Written byD74Friday, June 17, 2022 09:23

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-cari-pertolongan-putin/
Jokowi Cari Pertolongan Putin?
Presiden Jokowi dan Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan akan bertemu di 
Moskow pada 30 Juni nanti, namun pembahasan pertemuan itu tidak diungkapkan. 
Mungkinkah kunjungan Jokowi berkaitan dengan permasalahan politik domestik? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Sekarang ini, hampir segala urusan politik internasional yang berkaitan dengan 
Rusia ataupun Ukraina menjadi topik yang sangat menarik untuk diperbincangkan. 
Tentu, ini akibat konflik yang terjadi semenjak 24 Februari itu mulai berdampak 
pada banyak negara di seluruh dunia. 

Dan baru-baru ini, Indonesia menjadi sorotan karena beredar kabar bahwa 
Presiden Rusia Vladimir Putin akan melakukan pertemuan dengan Presiden Joko 
Widodo (Jokowi) pada tanggal 30 Juni nanti. Menurut media asal Rusia, TASS, 
yang mengutip salah satu sumber dari Kremlin, disebutkan bahwa kedatangan 
Jokowi ke Moskow sifatnya “sangat penting”, dan pihak Rusia sudah 
mempersiapkannya sejak sekarang. 

Meski demikian, detail tentang pertemuan tersebut masih belum diungkapkan. 
Bahkan, pihak Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia tidak mau memberikan 
komentar apapun.  

Namun, sesuai perkembangan dunia sekarang, dan status Indonesia sebagai 
Presiden pertemuan G20, banyak yang menduga ini berkaitan dengan kepastian 
kunjungan Putin ke Indonesia nantinya. Guru Besar Hukum Internasional 
Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana menilai Jokowi bisa menyampaikan 
harapan pada Rusia untuk hadir dalam G20 dan membicarakan terobosan bagi 
perekonomian dunia. 

Selain itu, Hikmahanto juga mengharapkan pertemuan antara Jokowi dan Putin 
mampu mendorong perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Singkatnya, Hikmahanto 
menduga Jokowi akan berupaya menjadi perantara perdamaian. 

Walau dugaan-dugaan ini adalah harapan mulia, kita tidak bisa menampik bahwa 
perilaku politik internasional suatu negara pasti dipengaruhi oleh 
karakteristik pemimpinnya.  

Dan seperti yang sudah dibahas dalam artikel PinterPolitik yang berjudul 
Mungkinkah Putin Diajak Berunding?, Jokowi adalah tipe pemimpin yang tidak 
ingin memposisikan dirinya sebagai “pahlawan” dalam permasalahan internasional. 
Ia adalah Presiden yang fokus ke permasalahan dalam negeri dan hanya bergerak 
di panggung internasional bila memang itu menguntungkan tataran domestik. 

Lantas, kira-kira apa alasan sebenarnya Jokowi ingin bertemu Putin? Mengapa 
Jokowi sampai rela mengeluarkan tenaga, dan merisikokan citra internasionalnya 
karena terlihat dekat dengan salah satu pemimpin dunia yang paling dikecam saat 
ini? 

 
Jokowi Ingin Beri Sinyal? 
Di era modern ini, segala pertemuan sesungguhnya bisa dilakukan secara daring. 
Namun, para diplomat seringkali masih mengutamakan pertemuan tatap muka.  

Alasannya adalah, karena dalam kunjungan diplomatik yang dilakukan sebuah 
negara, selain membicarakan agenda politik bilateral, kunjungan itu sendiri 
sesungguhnya menjadi pesan politik yang penting. Terlebih lagi bila kunjungan 
tersebut dilakukan dalam tataran antar kepala negara.  

Matt Malis dan Alastair Smith dalam tulisan mereka State Visits and Leaders 
Survival, menilai kunjungan diplomatis yang dilakukan seorang kepala negara ke 
suatu negara yang menjadi pemain internasional besar, seperti Rusia, bisa 
dipastikan berkorelasi dengan kompetisi politik domestik yang terjadi di 
negaranya.  

Malis dan Smith menjelaskan, jika pihak yang berkunjung adalah kubu petahana 
dari suatu negara, maka bisa diinterpretasikan salah satu urgensi melakukan 
pertemuan adalah sang tamu ingin menghindari permasalahan ketidakpastian dan 
ketidakstabilan rezim yang sedang terjadi di negaranya.  
Dengan diterima berkunjung ke sebuah negara besar, itu menjadi simbol bahwa 
rezim yang sedang dipimpin oleh kepala negara tersebut telah “direstui” oleh 
negara besar yang dikunjunginya.  

Simbol ini diharapkan mampu menciptakan efek deterrent atau rasa enggan dari 
siapapun yang ingin mengganggu rezim dari negara sang tamu, karena jika ada 
oposisi yang ingin menentangnya, kemungkinan sukses mereka akan jauh berkurang 
karena harus melawan dukungan asing ini. 

Ini juga menjadi salah satu alasan kenapa eksposur kunjungan antar kepala 
negara selalu digemborkan, tetapi pembahasannya jarang diumumkan. Hal tersebut 
karena publik, sekaligus oposisi rezim, akan dibuat merasa tidak pasti, 
sekaligus bertanya-tanya tentang hal apa saja yang diperbincangkan karena sadar 
pertemuan itu sudah pasti tidak hanya merupakan “kunjungan silaturahmi”. 

Kerja sama ekonomi atau pelatihan militer bersama umumnya dijadikan sebagai 
jawaban normatif. Namun suatu kunjungan diplomatis tentunya memiliki 
kemungkinan terjadi pembahasan hal-hal substansial lain yang tidak disampaikan 
ke publik. Yang jelas, pertemuan dua presiden akan memberikan sinyal bahwa 
masing-masing pihak berkemungkinan besar memiliki kepentingan yang sama dalam 
agenda tertentu. 

Di dalam studi hubungan internasional, perilaku ini disebut sebagai signalling 
mechanism, atau mekanisme sinyal, yang tujuannya adalah memberikan sinyal pada 
aktor-aktor politik bahwa dua pemimpin besar yang dibahas dalam berita, dan 
akan melakukan pertemuan bersama, memiliki potensi akan mendukung satu sama 
lain dalam suatu narasi politik. 

Namun, bisakah konteks teoritis ini kita terapkan dalam kepemimpinan Jokowi?  

Well, kalau ingin berkaca ke beberapa waktu ke belakang, kita akan menyadari 
bahwa kepemimpinan Jokowi sepertinya memang sedang “digoyang”.  

Taruhlah isu tiga periode misalnya, meski dirinya secara resmi sudah mengatakan 
tidak ingin isu ini digulirkan, sampai sekarang masih ada saja yang menyuarakan 
bahwa Jokowi harus memimpin kembali setelah masa jabatannya berakhir. Lalu, 
kita pun bisa menyinggung tentang semakin ramainya perbincangan mengenai 
hubungan Jokowi dan Megawati yang dinilai semakin merenggang. 

Contoh terakhir yang menarik juga untuk disinggung adalah permasalahan tentang 
mafia minyak kelapa sawit yang telah membuat beberapa pihak mempertanyakan 
tentang efektivitas kepemimpinan Jokowi dalam mengatasi permasalahan tersebut. 
Isu-isu ini, tidak dipungkiri, tetap berpotensi digoreng sedemikian rupa oleh 
siapapun untuk menyerang Jokowi. 

Oleh karena itu, bisa diduga bahwa dicuatkannya kabar tentang pertemuan antara 
Jokowi dan Putin adalah salah satu upaya Jokowi mendapatkan pertolongan agar 
rezimnya tetap stabil di masa-masa terakhir kepemimpinan.  

Dengan terlihat memiliki kedekatan, Jokowi meminjam citra Rusia dan Putin 
sebagai aktor internasional besar bahwa dirinya menyimpan kartu truf bila ada 
yang ingin mengacaukan stabilitas pemerintahannya. 

Tapi, masih ada satu pertanyaan penting yang perlu dibahas. Bila ini semua 
benar, maka permintaan tolong konkrit seperti apa yang diminta Jokowi pada 
Putin? Tidak mungkin hanya mengandalkan sinyal-sinyal politik saja, bukan?
 


Andalkan Kekuatan Intelijen Rusia? 
Walau Rusia bisa dikatakan adalah pemain internasional yang besar, Indonesia 
tidak memiliki ketergantungan yang berlebihan pada negeri Beruang Putih, 
berbeda dengan negara-negara Eropa yang memang membutuhkan pasokan minyak dari 
Rusia. 

Namun, itu tidak berarti Rusia tidak memiliki sesuatu yang spesial untuk 
dilirik oleh Jokowi. Menurut survei yang dilakukan Belfer Center for Science 
and International Affairs di Harvard’s Kennedy School, Rusia adalah negara 
dengan National Cyber Power Index (NCPI), atau kekuatan siber terkuat ke-4 di 
dunia.  

Dan yang menariknya, meski Amerika Serikat (AS) menempati urutan pertama, Rusia 
adalah negara paling tinggi dalam sektor kekuatan pemantauan siber. 
Sederhananya, Rusia adalah negara terhebat dalam mengumpulkan informasi 
intelijen melalui kekuatan siber. 

Rusia pun dikenal sebagai petarung tangguh dalam pertempuran intelijen siber. 
Mark Galeotti dalam artikelnya yang berjudul Russian Intelligence is at 
(Political) War, yang diterbitkan di laman Pakta Pertahanan Atlantik Utara 
(NATO), menilai agresivitas Dinas Intelijen Asing (SVR) di bawah kepemimpinan 
Putin dalam menyerang institusi-institusi Barat, telah membuat kemampuan 
intelijen siber Rusia sebagai salah satu ancaman terbesar bagi Barat dan NATO. 

Dengan kemampuan yang kuat di aspek siber dan intelijen, bukan tidak mungkin 
bila Jokowi berusaha mendapatkan bantuan Rusia dalam hal tersebut. Terlebih 
lagi, peran intelijen Rusia, dan AS juga, dalam politik domestik adalah hal 
yang sangat lumrah terjadi.  

Dov H. Levin dalam artikelnya The U.S. and Russia Often Meddle in Foreign 
Elections, Does it Matter? mengatakan kedua negara raksasa intelijen itu 
setidaknya terlibat dalam 117 pemilu di berbagai negara di dunia dari tahun 
1946 sampai tahun 2000.  

Levin juga mengatakan, intelijen Rusia dan AS menggunakan beberapa metode yang 
membuat politisi harus melibatkan mereka, seperti menawarkan bantuan dana 
kampanye, merumuskan strategi kampanye, bahkan sampai menyiapkan materi 
kampanye itu sendiri. Yang jelas, peran intelijen asing dalam politik domestik 
suatu negara adalah kekuatan yang tidak bisa diremehkan. 

Kembali ke konteks Jokowi, yang sedang dihadapkan dengan kondisi dalam negeri 
yang kembali lagi, sedang mendapat banyak terpaan isu. Bisa saja sang Presiden 
meminta bantuan negara yang sangat kuat dalam bidang intelijen dan siber untuk 
membantunya mempertahankan kestabilan rezim dan memperhalus proses transisi 
kekuatan nantinya ke pihak yang bisa dipercayakan dalam Pemilu 2024. 

Akhir kata, tulisan ini hanyalah interpretasi belaka. Tentunya, hanya 
pihak-pihak tertentu saja yang tahu tentang apa yang sebenarnya akan 
dibicarakan oleh Jokowi dan Putin pada pertemuan 30 Juni nanti. Pastinya kita 
berharap bahwa hasilnya bermanfaat bagi kestabilan keadaan politik Indonesia. 
(D74) 


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/06766F4B05F54B0692BFDFBE8EE2086F%40A10Live.

Reply via email to