Written byJ61Sunday, June 12, 2022 07:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/pertahanan-ikn-luhut-khianati-prabowo/
Pertahanan IKN, Luhut Khianati Prabowo?
Aspek pertahanan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara tampak menjadi urgensi saat 
dikemukakan oleh sejumlah elite termasuk Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo 
Subianto. Akan tetapi, investor yang juga menjadi ancaman iminen IKN seperti 
Tiongkok berpotensi tetap diterima oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman 
dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Secara gradual, urgensi penyiapan aspek pertahanan Ibu Kota Negara (IKN) 
nusantara terus dikemukakan oleh sosok-sosok kunci pertahanan dan keamanan 
tanah air. Baik, secara tersirat maupun tersurat, potensi ancaman terhadap IKN 
turut pula diungkapkan dan seolah merepresentasikan sinyal-sinyal tertentu.

Teranyar, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo 
mengatakan bahwa dalam pembangunan kekuatan matra udara harus mempertimbangkan 
pertahanan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang mampu melindungi di masa depan.

Selain itu, pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) matra udara 
perlu kecermatan guna mengantisipasi dinamika di Laut China Selatan (LCS). 
Menurutnya, perkembangan dan potensi ancaman yang terjadi serta berasal dari 
LCS menjadi salah satu tren kekinian yang wajib diantisipasi.

Apa yang dikemukakan KSAU tampak beriringan dengan pernyataan sebelumnya dari 
sejumlah tokoh, terutama mengenai pertahanan IKN serta potensi ancaman terhadap 
kota pengganti Jakarta itu.

 
Pertama kali, peringatan disampaikan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional 
(Lemhanas) Andi Widjajanto. Dia mengatakan bahwa IKN Nusantara memiliki 
kerentanan tinggi atas serangan udara jika berkaca pada lokasi geografis.

Pertahanan IKN Nusantara sendiri telah menjadi fokus Menteri Pertahanan 
(Menhan) Prabowo Subianto. Pada awal tahun ini misalnya, Prabowo telah 
melakukan Rapat Pimpinan kementerian yang diampunya untuk menyiapkan strategi 
pertahanan ibu kota baru secara komprehensif.

Nominal alokasi anggaran pertahanan sendiri telah muncul dalam Rencana Anggaran 
Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2023, yakni sebesar Rp123,44 triliun atau 
meningkat sebesar 4,5 persen dibanding tahun sebelumnya.

Di samping tafsir terhadap memadai atau tidaknya anggaran tersebut, aspek 
pertahanan dan potensi ancaman terhadap IKN Nusantara agaknya menarik untuk 
menjadi sorotan.

Dinamika tensi di LCS berulang kali terucap dari para elite pertahanan. 
Meskipun tidak disebutkan secara spesifik, Tiongkok agaknya menjadi aktor 
antagonis utama di baliknya. Apalagi, letak IKN Nusantara malah semakin dekat 
dengan hotspot ketegangan LCS di utara Indonesia.

Meski demikian, probabilitas Tiongkok untuk menjadi investor di IKN Nusantara 
kiranya berpeluang menimbulkan dilema tersendiri bagi sektor pertahanan. 
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut 
Binsar Pandjaitan sendiri boleh jadi tak menutup pintu bagi suntikan dana 
negeri Tirai Bambu dalam pembangunan IKN. Hal ini mengacu pada masih terbukanya 
“slot” untuk berinvestasi yang sering dilontarkannya.

Lantas, apakah korelasi dengan Tiongkok itu akan benar-benar menimbulkan dilema 
pelik bagi pertahanan IKN Nusantara nantinya?

 
Tiongkok Tak Bersahabat?
Masih belum mencukupinya pendanaan pembangunan IKN Nusantara berulang kali 
disampaikan pemerintah. Hal ini membuat uluran investasi boleh jadi sangat 
dinantikan oleh Luhut Binsar Pandjaitan.

Tengah pekan kemarin, Wakil Kepala Otorita IKN Nusantara Dhony Rahajoe 
menyebutkan dengan gamblang bahwa karpet merah berupa insentif telah disediakan 
bagi para calon investor pelopor.

Artinya, peluang entitas dan negara lain untuk campur tangan dalam pembangunan 
Nusantara masih terbuka, termasuk Tiongkok. Juga dengan peluang peliknya 
menyusun pertahanan jika Xi Jinping jadi memupuk uangnya di IKN Nusantara.
Merujuk pada hal tersebut, Prabowo dan Luhut agaknya wajib merefleksikan 
pertimbangan pertahanan dan investasi IKN pada apa yang menjadi sorotan Joachim 
Pohl dalam publikasinya yang berjudul Investment Policies Related to National 
Security.

Pohl menjabarkan bahwa pemerintahan suatu negara idealnya mendorong kebijakan 
yang berupaya melindungi keamanan nasional sebagai prioritas mereka dengan 
dampak sekecil mungkin terhadap arus investasi.

Itu berkaca pada kecenderungan sejumlah negara di era saat ini yang bahkan 
seolah “menggadaikan” kedaulatannya demi pundi-pundi investasi menggiurkan. 
Rengkuhan investasi itu terkadang dimanfaatkan untuk reputasi hingga 
kepentingan politik tertentu selagi kekuasaan domestik masih dalam genggaman.

Meskipun logika bisnis dan investasi harus bebas nilai dari intervensi politik, 
Pohl mengemukakan istilah high-level political consideration and involvement 
atau keterlibatan dan pertimbangan politik level atas dalam proses perumusan 
kebijakan penerimaan investasi dan konteks keamanan nasional.

Terminologi keamanan nasional memang lahir dari narasi Amerika Serikat di era 
Perang Dingin atas ancaman tradisional dan non-tradisional. Akan tetapi, 
relevansinya tampak masih ada hingga kini, dan tercermin dari konflik 
Rusia-Ukraina hingga ketegangan di LCS dengan dampak multi-sektor yang 
merugikan.

Atas konsepsi tersebut, high-level political consideration and involvement 
kiranya harus terus dilakukan dan dikoordinasikan sebaik mungkin dalam hal 
penerimaan investasi eksternal dan upaya pembentukan strategi pertahanan IKN 
Nusantara.

Tak lain, sorotan utama tertuju pada Tiongkok karena berpeluang menjadi 
investor paling ideal. Namun, di saat yang sama, negara itu juga dikategorikan 
menjadi pemantik potensi ancaman bagi IKN Nusantara.

Ketegasan kiranya harus diambil untuk memberikan batasan bagi investasi demi 
kepentingan nasional di IKN. Dalam basis analisis level high-politics, Tiongkok 
telah dikatakan sebagai aktor yang kurang bersahabat jika merujuk pada klaim, 
ambisi, dan agresivitasnya di LCS yang berpotensi menjangkau wilayah IKN.

Potensi pengaruh ketegangan di LCS terhadap IKN Nusantara juga pernah diakui 
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono pada Februari lalu. 
Pun, dengan analisa Andi Widjajanto sebelum menjabat Gubernur Lemhanas saat 
dirinya menjadi ahli Presiden dalam gugatan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 
tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara (PSDN) di 
Mahkamah Konstitusi (MK).

Andi mengatakan bahwa Tiongkok telah menyiapkan rencana strategis hingga tahun 
2050 dan dirinya memberikan prediksi bahwa Tiongkok siap unjuk kekuatan serta 
memenangkan perang di LCS. Indonesia disebutnya harus benar-benar mempersiapkan 
diri untuk itu.

Bahkan dalam sebuah analisis dari Sekolah Staf Umum dan Komando Angkatan Darat 
(Seskoad) yang terekspos ke publik pada Desember 2020 lalu, disimpulkan bahwa 
Tiongkok telah sangat siap dengan niat dan kemampuan militernya apabila 
memerlukan serangan yang besar kepada para rival di LCS.

Lalu, jika berkaca pada ketergantungan terhadap sokongan eksternal dalam hal 
investasi dan pertahanan yang dialami Indonesia, bagaimana cara terbaik untuk 
mengantisipasi potensi ancaman iminen Tiongkok tersebut terhadap IKN Nusantara?

 
Terpaksa Didikte AS atau Tiongkok?
Meskipun berusaha melakukan diversifikasi negara eksportir alutsista, impresi 
kecondongan agaknya tetap tak dapat terhindarkan. Chandler Sachs dan John V. 
Parachini dalam Are Military Purchases in SE Asia for Political Balancing a 
Good Use of National Defense Resources? menyebutkan konsep political symbolism 
atau simbolisme politik dari eksistensi alutsista eksternal di negara-negara 
Asia Tenggara.

Singkatnya, tren impor alutsista disebut Sach dan Parachini merupakan simbol 
kecondongan politik. Hal inilah yang kiranya dapat dilihat dari simbol 
kecondongan politik pertahanan tanah air.

Jika berkaca pada inventaris dan rencana pengadaan alutsista Indonesia dalam 
memperkuat pertahanan, kecondongan kiranya lebih tertuju pada Barat. Data yang 
dirilis Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan 
bahwa hingga tahun 2019, tiga besar negara-negara pemasok terbesar alutsista 
Indonesia adalah Inggris (19 persen), Amerika Serikat (18 persen), dan Belanda 
(13 persen).

Teranyar, pengadaan alutsista yang eye catchy yaitu jet tempur Dassault Rafale 
asal Perancis dan rencana akuisisi F-15 EX asal AS kiranya menambah variabel 
political symbolism Indonesia.

Satu yang mungkin paling memunculkan korelasi khusus adalah latihan militer 
bersama bertajuk Garuda Shield dengan pasukan AS pada tahun 2021 lalu. Latihan 
militer terbesar dalam sejarah TNI-AD itu sendiri dilakukan di Balikpapan dan 
Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, lokasi yang berdekatan dengan IKN 
Nusantara.

Namun, simbolisme kecondongan itu kiranya akan berbenturan dengan peluang 
investor IKN Nusantara.

Tiongkok lagi-lagi dinilai menjadi negara dengan potensi dana dan minat 
terbesar, plus reputasi investasinya di Indonesia yang dalam beberapa tahun 
terakhir cukup agresif. Bahkan, Tiongkok langsung dinobatkan sebagai pengganti 
utama investor asal Jepang, Softbank, yang urung berinvestasi karena masalah 
internal.

Meski terdapat negara investor potensial lain seperti Arab Saudi maupun Uni 
Emirat Arab (UAE), keberadaan investor Barat seperti AS di IKN Nusantara 
agaknya cukup sulit untuk diharapkan jika mengacu pada karakteristik mekanisme 
dan penilaian risiko investasi di Indonesia dari kaca mata negeri Paman Sam.

Hal itu yang memunculkan pertanyaan tersendiri mengenai apakah implementasi 
pertahanan IKN Nusantara beserta potensi ancaman iminennya yang digagas oleh 
Prabowo akan selaras dengan pengaturan arus investasi yang diampu Luhut?

Meskipun Luhut baru saja menegaskan bahwa Indonesia tidak dapat didikte oleh 
investasi asal AS maupun Tiongkok, namun hal itu agaknya hanya ekspresi 
normatif semata.

Ya, penegasan Luhut tampak kontras dengan teori dependensi atau teori 
ketergantungan yang menjadi masalah pembangunan lintas sektoral di 
negara-negara dunia ketiga.

Begitu pula dengan Prabowo. Pada diskusi panel forum IISS Shangri-La Dialogue 
2022 di Singapura kemarin, Menhan mendorong kebijaksanaan Tiongkok dan AS dalam 
menghadapi tantangan geopolitik. Sebuah hal yang kiranya tidak mudah di tengah 
atmosfer anarki di antara kedua negara dalam aspek keamanan sejauh ini.

Kendati demikian, publik tanah air kiranya harus tetap menaruh kepercayaan 
bahwa Prabowo dan Luhut yang tentu telah memiliki rencana dan pertimbangan 
matang agar investasi tidak sampai mengusik aspek pertahanan IKN Nusantara. 
(J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/233C72C03E9B4EF2B83A911DA9D9C658%40A10Live.

Reply via email to