Written byJ61Thursday, June 2, 2022 19:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kritik-bang-yos-grace-gagal-paham/
Kritik Bang Yos, Grace Gagal Paham?
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie 
menuding pendapat mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso soal 
tenaga kerja asing (TKA) bertendensi rasis. Namun, sindiran Grace itu agaknya 
keliru karena bernuansa kepentingan tertentu. Mengapa demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Jika biasanya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjadi langganan kritik, 
kali ini Partai Solidaritas Indonesia (PSI) seolah berpaling sejenak dan 
mengarahkan manuvernya kepada mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) 
Sutiyoso.

Tampak tak biasa memang, mengingat sasaran kritik itu adalah orang dengan 
kaliber seperti Sutiyoso, atau akrab disapa Bang Yos, yang telah malang 
melintang dengan pengalamannya di kancah politik dan pemerintahan tanah air.

Kritikan itu sendiri disampaikan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas 
Indonesia (PSI) Grace Natalie merespons pernyataan Sutiyoso mengenai tenaga 
kerja asing (TKA) asal Tiongkok di Indonesia.

Dalam sebuah pidato pada 18 Mei lalu, Sutiyoso mengungkapkan kekhawatirannya 
tentang keberadaan tenaga kerja asing (TKA) dari Tiongkok yang terus 
berdatangan akan berpotensi menjadi ancaman demografi di kemudian hari jika 
tidak diantisipasi.

Grace lantas mengkritik ucapan Bang Yos itu karena dinilai cukup tendensius dan 
bernada rasis. Selain itu, Grace menganggap pernyataan tersebut berpotensi 
memecah belah bangsa.

 
Dalam kanal Youtube Karni Ilyas Club yang tayang kemarin, Bang Yos menjelaskan 
lebih lanjut sekaligus berupaya meredam pro dan kontra setelah pidatonya 
tersebut viral di linimasa.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan bahwa tidak ada maksud sedikitpun 
untuk menyinggung etnis Tionghoa di Indonesia. Pernyataannya disebut murni 
sebagai analisis dan warning berdasarkan pengalamannya selama ini. Sutiyoso 
juga menegaskan bahwa dirinya tidak rasis dan sangat nasionalis.

Tak hanya sampai disitu, kritik balik juga mengarah pada Grace dari sejumlah 
tokoh. Pengamat politik, Rocky Gerung mengatakan bahwa pernyataan Sutiyoso 
terkait TKA Tiongkok bukanlah pernyataan sembarangan dan harus menjadi refleksi 
pihak-pihak terkait.

Rocky juga menyindir balik Grace bahwa responsnya kepada Bang Yos itu hanya 
bagian dari pemantik sensasi serta berupaya “menggoreng” isu suku, agama, ras, 
dan antargolongan (SARA).

Sementara itu, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang juga pakar 
telematika Roy Suryo menyebut pernyataan Sutiyoso bisa saja memiliki 
signifikansi. Roy menyebut bahwa ancaman keberadaan TKA Tiongkok bisa 
menyerobot hak tenaga kerja domestik, terutama jika mereka mengambil alih 
pekerjaan yang semestinya dapat dilakukan tenaga kerja Indonesia.

Lantas, mengapa kiranya Grace Natalie mengeluarkan reaksi semacam itu atas 
pernyataan Bang Yos? Adakah kepentingan lain dibaliknya?

 
Agenda Terselubung Grace?
Jika ditelisik dari perspektif kepentingan politik, kritik Grace agaknya memang 
memiliki kecenderungan “gagal paham”. Terlebih sebagaimana yang diutarakan 
Rocky, apa yang dikemukakan Sutiyoso tentu berlandaskan kalkulasi tertentu 
karena dia bukanlah orang sembarangan dengan segudang pengalamannya dalam 
pasang surut perjalanan bangsa.

Pun, Sutiyoso menegaskan bahwa interaksi dengan banyak warga negara Indonesia 
(WNI) keturunan Tionghoa dalam perjalanan kariernya cukup intens dan selalu 
berjalan harmonis. Oleh karena itu, cukup janggal ketika memberikan Bang Yos 
predikat rasis dan dituduh berupaya memecah belah bangsa.
Jika sorotan dikembalikan kepada Grace, paling tidak terdapat tiga hal yang 
saling terkait dan membuatnya tampak gagal paham atas konteks yang dikemukakan 
Bang Yos. Pertama, Grace agaknya mengalami bias kognitif berupa attentional 
bias.

Attentional bias terjadi ketika individu terlalu fokus pada hal-hal yang 
sifatnya ia anggap lebih baik sementara aspek penting lainnya cenderung 
terabaikan. Akibatnya, penilaian terhadap suatu persoalan cenderung tidak 
komprehensif.

Katherine Spencer, Amanda Charbonneau, dan Jack Glaser dalam Implicit Bias and 
Policing menjelaskan lebih dalam mengenai attentional bias yang dapat 
memengaruhi pengambilan keputusan ketika pelabelan atau stereotip justru 
dibangkitkan pada satu konteks tertentu, dengan mengabaikan faktor lain yang 
dalam banyak kesempatan justru signifikan.

Dalam responsnya kepada Sutiyoso, Grace tampak mengalami bias itu. Dia terlihat 
terlalu fokus pada narasi-narasi SARA tanpa merefleksikan lebih dalam esensi 
dari konteks yang dibicarakan serta reputasi orang yang menyampaikannya.

Selain mantan kepala BIN, Sutiyoso adalah tokoh bangsa yang lahir dari 
chandradikmuka kemiliteran. Sebagai seorang prajurit baret merah Kopassus, 
kariernya malang melintang dalam deretan jabatan prestisius, termasuk Panglima 
Komando Daerah Militer (Pangdam) Jaya. Ihwal yang membuat label rasis dan 
memecah belah bangsa dari Grace cukup sulit diterima.

Kedua, Grace kemungkinan juga sedang melakukan framing atau pembingkaian 
tertentu yang memiliki korelasi dengan ihwal ketiga yakni agenda setting.

Teori framing dikemukakan oleh Erving Goffman dalam bukunya yang berjudul Frame 
Analysis. Dia mengemukakan bahwa sesuatu yang disajikan kepada audiens 
bertujuan untuk memengaruhi persepsi orang lain tentang bagaimana memproses 
sebuah informasi dalam satu bingkai spesifik.

Framing ialah abstraksi yang berfungsi untuk mengatur atau menyusun makna pesan 
sesuai dengan “kepentingan” si penyampai pesan. Goffman menyebut bahwa cara itu 
juga merupakan bagian dari bentuk agenda setting, ketika audiens tidak hanya 
diberi tahu tentang apa yang harus dipikirkan, tetapi juga digiring untuk 
memikirkan masalah itu dalam konteks yang diinginkan.

Mengenai framing, Grace terlihat ingin membelokkan diskursus ke dalam bingkai 
lain yang dia inginkan, yakni bahwa persoalan TKA asal Tiongkok yang 
dibicarakan Bang Yos bukan merupakan perkara serius. Sayangnya, pembingkaian 
itu diarahkan ke isu SARA terhadap Sutiyoso yang secara rekam jejak mustahil 
memantik tendensi itu.

Sementara itu, korelasinya dengan agenda setting ialah ada kemungkinan bahwa 
isu SARA diangkat Grace untuk kepentingan politik tertentu. Tidak lain ialah 
terkait upaya menarik simpati publik bahwa PSI adalah partai yang tidak 
memberikan ruang bagi penggunaan isu SARA.

Padahal, Grace sendiri-lah yang seolah membangkitkan isu tersebut dan 
menginterpretasikannya ke dalam konteks SARA.
Di titik ini, kiranya terlihat bahwa Grace gagal dalam memahami dan mencerna 
esensi kekhawatiran Sutiyoso ketika dirinya kemungkinan diliputi oleh bias 
serta berusaha melakukan framing dan agenda setting tertentu.

Khusus probabilitas agenda setting untuk memantik simpati bagi PSI agaknya 
menarik untuk diulas lebih dalam karena terkait dengan kepentingan Grace 
mengenai pertaruhan masa depan partainya. Mengapa demikian?

 
Grace Sabotase PDIP?
Leopoldo Fergusson, dan James Robinson dalam The Need for Enemies, menjelaskan 
politisi akan selalu membutuhkan sosok musuh untuk meraup dukungan politik, 
atau legitimasi hingga mempertahankan karakter hal yang dianggap sebagai 
keunggulan mereka.

Linear dengan Ferguson dan Robinson, Lewis Coser dalam The Function of Social 
Conflict mengemukakan teori konflik sosial, yaitu bahwasanya konflik sengaja 
dibuat untuk menciptakan solidaritas sosial baru.

Esensi dari ketiganya dinilai dapat diinterpretasikan kepada kemungkinan agenda 
setting Grace Natalie bagi PSI. Mengingat akan kehilangan musuh bebuyutannya, 
yakni Anies Baswedan yang akan purna tugas pada Oktober 2022, PSI kiranya 
membutuhkan musuh lain untuk melegitimasi eksistensinya.

Dengan memunculkan tensi dengan orang sekaliber Sutiyoso dengan isu SARA, Grace 
selaku elite PSI boleh jadi ingin meningkatkan reputasi dan legitimasi 
partainya di hadapan konstituen agar tetap relevan.

Adanya “konflik” dalam dinamika menuju kontestasi elektoral, PSI kemungkinan 
ingin membangun solidaritas sosial melalui isu ke-moderat-an yang selama ini 
jamak dikedepankan PDIP.

Persoalan menjadi menarik ketika sorotan seolah bersinggungan dengan PDIP. Ya, 
keberadaan PSI dalam percaturan politik Indonesia barang tentu akan mengurangi 
porsi suara dari partai politik (parpol) lain dalam pertarungan elektoral.

Pada pemilihan legislatif (Pileg) DKI Jakarta 2019 misalnya, PDIP kehilangan 
tiga kursi DPRD dibanding Pemilu 2014. Sementara di saat yang sama, debut PSI 
berhasil merebut delapan kursi di Kebon Sirih.

PDIP menjadi perbandingan paralel dikarenakan karakter politik dan pembentukan 
narasinya dengan PSI jamak ditafsirkan serupa. Lelucon netizen bahkan 
memberikan predikat PDIP U-23 kepada partai yang diketuai Giring Ganesha.

Oleh karena itu, selain gagal pahamnya dalam meresapi substansi pernyataan 
Sutiyoso, manuver kritik Grace juga dapat ditafsirkan sebagai sabotase kepada 
PDIP secara tidak langsung dengan mengeksploitasi isu SARA.

Bagaimanapun, pembelokan serta pembingkaian isu ke arah yang sensitif tentu 
bukan hal yang elok dalam perpolitikan Indonesia. Apalagi, hal itu kemungkinan 
dilakukan Grace Natalie tanpa melihat secara komprehensif esensi pernyataan dan 
reputasi Sutiyoso yang tak relevan dengan isu SARA dan upaya pecah belah 
bangsa. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/12C433D28ADB446A9D867B4AE464181D%40A10Live.

Reply via email to