*Sepatutnya urusan negara  dipisahkan dari urusan agama, karena negara
tidak bisa menjamin warga negara nya  masuk surga dan taman firdausnya yang
penuh bidadari cantik bin molek  serta montok nan sexy di hari kemudian
setelah hayat berpisah dari tubuh untuk selama-lamanya.*

https://www.sinarharapan.co/politik/pr-3853496519/ketua-dpd-ada-keinginan-pihak-tertentu-pisahkan-agama-dari-urusan-negara
Ketua DPD: Ada Keinginan Pihak Tertentu Pisahkan Agama Dari Urusan Negara

Banjar Chaeruddin

- Senin, 30 Mei 2022 | 21:48 WIB

[image: https://www.gonews.co/assets/news/19052017/gonewsco_jbhnh_21293.jpg]

*Ketua DPD LaNyalla M Mattalitti (Sumber: goriau.com <http://goriau.com>)*

SINARHARAPAN--Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menegaskan negara
<https://www.sinarharapan.co/tag/negara> Indonesia adalah negara
<https://www.sinarharapan.co/tag/negara> berketuhanan seperti yang tertulis
dalam Sila Pertama Pancasila <https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila> namun
cenderung menjadi sekuler dengan adanya keinginan pihak tertentu yang ingin
memisahkan agama <https://www.sinarharapan.co/tag/agama> dan negara
<https://www.sinarharapan.co/tag/negara>.

"Apabila negara <https://www.sinarharapan.co/tag/negara> ini adalah negara
<https://www.sinarharapan.co/tag/negara> yang berketuhanan seperti tertulis
dalam Sila Pertama Pancasila <https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila>,
mengapa negara <https://www.sinarharapan.co/tag/negara> ini cenderung
menjadi sekuler dengan adanya keinginan pihak tertentu memisahkan agama
<https://www.sinarharapan.co/tag/agama> dan negara
<https://www.sinarharapan.co/tag/negara>,” katanya dalam Simposium Nasional
"Gerakan Pembumian Pancasila <https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila>"
di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Senin.

Simposium yang digelar di Ende itu merupakan rangkaian acara Peringatan
Hari Lahir Pancasila <https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila> yang
diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila
<https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila> (BPIP).

LaNyalla mempertanyakan apakah Pancasila
<https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila> masih konsisten diterapkan
sebagai falsafah dan landasan berbangsa dan bernegara di Indonesia karena
agama <https://www.sinarharapan.co/tag/agama> kerap disebut politik
identitas yang seharusnya hanya pantas berada di wilayah privat sehingga
cocok berada di masjid, gereja, pura, vihara, dan tempat peribadatan
lainnya.

“Akibatnya apa? Kita menyaksikan polarisasi masyarakat semakin meningkat
akibat pertentangan politik Identitas. Sampai-sampai anak bangsa kita
secara tidak sadar seolah membenturkan pilihan antara Pancasila
<https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila> atau agama
<https://www.sinarharapan.co/tag/agama>. Padahal tidak ada satu tesis pun
yang menjelaskan bahwa Pancasila
<https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila> bertentangan
dengan agama <https://www.sinarharapan.co/tag/agama>,” kata Senator asal
Surabaya, Provinsi Jawa Timur itu.

Apalagi, menurut dia, sangat jelas bahwa Pasal 29 Ayat 1 Konstitusi
Indonesia tegas berbunyi Negara Berdasar Atas Ketuhanan yang Maha Esa,
artinya negara <https://www.sinarharapan.co/tag/negara> ini adalah negara
<https://www.sinarharapan.co/tag/negara> yang berketuhanan sehingga tidak
ada tempat bagi orang yang antiagama.

Ia mengajak semua peserta simposium untuk mengingat kembali pada tanggal 13
November 1998 saat Reformasi melalui Ketetapan MPR Nomor 18 Tahun 1998, MPR
telah mencabut Ketetapan tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila <https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila> (P4).

Alasan pencabutan, kata dia, Ketetapan MPR tentang P4 karena materi muatan
dan pelaksanaannya sudah tidak sesuai dengan perkembangan kehidupan
bernegara.

Ia mengatakan sejak November 1998, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila <https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila> dianggap sudah tidak
sesuai dengan perkembangan kehidupan bernegara.

“Demi apa semua itu dilakukan? Jawabnya demi menjadi bangsa lain. Demi
menjadi bangsa yang dianggap Demokratis dalam ukuran kaca mata Barat.
Inilah yang kerap saya sebut bahwa kita sebagai bangsa telah durhaka kepada
para pendiri bangsa,” tegasnya.

Dia mengatakan hal itu merupakan fakta bahwa ternyata bangsa ini telah
meninggalkan Pancasila <https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila>,
meninggalkan nilai-nilai yang digali Bung Karno di Ende selama empat tahun
dalam pengasingan di kabupaten di Pulau Flores itu.

Padahal, menurut dia, sudah jelas bahwa para pendiri bangsa telah
bersepakat Pancasila <https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila> adalah
nilai yang paling tepat bagi bangsa ini sehingga sudah seharusnya
menjadikan Lima Sila dalam Pancasila
<https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila> sebagai pedoman dalam
menjalankan negara <https://www.sinarharapan.co/tag/negara> ini.

"Itulah mengapa Pancasila <https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila> harus
dibumikan karena itu kami berharap kepada pengurus Gerakan Pembumian
Pancasila <https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila> untuk bekerja lebih
keras dan menyadari posisi Pancasila
<https://www.sinarharapan.co/tag/Pancasila> di negeri ini," kata dia.

Editor: Banjar Chaeruddin

Sumber: Antara

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2Am%2B0kS_gGubupHCN54D9o5owzr_w31tcV78a859wCLww%40mail.gmail.com.

Reply via email to