*Sudah waktunya dipertiadakan yang bukan-bukan? **Time is money kata orang
seberang lautan jadi makin lama makin no money hehehehehe*

https://www.eramuslim.com/berita/opini/negara-bukan-bukan.htm
Negara Bukan-Bukan

Redaksi – Rabu, 7 Zulqa'dah 1443 H / 8 Juni 2022 14:10 WIB

Oleh: *Daniel Mohammad Rosyid*, Guru Besar ITS, @Rosyid College of Arts



SUATU ketika seorang tokoh ditanya apakah Republik ini negara agama. Dia
bilang bukan, walaupun konstitusi menyatakan bahwa negara berdasar atas
Ketuhanan Yang  Maha Esa. Apakah Republik ini negara sekuler? Dia jawab
bukan.

Saat Prof. Kaelan dari UGM mengatakan bahwa sejak amandemen ugal-ugalan
atas UUD 1945, maka bangsa ini sudah murtad dari Pancasila, maka benar
kesimpulan yang menyatakan bahwa Republik ini bukan negara Pancasila, jika
bukan negara bukan-bukan.

Upaya para elit parpol yang bakal tergusur dari Senayan dalam Pemilu 2024
untuk memerangi politik identitas baru-baru ini merupakan bukti mutakhir
bahwa memang Republik ini diseret para elitnya untuk menjadi negara tanpa
identitas.

Sejak Donald Trump muncul sebagai calon presiden negara bukan-Pancasila,
sederetan perempuan mengaku di depan publik bahwa mereka semua pernah
dilecehkan secara seksual olehnya. Ini kemudian oleh media disebut “Gerakan
Saya Juga”, atau Me Too Movement.

Ini menunjukkan ada fenomena sosial di mana wong cilik memberanikan diri
untuk melawan kekuatan pengaruh seorang tokoh. Saat aktris Amber Heard
dinyatakan kalah dalam gugatan pencemaran nama baik aktor Johny Depp baru
baru ini, beberapa pengamat mengatakan bahwa “Gerakan Saya Juga” telah
mengalami kemunduran serius.

Halaman selanjutnya →
<https://www.eramuslim.com/berita/opini/negara-bukan-bukan.htm/2>

Sayang kehidupan berbangsa dan bernegara kita selama ini gagal membangun
masyarakat cerdas yang berani mengambil tanggungjawab, sehingga yang
terjadi bukan “Gerakan Saya Juga”, tapi yaitu sebuah budaya “Bukan Saya”,
sebuah Not Me Culture.

Ini boleh diilustrasikan dalam kasus remaja Budi berikut. Suatu ketika Budi
ditanya Pak Amir guru Sejarahnya di sekolah. “Siapa penandatangan teks
Proklamasi Kemerdekaan?” Budi menjawab “Bukan saya, pak”. Jengkel, pak Amir
bertanya lagi.

“Budi, dengar baik-baik, siapa yang menandatangani teks Proklamasi ?”.
Mulai merasa ketakutan, Budi menjawab lagi. “Sungguh bukan saya, pak Amir,”
ujar Budi.

Jengkel sekaligus heran, kemudian pak Amir memutuskan menelpon Ibu Budi
saat istirahat siang. “Bu, Budi anak ibu kurang belajar. Tadi pagi saya
tanya siapa yang menandatangani teks Proklamasi Kemerdekaan malah dijawab
bukan dia. Ini bagaimana, Bu?” Ibu Budi menjawab “Memang bukan Budi yang
menandatanganinya. Bapak jangan memfitnah anak saya, dong. Saya curiga
jangan-jangan malah pak Amir sendiri yang menandatangani.”

Sekarang, di tengah-tengah deformasi kehidupan berbangsa dan bernegara,
kedaulatan rakyat yang makin menghilang, hutang yang menggunung, saya
khawatir ketika melihat banyak Budi-Budi yang suka menjawab “Bukan (Urusan)
Saya”.

Di saat suara kritis masih terdengar sayup-sayup ditelan buzzing narratives
 para infleuencers, Saya harap bangkit “Gerakan Saya Juga” di mana makin
banyak warga negara tua atau muda, sipil atau militer, intelektual atau
awam yang sadar untuk segera mengambil alih tanggungjawab meluruskan
kembali kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga Republik Indonesia tidak
terus terpuruk menjadi negara gagal.

Jika tidak, maka Republik ini niscaya akan jatuh menjadi “negara
bukan-bukan”. [FNN <http://fnn.co.id/post/negara-bukan-bukan>]

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2AqYhmpTJSBBFfXEF44-3wd3Z1b15jBLK0wRRYp%2BYr%2BjQ%40mail.gmail.com.

Reply via email to