi lain, banyak yang mencurigai motif sebenarnya di balik intensi Rusia. 
Ada kecurigaan bahwa bantuan yang dibahas dengan Indonesia tidak akan diberikan 
secara cuma-cuma. Bisa jadi, Rusia menuntut Indonesia untuk membuka hubungan 
yang lebih mendalam dengan mereka dan menjauhi kubu Barat. 

Well, dugaan-dugaan ini bisa saja benar, tetapi masih ada satu pertanyaan 
menarik yang jarang dibahas oleh publik namun memiliki peran penting, yakni 
kenapa kabar tentang janji investor di IKN selalu dijadikan sorotan besar 
media?  

Dan yang menariknya, mengapa pemerintah lebih sering menggemborkan kabar 
tentang potensi investasi ketimbang perkembangan teknis dari IKN itu sendiri? 

 
Nusantara, Ibu Kota Permainan Kekuatan? 
Sejak pertama kali IKN digunjingkan, pemerintah selalu mengapresiasi nama-nama 
negara dan perusahaan besar yang pernah diajak membahas IKN layaknya upaya 
endorsement yang kerap kita lihat di akun-akun penjual barang dan jasa online 
di platform e-commerce. 

Selain Rusia, pemerintah sempat mempromosikan kabar bahwa IKN telah mendapatkan 
perhatian dan bantuan dari Uni Emirat Arab (UEA), Jerman, dan Jepang.  

Kemudian, muncul juga pemberitaan tentang ketertarikan individu besar, seperti 
Elon Musk, pimpinan perusahaan teknologi besar SpaceX dan Tesla yang beberapa 
waktu lalu sempat disebut “tertarik” berinvestasi di IKN dalam bentuk proyek 
landasan pesawat super cepat. Padahal, dari sisi Elon Musk atau dari 
pemberitaan di AS sendiri, sangat jarang ada artikel berita yang membahas hal 
itu. 
Kembali membandingkannya dengan fenomena endorsement, mungkin kita akan paham 
kenapa pemerintah perlu melakukan promosi semacam ini. Tetapi, karena IKN 
adalah sebuah mega-project negara, kita tidak hanya bisa mengandalkan konteks 
IKN layaknya suatu barang dagangan yang perlu dipromosikan. Ada sesuatu yang 
lebih penting di balik promosi IKN selain sekadar endorsement. 

Joseph S. Nye dalam bukunya Soft Power: The Means to Success in World Politics, 
menjelaskan bahwa di era modern ini, lanskap politik internasional sangat 
kental menggunakan apa yang disebutnya sebagai soft power atau kekuatan lunak. 
Ini adalah kemampuan yang dimiliki negara untuk membangun interaksi politik 
dengan negara lain tanpa perlu menggunakan paksaan atau kekuatan keras (hard 
power) seperti tenaga militer.  

Soft power ini umumnya berupa hal-hal yang sifatnya mampu menarik perhatian 
negara lain, sehingga mereka merasa memiliki kepentingan yang sama dengan 
negara yang memiliki soft power tadi. Umumnya, soft power sering dikaitkan 
dengan kerja sama dan kebijakan luar negeri yang terjalin. Dengan demikian, IKN 
pun merupakan salah satu soft power yang dimiliki Indonesia. 

Nye juga menjelaskan, soft power telah berkembang menjadi alat yang sangat 
powerful dalam politik internasional setelah Perang Dunia 2 dan Perang Dingin 
karena dapat menawarkan satu sumber daya yang sangat langka akibat peperangan 
yang selama ratusan tahun dialami umat manusia, yakni kredibilitas. 

Sebagai mega-project yang membutuhkan waktu dan dana yang luar biasanya, kita 
bisa mengartikan IKN sebagai soft power Indonesia telah menjadi manifestasi 
komitmen dan kepercayaan yang ingin dibangun Indonesia dengan negara lain. 

Terkait hal ini, Gerardo del Cerro Santamaria dalam tulisannya Megaprojects, 
Development and Competitiveness, menilai bahwa mega-project belakangan memang 
telah menjadi tren retorika politik internasional.  

Dalam risetnya, Gerardo menyimpulkan bahwa negara yang menciptakan suatu 
mega-project bisa dipastikan tidak hanya bertujuan untuk membenahi administrasi 
atau ketata-kotaan domestiknya, tetapi juga memiliki agenda internasional.  

Salah satunya adalah untuk dijadikan alat soft power demi menarik kerja sama 
dengan negara lain yang kerap tujuan utamanya justru bukan untuk bersama-sama 
membangun mega-project itu sendiri, tetapi hal-hal lain yang lolos dari 
perhatian publik. Contohnya seperti transfer teknologi dan penguatan sistem 
digital. 

Dengan pandangan ini, bisa kita simpulkan bahwa adalah hal yang keliru bila 
kita terlalu berkutat di permasalahan teknis IKN. Di balik dana dan waktu 
fantastis yang dibutuhkan untuk merealisasinya, perlu disadari bahwa ada sebuah 
permainan kekuatan atau power play politik internasional yang bisa jadi justru 
memang dijadikan alasan utama kenapa proyek besar itu perlu diciptakan. 

Lantas, jika IKN memang hanya digunakan sebagai panggung power play 
internasional, bagaimana dampaknya pada kelangsungan proyek itu sendiri? 
Perangkap Power Play 
Tidak seperti negara besar layaknya AS, Indonesia tidak memiliki hard power 
untuk menekan kebijakan luar negerinya ke dalam kolam kepentingan yang kita 
sebut sebagai politik internasional.  

Jika kita lihat negeri Paman Sam, tanpa menggunakan banyak basa-basi, mereka 
bisa menuntut negara lain untuk bertindak sesuatu. Jelas, itu karena mereka 
memiliki kekuatan ekonomi dan pertahanan yang sangat besar. 

Tiongkok pun bisa menjadi contoh. Dengan menggunakan agenda Belt and Road 
Initiative (BRI), mereka bisa dengan agresif melakukan pendekatan ke 
negara-negara lain dan menciptakan relasi ekonomi yang begitu besar. 

Faktor ini menjadi pendorong kuat kenapa Indonesia perlu menggunakan soft power 
dalam mengeksekusi kepentingan nasionalnya. Namun, melihat bagaimana IKN telah 
dijadikan alat untuk power play, ada sebuah potensi bahwa ini akan menjadi 
perangkap yang berbahaya bagi Indonesia. 

Bent Flyvbjerg dalam tulisannya Underestimating Costs in Public Works Projects: 
Error or Lie?, menyebutkan bantuan yang berasal dari konteks politik 
internasional dalam mega-project kerap menjadikan proyek tersebut hanya sebagai 
panggung kontemporer yang fungsinya tidak lain hanya sebagai kampanye di 
tataran politik internasional.  

Hal ini karena para politisi dan birokrat kerap fokus pada upaya mendapat 
dukungan politik saja, sementara komitmen dan pelaksanaan pembangunannya itu 
sendiri kerap diabaikan. 

Bisa disederhanakan, mega-project menurut Flyvbjerg seringkali hanya menjadi 
agenda yang membuang banyak waktu dan uang. Dan kalau dilihat dari historisnya, 
apa yang dikatakan Flyvbjerg tidak berlebihan, banyak contoh kasus proyek besar 
yang kini ditinggalkan. Sebutlah proyek Pelabuhan Hambanthota di Sri Lanka, Ibu 
Kota Baru Naypidaw di Myanmar, dan Forest City di Malaysia. 

Tentu kabar masuknya kembali Rusia ke proyek IKN bisa kita lihat sebagai hal 
yang positif. Tetapi di samping itu, perlu ada pandangan baru di publik bahwa 
janji-janji investasi di IKN bukanlah tujuan utama mengapa proyek itu 
diciptakan.  

Sederhananya, IKN telah menjadi “bahan obrolan” Indonesia sebagai negara yang 
tidak memiliki hard power untuk memulai hubungan yang intensif dengan berbagai 
negara di dunia.  

Semoga saja, IKN tidak berakhir seperti mega-project gagal yang pernah ada di 
negara-negara tetangga kita, yang hanya berfungsi sebagai topik pembuka obrolan 
dengan para pemain besar dunia. (D74) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/37613C8F08874A3B80C11F7EEBF19B85%40A10Live.

Reply via email to