https://www.sinarharapan.co/opini/pr-3853536833/amerika-serikat-membuat-konflik-menjual-senjata


Amerika Serikat: Membuat Konflik, Menjual Senjata

Joko M <https://www.sinarharapan.co/author/8365/Joko-M>

- Senin, 6 Juni 2022 | 09:15 WIB

*Oleh: Sjarifuddin Hamid
<https://www.sinarharapan.co/tag/Sjarifuddin-Hamid>*

*SINAR HARAPAN* - Berbagai negara menanggapi dengan hati-hati narasi
kritik, tuduhan dan kecaman yang dilontarkan para pejabat Amerika Serikat
kepada China <https://www.sinarharapan.co/tag/China>. Ketika berbicara di
depan civitas academica Universitas George Washington, akhir Mei lalu Menlu
Anthony J. Blinken menegaskan China
<https://www.sinarharapan.co/tag/China> merupakan
satu-satunya negara yang berminat membentuk kembali tatanan dunia, seraya
meningkatkan kekuatan militer, teknologi, diplomatik dan ekonomi.

Visi Beijing akan mendorong kita menjauh dari nilai-nilai universal  yang
begitu banyak menopang kemajuan dunia dalam 75 tahun terakhir, katanya.

Blinken tidak merinci nilai-nilai universal itu, namun difahami nilai itu
mencakup kebebasan, kesetaraan, demokrasi, individualisme, persatu dan
keanekaragaman. Gradasi sekalian nilai-nilai itu ditentukan Amerika Serikat
dan sekutu-sekutunya.

Apabila penerapan nilai-nilai tersebut dipandang tak sesuai, maka
pemerintahan yang bersangkutan akan dikudeta atau  diserang seperti yang
dilakukan terhadap Libya.

Dapat pula dikritik atau dikecam secara berulang sebagaimana yang dikenakan
terhadap China <https://www.sinarharapan.co/tag/China> dengan mengangkat
isyu Xinjiang, Hong Kong dan pemerintahan Xi Jinping yang otoriter.

Presiden Joe Biden <https://www.sinarharapan.co/tag/Joe-Biden> di dalam
berbagai kesempatan juga mengutarakan hal yang sama. Bahkan di Jepang
beberapa waktu lalu menegaskan, Amerika Serikat akan membela dengan
kekuatan militer apabila China <https://www.sinarharapan.co/tag/China>
 menginvasi Taiwan <https://www.sinarharapan.co/tag/Taiwan>.

*Kerjasama Multilateral*

Dalam menghadapi ‘ambisi ‘ China <https://www.sinarharapan.co/tag/China>
 itu, AS <https://www.sinarharapan.co/tag/AS> mengadakan kerjasama
multilateral. Membentuk aliansi militer Australia, Inggris dan Amerika
Serikat (AUKUS), membuat kerjasama ekonomi dengan India, Australia , Jepang
dan Amerika Serikat (QUAD). Selain kerjasama intelijen atau pertukaran
informasi dengan Kanada, Selandia Baru, Australia, Inggris dan Amerika
Serikat (FEVEY) yang dibuat belasan tahun lalu.

FEVEY mulanya bertujuan memonitor Uni Soviet dan Blok Timur. Setelah
keduanya runtuh, FEVEY masih aktif dan mentargetkan negara-negara lain
termasuk China <https://www.sinarharapan.co/tag/China>.

*Menganggu dominasi*

Berkat kebijaksanaan Presiden Richard Milhous Nixon dan Menlu Henry
Kissinger, memberi peluang seluas-luasnya kepada China
<https://www.sinarharapan.co/tag/China> untuk tumbuh dalam aspek investasi,
alih teknologi dan masih banyak lagi.

PM Deng Xiaoping dan penerusnya, termasuk Presiden Xi Jinping menyalakan
semangat patriotisme , etos kerja, menerapkan strategi pembangunan yang
tepat, tarnsformasi ekonomi, bergabung dalam WTO, mengendalikan demokrasi
dan memberantas korupsi. Cara ini membuat investor asing nyaman dan jumlah
penduduk miskin menurun.

Menurut laporan Bank Dunia <https://www.sinarharapan.co/tag/Bank-Dunia> per
1 April 2022, jumlah penduduk miskin di China
<https://www.sinarharapan.co/tag/China> turun sekitar 770 juta jiwa dalam
waktu 40 tahun. Jumlah penduduk China
<https://www.sinarharapan.co/tag/China> tahun ini mencapai 1.441 juta jiwa.

British consultancy Centre for Economics and Business Research (CEBR)
memperkirakan GDP China <https://www.sinarharapan.co/tag/China> akan tumbuh
5,7% hingga 2025 dan 4,7% per tahun hingga 2030. China
<https://www.sinarharapan.co/tag/China> akan melampaui AS
<https://www.sinarharapan.co/tag/AS> pada 2030.

Menurut laman Statista, GDP China <https://www.sinarharapan.co/tag/China> pada
2020 turun hingga 2.24% akibat wabah Covid-19 dari 5,95% pada tahun
sebelumnya. Namun GDP pada 2021, melonjak hingga 8,08%. Lalu berturut-turut
5,07%, 5,09%, 4,97%, 4,92% dan 4,78% pada 2027.

GDP AS <https://www.sinarharapan.co/tag/AS>, menurut laman yang sama, pada
2020 minus 3,41%, kemudian 3,41%, 5,97%, 5,2%, 1,7%, 1,7% dan 1,7% pada
2026. Kemerosotan ini al. disebabkan ekspor menurun dan impor meningkat
hingga terjadi defisit. Pemerintah federal juga harus membayar pinjaman
pokok dan bunga yang semakin besar. Belanja pemerintah federal, negara
bagian dan lokal tak mampu menopang perekonomian ditambah dengan pandemi
Covid-19.

Selain khawatir dengan keberhasilan China
<https://www.sinarharapan.co/tag/China> membangun ekonomi domestik, AS
<https://www.sinarharapan.co/tag/AS> juga gusar  dengan Belt and Road
Initiative <https://www.sinarharapan.co/tag/Belt-and-Road-Initiative> (BRI)
yang diperkenalkan di Kazakhstan pada September 2013. BRI bertujuan
membangun konektifitas dan kerjasama enam koridor ekonomi yang meliputi
China <https://www.sinarharapan.co/tag/China>, Mongolia dan Rusia,
negara-negara Eropa, Asia Barat dan Asia Tengah, Pakistan, serta
negara-negara lain di anak benua India dan Indo-China
<https://www.sinarharapan.co/tag/China>.

Per Maret 2022, berdasarkan data Organisasi Kerjasama Ekonomi dan
Pembangunan (OECD)  149 negara dan 31 organisasi internasional turut serta
dalam program BRI.  43 negara diantaranya berlokasi sub-Sahara Afrika.

BRI mendapat sambutan baik sebab mengatasi kekurangan  infrastruktur yang
menghambat perdagangan, keterbukaan dan kemakmuran di masa depan.
 Sebaliknya, Amerika Serikat menilai BRI adalah instrumen yang akan
mengubah tatanan dunia dengan (1) memperkenalkan sistem politik tidak
demokratis. (2)  Menuduh China <https://www.sinarharapan.co/tag/China> membawa
sikap represif dari dalam negeri ke luar negeri.

Selain itu isyu yang muncul belakangan ini adalah China
<https://www.sinarharapan.co/tag/China> membuat jebakan utang, padahal isyu
debt trap sudah muncul 1970an. Ketika itu para ekonom, yang dijuluki
kelompok ‘kiri baru”, menyatakan negara-negara Barat telah memberi pinjaman
dengan syarat-syarat yang mengikat.

*Cemas Tergusur*

AS <https://www.sinarharapan.co/tag/AS> yang dominasinya terancam, berupaya
membalikkan keadaan dengan membangun narasi China
<https://www.sinarharapan.co/tag/China> adalah musuh bersama yang harus
ditangkal. Caranya adalah dengan mengurangi hubungan dalam arti luas China
<https://www.sinarharapan.co/tag/China> dan membeli peralatan militer dari
AS <https://www.sinarharapan.co/tag/AS>.

Contohnya, penjualan senjata
<https://www.sinarharapan.co/tag/penjualan-senjata> ke Taiwan
<https://www.sinarharapan.co/tag/Taiwan> berdasarkan Taiwan
<https://www.sinarharapan.co/tag/Taiwan> Relations Act tahun 1979  selalu
diprotes Beijing, namun AS <https://www.sinarharapan.co/tag/AS> beretorika
ancaman China <https://www.sinarharapan.co/tag/China> terus meningkat dan
kemungkinan konflik makin jelas.

Pemerintahan Biden berhasil menjual peralatan militer seharga US$945 juta.
Trump menjual seharga US$18,27 miliar. Obama (2009-2017) US$14 miliar dan
lisensi pembuatan peralatan militer US$6,2 miliar.

Berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI)
sejak 1979-2022, sejumlah 77% dari total senjata konvensional yang diimpor
Taiwan <https://www.sinarharapan.co/tag/Taiwan> berasal dari AS
<https://www.sinarharapan.co/tag/AS>. Jumlah yang memadai untuk menciptakan
lapangan kerja dan mengembangkan riset.

Sejauh ini invasi China <https://www.sinarharapan.co/tag/China> tak terjadi
sebab Beijing menganggap Taiwan <https://www.sinarharapan.co/tag/Taiwan> adalah
bagiannya. China <https://www.sinarharapan.co/tag/China> juga lebih
memiliki kepentingan lebih luas daripada menduduki Taiwan
<https://www.sinarharapan.co/tag/Taiwan>.  Ia sudah belajar dari Rusia.

Taiwan <https://www.sinarharapan.co/tag/Taiwan> telah menjadi proxy. Siapa
menyusul? ***

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2AO4SSg8KVgoBXUjW1YjgJXiGCQ0gC5r-xtucuidXwudg%40mail.gmail.com.

Reply via email to