Written byR53Saturday, June 11, 2022 10:16

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/anies-bidak-lain-jokowi/
Anies, Bidak Lain Jokowi?
Telah lama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dicitrakan sebagai oposisi dari 
pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Ini misalnya terlihat dari para pendukung 
dan relawan Jokowi yang kerap mengkritik Anies. Namun, mungkinkah Anies 
sebenarnya adalah bidak lain Jokowi di Pilpres 2024? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Jika membahas top of mind publik, salah satu politisi yang paling banyak 
dibahas adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Menariknya, ini bukan hanya 
karena posisinya sebagai Gubernur di pusat pemerintahan dan ekonomi Indonesia, 
melainkan karena Anies kerap dicitrakan sebagai oposisi Istana.

Entah sejak kapan, tetapi citra itu seolah telah menjadi penafsiran umum. 
Terlebih lagi, berbagai pihak yang keras mendukung dan membela Presiden Joko 
Widodo (Jokowi), seperti Denny Siregar, Eko Kuntadhi, dan Partai Solidaritas 
Indonesia (PSI), juga kerap memberikan kritik kepada Anies.

Tidak heran kemudian, mengacu pada tendensi psikologis hitam-putih, banyak 
pihak kemudian menilai Anies merupakan oposisi pemerintahan Jokowi. Situasinya 
semakin menarik karena sang DKI-1 juga santer dirumorkan akan maju di Pilpres 
2024.

Dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, Anies Diserang Operasi Intelijen?, 
telah dibahas bahwa sejak penyelenggaraan Formula E terdapat dua peristiwa 
politik yang tendensinya negatif terhadap Anies. Terdapat aksi massa FPI Reborn 
dan pengibaran bendera tauhid – identik dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) – 
yang mendeklarasikan dukungan kepada Anies untuk 2024.

Secara kasat mata, dua peristiwa itu kemudian jamak ditafsirkan sebagai upaya 
menurunkan, hingga menghancurkan citra Anies. seperti yang diketahui, FPI dan 
HTI adalah dua ormas yang telah dibubarkan dan mendapat berbagai sentimen 
negatif.

Entah atribusi itu tepat atau tidak bahwa Anies dekat dengan FPI maupun HTI, 
ini adalah political labeling atau pelabelan politik. Manish Dubey dalam 
tulisannya Political Labelling: An Important Dimension We Miss, menjelaskan 
pelabelan politik merupakan akar dari polarisasi masyarakat, hingga perseteruan 
sosial. 

Dengan demikian, bukan tidak mungkin pelabelan politik itu bertujuan untuk 
mempertebal citra Anies sebagai oposisi pemerintahan Jokowi yang telah 
membubarkan FPI dan HTI. Dampak lainnya? Besar kemungkinan untuk menciptakan 
efek domino agar pendukung pemerintahan Jokowi tidak mendukung Anies di 2024.

Di titik ini, mungkin ada satu pertanyaan sederhana, tetapi begitu substansial. 
Jika benar terdapat upaya pelabelan politik terhadap Anies, serta pencitraan 
dirinya merupakan oposisi pemerintahan Jokowi, mengapa itu sampai dilakukan? 

 
Anies vs Istana?
Pertanyaan itu menjadi penting karena jika direnungkan secara jernih, untuk apa 
Istana sampai memposisikan dirinya diametral dengan Anies selaku Gubernur DKI 
Jakarta? 

Pasalnya, bagaimana pun juga, posisi Anies sebagai DKI-1 sangat penting secara 
politik dan administratif. Jakarta adalah ibu kota negara yang berfungsi 
sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi. Jika terjadi ketegangan antara pusat 
dengan DKI, bukankah itu justru berdampak buruk pada jalannya berbagai 
kebijakan? 

Selain itu, seperti yang disebutkan Heike Mayer dan David Kaufmann dalam 
tulisan The Political Economy of Capital Cities, ibu kota memainkan peran 
penting dalam membentuk identitas politik, ekonomi, sosial, dan budaya suatu 
negara. Artinya, dengan peran sebagai simbol, jika pembangunan di ibu kota 
terhambat akibat intrik dengan pusat, bukankah itu akan merusak citra Indonesia 
di mata dunia internasional?

Dengan kalkulasi itu, lantas, mengapa berbagai pihak, khususnya pendukung 
pemerintahan Jokowi terus mencitrakan Anies berposisi diametral dengan Istana? 
Ini adalah pertanyaan serius.

Untuk menjawabnya, tulisan Leopoldo Fergusson dan kawan-kawan yang berjudul The 
Need for Enemies sepertinya dapat memberikan pencerahan, atau setidaknya 
menambah variabel perenungan kita atas pertanyaan itu. 
Menurut Fergusson dan kawan-kawan, politisi yang berkuasa akan selalu 
membutuhkan sosok musuh untuk mempertahankan keunggulan politiknya, khususnya 
untuk mempertahankan dukungan politik.  

Karena itu, bisa diartikan juga bahwa suatu musuh dalam politik sesungguhnya 
berperan sebagai justifikasi agar kekuatan yang dominan tetap memiliki alasan 
untuk melancarkan kepentingan-kepentingannya.  

Di sisi lain, musuh politik juga dapat digunakan untuk membuat politisi yang 
berkuasa dijauhkan dari citra diktator tirani. Dengan adanya musuh bersama yang 
juga dapat dibenci rakyat (baca: pendukungnya), politisi yang berkuasa akan 
dipandang sebagai pahlawan, bukan sebagai raja atau ratu yang perlu 
ditaklukkan. 

Jika kesimpulan Fergusson dan kawan-kawan berlaku universal, maka dapat 
disimpulkan bahwa alasan di balik para pendukung pemerintahan Jokowi 
mencitrakan Anies sebagai oposisi Istana adalah untuk menciptakan musuh politik 
bersama. Tujuannya? Untuk menciptakan solidaritas pendukung.

Avi Savar dalam tulisannya Nothing Brings A Team Together Like A Common Enemy, 
menjelaskan bahwa musuh bersama (common enemy) memiliki efek kuat dalam 
membentuk solidaritas dan memberikan motivasi. 

Yang menarik adalah, tidak jarang musuh bersama itu sengaja dibuat untuk 
meningkatkan solidaritas dan motivasi komunitas masyarakat. Penerapannya juga 
sangat luas, mulai dari level peer group, perusahaan, hingga negara.

Di titik ini, kita sepertinya dapat menarik kesimpulan bahwa Anies yang 
dijadikan musuh bersama bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan solidaritas 
dan motivasi pendukung pemerintahan Jokowi. Menariknya, strategi ini tampaknya 
bekerja, di mana ini terlihat dari besarnya persepsi positif terhadap Presiden 
Jokowi. 

Nah, bertolak dari kesimpulan itu, ada sebuah pertanyaan menarik yang sangat 
penting untuk ditanyakan. Jika pencitraan Anies sebagai oposisi pemerintahan 
Jokowi hanyalah strategi menciptakan musuh bersama, bukankah itu artinya 
ketegangan sang DKI-1 dan pusat hanyalah rekayasa atau artifisial?

Kecurigaan ini juga diperkuat oleh pernyataan keceplosan mantan politisi Partai 
Demokrat Ferdinand Hutahaean ketika diwawancarai PinterPolitik pada September 
2020. Waktu itu Ferdinand sempat menyebut semacam ada “permainan” untuk membuat 
Anies seolah berposisi diametral dengan Istana.  

 
Bidak Jokowi?
Setelah mengulas kecurigaan bahwa Anies sengaja dicitrakan sebagai oposisi 
Istana, sekarang kita akan lanjut ke kecurigaan yang jauh lebih menarik dan 
radikal. Dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, Giring dan PSI Hanya Bidak 
Politik?, telah dijelaskan bahwa Presiden Jokowi termasuk ke dalam kategori 
politisi pemain catur.

Politisi jenis ini memiliki keterampilan dalam mengelola berbagai kekuatan 
politik, melakukan politik perimbangan, dan membuat strategi agar tujuan 
politiknya tercapai. Di level internasional, seperti yang dijelaskan Kishore 
Mahbubani dalam tulisannya The Genius of Jokowi, RI-1 mampu melakukan politik 
perimbangan agar tidak terlalu ditarik oleh Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. 

Sementara di level domestik, ini terlihat dari kemampuan Presiden Jokowi dalam 
menghimpun berbagai kekuatan politik di sekitarnya. Tidak heran kemudian 
dukungan politik RI-1 begitu dicari oleh kandidat yang ingin maju di Pilpres 
2024. 

Selain itu, kemampuan ini juga terlihat dari terpilihnya Gibran Rakabuming Raka 
sebagai Wali Kota Solo, dan Bobby Nasution sebagai Wali Kota Medan. Bagi mereka 
yang mengikuti perjalanan politik keduanya, khususnya Gibran, tentu melihat itu 
adalah karier politik yang cepat. Dari awalnya tidak mendapat dukungan partai, 
hingga berbagai partai berlomba untuk mendukung.

Pada konteks pembuatan strategi, sama halnya seperti bermain catur, politisi 
pemain catur juga selalu memainkan lebih dari satu bidak. Jika satu bidak 
dimakan lawan, masih ada bidak lainnya yang dimainkan dan dipersiapkan.
Jika berbicara mengenai Presiden Jokowi, dapat dikatakan salah satu tujuan 
politiknya saat ini adalah mendapatkan perlindungan politik setelah tidak lagi 
menjabat sebagai RI-1. Tujuan ini dapat dideduksi melalui habituasi politik di 
Indonesia yang seperti kerajaan. 

Entah kenapa, pemimpin baru – tepatnya orang-orangnya – kerap ingin menutup 
jejak pemimpin lama dengan cara menyerangnya, baik secara retorika maupun 
perbuatan.

Dengan kata lain, Presiden Jokowi perlu menyiapkan penerusnya sebagai presiden. 
Sejauh ini, melihat dari berbagai gestur, seperti ketegangannya dengan Ketua 
Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Presiden Jokowi tampaknya menaruh dukungan 
kepada Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo.

Nah, kembali pada karakter politisi pemain catur, bukan tidak mungkin Presiden 
Jokowi juga menyiapkan bidak lain sebagai jalan keluar jika Ganjar kalah atau 
gagal maju di Pilpres 2024. Yang menarik adalah, kemungkinan bidak lain itu 
adalah Anies Baswedan.

Apa yang kerap luput dari perhatian publik adalah, Presiden Jokowi dan Anies 
sebenarnya kerap menunjukkan keakraban secara terbuka. Pada 25 April 2022, 
misalnya, di tengah berbagai kritik terhadap Formula E, Presiden Jokowi justru 
meninjau langsung kesiapan Formula E bersama Anies.

Berbagai pengamat politik, misalnya Robi Nurhadi dari Universitas Nasional 
(Unas), kemudian menyebut gestur itu sebagai sinyal Presiden Jokowi mendukung 
Anies di Pilpres 2024. 

Jika menarik ke belakang, hubungan Jokowi-Anies sebenarnya dekat. Pada Pilpres 
2014, misalnya, Anies merupakan juru bicara tim pemenangan pasangan 
Jokowi-Jusuf Kalla (JK). Anies kemudian ditunjuk Jokowi sebagai salah satu 
deputi Kantor Transisi yang bertugas menyiapkan proses peralihan pemerintahan. 

Tidak berhenti di sana, pada 27 Oktober 2014, Anies dilantik menjadi Menteri 
Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Bahkan sehari sebelum dilantik, Presiden 
Jokowi memberikan pujian terbuka kepada Anies. “Saya kira nggak usah saya 
promosikan, semua juga sudah tahu, dia perintis Indonesia Mengajar,” ungkapnya.

Selain fakta sejarah itu, berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim 
Penelitian dan Pengembangan (Litbang) PinterPolitik, hubungan Presiden Jokowi 
dan Anies diketahui baik-baik saja selama ini. Bahkan, jika berbicara soal 
kenyamanan, ada tiga nama yang kemungkinan dipilih Presiden Jokowi sebagai 
penerusnya, yakni Prabowo Subianto, Erick Thohir, dan Anies.

Tentu pertanyaannya, kenapa bukan Prabowo atau Erick? Karena elektabilitas dan 
peluang Anies untuk menang tampaknya cukup besar. Kendati Prabowo memiliki 
partai, kekalahannya di tiga ajang pilpres sepertinya menjadi pertaruhan yang 
besar.   

Sebagai penutup, mungkin dapat disimpulkan, jika benar Presiden Jokowi 
merupakan politisi pemain catur, RI-1 pastilah menyiapkan bidak lain selain 
Ganjar – jika benar didukung – untuk bertarung di Pilpres 2024. Dan yang 
menarik dari Anies, karena selama ini sosoknya dicitrakan sebagai oposisi 
pemerintahan Jokowi, Anies sebagai bidak lain Presiden Jokowi di Pilpres 2024 
menjadi tersamarkan. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/7F1387DE864D46BA8581F8081A17642F%40A10Live.

Reply via email to