Mungkin bukan dikorbankan, ttapi diselamatkan dari kekalahan....? Op do 2 jun. 2022 om 08:48 schreef Sunny ambon <[email protected]>:
> > *Dikorbankan siapa pun, yang berkuasa adalah dari kalangan klik elit > neo-Mojopahit, jadi tidak perlu heboh atau heran bin takjub, sebab yang > berkuasa adalah mereka itu-itu juga.Wajah baru muncul, tetapi tindakan > serupa dari terdahulu..* > > On Thu, Jun 2, 2022 at 3:11 AM Chan CT <[email protected]> wrote: > >> Written by*J61* <https://www.pinterpolitik.com/author/j61/> >> Wednesday, June 1, 2022 17:10 >> >> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/megawati-korbankan-puan/ >> Megawati Korbankan Puan? >> [image: Menyoal Dendam Kesumat Mega] >> >> *Gestur yang ditafsirkan sebagai dukungan dari Presiden Joko Widodo >> (Jokowi) kepada Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo sebagai calon >> presiden (capres) 2024 seolah memanaskan tensi internal PDIP yang digadang >> mengusung Puan Maharani. Lantas, seperti apa skenario akhir dari intrik >> internal PDIP itu?* >> ------------------------------ >> >> *PinterPolitik.com <https://www.pinterpolitik.com/>* >> >> “Mungkin yang kita dukung ada disini,”. Penggalan pernyataan Presiden >> Joko Widodo (Jokowi) dalam Rakernas V Relawan Pro Jokowi (Projo) di >> Kabupaten Magelang, Jawa Tengah pada 21 Mei lalu itu meninggalkan kesan >> yang menarik sampai saat ini. >> >> Pasalnya, itu disampaikan Jokowi saat berbicara mengenai sosok calon >> presiden (capres) 2024 mendatang dan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar >> Pranowo hadir di tempat yang sama. >> >> Meskipun jika dilihat secara utuh, pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta >> itu adalah imbauan agar tidak tergesa-gesa dalam memberikan dukungan kepada >> sosok capres, tetap saja, frasa “kita” diterjemahkan sejumlah pengamat >> sebagai dukungannya kepada Ganjar. >> >> Indikasi dukungan itu dinilai telah ditunjukkan Presiden Jokowi dalam >> sejumlah kesempatan. Hal ini sebagaimana analisa Direktur Eksekutif >> Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie yang menjelaskan >> bahwa sinyal dukungan Jokowi kepada Ganjar sudah terbaca dari bahasa verbal >> dan nonverbal selama ini. >> [image: kenapa mega puan tidak hadir ed.] >> <https://www.instagram.com/p/CeNb3SNBIi6/> >> >> Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan >> menganalisa lebih jauh mengenai ikhtisar pernyataan Jokowi. Dia melihat >> pernyataan tersebut tak hanya sinyal dukungan bagi Ganjar, tetapi juga >> menilai bahwa Jokowi ingin menjadi *king maker* dalam kontestasi >> elektoral 2024. >> >> Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Paramadina Jakarta >> Hendri Satrio atau Hensat justru mengkritik bahwa semestinya, sebagai >> pemimpin, Jokowi mutlak tidak memberikan gestur dukungan dalam bentuk >> apapun kepada siapapun. Bahkan, acara Projo di Magelang itu dianggap Hensat >> sebagai sebuah blunder. >> >> *Well*, gestur dukungan Presiden Jokowi itu agaknya memang berpotensi >> meningkatkan tensi di internal PDIP. Hal itu dikarenakan adanya benturan >> dengan sosok Puan Maharani – putri Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati >> Soekarnoputri – yang juga terus ditonjolkan sebagai kandidat dalam >> pemilihan presiden (Pilpres) 2024 mendatang. >> >> Bahkan, ketidakhadiran Megawati dan Puan dalam acara pernikahan adik >> Jokowi dengan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman pada 26 Mei lalu >> jamak dinilai sebagai reaksi atas dukungan RI-1 kepada Ganjar. >> >> Lantas pertanyaannya, seperti apakah skenario akhir yang kemungkinan >> besar akan terjadi dari intrik internal PDIP itu? >> >> *Titah Absolut Megawati* >> >> Selama ini, bukan rahasia lagi bahwa keputusan final dalam dinamika yang >> terjadi di PDIP tidak bisa dilepaskan dari apa yang menjadi sabda sang >> Ketum, Megawati Soekarnoputri. >> >> Pasca intrik dukungan Jokowi kepada Ganjar, Ketua Badan Pemenangan Pemilu >> (Bappilu) Bambang Wuryanto hingga Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto >> Kristiyanto memberikan jawaban “*template*” bahwasanya capres yang akan >> diusung PDIP berujung pada keputusan Megawati nantinya. >> Mengapa demikian? >> [image: infografis lima paslon potensial pilpres 2024] >> <https://www.instagram.com/p/CeIoncEhI3I/> >> >> Salah satu pendekatan yang kiranya tepat untuk memahami dinamika internal >> partai banteng ialah melalui perspektif politik Jawa. Tanpa bertendensi >> Jawa-sentris, perspektif tersebut dinilai memiliki signifikansinya >> tersendiri sebagaimana yang dijelaskan Aris Huang dalam *Jokowi-Prabowo >> political reconciliation as Javanese strategy*. >> >> Huang mengatakan bahwa “dominasi Jawa” di Indonesia telah berkontribusi >> membentuk lanskap politik di Tanah Air, mulai dari nilai-nilai dalam >> interaksi para aktor politik hingga konsep kepemimpinan Jawa. >> >> Politik memang diliputi kecenderungan pragmatisme, namun nilai serta >> konsep itu masih jamak dipegang teguh hingga saat ini oleh sebagian >> politikus. Bahkan tetap diamalkan ketika esensi nilai itu terkesan tidak >> demokratis yang mana salah satunya masih tercermin dalam aspek kepemimpinan. >> >> Politikus kawakan tanah air, Fahri Hamzah memiliki perspektif mengenai >> hal ini. Dalam bukunya yang berjudul *Buku Putih: Kronik Daulat Rakyat >> vs Daulat *Parpol, Fahri menyebutkan bahwa relasi masyarakat dengan >> pemimpin dalam falsafah Jawa berbeda dengan nilai-nilai kepemimpinan dalam >> demokrasi. >> >> Mengutip Niels Mulder, dikatakan bahwa dalam tatanan sosial Jawa, rakyat >> dilarang memikirkan moralitas penguasa apalagi hingga mempertanyakannya. >> Etika dan keharmonisan menjadi alasannya. >> >> Selain dapat menjelaskan mengapa Megawati menjadi pemegang tunggal titah >> absolut segala keputusan PDIP, telaah di atas agaknya juga memiliki >> pertalian dengan kemungkinan keputusan sosok yang akan jadi jagoan PDIP di >> Pilpres 2024 mendatang. >> >> Benedict R. Anderson dalam *Language and Power: Exploring Political >> Cultures in Indonesia* menjelaskan bahwa berdasarkan falsafah Jawa, >> harmoni dan ketenteraman merupakan tujuan utama dari eksistensi kekuasaan. >> >> Oleh karena itu, kepemimpinan dengan karakteristik raja (*God-king*) >> sebagai pusat kekuatan dianggap penting untuk menciptakan harmoni tersebut. >> >> Kala direfleksikan pada kata kunci berupa PDIP, Megawati, dan Pilpres >> 2024, ide pokok pemikiran Anderson kiranya dapat memberikan petunjuk >> terhadap kepastian siapa sosok yang akan diusung partai banteng. >> >> Regenerasi kepemimpinan Megawati yang selama lebih dari dua dekade telah >> membawa harmoni di PDIP tentu akan terjadi. Sebagai sosok prominen yang >> dikenal sebagai pemegang simbol trah Soekarno, bukan tidak mungkin Megawati >> akan berupaya mempertahankan karakteristik kepemimpinan *God-king* demi >> kesinambungan harmoni internal PDIP. >> >> Aria Bima, salah satu politikus elite PDIP, pernah mengatakan bahwa >> faktor kepemimpinan trah Soekarno-lah yang menjadi pemersatu internal >> terkuat partai sampai saat ini. >> >> Puan Maharani lantas menjadi satu-satunya sosok yang memenuhi kriteria >> tersebut untuk meneruskan estafet kepemimpinan Megawati di PDIP. Dan untuk >> menjadi pemimpin simbolik, Puan tentu membutuhkan jabatan politik >> prestisius dalam pemerintahan agar memiliki legitimasi memimpin partai. >> >> Megawati dinilai tidak akan mengorbankan Puan demi sosok lain di Pilpres >> 2024 demi tujuan lebih besar, yakni harmoni dan stabilitas PDIP ke >> depannya. Bahkan, opsi mengusung Puan kiranya akan tetap diutamakan meski >> PDIP hanya akan menyumbang jabatan cawapres jika mengacu pada rendahnya >> elektabilitas Ketua DPR RI itu. >> Oleh karena itu, Pilpres 2024 akan menjadi pertaruhan besar bagi PDIP. >> Bukan hanya dalam arena pertarungan elektoral, tetapi juga mengenai masa >> depan partai. >> >> Terkait dengan masa depan partai dan korelasinya dengan faktor trah >> Soekarno, satu hal sesungguhnya masih mengganjal bagi PDIP. Tidak lain >> tentang apakah simbolisasi Bapak Proklamator masih akan terus relevan bagi >> PDIP sepeninggal Megawati kelak? >> [image: ganjar jadi timses puan] >> <https://www.instagram.com/p/Cd_Khyth_7C/> >> >> *Kultus Pragmatis Pada Soekarno?* >> >> Megawati seolah memang melakukan pengkultusan sosok Presiden RI pertama >> Soekarno. Mulai dari pembuatan patung hingga penamaan fasilitas institusi >> pemerintahan, dinilai tak terlepas dari inisiasi Megawati sebagaimana yang >> pernah dibahas dalam *Mengapa Megawati “Kultuskan” Soekarno? >> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mengapa-megawati-kultuskan-soekarno/>* >> . >> >> Bahkan Megawati juga pernah mengusulkan pelurusan sejarah mengenai >> Soekarno dan tragedi 1965 kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan >> (Mendikbud) Nadiem Makarim pada November 2020 silam. >> >> Xavier Marquez dalam *A Model of Cults of Personality* mengatakan bahwa >> pengkultusan sosok tertentu sebagai *flattery inflation* atau inflasi >> pujian, yaitu adanya kecenderungan kuat pujian atau sanjungan akan >> diberikan kepada sosok tersebut. >> >> Pengkultusan ini acap kali terjadi pada pemimpin politik dengan karakter >> karismatik demi pengukuhan kekuasaan. Beberapa di antaranya ialah Fidel >> Castro, Xi Jinping, hingga rival politik Soekarno sendiri, Soeharto. >> >> Di samping apa yang dikatakan Marquez, khusus bagi Megawati, pengkultusan >> Soekarno kemungkinan juga bertujuan menjaga karakter sekaligus harmoni PDIP >> seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. >> >> Akan tetapi, pengkultusan itu bisa saja tak menemui momentum dan >> relevansinya lagi di kemudian hari bagi internal PDIP. Kembali lagi, hal >> ini terkait dengan siapa sosok yang benar-benar menjadi suksesor Megawati >> nantinya serta apakah sosok itu memegang kekuasaan atau tidak. >> >> Anderson menjelaskan pula mengenai hal ini bahwasannya ketika *God-king* >> memimpin, >> pengikut maupun entitas lain memainkan peran sebagai pemberi tribut kepada >> sang penguasa dengan jaminan perlindungan dan keamanan. Artinya, terdapat >> alasan pragmatis mengapa para pengikut sang raja patuh. >> >> Jika diterjemahkan, pengkultusan Soekarno yang seolah menjadi alat >> pemersatu internal PDIP bisa saja karena dua faktor pendukung, yakni partai >> sedang berkuasa serta dipimpin oleh trah langsung Putra Sang Fajar. >> >> Dengan kata lain, falsafah pengkultusan yang bertujuan menjaga harmoni >> partai bisa saja tak menemui relevansinya lagi ketika salah satu atau kedua >> faktor tersebut hilang. >> >> Atas dinamika yang saat ini tengah berkembang, PDIP dipastikan akan >> melakukan pertaruhan besar pada Pilpres 2024 mendatang. Bukan hanya konteks >> mempertahankan kekuasaan, tetapi demi nasib partai di masa yang akan >> datang. Menarik untuk dinantikan. (J61) >> >> -- >> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google >> Grup. >> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >> kirim email ke [email protected]. >> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi >> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/8D6D358B581C4306AA33AF8E2423740D%40A10Live >> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/8D6D358B581C4306AA33AF8E2423740D%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> >> . >> > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2BLB7BbzoF626tWzO6XHA-naqdnx02dVtGMDTDefNngjg%40mail.gmail.com > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2BLB7BbzoF626tWzO6XHA-naqdnx02dVtGMDTDefNngjg%40mail.gmail.com?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavj3Rsim7PfO%2BVTtP7vrhh77rghw%2B-mq-sJddhtfF0vwkg%40mail.gmail.com.
