Written byI76Monday, June 6, 2022 22:02

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/hatta-inspirasi-perjuangan-buya-syafii/
Hatta Inspirasi Perjuangan Buya Syafii
Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii) mengakui dirinya banyak dipengaruhi oleh 
mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta (Bung Hatta) dalam melihat permasalahan 
bangsa. Lantas, seperti apa nilai-nilai perjuangan Bung Hatta yang 
menginspirasi Buya Syafii?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Wafatnya tokoh Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif yang akrab dikenal dengan nama 
Buya Syafii pada Jumat, 27 Mei 2022, tidak hanya membuat warga Muhammadiyah 
saja yang berduka, melainkan seluruh elemen masyarakat Indonesia merasakan 
kesedihan yang sama ditinggal oleh Buya Syafii.

Tokoh yang lahir di Sijunjung, Sumatera Barat pada 31 Mei 1935 ini merupakan 
pembelajar yang tekun. Obsesi yang tidak pernah padam untuk mengangkat martabat 
bangsa dan umat diperolehnya dengan cara mengarungi lautan pengetahuan yang 
penuh rintangan.

Layaknya masyarakat Minang pada umumnya, Buya Syafii merantau dari Sumpur 
Kudus, sebuah kampung di Minangkabau menuju kota pelajar Yogyakarta. Lulus dari 
Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, ia kemudian melanjutkan pendidikan 
sampai tingkat sarjana muda di FKIP Universitas Cokroaminoto Surakarta pada 
tahun 1964.

Buya Syafii kemudian mendapat Master of Arts (M.A) dari Ohio University Athens, 
Amerika Serikat (AS) dalam bidang sejarah pada tahun 1980 dan dua tahun 
setelahnya, yaitu tahun 1982, meraih gelar doktor dalam bidang pemikiran Islam 
dari Chicago University, AS.

Buya Syafii menggantikan Amien Rais sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) 
Muhammadiyah pada 1998-2005. Setelah itu, ia dikenal sebagai tokoh nasional 
yang mendunia, bahkan disejajarkan dengan mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta, 
yang juga merupakan idola dari Buya Syafii.

Hajriyanto Y. Thohari dalam tulisannya Cinta Buya Syafii Kepada Bangsa, 
mengatakan Buya Syafii adalah pengagum berat Bung Hatta. Keduanya memiliki 
banyak kemiripan. Serupa dengan Bung Hatta, Buya Syafii adalah cendekiawan 
kelahiran tanah Minang.

- Advertisement -Mereka juga merupakan perantau yang bertujuan untuk menuntut 
ilmu. Jika Bung Hatta belajar ke Batavia kemudian Belanda, Buya Syafii ke 
Yogyakarta dan kemudian Amerika. Keduanya juga seorang Muslim yang sangat alim 
dan sangat mencintai bangsa dan negaranya.

Kemiripan mereka tidak hanya terlihat secara kasat mata, melainkan juga dalam 
bentuk ide dan prinsip-prinsip perjuangan politiknya. Lantas, seperti apa ide 
dan prinsip politik yang dipegang oleh keduanya?


Selamat Jalan Buya Syafii Maarif 
Lepas Sekat Diskriminasi?
Pandangan politik Buya Syafii tergambar jelas melalui perjuangannya tentang 
pluralisme di Indonesia. Terkesan ironis, mengingat pluralisme adalah hal yang 
niscaya bagi realitas kita yang majemuk. Tapi itulah realitas politik, meski 
bangsa Indonesia beragam tapi untuk menegakkan paham keberagaman perlu 
perjuangan.

Buya Syafii tetap saja selalu risau dengan perkembangan bangsa ini. Kerisauan 
itu selalu diartikulasikan dalam bentuk nasihat, mulai dari internal 
Muhammadiyah. Ia menekankan pentingnya inklusivisme dan mengkritik keras 
kelompok muda Muhammadiyah yang memiliki sikap Muhammadiyah exceptionalist.

Bagi Buya Syafii, tidak ada satupun kelompok dan golongan dalam tubuh bangsa 
ini yang boleh minta diistimewakan (exceptional).

Baca juga :  Mampukah Projo Jadi Parpol?Buya Syafii menampilkan wajah yang 
netral dalam melihat beragamnya identitas. Ia menggambarkan golongan nasionalis 
dan golongan Islam yang mengklaim ikut terlibat dalam pembangunan bangsa ini, 
pada saat yang sama juga pernah berbuat kesalahan bagi bangsa.

Ini terlihat ketika ada salah seorang yang selama ini mengaku kader 
Muhammadiyah di kancah politik yang tersandung kejahatan korupsi, Buya Syafii 
dengan tegas mengatakan, bahwa Muhammadiyah adalah juga bagian dari bangsa yang 
korup.

Pandangan ini ingin menggambarkan bahwa setiap elemen atau  golongan, bahkan 
suku maupun agama bisa saja berbuat baik dan buruk, karena itu adalah sifat  
dasar manusia. Menurut Buya Syafii, yang terpenting di balik itu semua adalah 
bagaimana komponen bangsa menghilangkan identitas kelompok dan mulai  bergerak  
untuk bersatu.

- Advertisement -Sikap netral melihat sekat-sekat dari perbedaan juga merupakan 
cara berpiikir yang sama yang diperlihatkan oleh Bung Hatta. Dalam otobiografi 
yang berjudul Untuk Negeriku, Bung Hatta memperlihatkan dirinya selalu berusaha 
untuk keluar dari sekat-sekat diskriminasi suku maupun agama.

Sebagai contoh pada dialog tentang sila pertama dalam Piagam Jakarta, ia 
mengatakan kalau Indonesia tidak bisa bersatu, maka bisa dipastikan 
daerah-daerah di luar Jawa dan Sumatera (tempat domisili penduduk non-Muslim) 
akan kembali dikuasai oleh Belanda.

Inisiatif Bung Hatta itu dapat dikatakan menjaga semangat Pancasila. Dalam 
semangat kesetaraan dan kebersamaan, Hatta berjasa dalam memahami kehendak dari 
berbagai golongan masyarakat dan sehingga akhirnya dapat menghadirkan hukum 
publik yang bersifat nasional dan berlaku untuk seluruh penduduk.

Buya Syafii dan Bung Hatta melihat persatuan adalah kunci keteraturan di tengah 
perbedaan. Bukan hanya sebagai prinsip, sikap mereka juga diejawantahkan dalam 
bentuk perjuangan. Kegigihan memperjuangkan idealisme memperlihatkan  bagaimana 
tradisi Minang melekat dalam diri kedua tokoh ini.

Nusyirwan dalam bukunya yang berjudul Manusia Minangkabau, mengungkapkan 
terdapat sisi prinsipil yang terpatri dalam tubuh masyarakat Minang yang 
membuat mereka keras terhadap pemikiran maupun perilakunya.

Kita mengenal idiom yang sangat populer dan menjadi falsafah hidup masyarakat 
Minangkabau untuk mengakomodir cara pandang kebanyakan orang minang, yaitu Adat 
Basandi Syarak dan Syarak Bersendikan Kitabullah.

Menjadi pribadi yang bersandar pada adat adalah sebuah representasi pribadi 
yang  juga bersandar pada kitab suci. Mungkin seperti itulah tafsir sederhana 
idiom Minangkabau yang bisa kita lihat dalam kepribadian Buya Syafii dan Bung 
Hatta.

Baca juga :  Megawati Korbankan Puan?Tapi, muncul pertanyaan lain, dengan 
kebudayaan Minang yang memperjuangkan nilai-nilai agama, khususnya agama Islam, 
bukankah sikap netral kedua tokoh ini berseberangan dengan prinsip adat mereka?

Lantas, bagaimana persoalan dilematis ini dijelaskan?

 
Damaikan Negara dan Agama?
Ahmad Najib Burhani dalam tulisannya Buya Syafii Maarif dan Bung Hatta, 
menggambarkan jawaban atas permasalahan dilematis di atas, dengan menguraikan 
penjelasan pemahaman kedua tokoh tersebut dalam pemahaman mereka tentang konsep 
Islam humanis.

Dua tokoh ini memberikan pijakan alternatif bagi politik Islam dalam konteks 
hidup bernegara dan dalam menerjemahkan hubungan agama dengan negara. Ada dua 
penjelasan prinsipil yang diperjuangkan oleh Buya Syafii dan Bung Hatta.

Pertama, tentang konsep tata negara yang menurut mereka haruslah sekuler, bukan 
berdasarkan negara agama. Meski sekuler, tapi masyarakat harus taat beragama. 
Negara juga tak boleh memaksakan keyakinan atau syariat tertentu kepada 
rakyatnya.

Dalam konteks ini, negara tidak punya urusan dengan keyakinan yang ajeg maupun 
keyakinan sesat yang berkembang di masyarakat. Justru dalam sekularisme 
bernegara akan tercipta keberagaman yang otentik. Orang taat beribadah bukan 
karena takut negara atau takut terhadap kelompok garis keras, tapi benar-benar 
dari keyakinannya tentang agama.

Kedua, menanggalkan pemaknaan simbolik tentang konsep Islam politik. 
Disebutkan, Islam politik itu harus mengikuti prinsip garam, bukan gincu. 
Prinsip garam mengilustrasikan materi yang tidak kelihatan tapi terasa. Begitu 
pula agama, tak perlu ditampilkan dengan simbol-simbol tapi miskin makna. 
Simbol-simbol itu hanya menjadikan agama seperti gincu, terlihat tapi tidak 
terasa.

Dalam berbagai kesempatan, Buya Syafi’i selalu mengutip peran Bung Hatta dalam 
menghapuskan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Penghapusan ini menegaskan negara 
harus bersikap netral terhadap semua agama dan keyakinan.

Keberpihakan negara pada Islam justru mengarahkannya pada keberpihakan kepada 
aliran atau jenis keyakinan agama tertentu dan memusuhi aliran keagamaan yang 
lain. Untuk prinsip kedua, Bung Hatta dan Buya Syafi’i termasuk orang yang 
berpihak kepada Islam yang lebih substantif.

Cita-cita kedua tokoh bangsa ini menjadi inspirasi kita untuk melihat 
alternatif dari konsep Islam politik. Konsep yang mencoba mendamaikan persoalan 
dilematis antara memilih negara atau agama. Dengan bersandar pada ajaran Islam 
yang substantif, kedua tokoh ini membuktikan bahwa Islam mampu menjadi penopang 
kokoh bangsa Indonesia. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/6CF83E026DE94C0E9BA86C7626CBFDCC%40A10Live.

Reply via email to