Written byR53Monday, June 6, 2022 18:10
Prabowo, “Senjata” Luhut Bendung 
Megawati?https://www.pinterpolitik.com/in-depth/prabowo-senjata-luhut-bendung-megawati/

Telah banyak disebutkan bahwa Prabowo Subianto akan diduetkan dengan Puan 
Maharani di Pilpres 2024. Namun, mungkinkah Prabowo justru adalah “senjata” 
Luhut Binsar Pandjaitan untuk membendung Megawati Soekarnoputri di Pilpres 2024?

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Beberapa waktu yang lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut bertanya kepada 
sejumlah menteri, yaitu Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian 
Airlangga Hartarto, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) 
Sandiaga Uno, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Menteri Pertahanan (Menhan) 
Prabowo Subianto terkait keinginan mereka maju di Pilpres 2024. 

Disebutkan, keempatnya menjawab akan maju, tetapi pemilihan diksi Prabowo 
begitu menarik.“Seizin Jokowi,” jawab sang Ketua Umum Partai Gerindra. 

Dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, Jokowi Setengah Hati Restui Prabowo?, 
diksi menarik jawaban itu telah dibahas. Yang menarik adalah, ada kemungkinan 
Presiden Jokowi tidak secara penuh merestui Prabowo di Pilpres 2024.

Sedikit mengulang, simpulan itu ditarik dari pernyataan Deputi V Kantor Staf 
Presiden (KSP) Jaleswari Pramodhawardani pada 10 Mei 2022 yang mengingatkan 
para menteri agar patuh, tegak lurus, dan disiplin dalam menjalankan 
agenda-agenda presiden.

Menariknya, yang merespons pernyataan itu adalah Ketua Harian DPP Partai 
Gerindra Sufmi Dasco Ahmad. “Selama ini kalau Menteri Pertahanan, Pak Prabowo 
sebagai pembantu presiden fokus membantu kerja-kerja dari presiden dan tidak 
pernah melakukan kampanye,” ungkap Dasco pada 11 Mei 2022 lalu.

Selain itu, gestur-gestur terbaru juga menunjukkan kedekatan Presiden Jokowi 
justru mengarah pada Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo. Situasinya 
semakin menarik setelah Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani diketahui 
tidak menghadiri pernikahan adik Presiden Jokowi, Idayati, dengan Ketua 
Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman.


Nah, sekarang pertanyaannya, dengan dicoretnya nama Presiden Jokowi, siapa 
kira-kira yang menjadi kunci restu Prabowo maju di Pilpres 2024?

 
Prabowo Sang Prajurit
Sebelum menjawabnya, terlebih dahulu akan diperdalam mengapa Prabowo 
menggunakan diksi “seizin Jokowi” ketika ditanya oleh RI-1. Untuk kepentingan 
ini, kita bisa menarik tolakan dari buku filsuf Marshall McLuhan yang berjudul 
Understanding Media: The Extensions of Man.

Dalam buku itu, ada satu frasa yang begitu populer dan banyak dikutip: “The 
medium is the message“, medium penyampai pesan adalah pesan yang sesungguhnya. 
Dalam perkembangannya, frasa ini dikembangkan untuk memahami bahwa pesan tidak 
bisa dilepaskan dari konteks, khususnya siapa yang menyampaikan, kepada siapa, 
dan dalam kondisi apa. 

Selaku sosok yang besar di lingkungan militer, cara berpikir seorang prajurit 
tentu perlu digunakan untuk memahami pemilihan diksi Prabowo.

Salah satu ilmuwan politik paling berpengaruh saat ini, Francis Fukuyama, dalam 
bukunya State-Building: Governance and World Order in the 21st Century, 
memberikan apresiasi terhadap rantai komando di militer karena memegang derajat 
kontrol terpusat yang besar atas berbagai keputusan pada tingkat strategis dan 
operasional.

Dalam penerapannya, seorang prajurit menjadi begitu memahami pentingnya rantai 
komando dan kepatuhan kepada atasan. 

Nah, dengan status Prabowo sebagai bawahan Presiden Jokowi saat ini, tentu sang 
jenderal bintang tiga akan memberikan jawaban penghormatan kepada RI-1 selaku 
atasannya. Besar kemungkinan itu yang membuatnya menggunakan diksi “seizin 
Jokowi”.
Prabowo Pilihan Luhut?
Setelah membahas konteks penggunaan diksi Prabowo, sekarang kita akan merangkai 
variabel-variabel untuk menentukan siapa yang mungkin menjadi kunci majunya 
Prabowo di Pilpres 2024. Untuk kepentingan ini, kita perlu menggunakan metode 
investigasi detektif fiktif Sherlock Holmes yang disebutkan dalam novel A Study 
in Scarlet, yakni menggunakan metode bernalar dari belakang ke depan. 

Memberi sedikit konteks, dalam literasi filsafat, khususnya epistemologi, cara 
bernalar Sherlock Holmes telah digunakan sebagai contoh bagaimana membangun 
argumentasi yang dalam dan tajam.

Metode bernalar dari belakang ke depan memusatkan perhatian pada motif alias 
kenapa suatu fenomena terjadi. Dengan demikian, untuk mengetahui siapa sosok 
yang menaruh restu atau dukungan politiknya kepada Prabowo, maka motif sosok 
tersebut haruslah begitu kuat, dan Prabowo adalah kandidat yang paling mungkin 
ia rangkul.

 
Memetakan berbagai sosok berpengaruh yang mungkin, satu nama yang paling tinggi 
kemungkinannya adalah Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan. Ada dua alasan 
kunci atas simpulan ini. Pertama, Luhut perlu mengamankan posisinya di 
pemerintahan – tepatnya di kekuasaan – selepas Presiden Jokowi tidak lagi 
menjabat.

Jika tidak melakukan itu Luhut berpotensi akan terkena serangan-serangan 
politik, misalnya dari PDIP. Seperti yang diketahui, akhir-akhir ini hubungan 
Luhut dengan PDIP semakin memanas. Titik didih tertingginya kemarin adalah soal 
penundaan Pemilu 2024. 

Politisi senior PDIP Masinton Pasaribu bahkan memberikan kritik-kritik terbuka, 
hingga meminta Luhut didepak dari kursi kabinet. Mengacu pada premis filsuf 
Niccolò Machiavelli dalam buku Il Principe, penguasa baru mestilah akan 
mendepak orang-orang penguasa lama. Artinya, besar kemungkinan Luhut akan 
didepak hingga dijatuhkan, jika PDIP tetap berkuasa di 2024 dan Luhut tidak 
lagi dekat dengan presiden terpilih.

Kedua, untuk menghindari kemungkinan terburuk itu, maka Luhut perlu mendukung 
calon presiden yang akan mengamankan posisinya di pemerintahan. Jika memetakan 
kandidat-kandidat yang berpotensi maju di Pilpres 2024, sosok itu adalah 
Prabowo Subianto.

Terkait nama Prabowo, simpulan ini bertolak dari hubungan dekat keduanya sejak 
masih aktif di militer. Dalam bukunya Kepemimpinan Militer Catatan dari 
Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto, sang Ketua Umum Partai 
Gerindra menceritakan kedekatan ini. Ketika Luhut menjadi Kepala Seksi 2 
Operasi, Prabowo adalah wakilnya. 

Keduanya juga dikirim sekolah ke berbagai tempat, seperti Special Forces 
Amerika Serikat (AS), United Kingdom Special Forces, Groupe d’Intervention de 
la Gendarmerie Nationale (GIGN) Prancis, Satuan Antiteror Marinir Belanda, dan 
Grenzschutzgruppe 9 (GSG-9) Jerman. 

Luhut dan Prabowo juga diperintahkan LB Moerdani membentuk pasukan antiteror 
yang kemudian diberi nama Detasemen 81.

Dalam artikel Kumparan yang berjudul Luhut dan Prabowo, Kisah Keakraban 
Abang-Adik, disebutkan bahwa pada Pilpres 2014 Prabowo meminta Luhut untuk 
mendukungnya, tetapi ditolak. 
“Bang, kalau dukung saya, nanti mau jadi menteri apa, saya kasih deh,” minta 
Prabowo. 

“Ah, enggak Wo. Saya mau dukung Jokowi saja,” jawab Luhut.

Singkatnya, meminjam pernyataan Staf Khusus Menko Kemaritiman Atmadji 
Sumarkidjo pada 25 April 2019, “Banyak yang tidak tahu bahwa hubungan pribadi 
antara Pak Luhut dengan Pak Prabowo itu sudah terjalin entah berapa puluh 
tahun.” 

 
Luhut vs Megawati?
Setelah mengkonstruksi motif Luhut, mengikuti metode Sherlock Holmes, sekarang 
kita dapat membuat hipotesis bahwa pada Pilpres 2024 kemungkinan akan menjadi 
pertarungan antara Luhut vs Megawati.

Kita tentu mengetahui, PDIP adalah satu-satunya partai yang mampu mengusung 
paslon tanpa perlu berkoalisi. Seperti yang disebutkan Sekjen PDIP Hasto 
Kristiyanto, Megawati hanya tersenyum melihat isu capres dan koalisi 
akhir-akhir ini. 

Mengutip Jeffrey Winters dalam tulisannya Oligarchy Dominates Indonesia’s 
Elections, partai politik di Indonesia tidak bersifat bottom-up, melainkan 
mengandalkan kepemimpinan elite di pusatnya. Terkhusus PDIP, dominasi Megawati 
sebagai pemegang keputusan benar-benar tidak tergeserkan.

Sebagai pemegang tiket emas, Megawati hanya perlu menunggu di akhir waktu, 
yakni Agustus-September 2023 untuk melihat siapa sosok yang paling potensial 
diusung partai banteng. Suka atau tidak, PDIP yang akan menjadi magnet atau 
diperebutkan, bukan sebaliknya.

Nah, jika pernyataan pakar Hukum Tata Negara Refly Harun benar bahwa Luhut 
“takut” dengan Megawati, maka dapat kembali ditegaskan bahwa Luhut perlu 
mengamankan tempatnya setelah Presiden Jokowi tidak lagi menjabat untuk 
menghindari kemungkinan terburuk.

Demi kepentingan itu, posisi Prabowo sangat penting. Jika Luhut mendukung 
Prabowo dan menang, bukan tidak mungkin rayuan Prabowo pada Pilpres 2014 akan 
terwujud nantinya. Luhut akan kembali menjadi menteri yang memegang posisi 
penting.

Jika Luhut benar-benar mendukung Prabowo di Pilpres 2024, dapat dikatakan 
political capital (modal politik) Prabowo sangat besar saat ini. Dua yang utama 
adalah dukungan kapital dan dukungan dunia internasional. Relasi Luhut yang 
luas selama menjadi pengusaha tentu tidak perlu diragukan. Kemudian, seperti 
yang dilihat saat ini, Luhut dapat menjadi jembatan Prabowo untuk meningkatkan 
dukungan internasional kepadanya.

Well, sebagai penutup, jika hipotesis Luhut mendukung Prabowo di Pilpres 2024 
benar adanya, maka motif terbesar untuk itu adalah menghindari kemungkinan 
terburuk jika PDIP berkuasa lagi dan Luhut terdepak dari kekuasaan. 

Namun, tentu perlu untuk digarisbawahi, tulisan ini hanyalah interpretasi 
semata. Seperti dalam premis sosiolog Erving Goffman, sebagai rakyat biasa kita 
hanya bisa melihat panggung depan politik. Panggung belakang adalah sesuatu 
yang disembunyikan dan dijaga tetap misterius. (R53)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D9D15B483B444949BE9FB59B57F60BE0%40A10Live.

Reply via email to