Written byJ61Wednesday, June 15, 2022 19:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/reshuffle-bin-pdip-halangi-andika/Reshuffle
 BIN, PDIP Halangi Andika?

Satu hal menarik dari isu reshuffle yang muncul kali ini adalah minimnya suara 
yang mengarah pada Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Pol. (Purn.) 
Budi Gunawan (BG). Restu PDIP dan korelasinya dengan rotasi di tubuh TNI yang 
mendesak kiranya menjadi penting untuk dianalisis. Mengapa demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Torehan rekor berhasil dibukukan Jenderal Pol. (Purn.) Budi Gunawan (BG) 
sebagai pemegang pucuk pimpinan lembaga telik sandi terlama setelah berganti 
nama menjadi Badan Intelijen Negara (BIN).

Selain menunjukkan kepercayaan lebih dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas 
kinerjanya termasuk berkontribusi dalam penanganan pandemi Covid-19, relasi 
politik kiranya juga memiliki signifikansinya tersendiri.

Menariknya, wacana dan isu reshuffle terkini yang santer beredar tempo hari, 
sama sekali tak menyasar pimpinan badan telik sandi. Padahal, Kepala BIN sempat 
termasuk dalam daftar kala desas-desus perombakan kabinet muncul pada Oktober 
2021 lalu.

Saat itu, tak kunjung ditemukannya Harun Masiku, politikus PDIP yang menjadi 
tersangka suap Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan, menjadi 
dalih terbesar yang dinilai sejumlah pihak berkorelasi dengan kinerja BIN yang 
diampu Jenderal BG.

Padahal, jika ditelaah lebih dalam, menganalisis siapa suksesor Budi Gunawan 
saat ini agaknya justru lebih memiliki urgensi. Hal itu dikarenakan, nama 
pengganti BG dinilai akan merembet pada rotasi pimpinan TNI, yang lagi-lagi 
mungkin berkaitan erat dengan pertimbangan politis.

 
Pendiri Truman National Security Project Rachel Kleinfeld dalam tulisannya di 
Carnegie Endowment for International Peace, menjelaskan bahwa realitasnya 
politisasi institusi keamanan bukan hal yang janggal. Bahkan, hal itu terjadi 
di negara yang dianggap paling demokratis seperti Amerika Serikat (AS).

Mengacu pada jajak pendapat, Kleinfeld menilai bahwa di bawah kepemimpinan 
Trump, publik AS cenderung melihat lembaga seperti Immigration and Customs 
Enforcement (ICE), para sheriffs, kepolisian, dan bahkan militer sebagai 
“institusinya” Partai Republik.

Meskipun lumrah saja jika dilihat dari aspek privilese berdasarkan ketetapan 
konstitusi dan rantai komando, analisis yang dikemukakan Kleinfeld itu pula 
yang terkadang tak lepas dari kecenderungan institusi-institusi serupa di 
Indonesia.

Reshuffle Kepala BIN dan berbagai korelasinya juga tak kalah penting 
dibandingkan bongkar pasang kabinet menteri Presiden Jokowi, termasuk 
kemungkinan dampaknya terhadap karier Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. 
Mengapa demikian?

Konfigurasi Bidak Andalan Jokowi
Dalam buku politik yang sangat ikonik berjudul Il Prince gubahan Nicollo 
Machiavelli, penjelasan mengenai mengapa Presiden Jokowi tampak cukup jelas 
menempatkan orang-orang di institusi pertahanan dan keamanan dengan tendensi 
politis agaknya dapat terjawab.

Melalui karya yang secara resmi dipublikasikan pada tahun 1532 tersebut, 
Machiavelli memberikan sampel Duke Ferrara di Italia yang mampu bertahan dari 
serangan-serangan Venesia pada tahun 1484 dan serangan Paus Julius pada tahun 
1510.

Menurutnya, keberhasilan tersebut tak lepas dari faktor keluarga Ferrara yang 
memang memegang kekuasaan sejak lama. Dengan faktor itu, friksi kepentingan 
yang berakibat pada runtuhnya soliditas tidak banyak terjadi.

Penjabaran sederhana dan inti sari yang dapat diambil adalah bahwasanya 
menempatkan orang-orang kepercayaan di dalam lingkaran kekuasaan cukup esensial 
agar penguasa dapat melakukan kendali dan melaksanakan kebijakan dengan lebih 
mudah.

Dalam konteks Presiden Jokowi dan institusi pertahanan dan keamanan, tak hanya 
Il Prince yang relevan dengan relasi atas orang kepercayaannya di institusi 
pertahanan dan keamanan.

Profesor Vedi Hadiz dari Murdoch University, Australia juga menyiratkan hal 
serupa ketika menurutnya Presiden Jokowi menggunakan TNI – terutama Angkatan 
Darat (AD) – untuk memperkuat posisi politiknya.

Ini bisa jadi perihal yang semakin terlihat lewat pelibatan militer dalam 
berbagai program pemerintah – bahkan termasuk kompromi mantan Gubernur DKI 
Jakarta terhadap eksistensi anggota Tim Mawar di jajaran Kementerian Pertahanan.

Di samping itu, postulat Machiavelli dan Hadiz kiranya dapat menjadi pisau 
bedah untuk melihat peluang penggantian Budi Gunawan di BIN dan siapa yang 
kiranya tepat. Faktor kedekatan secara politis membuat suksesor kepemimpinan 
BIN agaknya dekat dengan tendensi digesernya Panglima TNI Jenderal Andika 
Perkasa ke Pasar Minggu.
Jika kelak itu terjadi, potensi pergeseran berdasarkan gagasan pokok dari 
Machiavelli dan Hadiz di atas bisa saja juga akan berdampak pada pengganti 
Andika. Nama Jenderal TNI Dudung Abdurachman bukan tidak mungkin menjadi 
penerus Andika, serta posisi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) diisi Letjen TNI 
Maruli Simanjuntak yang saat ini memimpin Kostrad. Mengapa seperti itu?

 
Faktor teknis dan non-teknis agaknya mengarah pada hipotesis tersebut. BG 
mungkin saja akan diminta Presiden Jokowi maupun Ketua Umum (Ketum) PDIP 
Megawati Soekarnoputri untuk membantu partai banteng di Pemilu 2024 dari 
dimensi politik intelijen dengan kemampuannya.

Sementara itu, Jenderal Andika yang purnatugas pada Desember 2022 memiliki 
kapasitas dan latar belakang intelijen mumpuni jika merujuk pada pengalamannya 
di Grup 3 Sandhi Yudha Kopassus serta penugasan di BAIS TNI ketika berpangkat 
Letnan Kolonel.

Ditambah, sang mertua – mantan Kepala BIN Jenderal TNI (Purn.) A.M. 
Hendropriyono – merupakan legenda hidup intelijen tanah air yang barang tentu 
menambah “damage” jejaring intelijen Andika.

Sedangkan, Jenderal Dudung cukup ideal meskipun penunjukannya sebagai Panglima 
TNI kemungkinan meninggalkan kesan kurang baik bagi rotasi matra walau tak 
wajib hukumnya.

Dari segi faktor kedekatan, Jenderal Dudung kiranya memiliki portofolio positif 
dengan visi kepemimpinan Presiden Jokowi saat meredam intrik Front Pembela 
Islam (FPI) dan Habib Rizieq Shihab (HRS) sewaktu menjabat Pangdam Jaya.

Pun dengan faktor menantunya, mendiang Cholid Ghozali yang menjabat sebagai 
Inspektur Jenderal Departemen Perindustrian dan Perdagangan periode 1999-202 
dan ternyata aktif di PDIP kala itu.

Dan berbicara mengenai pengganti Jenderal Dudung, Letjen Maruli kiranya adalah 
sosok terkuat yang dapat mengisi pos tertinggi di matra darat. Faktor riwayat 
jabatan yang mumpuni dari korps baret merah menambah kekuatan faktor X, yakni 
sebagai menantu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko 
Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.

Maruli juga tampak dapat menjadi solusi jangka panjang persoalan bottleneck 
karier para perwira kolonel dan jenderal di TNI jika mengacu pada akhir masa 
jabatannya yang masih menyisakan enam tahun. Periode kepemimpinan di bawah 
Presiden Jokowi pula kiranya yang menjadi satu-satunya kesempatan bagi Maruli 
untuk merengkuh jabatan tertinggi militer.

Di titik ini, konfigurasi pimpinan BIN, TNI, dan TNI AD itu boleh jadi 
merupakan yang paling membuat “nyaman” bagi Presiden Jokowi untuk menjaga 
stabilitas jelang tahun politik di 2024.

Lantas, sejauh mana peluang skenario itu dapat terwujud?

 
Terhalang Megawati dan PDIP?
Satu hal yang kiranya menjadi pintu masuk probabilitas ilustrasi di atas adalah 
kedekatan profesional dan personal antara BG, Megawati, Presiden Jokowi dan 
PDIP. Ya, hubungan di antara aktor tersebut kiranya menjadi penghalang terbesar 
bagi BIN untuk di-reshuffle, bahkan pasca Jenderal Andika pensiun.

Hal ini dikarenakan Jenderal Andika kiranya belum dapat melampaui “keintiman”, 
keahlian, dan jasa Budi Gunawan dalam pemerintahan Presiden Jokowi – termasuk 
sejak menjadi ajudan Megawati.

Kala itu jadi kenyataan, prospek Jenderal Andika untuk tetap relevan dengan 
memegang jabatan dan memaksimalkan modal politik karena menjadi kandidat 
potensial di pemilihan presiden (Pilpres) 2024, akan terhambat.

Tak terkecuali juga dengan peluang mengisi jabatan menteri yang harus 
mengalkulasi ulang pos yang ideal serta menunggu “keajaiban” reshuffle 
berikutnya.
Namun, di atas itu semua, Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) 29 Maret 2022 yang 
menolak gugatan terhadap UU TNI plus usulan perpanjangan masa pensiun TNI 
menjadi 60 tahun membuat hampir pasti Jenderal Andika akan selesai masa bakti 
keprajuritannya.

Ini membuat posisi Panglima TNI, pada sisi berbeda, menarik pula untuk 
dianalisis sesuai dengan hipotesis sebelumnya.

Kendati demikian, faktor pendorong seperti yang dikemukakan Machiavelli dan 
Hadiz di atas kemungkinan tak akan menguntungkan bagi Jenderal Dudung. Presiden 
Jokowi tentu tidak ingin menambah kegaduhan jika tetap mempertahankan BG dan di 
saat yang sama kembali memberikan posisi Panglima pada matra darat.

Jenderal Dudung pun sepertinya memiliki sejumlah aspek penghambat. Pertama, 
dari segi reputasi dan impresi psikologis publik. Gordon Allport dalam The 
Nature of Prejudice menjelaskan konsep prasangka sosial, yakni sikap antipati 
atau resistensi terhadap individu atau kelompok out-group. Hal itu dapat 
dipantik oleh beberapa hal seperti konflik, kategorisasi sosial, pengalaman 
masa lalu, dan beberapa aspek dalam kognisi sosial.

Secara prasangka sosial, Jenderal Dudung kemungkinan akan terhambat oleh 
tendensi represif kepada FPI, HRS, dan kelompok yang bersimpati pada keduanya. 
Blunder “jangan terlalu dalam mempelajari agama” hingga “Tuhan bukan orang 
Arab” dari Dudung membuat antipati boleh jadi lebih luas dari sekadar segmen 
FPI dan HRS.

Kedua, karakteristik Jenderal Dudung yang unik mungkin saja kurang ideal bagi 
posisi Panglima TNI. Jonah Blank dalam buku berjudul Regional Repsonses to 
US-China Competition in the Indo-Pacific: Indonesia mengutip analisis anonim 
seorang perwira militer AS yang membandingkan kontrasnya prioritas petinggi 
angkatan bersenjata AS dan Indonesia.

Perwira tersebut mengatakan bahwa jika latihan, kesiapan, dan peningkatan 
kemampuan jadi prioritas negeri Paman Sam. Sementara, kecenderungan yang 
terjadi di Indonesia justru lebih mengutamakan office calls, kunjungan 
kehormatan, parade, dan seremoni.

Jika merefleksikannya pada Jenderal Dudung, terdapat beberapa manuver yang 
mungkin berkorelasi dengan hal tersebut, meskipun tidak sepenuhnya keliru. 
Beberapa di antaranya seperti eksis di podcast, menjenguk artis yang sedang 
sakit, hingga membuat lagu “Ayo Ngopi” yang sempat dikritik karena dianggap 
berpengaruh pada impresi kewibawaan TNI.

Ketiga, beredar kabar bahwa Jenderal Andika lebih berkenan atau sreg dengan 
Laksamana TNI Yudo Margono sebagai penerusnya. Terakhir, faktor rotasi matra 
kemungkinan juga menjadi hal yang kali ini akan dipertimbangkan Presiden Jokowi.

Nama Laksamana Yudho yang cukup mumpuni plus tak diliputi kontroversi kiranya 
juga ideal bagi RI-1 untuk menjadikannya Panglima TNI berikutnya, tentu sebagai 
diferensiasi agar penerusnya kembali dapat diisi perwira abiturien Akademi 
Militer (Akmil).

Ya, jikalau menjadi Panglima TNI, Laksamana Yudo yang pensiun hampir bersamaan 
dengan Jenderal Dudung di tahun 2023, berpeluang besar nantinya diteruskan oleh 
Letjen Maruli Simanjuntak yang sebelumnya kemungkinan besar naik sebagai 
pengganti Jenderal Dudung sebagai KSAD.

Titian posisi KSAD dan Panglima TNI bagi Jenderal Maruli juga kiranya menjadi 
resep terbaik bagi harmoni, legitimasi, dan support militer bagi Presiden 
Jokowi hingga masa jabatannya berakhir.

Hal tersebut sejalan pula dengan apa yang dikemukakan Blank bahwa kultur Jawa 
sangat dominan sebagai etos di TNI. Ihwal yang paralel dengan karakter politik 
Jawa harmoni Kepala Negara.

Bagaimanapun, dinamika itu diharapkan tetap dalam batas koridor kepentingan 
bangsa secara luas. Selain itu, didambakan pula bahwa profesionalisme dan 
wibawa BIN maupun TNI tetap dipertahankan serta semakin ditingkatkan. (J61)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1D9F8CC32EBC4A55A9725BE3F14E8C89%40A10Live.

Reply via email to