Written byJ61Wednesday, June 1, 2022 17:10

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/megawati-korbankan-puan/
Megawati Korbankan Puan?
Gestur yang ditafsirkan sebagai dukungan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) 
kepada Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo sebagai calon presiden 
(capres) 2024 seolah memanaskan tensi internal PDIP yang digadang mengusung 
Puan Maharani. Lantas, seperti apa skenario akhir dari intrik internal PDIP itu?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

“Mungkin yang kita dukung ada disini,”. Penggalan pernyataan Presiden Joko 
Widodo (Jokowi) dalam Rakernas V Relawan Pro Jokowi (Projo) di Kabupaten 
Magelang, Jawa Tengah pada 21 Mei lalu itu meninggalkan kesan yang menarik 
sampai saat ini.

Pasalnya, itu disampaikan Jokowi saat berbicara mengenai sosok calon presiden 
(capres) 2024 mendatang dan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo hadir 
di tempat yang sama.

Meskipun jika dilihat secara utuh, pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta itu 
adalah imbauan agar tidak tergesa-gesa dalam memberikan dukungan kepada sosok 
capres, tetap saja, frasa “kita” diterjemahkan sejumlah pengamat sebagai 
dukungannya kepada Ganjar.

Indikasi dukungan itu dinilai telah ditunjukkan Presiden Jokowi dalam sejumlah 
kesempatan. Hal ini sebagaimana analisa Direktur Eksekutif Political and Public 
Policy Studies (P3S) Jerry Massie yang menjelaskan bahwa sinyal dukungan Jokowi 
kepada Ganjar sudah terbaca dari bahasa verbal dan nonverbal selama ini.

 
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan menganalisa 
lebih jauh mengenai ikhtisar pernyataan Jokowi. Dia melihat pernyataan tersebut 
tak hanya sinyal dukungan bagi Ganjar, tetapi juga menilai bahwa Jokowi ingin 
menjadi king maker dalam kontestasi elektoral 2024.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Paramadina Jakarta Hendri 
Satrio atau Hensat justru mengkritik bahwa semestinya, sebagai pemimpin, Jokowi 
mutlak tidak memberikan gestur dukungan dalam bentuk apapun kepada siapapun. 
Bahkan, acara Projo di Magelang itu dianggap Hensat sebagai sebuah blunder.

Well, gestur dukungan Presiden Jokowi itu agaknya memang berpotensi 
meningkatkan tensi di internal PDIP. Hal itu dikarenakan adanya benturan dengan 
sosok Puan Maharani – putri Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri – 
yang juga terus ditonjolkan sebagai kandidat dalam pemilihan presiden (Pilpres) 
2024 mendatang.

Bahkan, ketidakhadiran Megawati dan Puan dalam acara pernikahan adik Jokowi 
dengan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman pada 26 Mei lalu jamak 
dinilai sebagai reaksi atas dukungan RI-1 kepada Ganjar.

Lantas pertanyaannya, seperti apakah skenario akhir yang kemungkinan besar akan 
terjadi dari intrik internal PDIP itu?

Titah Absolut Megawati

Selama ini, bukan rahasia lagi bahwa keputusan final dalam dinamika yang 
terjadi di PDIP tidak bisa dilepaskan dari apa yang menjadi sabda sang Ketum, 
Megawati Soekarnoputri.

Pasca intrik dukungan Jokowi kepada Ganjar, Ketua Badan Pemenangan Pemilu 
(Bappilu) Bambang Wuryanto hingga Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto 
Kristiyanto memberikan jawaban “template” bahwasanya capres yang akan diusung 
PDIP berujung pada keputusan Megawati nantinya.

Mengapa demikian?
 
Salah satu pendekatan yang kiranya tepat untuk memahami dinamika internal 
partai banteng ialah melalui perspektif politik Jawa. Tanpa bertendensi 
Jawa-sentris, perspektif tersebut dinilai memiliki signifikansinya tersendiri 
sebagaimana yang dijelaskan Aris Huang dalam Jokowi-Prabowo political 
reconciliation as Javanese strategy.

Huang mengatakan bahwa “dominasi Jawa” di Indonesia telah berkontribusi 
membentuk lanskap politik di Tanah Air, mulai dari nilai-nilai dalam interaksi 
para aktor politik hingga konsep kepemimpinan Jawa.

Politik memang diliputi kecenderungan pragmatisme, namun nilai serta konsep itu 
masih jamak dipegang teguh hingga saat ini oleh sebagian politikus. Bahkan 
tetap diamalkan ketika esensi nilai itu terkesan tidak demokratis yang mana 
salah satunya masih tercermin dalam aspek kepemimpinan.

Politikus kawakan tanah air, Fahri Hamzah memiliki perspektif mengenai hal ini. 
Dalam bukunya yang berjudul Buku Putih: Kronik Daulat Rakyat vs Daulat Parpol, 
Fahri menyebutkan bahwa relasi masyarakat dengan pemimpin dalam falsafah Jawa 
berbeda dengan nilai-nilai kepemimpinan dalam demokrasi.

Mengutip Niels Mulder, dikatakan bahwa dalam tatanan sosial Jawa, rakyat 
dilarang memikirkan moralitas penguasa apalagi hingga mempertanyakannya. Etika 
dan keharmonisan menjadi alasannya.

Selain dapat menjelaskan mengapa Megawati menjadi pemegang tunggal titah 
absolut segala keputusan PDIP, telaah di atas agaknya juga memiliki pertalian 
dengan kemungkinan keputusan sosok yang akan jadi jagoan PDIP di Pilpres 2024 
mendatang.

Benedict R. Anderson dalam Language and Power: Exploring Political Cultures in 
Indonesia menjelaskan bahwa berdasarkan falsafah Jawa, harmoni dan ketenteraman 
merupakan tujuan utama dari eksistensi kekuasaan.

Oleh karena itu, kepemimpinan dengan karakteristik raja (God-king) sebagai 
pusat kekuatan dianggap penting untuk menciptakan harmoni tersebut.

Kala direfleksikan pada kata kunci berupa PDIP, Megawati, dan Pilpres 2024, ide 
pokok pemikiran Anderson kiranya dapat memberikan petunjuk terhadap kepastian 
siapa sosok yang akan diusung partai banteng.

Regenerasi kepemimpinan Megawati yang selama lebih dari dua dekade telah 
membawa harmoni di PDIP tentu akan terjadi. Sebagai sosok prominen yang dikenal 
sebagai pemegang simbol trah Soekarno, bukan tidak mungkin Megawati akan 
berupaya mempertahankan karakteristik kepemimpinan God-king demi kesinambungan 
harmoni internal PDIP.

Aria Bima, salah satu politikus elite PDIP, pernah mengatakan bahwa faktor 
kepemimpinan trah Soekarno-lah yang menjadi pemersatu internal terkuat partai 
sampai saat ini.

Puan Maharani lantas menjadi satu-satunya sosok yang memenuhi kriteria tersebut 
untuk meneruskan estafet kepemimpinan Megawati di PDIP. Dan untuk menjadi 
pemimpin simbolik, Puan tentu membutuhkan jabatan politik prestisius dalam 
pemerintahan agar memiliki legitimasi memimpin partai.

Megawati dinilai tidak akan mengorbankan Puan demi sosok lain di Pilpres 2024 
demi tujuan lebih besar, yakni harmoni dan stabilitas PDIP ke depannya. Bahkan, 
opsi mengusung Puan kiranya akan tetap diutamakan meski PDIP hanya akan 
menyumbang jabatan cawapres jika mengacu pada rendahnya elektabilitas Ketua DPR 
RI itu.

Oleh karena itu, Pilpres 2024 akan menjadi pertaruhan besar bagi PDIP. Bukan 
hanya dalam arena pertarungan elektoral, tetapi juga mengenai masa depan partai.
Terkait dengan masa depan partai dan korelasinya dengan faktor trah Soekarno, 
satu hal sesungguhnya masih mengganjal bagi PDIP. Tidak lain tentang apakah 
simbolisasi Bapak Proklamator masih akan terus relevan bagi PDIP sepeninggal 
Megawati kelak?

 
Kultus Pragmatis Pada Soekarno?

Megawati seolah memang melakukan pengkultusan sosok Presiden RI pertama 
Soekarno. Mulai dari pembuatan patung hingga penamaan fasilitas institusi 
pemerintahan, dinilai tak terlepas dari inisiasi Megawati sebagaimana yang 
pernah dibahas dalam Mengapa Megawati “Kultuskan” Soekarno?.

Bahkan Megawati juga pernah mengusulkan pelurusan sejarah mengenai Soekarno dan 
tragedi 1965 kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem 
Makarim pada November 2020 silam.

Xavier Marquez dalam A Model of Cults of Personality mengatakan bahwa 
pengkultusan sosok tertentu sebagai flattery inflation atau inflasi pujian, 
yaitu adanya kecenderungan kuat pujian atau sanjungan akan diberikan kepada 
sosok tersebut.

Pengkultusan ini acap kali terjadi pada pemimpin politik dengan karakter 
karismatik demi pengukuhan kekuasaan. Beberapa di antaranya ialah Fidel Castro, 
Xi Jinping, hingga rival politik Soekarno sendiri, Soeharto.

Di samping apa yang dikatakan Marquez, khusus bagi Megawati, pengkultusan 
Soekarno kemungkinan juga bertujuan menjaga karakter sekaligus harmoni PDIP 
seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Akan tetapi, pengkultusan itu bisa saja tak menemui momentum dan relevansinya 
lagi di kemudian hari bagi internal PDIP. Kembali lagi, hal ini terkait dengan 
siapa sosok yang benar-benar menjadi suksesor Megawati nantinya serta apakah 
sosok itu memegang kekuasaan atau tidak.

Anderson menjelaskan pula mengenai hal ini bahwasannya ketika God-king 
memimpin, pengikut maupun entitas lain memainkan peran sebagai pemberi tribut 
kepada sang penguasa dengan jaminan perlindungan dan keamanan. Artinya, 
terdapat alasan pragmatis mengapa para pengikut sang raja patuh.

Jika diterjemahkan, pengkultusan Soekarno yang seolah menjadi alat pemersatu 
internal PDIP bisa saja karena dua faktor pendukung, yakni partai sedang 
berkuasa serta dipimpin oleh trah langsung Putra Sang Fajar.

Dengan kata lain, falsafah pengkultusan yang bertujuan menjaga harmoni partai 
bisa saja tak menemui relevansinya lagi ketika salah satu atau kedua faktor 
tersebut hilang.

Atas dinamika yang saat ini tengah berkembang, PDIP dipastikan akan melakukan 
pertaruhan besar pada Pilpres 2024 mendatang. Bukan hanya konteks 
mempertahankan kekuasaan, tetapi demi nasib partai di masa yang akan datang. 
Menarik untuk dinantikan. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/8D6D358B581C4306AA33AF8E2423740D%40A10Live.

Reply via email to