Written byA43Thursday, June 16, 2022 19:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/cerdik-imin-rayu-sri-mulyani/
Cerdik Imin “Rayu” Sri Mulyani?
Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menyebutkan nama Menteri 
Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati sebagai salah satu sosok yang 
dipertimbangkan untuk menjadi calon wakil presidennya (cawapres) dalam 
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Mengapa Sri Mulyani bisa jadi pasangan ideal 
untuk Cak Imin?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Film apa lagi yang menempatkan banyak bintang seperti Christian Bale, Steve 
Carrell, Ryan Gosling, dan Brad Pitt – bahkan juga ada Margot Robbie dan Selena 
Gomez – dalam satu produksi? Ya, film itu adalah The Big Short yang dirilis 
pada tahun 2015 silam.

Dalam film tersebut, jalan cerita (storyline) yang ada dibagi menjadi sejumlah 
alur. Alur pertama, misalnya, menceritakan kisah Michael Burry – diperankan 
oleh Bale – dari Scion Capital menemukan sebuah persoalan dalam pasar properti 
Amerika Serikat (AS) yang mana dinilai semakin tidak stabil.

Di alur kedua, Jared Vennett dari Deutsche Bank muncul dan memanfaatkan 
pertukaran kredit milik Burry. Di sisi lain, ada juga karakter lain seperti 
Mark Baum yang ingin membeli kredit dari Vennett dan Ben Rickett yang merupakan 
seorang pensiunan trader di Singapura.

Terlepas dari berbagai alur yang berujung pada sebuah epilog, kisah-kisah film 
ini dinilai mampu menjelaskan cara kerja ekonomi dengan lebih sederhana. Latar 
belakang (setting) yang diambil pun ialah krisis finansial yang melanda AS dan 
dunia pada tahun 2007-2008 silam.

Krisis keuangan yang terjadi akibat bubble yang ada di pasar jual-beli kredit 
perumahan rakyat (KPR) ini memiliki magnitudo yang cukup besar – dan bukan 
tidak mungkin juga berdampak pada negara-negara Asia seperti Indonesia. 
Bagaimana tidak? Orang-orang yang sebenarnya tidak kredibel kala itu bisa 
dengan mudah mendapatkan KPR.

Namun, tanpa terduga, Indonesia kala itu mampu bertahan dari gelombang krisis 
keuangan tersebut. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – dibantu oleh 
Bank Indonesia (BI) mampu menyiapkan sejumlah kebijakan agar dampak keuangan 
itu bisa direduksi.

Mengacu pada tulisan Muhammad Chatib Basri yang berjudul A Tale of Two Crises, 
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati kala itu berkoordinasi dengan 
Boediono yang kala itu masih menjabat sebagai Gubernur BI dan membentuk Komite 
Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna menjalankan protokol krisis.

 
Akibat keberhasilan pemerintah dalam menghalau dampak krisis kala itu, nama 
Menkeu Sri Mulyani pun langsung melambung tinggi di dunia finansial. Pada tahun 
2010, dosen Universitas Indonesia (UI) tersebut pun menjadi Direktur Pelaksana 
Bank Dunia (WB).

Pantas saja bila akhirnya Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) 
melirik Sri Mulyani untuk dijadikan calon wakil presiden (cawapres) dalam 
kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. 

Namun, selain alasan prestasi sang Menkeu, mengapa Cak Imin mempertimbangkannya 
untuk jadi cawapres? Mungkinkah ada alasan strategis di baliknya?

Politik Teknokrasi ala Cak Imin?
Kehadiran pakar dan ahli dalam pemerintahan memang kerap didambakan oleh banyak 
orang. Alih-alih para politisi yang menempati jabatan-jabatan strategis, 
sebagian masyarakat lebih mengharapkan sosok-sosok yang berpengetahuan untuk 
membuat regulasi yang berarti.

Mungkin, inilah mengapa dulu media sering menyebutkan istilah “kabinet zaken” – 
sebuah istilah yang menggambarkan kabinet pemerintahan yang berisikan para ahli 
dan bukan sepenuhnya berdasarkan kelompok atau golongan politik tertentu. 
Tentu, harapan-harapan akan kabinet zaken ini memiliki tujuan baik, seperti 
agar malfungsi dan penyalahgunaan kekuasaan tidak terjadi.

Peran para ahli yang disebut sebagai teknokrat ini memang telah lama mengisi 
pemerintahan Indonesia. Di era Orde Baru, misalnya, ada kelompok ekonom yang 
merupakan lulusan dari universitas-universitas AS – seperti University of 
California, Berkeley.

Mereka pun disebut sebagai Mafia Berkeley. Beberapa nama teknokrat tersebut 
adalah Widjojo Nitisastro, Mohammad Sadli, Emil Salim, Subroto, dan Ali 
Wardhana.

  
Namun, terlepas dari harapan itu, narasi soal pentingnya teknokrasi – negara 
yang dijalankan oleh para teknokrat – telah mengisi diskursus politik 
Indonesia, utamanya setelah Orde Baru berakhir. Pasalnya, mengacu pada tulisan 
Shiraishi Takashi yang berjudul Indonesian Technocracy in Transition, politik 
pertumbuhan menjadi tujuan bersama di antara kelompok-kelompok politik yang 
memiliki kepentingan berbeda-beda usai Presiden Soeharto lengser.

Mungkin, inilah mengapa tingkat pertumbuhan menjadi perhatian besar bagi 
Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pada kampanye Pilpres 2014, misalnya, Jokowi 
menargetkan tingkat pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen – meskipun janji ini 
belum benar-benar terwujud.

Namun, bila bicara soal pertumbuhan ekonomi, Sri Mulyani bisa dibilang pernah 
memecahkan rekor. Pada tahun 2007 silam, Indonesia berhasil meraih tingkat 
pertumbuhan ekonomi tertinggi sejak Krisis Finansial Asia 1997 melanda, yakni 
hingga 6,6 persen.

Politik pertumbuhan seperti inilah yang mungkin menjadi alasan Cak Imin untuk 
melirik Sri Mulyani guna menjadi calon cawapresnya. Pasalnya, sang Ketum PKB 
itu sendiri juga menyebutkan bahwa alasan dirinya melirik sang Menkeu adalah 
untuk memperbaiki kondisi ekonomi Indonesia yang kini memburuk akibat imbas 
kondisi global – mulai dari inflasi hingga kenaikan harga pangan dan energi.

Mungkin, inilah juga mengapa figur-figur akademik seperti Rocky Gerung dahulu 
sempat mengusung Sri Mulyani untuk menjadi bakal calon presiden dalam Pilpres 
2014. Sampai-sampai, mereka pun mendirikan sebuah partai yang bernama Partai 
Serikat Rakyat Independen (SRI).

Namun, apakah benar politik teknokrasi dan pertumbuhan ekonomi ialah 
satu-satunya alasan di balik “main mata” Cak Imin kepada Sri Mulyani? 
Mungkinkah ini menjadi salah satu taktik dalam strategi yang lebih besar?

Sri Mulyani Jadi “Jembatan” Imin?
Bukan tidak mungkin, terdapat pertimbangan strategis dari Cak Imin untuk 
melirik Sri Mulyani menjadi salah satu bakal cawapres potensial. Pasalnya, dari 
segudang rekam jejak sang Menkeu, modal politik turut terakumulasi di balik Sri 
Mulyani.

Mengacu pada tulisan Kimberly Casey yang berjudul Defining Political Capital, 
modal-modal politik bisa ditransformasikan dari sejumlah modal lain, seperti 
modal sosial dan modal finansial. Dengan pengalaman panjangnya, bukan tidak 
mungkin Sri Mulyani memiliki modal sosial yang luas – katakanlah dengan 
pengalamannya sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.
 
Pengalamannya tersebut bisa memperluas relasi sosial yang dimiliki Sri Mulyani 
– bahkan hingga negara-negara lain. Boleh jadi, jaringan pertemanannya pun bisa 
menjangkau pucuk-pucuk kepemimpinan lembaga-lembaga keuangan internasional 
seperti Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF).

Di AS sendiri, Sri Mulyani juga memiliki relasi dengan Mike Bloomberg – seorang 
pebisnis sekaligus Wali Kota New York. Bloomberg sendiri sempat maju sebagai 
salah satu kandidat calon presiden (capres) dari Democratic Party dalam Pilpres 
AS 2020 – membuat sosoknya menjadi salah satu sosok berpengaruh di partai biru 
itu.

Bukan tidak mungkin, jaringan internasional Sri Mulyani ini menjadi daya tarik 
tersendiri bagi Cak Imin. Siapa tahu modal sosial ini bisa dimanfaatkan oleh 
sang Ketum PKB dalam kontestasi Pilpres pada 2024 mendatang?

Selain modal sosial, modal pengetahuan Sri Mulyani juga bisa ditransformasikan 
menjadi modal politik. Belajar dari Mafia Berkeley yang dipercayai oleh 
Soeharto, para teknokrat yang berlatar pendidikan AS ini memberikan resep-resep 
teknis ekonomi yang sejalan dengan pendekatan Barat.

Bukan tidak mungkin, preferensi kebijakan seperti ini akan memiliki resonansi 
dengan AS di tengah tensi geopolitik yang kini tengah memanas di kawasan 
Indo-Pasifik. Dengan Indonesia yang semakin penting posisinya dalam persaingan 
geopolitik dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), preferensi kebijakan 
pemerintah yang berkuasa akan berarti bagi pemerintah negeri Paman Sam. 

Pemerintahan Biden, misalnya, dinilai berusaha memecah dunia menjadi dua kubu, 
yakni kubu demokratis dan kubu otoriter. Dikotomi ini menunjukkan bahwa AS di 
bawah Biden tetap menjalankan kebijakan luar negeri yang idealis – meski tetap 
pragmatis dalam tingkat tertentu.

Bila preferensi Cak Imin dan Sri Mulyani sejalan dengan kepentingan pemerintah 
AS, bukan tidak mungkin dukungan dari Paman Sam mendarat pada pasangan. Itu pun 
jika pasangan ini benar-benar berhasil terwujud tentunya.

Namun, bila langkah Imin ini benar-benar menjadi kenyataan, mungkin ini bakal 
menjadi alur baru bagi langkah Sri Mulyani – layaknya banyaknya alur dalam film 
The Big Short. Lagipula, sang teknokrat ini memiliki sejumlah modal yang 
menjanjikan – yang tentunya juga menjanjikan bagi Cak Imin dalam mengarungi 
dunia politik ke depan. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/45EA4AA476F745BB9D0578A5406819CA%40A10Live.

Reply via email to