Pengamat: Politik identitas sudah tidak relevan untuk Pilpres 2024
 Kamis, 16 Juni 2022 00:07 WIB
 
Pengamat intelijen dan terorisme dari Universitas Indonesia Ridlwan Habib 
(ANTARA/HO-Humas BNPT)

Jakarta (ANTARA) - Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia Ridlwan Habib 
menegaskan isu politik identitas sudah tidak relevan untuk Pemilu Presiden dan 
Wakil Presiden (Pilpres) 2024, karena literasi masyarakat tentang berita bohong 
atau hoaks sudah membaik.

“Sudah tidak relevan (politik identitas) untuk Pilpres 2024 nanti. Kenapa? 
Karena masyarakat sudah makin cerdas. Literasi masyarakat tentang hoaks, berita 
palsu, berita bohong itu sudah makin baik. Mungkin di 2014, 2019 berita hoaks 
masih bisa dan banyak beredar di WA grup, tapi di 2024 saya tidak yakin,” ujar 
Ridlwan dalam siaran pers di Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan hal ini juga terkait faktor banyaknya generasi Z atau milenial 
yang saat ini sudah "melek" digital dan unggul dalam literasi, sehingga 
generasi ini sudah memahami mana berita palsu, hoaks dan bohong.

Dengan demikian, menurutnya, maka narasi politik identitas yang negatif sudah 
harus ditinggalkan.

“Sebenarnya berpolitik identitas itu boleh boleh saja, misalnya kampanye dengan 
menggunakan jargon agama itu sah-sah saja. Yang tidak boleh adalah jika 
menggunakan politik identitas untuk menyalahkan pihak lain di luar kelompoknya, 
bahkan mengampanyekan khilafah,” ujar Ridlwan.

Dia menekankan mengampanyekan atau mempromosikan Indonesia harus menganut hukum 
agama tertentu, artinya sudah menyalahi serta melanggar konsensus nasional yang 
telah disepakati para pendiri bangsa.

“Jadi, politik identitas itu boleh saja asal yang positif, yang tidak 
bertentangan dengan agama, yang bertujuan memajukan bangsa dan tidak mengganggu 
orang lain, itu positif. Jadi politik identitas jangan selalu dipahami 
negatif,” kata pria yang meraih gelar magister pada Kajian Stratejik Intelijen 
Universitas Indonesia ini.

Dirinya juga menyebut dalam perjalanan demokrasi di Indonesia, seringkali 
ditemui oknum berkepentingan, yang memanfaatkan isu sentimen agama yang justru 
menimbulkan reaksi balik dari kelompok masyarakat yang merasa terganggu dengan 
isu tersebut.

Hal ini, menurutnya, mengakibatkan kerukunan, persatuan, kemajemukan, tenggang 
rasa bangsa tercederai oleh narasi keagamaan yang dipaksakan dalam politik.

“Indonesia menganut kebebasan demokrasi, tiap orang boleh berekspresi, itu 
wajib dijaga, akan tetapi kebebasan berekspresi itu tidak boleh melanggar 
kebebasan orang lain, nah termasuk dalam hal berpolitik itu tadi,” tutur 
Ridlwan.

Tidak hanya itu, kata dia, kondisi iklim demokrasi yang dirusak dengan 
pertarungan sentimen agama justru akan semakin melanggengkan jalan bagi 
kelompok radikal guna mewujudkan visi-misinya guna mengganti ideologi Pancasila 
dengan ideologi atau sistem yang mereka percaya.

“Kalau negara ini chaos, maka mereka akan bilang ‘inilah bukti bahwa Pancasila 
gagal dan tidak relevan lagi bagi bangsa Indonesia, negara ini gagal, maka 
ganti lah Pancasila ke sistem khilafah, karena terbukti bangsa ini pecah, maka 
ayo ganti ke sistem agama’. Tentunya hal itu yang menjadi tujuan mereka,” ujar 
Ridlwan.

Tidak hanya itu, dia mengingatkan, kondisi adu domba dan polarisasi yang 
semakin parah di tengah masyarakat Indonesia yang beragam, juga menjadi 
kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat tentang bangkitnya gerakan-gerakan 
teror menjelang tahun politik 2024..

“Tindak terorisme sekarang ini sebenarnya sudah dalam tahap minimal, karena 
kelompok ini di Timur Tengah sudah tidak punya basis dan wilayah serta tidak 
ada perintah serta fatwa untuk membuat teror. Tapi justru kelompok ini paham 
bahwa kalau mereka membuat teror, maka masyarakat akan antipati, maka dari itu 
mereka mengubah strategi menjadi strategi soft,” ujarnya.

Strategi soft atau halus yang dimaksud, yaitu dengan cara konvoi, membagikan 
selebaran, membuat acara menarik yang tidak menakutkan, tetapi tetap dengan 
tujuan yang sebenarnya, yaitu untuk mengganti ideologi bangsa.

"Mereka telah memahami bahwa metode menyerang rumah ibadah atau melakukan 
pengeboman bukan lagi metode yang efektif. Justru masyarakat akan jengkel dan 
sulit bagi mereka mencapai tujuannya," jelasnya.

Ridlwan mengingatkan masyarakat, khususnya aktor politik nasional, untuk tidak 
mudah terpancing dengan narasi negatif yang dibuat oknum berkepentingan, 
termasuk narasi khilafah yang dewasa ini ramai diperbincangkan, serta harus 
bijaksana membalas isu dan narasi yang dikeluarkan oleh kelompok radikal.

“Jadi tidak perlu lah kita menciptakan musuh sendiri. Kecuali ketika mereka 
melakukan manuver, baru lah direspons. Kalau tidak bermanuver kan semakin baik, 
apalagi kelompok radikal ini mau berdemokrasi dan berkompetisi itu kan semakin 
baik bagi Indonesia,” tutur Ridlwan.

Ridlwan juga berharap para aktor politik dan para pendukungnya mampu mengubah 
cara kompetisinya dengan mengesampingkan politik identitas negatif dan mulai 
mengedepankan kualitas program, prestasi dan visi-misinya untuk kemajuan 
Indonesia.

“Kalau mau makin baik, maka bicara tentang program, tentang prestasi, jangan 
melulu tentang isu agama. Kalau tetap seperti itu maka 2024 akan terjadi 
politik identitas lagi. Ayo kita kembali bermain fair saja, tinggalkan narasi 
politik identitas negatif kepada program dan prestasi,” kata Ridlwan. 
Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Masuki M. Astro

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/05F5111EF37F455A95855E7B550CE74D%40A10Live.

Reply via email to