Written byJ61Tuesday, June 7, 2022 17:45

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/capres-kib-erick-jegal-ganjar/
Capres KIB, Erick Jegal Ganjar?
Sinyal terbukanya pintu Koalisi Indonesia Bersatu (Golkar, PAN, dan PPP) bagi 
calon presiden (capres) dari eksternal koalisi cukup menarik. Dua nama – Ganjar 
Pranowo dan Erick Thohir – mengemuka sebagai pendamping kandidat terkuat, 
Airlangga Hartarto. Lantas, siapa pasangan yang akan dipilih KIB?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Hiruk pikuk manuver partai politik (parpol) menjelang kontestasi elektoral 2024 
kian terlihat. Terbaru, Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat Agus Harimurti 
Yudhoyono (AHY) didampingi Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 
menyambangi Ketum Partai Nasdem Surya Paloh dan dinilai erat kaitannya dengan 
penjajakan koalisi.

Pekan lalu, Surya Paloh juga telah menerima kunjungan Ketum Partai Gerindra 
Prabowo Subianto. Pergerakan Prabowo, AHY, SBY, dan Surya Paloh ini seolah 
menjadi respons atas geliat aktif koalisi politik yang telah terbentuk 
sebelumnya, yakni Koalisi Indonesia Bersatu (KIB).

Inisiatif KIB hasil dari kolaborasi Golkar, PAN, dan PPP dinilai menunjukkan 
sinergi atas kepercayaan diri politik tersendiri ketika parpol lain masih 
terkesan bimbang menghadapi pemilu 2024 yang jamak dianggap masih terlampau 
jauh untuk dibicarakan saat ini.

Bahkan, daya tawar politik KIB tampak kian meningkat setelah sebuah agenda 
simbolik dihelat akhir pekan lalu. Bertajuk Silaturahim Nasional, acara 
tersebut dihadiri sejumlah elite politik yang memantik penafsiran lanjutan.

 
Ya, terdapat dua sosok menarik karena dianggap memiliki kedekatan personal 
dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang datang dalam acara tersebut, yaitu 
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut 
Binsar Pandjaitan dan Ketum Relawan Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi.

Kehadiran keduanya dianggap sebagai restu tak langsung Presiden Jokowi, 
setidaknya dalam dua konteks yang berangkat dari dinamika politik belakangan 
ini.

Pertama, restu atas eksistensi KIB sebagai poros politik yang positif. Tentu, 
restu ini adalah dalam koridor normatif mengingat Kepala Negara agaknya haram 
untuk condong pada kubu politik suksesor di tengah masa jabatan. Namun, tafsir 
di luar koridor normatif tentu tetap terbuka.

Kedua, tak lain terkait restu pada Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo 
agar dapat dipinang KIB sebagai kandidat dalam Pilpres 2024. Hal itu mengingat 
Presiden Jokowi tampak memberi kode dukungan kepada Ganjar dalam Rapat Kerja 
Nasional (Rakernas) V Projo di Magelang pada 21 Mei lalu.

Kendati demikian, Ganjar agaknya tidak sendiri untuk mendapatkan “tiket emas” 
dari KIB. Dia adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, yang 
pada Senin pekan ini melakukan pertemuan dengan Ketum PAN Zulkifli Hasan dan 
Ketua Majelis Penasihat Partai (MPP) PAN Hatta Rajasa. Lagi-lagi, manuver ini 
diterjemahkan sebagai hadirnya opsi kandidat lain bagi KIB selain Ganjar.

KIB sendiri sebelumnya telah menyatakan sangat terbuka dengan kandidat 
eksternal koalisi dalam Pilpres 2024, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ketum 
PPP Suharso Monoarfa.

Kursi calon presiden (capres) yang kemungkinan besar akan diisi Ketum Golkar 
Airlangga Hartarto karena memiliki konsesi terbesar KIB, membuat persaingan 
untuk mendampingi eks Menteri Perindustrian itu kian memanas.

Walaupun turut masuk menjadi salah satu kandidat KIB, Gubernur DKI Jakarta 
Anies Baswedan agaknya akan lebih memilih koalisi politik yang akan 
menjadikannya capres jika berkaca pada modal politik yang telah 
diinvestasikannya selama ini.
Dengan menyisakan nama Ganjar dan Erick sebagai kandidat terkuat pendamping 
Airlangga, siapakah di antara keduanya yang lebih pantas?

 
Ganjar Kalah Telak?
Dengan mengantongi akumulasi 23,31 persen suara, KIB jamak disebut poros 
alternatif yang menjanjikan bagi siapapun kandidat capres dan calon wakil 
presiden (cawapres) di Pemilu 2024. Termasuk bagi yang tidak memiliki kendaraan 
politik seperti Erick Thohir, ataupun sosok potensial yang seolah tersisihkan 
oleh partainya sendiri seperti Ganjar Pranowo.

Namun, untuk bersaing ke singgasana kandidat KIB pendamping Airlangga tentu 
bukan perkara mudah dan agaknya tidak hanya melulu terkait dengan elektabilitas 
di hadapan konstituen.

Modal politik inheren masing-masing calon kiranya akan menjadi tolok ukur 
pantas atau tidaknya peluang Erick maupun Ganjar. Konteks modal dalam politik 
sendiri dijelaskan Richard D. French dalam Political Capital.

French menjabarkan bahwa kalkulasi jangka panjang serta komprehensif terhadap 
modal politik, terutama atas aset-aset potensial yang dimiliki aktor politik 
menjadi sangat penting. Utamanya ketika berbicara mengenai penentuan sosok yang 
akan mewakili parpol dalam pertarungan politik demokratis.

Senada dengan French, Kimberly L. Casey dalam Defining Political Capital: A 
Reconsideration of Bourdieu’s Interconvertibility Theory mendefinisikan modal 
politik sebagai pendayagunaan keseluruhan jenis modal yang dimiliki oleh aktor 
maupun lembaga politik untuk menghasilkan tindakan yang menguntungkan atau 
memperkuat posisi politiknya.

Berangkat dari urgensi modal politik yang dikemukakan French dan Casey itu, 
penilaian mengenai siapa yang pantas mendapatkan sokongan KIB agaknya menjadi 
dapat diidentifikasi.

Setidaknya, terdapat enam poin esensial untuk menjadi parameter perbandingan 
antara Erick dan Ganjar, yaitu modal materiil, koneksi internasional, dukungan 
kelompok Islam, sokongan parpol, koneksi dengan militer, dan tentunya aspek 
elektabilitas.

Dari sisi Erick Thohir, modal materiil dan koneksi internasional agaknya dapat 
dielaborasikan sekaligus pada sosoknya sebagai pengusaha ulung yang kini terjun 
ke jabatan pemerintahan.

Riwayat Erick mengelola Mahaka Group serta dua klub sepak bola mancanegara 
yakni DC United dan Inter Milan, plus jejaring koneksi yang terbangun saat 
dirinya menjabat sebagai Menteri BUMN tentu menjadi poin lebih.

Bahkan, dalam dua indikator tersebut, pengamat politik Universitas Paramadina, 
Akhmad Khoirul Umam menilai bahwa Erick tidak mudah diintervensi oleh kekuatan 
oligarki jika berkaca pada kinerjanya di Medan Merdeka Selatan.

Dukungan kelompok Islam pun mulai diakuisisi Erick. Paling tidak itu dapat 
terlihat dari inisiatif safarinya ke tokoh kunci Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 
(PBNU) seperti Saifullah Yusuf (Gus Ipul) serta sejumlah perkumpulan ulama 
lainnya.

Bahkan selain Gus Ipul, ada nama Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang turut 
memberikan semacam kode dukungan bagi Erick di Pilpres 2024.

Sementara dari segi sokongan parpol, Erick memiliki prestasi sebagai Ketua Tim 
Pemenangan Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019. Ihwal yang tentu menjadi daya tawar 
paling “seksi”nya di hadapan parpol selain modal materiil.
Sisanya, hanya tinggal jalinan koneksi dengan militer serta elektabilitas yang 
belum terlihat menonjol dari sosok Erick.

Sementara itu, dari sudut seberang, Ganjar Pranowo agaknya tak bisa berharap 
banyak ketika dinilai berdasarkan enam indikator di atas. Jika ditelusuri, 
kader PDIP itu tampak hanya memiliki satu keunggulan dibandingkan dengan Erick, 
yakni elektabilitas.

Lantas, akankah Erick benar-benar akan menjadi pilihan KIB untuk mendampingi 
Airlangga?

 
Menanti Jiwa Ksatria Airlangga?
Kombinasi Airlangga sebagai capres dan Erick sebagai cawapres memang bisa saja 
tampak cukup ideal dari sudut pandang KIB. Namun, impresi itu belum tentu 
selaras dengan impresinya di hadapan para pemilih.

Well, tidak bisa dipungkiri bahwa kelemahan terbesar yang kiranya sulit 
diperbaiki dari sosok Airlangga adalah elektabilitas yang rendah. Sesungguhnya, 
akan cukup berisiko bagi pertaruhan KIB jika dia dinobatkan sebagai capres, 
terlepas dari siapapun calon wakilnya.

Apalagi, beberapa kali Airlangga dihadang isu minor, baik yang tertuju secara 
personal kepadanya maupun dalam hal kepemimpinannya di Partai Golkar.

Sebagai jalan keluar, Ketum Partai Golkar itu barangkali dapat mengadopsi 
filosofi namanya sendiri – “Airlangga” – sebagai sosok raja dengan jiwa ksatria.

Teori ksatria sendiri eksis dan menjelaskan bahwa para ksatria berperan dalam 
pendirian kerajaan-kerajaan di Indonesia. Kasta ksatria sendiri merupakan salah 
satu kasta yang ada di dalam sistem sosial ajaran Hindu. Mereka terdiri dari 
para raja, para prajurit, dan bangsawan.

Secara filosofis, salah satu nilai dari jiwa para ksatria adalah sikap berjiwa 
besar untuk mengakui kelemahan maupun kekalahan. Esensi pentingnya adalah 
bahwasanya jiwa ksatria bermakna sikap mengalah demi keutamaan kepentingan yang 
lebih besar dibandingkan kepentingan pribadinya.

Terdapat pula ungkapan kearifan lokal dalam kebudayaan Jawa, yaitu wani ngalah 
luhur wekasane yang bermakna bahwa siapa yang berani mengalah dan menekan 
egonya, akan mendapat kemuliaan serta kedudukan yang lebih tinggi di kemudian 
hari.

Oleh karena itu, kebesaran hati Airlangga agaknya akan menjadi solusi terbaik 
bagi KIB. Dalam hal ini, untuk memberikan tiket capres dan cawapres kepada 
Erick dan Ganjar sebagai formula komplementer terbaik.

Direktur Eksekutif KedaiKopi Kunto Adi Wibowo pun memiliki penilaian yang 
kurang lebih serupa bahwa jika KIB ingin menang, Airlangga harus menjadi aktor 
pembeda yang mengalah.

Bagaimanapun, keputusan KIB untuk menetapkan capres dan cawapres andalannya 
tampak masih akan terus bergulir secara dinamis ke depan. Tidak terkecuali 
dinamika komposisi parpol dalam koalisi politik itu sendiri yang akan menjadi 
penentu akhir. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/AA2D9E4AAE8845FD8C7AA97A00EBEAE5%40A10Live.

Reply via email to